Wisata Seni di Amsterdam

Dari Rembrandt hingga Van Gogh, Amsterdam menyemai banyak seniman besar yang mengubah cara kita memandang seni. Dan kisah itu belum rampung ditulis. Di kota paling liberal di dunia ini, tak ada pagar bagi kebebasan berekspresi, tak ada pasung bagi kemerdekaan bereksperimen.

Bersepeda adalah salah satu cara terbaik menjelajah Amsterdam.

Kanvasnya dipenuhi sapuan yang padat dan tebal, kadang begitu tebal hingga membentuk tekstur relief. Kata pengamat seni, Van Gogh gemar melukis dengan cara impasto, yakni menggoreskan cat langsung dari tube ke kanvas. Hanya dengan menatap lukisannya saya bisa merasakan getaran elegi dari hidup sang pelukis. “Saya meletakkan fokus pada upaya untuk mengekspresikan kesedihan, kesendirian yang ekstrem,” tulis Van Gogh dalam salah satu suratnya.

Belakangan saya tahu, depresi pula yang turut membuat Van Gogh berjarak dari pasar. Uang memang tak pernah menjadi motifnya dalam berkarya. Kendati begitu, kontribusi Van Gogh tetaplah signifikan, baik melalui metodenya bekerja atau bagaimana karyanya terus melintasi waktu. Caranya memberi tafsir dan menorehkan warna simbolik menginspirasi banyak gerakan seni modern, termasuk Fauvism dan Abstract Expressionism.

Van Gogh sejatinya melihat seni sebagai medium terapi. Dari November 1881 hingga Juli 1890, dia menghasilkan hampir 900 lukisan. Dalam 70 hari menjelang kematiannya, saat gangguan jiwanya makin akut, dia kian tancap gas: menghasilkan rata-rata satu lukisan per hari. Saya tak tahu bagaimana depresi membimbing tangannya. Tapi saya menduga, hanya orang yang menderita siksaan yang bisa benar-benar mengekspresikan keindahan.

Mungkinkah Amsterdam kembali mencetak seniman-seniman kawakan? Adakah Rembrandt dan Van Gogh jilid dua? Pertanyaan itu mengiringi saya dalam perjalanan ke CoBrA Museum. CoBrA adalah gerakan seni avant-garde yang tumbuh pasca-Perang Dunia II. Pencetusnya seniman-seniman muda progresif asal Copenhagen, Brussels, dan Amsterdam—tiga kota yang kemudian disingkat menjadi CoBrA.

Fasad Museum Van Gogh yang juga baru menjalani renovasi.

Museum bersemayam di luar pusat kota. Duduk di trem yang senyap, saya mengisi perjalanan dengan menikmati pemandangan. Jika dilihat di atas peta, lanskap Amsterdam menyerupai sidik jari. Kanal-kanal didesain melingkar seperti cincin, karena itulah disebut Canal Ring. Ide brilian yang dicetuskan lebih dari 400 tahun silam itulah yang mengubah nasib Amsterdam dari kawasan basah di dataran rendah menjadi kota perdagangan utama yang dihuni perusahaan multinasional pertama di dunia. Sebuah perusahaan yang kita kenal baik dengan nama VOC.

Trem berhenti, lalu saya berjalan kaki menembus kawasan residensial yang lebih modern dan lebih sepi turis. Aroma ganja hanya sayup-sayup tercium. CoBrA Museum menempati bangunan bata yang berada persis di samping pasar rakyat yang riuh dan menjajakan segalanya, mulai dari keju sebesar ban Vespa hingga sosis seukuran terung.

Saya datang saat museum menggelar pameran temporer yang mengajak kita berkenalan dengan CoBrA dalam konteks aktual. Duet perupa asal Denmark, Bank & Rau, menciptakan komposisi tematik yang mengombinasikan karya mereka dengan karya-karya lawas CoBrA. Di salah satu sudut, Bank & Rau memadukan foto mural di rumah usang dengan lukisan merpati yang ditusuk pisau. Komposisi yang meresahkan itu bertujuan mewakili semangat CoBrA untuk meruntuhkan kebudayaan Barat melalui proses devaluasi seni: mengajak semua orang berekspresi dan menjadi seniman, dengan harapan seni kehilangan nilai moneternya (karena jika semua orang menjadi seniman, tak ada lagi benda seni yang laku dijual).

CoBrA tumbuh dari kegelisahan perupa muda atas sikap kaku lembaga-lembaga seni. Tokoh-tokoh gerakan ini menginginkan seni membawa perubahan riil di masyarakat, bukan sekadar benda dekorasi yang komersial. CoBrA dalam banyak aspek memang terpaut dengan Marxisme. Di Indonesia, ia mungkin bisa disejajarkan dengan Gerakan Seni Rupa Baru yang dicetuskan 40 tahun silam. Saya mulai menjelajahi ruang-ruang museum.

CoBrA menyuguhkan lukisan berisi figur-figur yang terdistorsi, komposisi yang semi-abstrak, serta goresan kuas yang emosional. Karya-karya mereka seperti bersemayam di antara estetika yang menakutkan dan horor yang memikat. Mungkin karena itu pula penjelasan tentang karya tidaklah penting. Karya-karya CoBrA cuma disertai takarir berisi judul karya, nama perupa, dan tahun penciptaannya. Lagi pula, apa yang mau ditulis dari, misalnya, lukisan monster bertubuh anak-anak?

Wisatawan menikmati sejumlah lukisan di Museum Van Gogh, Amsterdam, Belanda.

Jika Rembrandt seperti puisi yang menghibur dan Van Gogh mirip prosa yang liris, maka CoBrA lebih menyerupai novel fantasi. Baik dalam format lukisan, mural, litografi, ataupun puisi, karya-karya CoBrA seolah dibuat oleh orang yang mengalami mimpi buruk, atau sebaliknya, oleh orang depresi yang membayangkan mimpi indah. CoBrA berharap seni meniupkan angin perubahan. Tapi sejatinya tidak mudah menarik garis korelasi antara karya-karya absurd mereka dengan agenda transformasi sosial. Karya-karya di museum lebih bertindak sebagai jendela untuk memasuki batin si perupa atau sumber inspirasinya. CoBrA kerap menggali kegelisahan anak-anak, penderitaan kaum difabel, serta benda-benda mitologi.

Saya kembali mengarungi kota, berpindah-pindah dari satu galeri ke galeri lain. Saat lelah, saya beristirahat di bibir kanal-kanal tua. Kanal adalah tempat yang melankolis, kecuali jika Anda sedang mabuk. Dalam bukunya yang menghibur, The Soft Atlas of Amsterdam, Jan Rothuizen mencatat bahwa dalam tiga tahun terakhir, 51 orang tewas di kanal.

Mayoritas pria dan tengah mabuk. Mereka kencing, tercebur, dan tenggelam. Bukan cara meninggal yang nyaman dikenang dalam obituari. Amsterdam, tulis Russell Shorto dalam buku Amsterdam: A History of the World’s Most Liberal City, adalah “sebuah laboratorium bagi ide-ide segar, dari hak-hak kaum gay hingga pernikahan sesama jenis, dari kebebasan bercinta hingga kebebasan bersepeda.” Tesis itu juga berlaku di sektor seni. Amsterdam adalah tanah kaya nutrisi yang terus menyemai terobosan-terobosan kreatif. Selain CoBrA, kita mengenal Amsterdam Impressionism dan De Stijl, ditambah gerakan Dada dan Zero yang turut menancapkan kutubnya di sini. Di kota liberal ini, kebebasan berkreasi mengalir lebih kencang dari air di kanal-kanal sepuh.

Dengan pemahaman itulah saya singgah di W139, sebuah wadah bagi perupa muda. Lokasinya di tepi gang klaustrofobik khas Amsterdam, bertetangga dengan toko ganja dan peralatan seks di Distrik Lampu Merah.

Salah satu mural di sudut kota Amsterdam.

Sebuah ekshibisi bertajuk Wilful Blindness sedang digelar. Menggunakan 50 ton tanah liat, delapan seniman dari enam negara secara kolaboratif menyusun instalasi yang merespons gejala kontemporer: manusia-manusia modern yang cemas menampilkan identitasnya secara jujur, terutama di media sosial, akibat dari tekanan-tekanan eksternal berupa ekspektasi publik.

Beberapa perupa masih bekerja dengan tangan dan kaki yang berlepotan noda. Karya mereka terlihat sureal. Saya menemukan instalasi tanah liat yang dipenuhi figur janggal, juga pipa-pipa yang ditumpuk sengkarut seperti jaringan kabel yang semrawut. “Setelah sebulan, semua karya ini akan dirobohkan dan pameran diganti,” ujar Nikki, seniman yang turut mengurus manajemen W139.

Kata Nikki lagi, W139 awalnya hanya bangunan lapuk tempat mahasiswa seni menggelar beragam acara, mulai dari pentas teater hingga konser punk. Pada 1979, pemerintah menyulapnya menjadi ruang seni resmi yang dibiayai anggaran kota. Itu sebabnya W139 terbebas dari agenda komersial. Tempat ini sepenuhnya bertujuan menyalurkan gairah kreatif kaum muda. “Seniman yang sudah memajang karyanya akan turut terlibat menentukan tema pameran berikutnya, termasuk menyeleksi seniman mana saja yang akan dilibatkan,” tambah Nikki.

Saya tak tahu apakah kelak lahir seniman masyhur dari rahim W139. Tapi masyhur atau banal mungkin bukan perkara yang penting. Di hari-hari terakhir di Amsterdam, ingatan saya melayang ke program menggambar Pak Tino Sidin yang dulu rutin saya tonton di televisi tabung. “Bagus” adalah komentar yang selalu dia berikan pada tiap karya kiriman anak-anak, dan kini saya mulai paham alasannya. Seni bukan perkara cantik atau jelek. Seni adalah soal ekspresi. Dan Amsterdam adalah sebuah laboratorium liberal yang tak memasang pagar bagi penggalian ekspresi.

Kiri-kanan: Fasad CoBra, museum yang menampung karya seni radikal; fasad Museum Mediamatic yang bersemayam di tepi kanal.
Kiri-kanan: Fasad CoBra, museum yang menampung karya seni radikal; fasad Museum Mediamatic yang bersemayam di tepi kanal.

Detail
Amsterdam

Rute
Penerbangan ke Amsterdam dilayani oleh banyak maskapai, salah satunya KLM via Kuala Lumpur. Untuk transportasi di dalam kota, manfaatkan I Amsterdam City Card, kartu sakti yang mencakup trem, bus, tur kanal, serta akses gratis (atau diskon tiket) ke banyak museum ternama, termasuk Rijksmuseum dan Van Gogh Museum. Jika ingin naik taksi, Bios Group menyediakan armada sedan listrik merek Tesla. Tentu saja, sepeda menarik dicoba. Sekitar 38 persen mobilitas manusia di Amsterdam dilakukan dengan sepeda.

Penginapan
Menempati bekas kantor surat kabar De Tijd (The Times) yang beroperasi pada awal abad ke-20, INK Hotel (Nieuwezijds Voorburgwal 67; 31-20/7219-178; mgallery.com; mulai dari Rp4.104.000) menawarkan hunian atraktif yang berisi restoran bernama Press Room, serta 149 kamar yang dipecah kategorinya berdasarkan jabatan di media: editor in chief, photographer, printer, dan journalist. Hotel ini berada di lokasi strategis, hanya dua menit naik trem dari Amsterdam Museum dan lima menit dari Central Station.

Referensi
Informasi komprehensif tentang Amsterdam bisa dibaca di situs biro pariwisata Amsterdam Marketing atau situs Netherlands Board of Tourism and Conventions (holland.com).

Makan & Minum

  • 5&33; Restoran di kaki art’otel yang menghadap Central Station dan kanal. Interiornya cukup eksentrik: dihiasi instalasi seni, dijejali mebel bergaya kontemporer, dan bersanding dengan ruang ekshibisi. 5and33.nl.
  • Bridges; Restoran dengan satu bintang Michelin yang dipimpin oleh koki Bobby Rust. Bridges menyuguhkan pengalaman fine dining dengan fokus menu seafood. Lokasinya di dekat Distrik Lampu Merah, di kaki hotel mewah The Grand Amsterdam. bridgesrestaurant.nl.
  • Brasserie Keyzer; Tempat yang ideal untuk bernapas sejenak usai eksplorasi seni di Museum Quarter. Lokasi restoran persis di seberang Stedelijk Museum dan di samping gedung orkestra Royal Concertgebouw. brasseriekeyzer.nl.
  • Brasserie Harkema; Restoran yang menempati bekas pabrik cerutu, sekitar lima menit berjalan kaki dari Amsterdam Museum. Menunya beragam, mulai dari steik, pasta, hingga sayur lodeh. brasserieharkema.nl.

Tur Seni

  • Rijksmuseum; Museum yang menempati bangunan dari abad ke-19 ini memajang 8.000 benda seni dari banyak maestro, termasuk Rembrandt. Sempatkan waktu menjelajahi serambinya yang dihiasi patung-patung buatan Joan Miro. rijksmuseum.nl.
  • Van Gogh Museum; Ada lebih dari 200 karya yang dipajang di gedung modern berwarna abu-abu ini. Mengenang 125 tahun kepergian Van Gogh, museum ini menyelenggarakan ekshibisi langka bertajuk Munch : Van Gogh, yang berlangsung hingga 17 Januari 2016. vangoghmuseum.nl.
  • W139; Didedikasikan bagi perupa muda, ruang seni ini adalah tempat ideal untuk memantau karya-karya kontemporer lokal. Pameran dirotasi setiap 30-45 hari. W139 berlokasi di kawasan Distrik Lampu Merah. w139.nl.
  • KochxBos; Galeri komersial yang menjajakan karya-karya underground yang provokatif dan kontroversial dari perupa muda. Sebuah wadah untuk mengenal nama-nama baru yang berusaha menembus pasar. kochxbos.nl.
  • Amsterdam Museum; Museum yang mengajak kita memahami Amsterdam dan sejarahnya, termasuk bagaimana kota ini menumbuhkan seni. Simak lorong di muka museum yang dialasi karpet yang merepresentasikan hampir 200 suku bangsa yang menetap di Amsterdam. amsterdammuseum.nl.
  • FOAM Photography Museum; Tempat yang memajang karya-karya memikat dari juru kamera gaek hingga amatir. Hingga 9 Desember 2015, FOAM menyuguhkan foto-foto monumental jaringan Magnum. foam.org.
  • Stedelijk Museum; Museum seni modern dan kontemporer terbesar di Belanda yang memajang karya secara kronologis mulai dari periode 1860-an, termasuk karya-karya CoBrA dan De Stijl. Sayap barunya yang dijuluki “bathtub” rutin menggelar pameran temporer. stedelijk.nl.
  • Rembrandt House; Rumah yang ditinggali Rembrandt dari 1639-1658 ini memperlihatkan sosok sang artis sebagai manusia, suami, serta ayah. Karya agungnya, Night Watch, dilukis di sini. Rembrandt House juga menggelar demo menarik tentang kiat Rembrandt meracik cat. rembrandthuis.nl.
  • CoBrA Museum; Bangunan bata yang menampung karya-karya CoBrA, gerakan seni radikal yang bergulir dari 1948-1951. Beberapa pameran temporer menarik rutin digelar di lantai duanya. cobramuseum.nl.
  • Mediamatic; Ruang eksperimental yang mengeksplorasi kombinasi seni dan teknologi dengan tujuan berkontribusi pada lingkungan. Salah satu karya uniknya: urinal yang bisa mengubah air seni menjadi bir. Mediamatic berlokasi di seberang Science Center Nemo. mediamatic.net.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015 (“Seni Tepi Kanal”)

Comments