Patung Rembrandt di alun-alun yang menyandang namanya di pusat kota.

Oleh Cristian Rahadiansyah
Foto oleh Donang Wahyu

Yang pertama hidup pada abad ke-17, sedangkan yang kedua pada abad ke-19. Yang pertama menghadirkan keindahan; yang kedua mengekspresikan keindahan. Yang pertama meninggal dalam keadaan bangkrut lalu dikubur di makam tanpa nisan; yang kedua hidup dengan depresi dan tewas bunuh diri pada usia 37 tahun. Di Amsterdam, saya berkenalan dengan keduanya.

Satu kota, dua nama. Amsterdam tak bisa dipisahkan dari sosok Rembrandt Harmensz van Rijn dan Vincent van Gogh. Mustahil bicara seni di kota ini tanpa menyinggung kedua pelukis agung tersebut. Dan tak ada kota yang memuja keduanya melebihi Amsterdam.

Di Amsterdam, Rembrandt diabadikan sebagai nama jalan. Rumahnya dijadikan museum, sementara patungnya dipajang di sebuah alun-alun. Van Gogh juga dipuja. Sebuah museum didirikan sebagai penghormatan untuknya. Rembrandt dan Van Gogh sudah lama pergi, namun Amsterdam berhasil membuat keduanya terus hadir di antara kita, menyentuh kita, berbicara dari balik kanvas.

Datang di minggu-minggu terakhir musim gugur, Amsterdam menyambut saya dengan udara dingin dan langit kelabu. Saya berjalan menuju Rembrandt House Museum, menyeberangi kanal-kanal berair hijau, melewati rumah-rumah langsing yang sebagian miring layaknya pohon ditiup angin. “Rembrandt mungkin orang pertama yang menemukan selfie,” ujar Martijn Bosch, pemandu di Rembrandt House. Dia menunjukkan logo museum yang memperlihatkan potret diri Rembrandt dengan raut muka terperanjat, seperti orang yang melihat kucing tergilas delman. Sang pelukis, tambah Martijn, sejak muda gemar mengeksplorasi air mukanya sendiri. Eksperimen itulah yang kelak membuatnya mahir melukis manusia.

Rijksmuseum, salah satu museum tersohor di dunia.

Rembrandt House adalah kediaman sang pelukis dari 1639-1658. Rembrandt menetap di sini bersama istri dan anak-anaknya, ditambah seorang pembantu yang kemudian dikencaninya usai sang istri mangkat. Karya terbesarnya, The Night Watch, juga dilukis di sini. “Rumah ini dipilih Rembrandt karena menghadap ke utara, jadi cahaya di dalam studio senantiasa lembut,” ujar Martijn.

Rumah ini lebih memperkenalkan figur Rembrandt sebagai manusia, suami, juga ayah. Untuk mengenal sosoknya sebagai pelukis, saya berpindah ke Rijksmuseum, kali ini dengan menumpang trem. Trem saya menyusuri jalan-jalan berlapis batu, membelah kota sepuh yang seolah mencuat dari buku-buku sejarah. Zona khusus bernama “Kota Tua” tidak eksis di sini, karena seantero Amsterdam sejatinya berstatus kota tua. Amsterdam saat ini adalah Amsterdam yang dibangun pada abad ke-17. Sebuah masa di saat kapal-kapal layar hilir mudik mengangkut berton-ton hasil bumi dari Asia. Sebuah masa yang dipandang gemilang dan dikenang dengan nama Zaman Keemasan. Saya kadang membayangkan, dari tiap batang bata yang menyusun bangunan di sini, tersimpan tetesan keringat kakek-buyut saya. Rembrandt hidup di periode itu.

Periode yang menyenangkan bagi seorang seniman. Kaum kaya yang lahir dari sektor perdagangan menyibukkan seniman dengan pesanan lukisan potret dan patung. Lancarnya pesanan jugalah yang memungkinkan Rembrandt membiayai hobinya mengoleksi benda antik, mulai dari keris hingga baju zirah—hobi yang kemudian membuatnya bangkrut.

Saya melawat ke Rijksmuseum dengan perasaan sentimental. Menikmati karya-karya seniman besar adalah pengalaman yang telah lama saya nantikan. Sewaktu kecil, saya rajin menggambar. Dalam sebulan saya bisa menghabiskan satu rim folio yang dicomot diam-diam oleh ibu saya dari kantornya, karena waktu itu keluarga saya tak mampu membiayai kebutuhan tersier semacam hobi menggambar.

Dan berhubung cat air terlampau mewah, saya hanya melukis saat mengikuti lomba. Hari ini, di Amsterdam, saya bukan hanya melihat-lihat lukisan masyhur yang diperebutkan dunia, tapi juga berkenalan dengan para seniman yang mengubah cara kita memandang seni lukis.

Saya melewati gerbang Rijksmuseum dan langsung meluncur ke galeri yang dikhususkan bagi Rembrandt. Saya mempelajari bagaimana almarhum menciptakan detail, seperti dalam Self-Portrait 1628, saat dia menggunakan buntut kuas pada cat basah guna memproduksi efek keriting pada rambut.

Kiri-kanan: Lukisan selfie karya Van Gogh yang tersohor; seorang pengunjung di Museum Stedelijk.
Kiri-kanan: Lukisan selfie karya Van Gogh yang tersohor; seorang pengunjung di Museum Stedelijk.

Saya juga belajar cara dia menghidupkan ekspresi wajah, seperti dalam The Syndics, di mana para subjek seolah tersentak canggung melihat kehadiran kita—sebuah tonggak penting dalam seni lukis di mana pemirsa dilibatkan dalam karya. Rembrandt dijuluki pelukis yang melampaui zamannya. Dia juga menginspirasi banyak pelukis lain, termasuk Goya dan Picasso. Beberapa muridnya juga bersinar, contohnya Ferdinand Bol dan Carel Fabritius. Mungkin itu sebabnya banyak orang penasaran dengan resep sukses Rembrandt.

Pada 2010, peneliti dari University of British Columbia memindai empat lukisan potret Rembrandt memakai program komputer dan berhasil menemukan rahasianya: lukisan mata yang lebih detail, hingga menciptakan efek yang menenangkan dan menghanyutkan pada mata pemirsa. Terjemahan sederhananya: kontak mata.

Dari semua karya Rembrandt, Night Watch tampil bak selebriti. Orang-orang mengerubunginya Suara shutter kamera terus bersahutan. Di samping lukisan, dua penjaga berdiri waspada. Pada 1975, seorang tamu menyayat kanvas lukisan dengan pisau. Bagian yang cacat sudah dipulihkan dan sejak itu pengawasan pun diperketat.

Night Watch menampilkan anggota milisi Amsterdam yang bersiap menyerang. Tapi bukan momen sejarah itu yang penting. Night Watch merupakan testimoni atas kelihaian Rembrandt mengolah cahaya. Di atas kanvas, sinar matahari jatuh dari sudut kiri atas dan melahirkan efek dramatis pada tiap subjek. Gerakan tubuh juga dihidupkan melalui cat yang buyar, seperti foto yang diambil dengan setelan slow speed.

Dan ada dimensi lain yang membuat Night Watch memikat: aksi. Lukisan potret abad ke-17 lazimnya menampilkan barisan manusia dalam komposisi yang setara. (Ukuran manusia yang timpang lazim memicu pertengkaran, karena setiap orang patungan membayar si seniman.) Tapi Rembrandt menolak pakem itu. Dia justru menampilkan tiap individu tengah melakukan gerakan yang berbeda dalam posisi yang berbeda pula. Hasilnya: sebuah adegan candid panopli yang bernyawa.

Bagi banyak seniman, melukis manusia adalah perkara mudah; yang sulit adalah menyuntikkan roh yang membuat subjek manusia terlihat hidup. Rembrandt menyadarkan saya bahwa profesi seniman menuntut bakat. Andaikan saya bisa menyadari itu sewaktu belia, mungkin ibu saya tak perlu susah payah menilap kertas dari kantornya.

Salah satu sudut Museum Stedelijk, museum yang memajang benda seni kontemporer.
Salah satu sudut Museum Stedelijk, museum yang memajang benda seni kontemporer.

Bagaimana mungkin dunia mengagumi seorang pelukis yang hanya bisa menjual satu karya semasa hidupnya? Van Gogh, bagi saya, adalah sebuah enigma.

Nasib almarhum memang tragis, lebih mirip kisah stereotip seorang rock star ketimbang pelukis. Dia mengidap gangguan mental, dirawat di rumah sakit jiwa, memotong (sebagian) telinga kirinya sendiri, lalu bunuh diri dengan pistol (walau barang bukti pistol tak pernah ditemukan di TKP).

Kendati demikian, banyak karyanya dikagumi dunia. Portrait of Dr. Gachet misalnya, menembus harga $80 juta, sementara A Wheatfield with Cypresses terjual $57 juta. Jika masih hidup, barangkali Van Gogh bakal membisikkan petuah berikut kepada saya: untuk menghasilkan karya mahal, jika tak punya bakat, depresi adalah solusinya.

Saya kembali melompat ke trem, lalu meluncur ke Van Gogh Museum dengan menembus jalan-jalan sempit yang dikuasai sepeda. Di kota ini, ada lebih banyak sepeda ketimbang manusia (821.000 manusia berbanding dengan 881.000 unit sepeda). Tiba di depan museum, orang-orang sudah berkelimun, mengantre tertib dalam kepungan udara dingin, padahal pagi baru dimulai. Van Gogh rupanya tak kalah memikat dari gadis-gadis etalase di Distrik Lampu Merah.

Sejumlah pengunjung Rijksmuseum menikmati lukisan The Night Watch karya terbesar Rembrandt yang dilukis pada 1642.

Saya datang di momen yang tepat. Belanda sedang menggelar haul 125 tahun kepergian sang artis. Ada banyak acara digelar, dan apa pun bentuknya, semuanya mengusung tema Van Gogh. Pokoknya Van Gogh. Ada pameran foto Van Gogh di Zundert. Ada taman bunga Van Gogh di Keukenhof. Ada pertunjukan orkestra Van Gogh di Tilburg. Ada festival EDM, bazar kuliner, parade mobil hias, hingga pawai gadis-gadis berambut merah yang semuanya bertema—silakan tebak—Van Gogh. Belanda mengenang Van Gogh melebihi cara kita mengenang Bung Karno.

“Kuas yang membara, begitu cara Munch mendefinisikan Van Gogh,” ujar Maite van Dijk, kurator Van Gogh Museum, saat membuka ekshibisi besar yang mempertemukan dua pelukis agung dari dua negara—Van Gogh dan Edvard Munch. Acara ini juga diselenggarakan guna mengenang Van Gogh.

Sang kurator menunjukkan salah satu karya Van Gogh yang paling kondang: Starry Night over the Rhone. Lukisan bertitimangsa 1888 ini berbicara banyak tentang sosok sang pelukis dan pendekatannya dalam berkarya. Van Gogh berpijak pada realitas. Dia hanya melukis apa yang dilihatnya. Namun dia tidak mereplika, tidak sekadar menuangkan hasil pandangan matanya secara harfiah. Alih-alih, Van Gogh membiarkan perasaan batinnya memberi tafsir pada subjek. Tentu saja, pendekatan itu tidak sepenuhnya baru. Yang membuat Van Gogh berbeda, batinnya sedang terkoyak. Karena itulah, dalam Starry Night, dia tak cuma menuturkan panorama malam di atas Sungai Rhone, tapi juga menggemakan kondisi psikologis dirinya sendiri. Siapa Van Gogh dan seperti apa karyanya adalah dua sisi dari koin yang sama.

Kiri-kanan: Interior Rijksmuseum pasca-renovasi; fasad Museum Stedelijk.
Kiri-kanan: Interior Rijksmuseum pasca-renovasi; fasad Museum Stedelijk.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya memperhatikan karya-karya Van Gogh. Sekitar tujuh tahun silam, saya pernah menulis untuk majalah Van Gogh Preferred Banking, media internal bagi nasabah premium bank asal Belanda—ABN Amro. Selama setahun, saya memilah-milah foto lukisannya untuk kemudian memasangnya sebagai sampul majalah. Tapi melihat foto lukisan dan melihat lukisan versi asli adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda. Mungkin sama bedanya dengan menonton konser Metallica di televisi atau benar-benar hadir di depan panggung.

Dari Garden of the Asylum hingga Wheatfield with a Reaper, banyak karya Van Gogh menyiratkan korespondensi antara realitas yang menawan dan kondisi jiwa yang lara. Van Gogh kerap memproduksi lukisan yang dramatis, imajinatif, dan evokatif. Sebuah lukisan yang dibuat dengan—meminjam kata-kata sang kurator—“kuas yang membara.”

Bersepeda adalah salah satu cara terbaik menjelajah Amsterdam.

Kanvasnya dipenuhi sapuan yang padat dan tebal, kadang begitu tebal hingga membentuk tekstur relief. Kata pengamat seni, Van Gogh gemar melukis dengan cara impasto, yakni menggoreskan cat langsung dari tube ke kanvas. Hanya dengan menatap lukisannya saya bisa merasakan getaran elegi dari hidup sang pelukis. “Saya meletakkan fokus pada upaya untuk mengekspresikan kesedihan, kesendirian yang ekstrem,” tulis Van Gogh dalam salah satu suratnya.

Belakangan saya tahu, depresi pula yang turut membuat Van Gogh berjarak dari pasar. Uang memang tak pernah menjadi motifnya dalam berkarya. Kendati begitu, kontribusi Van Gogh tetaplah signifikan, baik melalui metodenya bekerja atau bagaimana karyanya terus melintasi waktu. Caranya memberi tafsir dan menorehkan warna simbolik menginspirasi banyak gerakan seni modern, termasuk Fauvism dan Abstract Expressionism.

Van Gogh sejatinya melihat seni sebagai medium terapi. Dari November 1881 hingga Juli 1890, dia menghasilkan hampir 900 lukisan. Dalam 70 hari menjelang kematiannya, saat gangguan jiwanya makin akut, dia kian tancap gas: menghasilkan rata-rata satu lukisan per hari. Saya tak tahu bagaimana depresi membimbing tangannya. Tapi saya menduga, hanya orang yang menderita siksaan yang bisa benar-benar mengekspresikan keindahan.

Fasad Museum Van Gogh yang juga baru menjalani renovasi.

Mungkinkah Amsterdam kembali mencetak seniman-seniman kawakan? Adakah Rembrandt dan Van Gogh jilid dua? Pertanyaan itu mengiringi saya dalam perjalanan ke CoBrA Museum. CoBrA adalah gerakan seni avant-garde yang tumbuh pasca-Perang Dunia II. Pencetusnya seniman-seniman muda progresif asal Copenhagen, Brussels, dan Amsterdam—tiga kota yang kemudian disingkat menjadi CoBrA.

Duduk di trem yang senyap, saya mengisi perjalanan dengan menikmati pemandangan. Jika dilihat di atas peta, lanskap Amsterdam menyerupai sidik jari. Kanal-kanal didesain melingkar seperti cincin, karena itulah disebut Canal Ring. Ide brilian yang dicetuskan lebih dari 400 tahun silam itulah yang mengubah nasib Amsterdam dari kawasan basah di dataran rendah menjadi kota perdagangan utama yang dihuni perusahaan multinasional pertama di dunia. Sebuah perusahaan yang kita kenal baik dengan nama VOC.

Trem berhenti, lalu saya berjalan kaki menembus kawasan residensial yang lebih modern dan lebih sepi turis. Aroma ganja hanya sayup-sayup tercium. CoBrA Museum menempati bangunan bata yang berada persis di samping pasar rakyat yang riuh dan menjajakan segalanya, mulai dari keju sebesar ban Vespa hingga sosis seukuran terung.

Saya datang saat museum menggelar pameran temporer yang mengajak kita berkenalan dengan CoBrA dalam konteks aktual. Duet perupa asal Denmark, Bank & Rau, menciptakan komposisi tematik yang mengombinasikan karya mereka dengan karya-karya lawas CoBrA. Di salah satu sudut, Bank & Rau memadukan foto mural di rumah usang dengan lukisan merpati yang ditusuk pisau. Komposisi yang meresahkan itu bertujuan mewakili semangat CoBrA untuk meruntuhkan kebudayaan Barat melalui proses devaluasi seni: mengajak semua orang berekspresi dan menjadi seniman, dengan harapan seni kehilangan nilai moneternya (karena jika semua orang menjadi seniman, tak ada lagi benda seni yang laku dijual).

CoBrA tumbuh dari kegelisahan perupa muda atas sikap kaku lembaga-lembaga seni. Tokoh-tokoh gerakan ini menginginkan seni membawa perubahan riil di masyarakat, bukan sekadar benda dekorasi yang komersial. CoBrA dalam banyak aspek memang terpaut dengan Marxisme. Di Indonesia, ia mungkin bisa disejajarkan dengan Gerakan Seni Rupa Baru yang dicetuskan 40 tahun silam. Saya mulai menjelajahi ruang-ruang museum.

CoBrA menyuguhkan lukisan berisi figur-figur yang terdistorsi, komposisi yang semi-abstrak, serta goresan kuas yang emosional. Karya-karya mereka seperti bersemayam di antara estetika yang menakutkan dan horor yang memikat. Mungkin karena itu pula penjelasan tentang karya tidaklah penting. Karya-karya CoBrA cuma disertai takarir berisi judul karya, nama perupa, dan tahun penciptaannya.

Wisatawan menikmati sejumlah lukisan di Museum Van Gogh, Amsterdam, Belanda.

Jika Rembrandt seperti puisi yang menghibur dan Van Gogh mirip prosa yang liris, maka CoBrA lebih menyerupai novel fantasi. Baik dalam format lukisan, mural, litografi, ataupun puisi, karya-karya CoBrA seolah dibuat oleh orang yang mengalami mimpi buruk, atau sebaliknya, oleh orang depresi yang membayangkan mimpi indah. CoBrA berharap seni meniupkan angin perubahan. Tapi sejatinya tidak mudah menarik garis korelasi antara karya-karya absurd mereka dengan agenda transformasi sosial. Karya-karya di museum lebih bertindak sebagai jendela untuk memasuki batin si perupa atau sumber inspirasinya. CoBrA kerap menggali kegelisahan anak-anak, penderitaan kaum difabel, serta benda-benda mitologi.

Saya kembali mengarungi kota, berpindah-pindah dari satu galeri ke galeri lain. Saat lelah, saya beristirahat di bibir kanal-kanal tua. Kanal adalah tempat yang melankolis, kecuali jika Anda sedang mabuk. Dalam bukunya yang menghibur, The Soft Atlas of Amsterdam, Jan Rothuizen mencatat bahwa dalam tiga tahun terakhir, 51 orang tewas di kanal.

Mayoritas pria dan tengah mabuk. Mereka kencing, tercebur, dan tenggelam. Bukan cara meninggal yang nyaman dikenang dalam obituari. Amsterdam, tulis Russell Shorto dalam buku Amsterdam: A History of the World’s Most Liberal City, adalah “sebuah laboratorium bagi ide-ide segar, dari hak-hak kaum gay hingga pernikahan sesama jenis, dari kebebasan bercinta hingga kebebasan bersepeda.”

Tesis itu juga berlaku di sektor seni. Amsterdam adalah tanah kaya nutrisi yang terus menyemai terobosan-terobosan kreatif. Selain CoBrA, kita mengenal Amsterdam Impressionism dan De Stijl, ditambah gerakan Dada dan Zero yang turut menancapkan kutubnya di sini. Di kota liberal ini, kebebasan berkreasi mengalir lebih kencang dari air di kanal-kanal sepuh.

Dengan pemahaman itulah saya singgah di W139, sebuah wadah bagi perupa muda. Lokasinya di tepi gang klaustrofobik khas Amsterdam, bertetangga dengan toko ganja dan peralatan seks di Distrik Lampu Merah.

Salah satu mural di sudut kota Amsterdam.

Sebuah ekshibisi bertajuk Wilful Blindness sedang digelar. Menggunakan 50 ton tanah liat, delapan seniman dari enam negara secara kolaboratif menyusun instalasi yang merespons gejala kontemporer: manusia-manusia modern yang cemas menampilkan identitasnya secara jujur, terutama di media sosial, akibat dari tekanan-tekanan eksternal berupa ekspektasi publik.

Beberapa perupa masih bekerja dengan tangan dan kaki yang berlepotan noda. Karya mereka terlihat sureal. Saya menemukan instalasi tanah liat yang dipenuhi figur janggal, juga pipa-pipa yang ditumpuk sengkarut seperti jaringan kabel yang semrawut. “Setelah sebulan, semua karya ini akan dirobohkan dan pameran diganti,” ujar Nikki, seniman yang turut mengurus manajemen W139.

Kata Nikki lagi, W139 awalnya hanya bangunan lapuk tempat mahasiswa seni menggelar beragam acara, mulai dari pentas teater hingga konser punk. Pada 1979, pemerintah menyulapnya menjadi ruang seni resmi yang dibiayai anggaran kota. Itu sebabnya W139 terbebas dari agenda komersial. Tempat ini sepenuhnya bertujuan menyalurkan gairah kreatif kaum muda. “Seniman yang sudah memajang karyanya akan turut terlibat menentukan tema pameran berikutnya, termasuk menyeleksi seniman mana saja yang akan dilibatkan,” tambah Nikki.

Saya tak tahu apakah kelak lahir seniman masyhur dari rahim W139. Tapi masyhur atau banal mungkin bukan perkara yang penting. Di hari-hari terakhir di Amsterdam, ingatan saya melayang ke program menggambar Pak Tino Sidin yang dulu rutin saya tonton di televisi tabung. “Bagus” adalah komentar yang selalu dia berikan pada tiap karya kiriman anak-anak, dan kini saya mulai paham alasannya. Seni bukan perkara cantik atau jelek. Seni adalah soal ekspresi. Dan Amsterdam adalah sebuah laboratorium liberal yang tak memasang pagar bagi penggalian ekspresi.

Kiri-kanan: Fasad CoBra, museum yang menampung karya seni radikal; fasad Museum Mediamatic yang bersemayam di tepi kanal.
Kiri-kanan: Fasad CoBra, museum yang menampung karya seni radikal; fasad Museum Mediamatic yang bersemayam di tepi kanal.

PANDUAN
Rute
Penerbangan ke Amsterdam dilayani oleh banyak maskapai, salah satunya KLM via Kuala Lumpur. Untuk transportasi di dalam kota, manfaatkan I Amsterdam City Card, kartu sakti yang mencakup trem, bus, tur kanal, serta akses gratis (atau diskon tiket) ke banyak museum ternama, termasuk Rijksmuseum dan Van Gogh Museum. Jika ingin naik taksi, Bios Group menyediakan armada sedan listrik merek Tesla. Tentu saja, sepeda menarik dicoba. Sekitar 38 persen mobilitas manusia di Amsterdam dilakukan dengan sepeda.

Penginapan
Menempati bekas kantor surat kabar De Tijd (The Times) yang beroperasi pada awal abad ke-20, INK Hotel (Nieuwezijds Voorburgwal 67; 31-20/7219-178; mgallery.com; mulai dari Rp4.104.000) menawarkan hunian atraktif yang berisi restoran bernama Press Room, serta 149 kamar yang dipecah kategorinya berdasarkan jabatan di media: editor in chief, photographer, printer, dan journalist. Hotel ini berada di lokasi strategis, hanya dua menit naik trem dari Amsterdam Museum dan lima menit dari Central Station.

Referensi
Informasi komprehensif tentang Amsterdam bisa dibaca di situs biro pariwisata Amsterdam Marketing atau situs Netherlands Board of Tourism and Conventions (holland.com).

Makan & Minum
1. 5&33; Restoran di kaki art’otel yang menghadap Central Station dan kanal. Interiornya cukup eksentrik: dihiasi instalasi seni, dijejali mebel bergaya kontemporer, dan bersanding dengan ruang ekshibisi. 5and33.nl.
2.Bridges; Restoran dengan satu bintang Michelin yang dipimpin oleh koki Bobby Rust. Bridges menyuguhkan pengalaman fine dining dengan fokus menu seafood. Lokasinya di dekat Distrik Lampu Merah, di kaki hotel mewah The Grand Amsterdam. bridgesrestaurant.nl.
3. Brasserie Keyzer; Tempat yang ideal untuk bernapas sejenak usai eksplorasi seni di Museum Quarter. Lokasi restoran persis di seberang Stedelijk Museum dan di samping gedung orkestra Royal Concertgebouw. brasseriekeyzer.nl.
4.Brasserie Harkema; Restoran yang menempati bekas pabrik cerutu, sekitar lima menit berjalan kaki dari Amsterdam Museum. Menunya beragam, mulai dari steik, pasta, hingga sayur lodeh. brasserieharkema.nl.

Tur Seni
1. Rijksmuseum; Museum yang menempati bangunan dari abad ke-19 ini memajang 8.000 benda seni dari banyak maestro, termasuk Rembrandt. Sempatkan waktu menjelajahi serambinya yang dihiasi patung-patung buatan Joan Miro. rijksmuseum.nl.
2. Van Gogh Museum; Ada lebih dari 200 karya yang dipajang di gedung modern berwarna abu-abu ini. Mengenang 125 tahun kepergian Van Gogh, museum ini menyelenggarakan ekshibisi langka bertajuk Munch : Van Gogh, yang berlangsung hingga 17 Januari 2016. vangoghmuseum.nl.
3. W139; Didedikasikan bagi perupa muda, ruang seni ini adalah tempat ideal untuk memantau karya-karya kontemporer lokal. Pameran dirotasi setiap 30-45 hari. W139 berlokasi di kawasan Distrik Lampu Merah. w139.nl.
4. KochxBos; Galeri komersial yang menjajakan karya-karya underground yang provokatif dan kontroversial dari perupa muda. Sebuah wadah untuk mengenal nama-nama baru yang berusaha menembus pasar. kochxbos.nl.
5. Amsterdam Museum; Museum yang mengajak kita memahami Amsterdam dan sejarahnya, termasuk bagaimana kota ini menumbuhkan seni. Simak lorong di muka museum yang dialasi karpet yang merepresentasikan hampir 200 suku bangsa yang menetap di Amsterdam. amsterdammuseum.nl.
6. FOAM Photography Museum; Tempat yang memajang karya-karya memikat dari juru kamera gaek hingga amatir. Hingga 9 Desember 2015, FOAM menyuguhkan foto-foto monumental jaringan Magnum. foam.org.
7. Stedelijk Museum; Museum seni modern dan kontemporer terbesar di Belanda yang memajang karya secara kronologis mulai dari periode 1860-an, termasuk karya-karya CoBrA dan De Stijl. Sayap barunya yang dijuluki “bathtub” rutin menggelar pameran temporer. stedelijk.nl.
8. Rembrandt House; Rumah yang ditinggali Rembrandt dari 1639-1658 ini memperlihatkan sosok sang artis sebagai manusia, suami, serta ayah. Karya agungnya, Night Watch, dilukis di sini. Rembrandt House juga menggelar demo menarik tentang kiat Rembrandt meracik cat. rembrandthuis.nl.
9. CoBrA Museum; Bangunan bata yang menampung karya-karya CoBrA, gerakan seni radikal yang bergulir dari 1948-1951. Beberapa pameran temporer menarik rutin digelar di lantai duanya. cobramuseum.nl.
10. Mediamatic; Ruang eksperimental yang mengeksplorasi kombinasi seni dan teknologi dengan tujuan berkontribusi pada lingkungan. Salah satu karya uniknya: urinal yang bisa mengubah air seni menjadi bir. Mediamatic berlokasi di seberang Science Center Nemo. mediamatic.net.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015 (“Seni Tepi Kanal”)