Regent Bali Canggu – Viewing Lounge Framed Views
Bali

‘The Quiet Luxury of Bali’ di Regent Bali Canggu

Regent Bali Canggu

Hiruk pikuk Canggu biasanya banyak dihindari orang-orang yang ingin mencari ketenangan. Namun, Regent Bali Canggu justru berani menantang keramaian ini dengan menawarkan sebuah ketenangan. Resort ini menghadirkan interpretasi baru tentang kemewahan modern, tenang, berlapis makna, dan sarat penghormatan terhadap jiwa Bali.

Ukiran batu Paras seberat lima ton menyambut tamu di pintu masuk, dipahat tangan selama 30 hari oleh pengrajin Bali. Sebuah buggy siap mengantar para tamu untuk keluar-masuk area hotel. Letaknya berada satu komplek dengan Holiday Inn Resort di bagian depan, sedangkan area Regent Bali Canggu berada sedikit agak ke belakang. Ini jugalah yang membuatnya jauh dari area yang ramai.

Berdiri anggun di pesisir barat daya pulau yang dinamis. Regent dikenal melalui filosofi discreet maximalism, sebuah keindahan yang lahir dari kontras antara ketenangan dan stimulasi. Di Regent Bali Canggu, pendekatan ini diterjemahkan melalui palet warna khas Regent, Celadon, yang terinspirasi dari keramik Tiongkok kuno, diperkaya dengan warna-warna permata yang berani. Setiap detail arsitektur dan interior dirancang untuk menciptakan rasa spektakuler yang halus, tidak mencolok, namun membekas.

Identitas visual ini semakin hidup lewat ilustrasi bespoke khas Regent. Di Bali, ilustrasi karya Saddo merangkai legenda Manik Angkeran, Naga Besakih, Gunung Agung, hingga ombak Canggu, menghadirkan narasi mitologis yang menyertai tamu bahkan dalam detail kecil seperti lapisan payung atau kemasan hotel.

Arsitektur dan Interior 

Masterplan resort ini dirancang oleh Wimberly, Allison, Tong, and Goo (WATG), terinspirasi dari struktur desa Bali dan terasering sawah. Bangunan-bangunan rendah mengalir lembut mengikuti lanskap, menciptakan sumbu visual sakral dari paviliun kedatangan hingga samudra. Hasilnya adalah kemegahan yang terasa hening, alami, abadi, dan penuh rasa hormat.

Di dalamnya, Hirsch Bedner Associates (HBA) menghadirkan ekspresi elegansi Indonesia kontemporer. Palet warna bumi, hijau rimbun, dan biru laut diperkaya motif batik, songket, serta ikonografi Bali yang diterjemahkan secara modern. Ruang-ruang terasa hangat dan berakar, sekaligus refined, mewujudkan komitmen terhadap konteks dan keterampilan tangan.

Untuk menghadirkan ketenangan dan keasrian Bali, John Pettigrew mendesain taman-taman tropis untuk memperkuat keseimbangan ini. Dengan pendekatan minimal dan intuitif, lanskap dibiarkan “berbicara”, memanfaatkan flora lokal, aliran air lembut, dan garis pandang bersih. Seperti yang ia ungkapkan, lanskap seharusnya mengangkat pengalaman, bukan mendominasinya.

Bak museum, resor ini memiliki berbagai karya seni artistik. Tak perlu dipamerkan, namun satu karya seolah saling melengkapi satu sama lainnya. Material yang didominasi dengan kayu ulin, bengkirai, jati, yang dipadukan dengan pahatan batu yang indah.

Bathtub kayu
Pemandangan Samudera Hindia 

Memiliki 150 kamar, Regent Bali Canggu memiliki berbagai tipe kamar dari Studio Suite (70-76m²), One Bedroom Beachfront (or Garden view) Villa with Private Pool (327m²), dan Two Bedroom Penthouse Oceanfront with Private Pool (618m²).

Nuansa yang sedikit berbeda pun terasa saat masuk ke area kamar di Studio Suite. Jika area lobby dan ruangan lainnya di resort didominasi dengan penggunaan batu-batuan dibanding kayu, Studio Suite justru lebih dominan dengan penggunaan material kayu berwarna cokelat pekat yang teduh.

Kamar ini dibagi menjadi empat area khusus yaitu ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dan balkon yang luas menghadap langsung ke laut lepas.

Satu hal yang paling ikonik di kamar ini terletak pada bathtubnya. Tak cuma unik karena terbuat dari kayu, namun jika diperhatikan lebih dekat, ukiran-ukiran yang halus dan delicate menjadi poin kemewahan tersendiri.

Bukan sekadar ukiran biasa, bathtub ini memiliki ceritanya sendiri. Ukiran barong yang di ada di sana diunakan sebagai sebuah simbol pelindung.

Michelin Star Culinary

Sepanjang jalan Canggu, ada beragam restoran dan juga tempat hits yang viral dan instagramable. Namun Regent Bali Canggu tak gentar, mereka menghadirkan berbagai hidangan internasional kelas dunia lewat kolaborasinya dengan chef bintang Michelin di Chef’s Table.

Ruang privat seluas 135 meter persegi untuk digunakan untuk 15 tamu setiap malamnya. Para tamu juga bisa dengan leluasa melihat para chef kelas dunia ini meracik berbagai hidangan populernya.

Selain Chef’s Table, Resor ini juga memiliki beberapa restoran lain di dalam areanya, yaitu Taru yang digunakan untuk sarapan, Sazon (stand alone mediteranian restaurant), The Lounge, Beach House yang populer untuk menyaksikan sunset menghadap Samudera Hindia, dan yang terbaru Cure dari Andrew Walsh.

Resor ini juga menghadirkan berbagai aktivitas seru untuk para tamunya. Para tamu akan mendapatkan daftar kegiatan yang bisa diikuti pada jam-jam tertentu.

Regent Spa_

Namun satu yang tak boleh dilewatkan, nikmati 2 jam spa di Regent Spa & Wellness dengan treatment ikoniknya. The Crystal Cure menghadirkan pengalaman relaksasi yang berfokus pada keseimbangan energi, menggunakan kekuatan kristal untuk membantu tubuh kembali ke ritme alaminya.

Sementara itu, The Massage Revolution menawarkan pendekatan yang lebih fisik, dengan memanfaatkan pasir kuarsa hangat yang menyelimuti tubuh dan membantu melepaskan ketegangan otot secara perlahan.

Pengalaman ditutup dengan The Skin Alchemy, sebuah ritual perawatan yang berfokus pada peremajaan kulit menggunakan botanikal kaya nutrisi. Perpaduan bahan alami ini bekerja dari dalam, menutrisi kulit sekaligus memberi efek segar dan bercahaya, seolah tubuh diberi kesempatan untuk memperbarui dirinya sendiri. Ini adalah Regent Spa pertama untuk jaringan Regent di dunia.