
Oleh Sanjay Surana
Foto oleh Martin Westlake
[dropcap type=”default”]S[/dropcap]eekor babi hutan menggigit jempol. Sepenuhnya salah saya. Ketika sedang piknik pada siang bolong di pantai Gaya Island Resort, seekor babi hutan melenggang di pasir dan mendekat usai terpikat oleh bau makanan. Dengan imutnya ia mengendus kaki kiri saya, seolah hendak mengajak bermain. Lalu ia pindah ke kaki kanan, tapi kali ini untuk menggigit jempol saya.
“Haaa!” Saya berteriak dan sang babi melepaskan gigitannya. Jempol masih utuh, tapi kulitnya terkelupas. Saya berjalan tertatih ke air guna membersihkan luka, sementara si pelaku kabur dan menyelinap ke hutan.
Menyesal, tentu saja. Seharusnya saya mematuhi petuah Scott Mayback, pakar biologi kelautan yang bekerja untuk Gaya Island Resort. Sejam sebelumnya, dia menganjurkan saya untuk menjaga jarak dari babi hutan. Katanya, hewan ini kerap mengendus-endus di sekitar pantai. “Tepuk tangan Anda bersama-sama seraya berteriak,” sarannya tentang teknik mengusir babi. Di Borneo, memang ada perbedaan besar antara “satwa” dan “satwa liar.”
Dan satwa liar berlimpah di belantara Gaya, pulau seluas 15 kilometer persegi di dekat Kota Kinabalu, Sabah. Di pulau ini hanya ada tiga hotel (termasuk Gaya Island Resort yang berusia dua tahun), ditambah segelintir desa berisi rumah-rumah panggung. Selain babi hutan, warga pribuminya antara lain tupai terbang, kera, kelelawar tapal kuda, burung merbah belukar, serta lebah ungu dengan mandibula yang sanggup melubangi pohon.
Faunanya jelas spektakuler, tapi tawaran Gaya yang paling atraktif adalah lautnya yang kaya warna. Kecuali kawasan semenanjung timur tempat desa-desa tradisional berdiri, seluruh perairan Gaya berstatus dilindungi, bagian dari kawasan konservasi seluas 50 kilometer persegi Taman Nasional Tunku Abdul Rahman (TAR ). Taman nasional yang diresmikan pada 1974 ini mencakup Gaya dan sejumlah pulau tetangganya seperti Mamutik, Manukan, Sapi, dan Sulug.

Gaya Island Resort sepertinya bukan semata hadir untuk mengail uang dari turis. Menganut ambisi mulia untuk merawat lingkungan, properti ini mempekerjakan Mayback, pria 36 tahun yang mengurus pembukaan marine center tahun lalu, ditambah seorang naturalis. Dilihat dari lautan, resor ini seperti dusun tepi pantai yang rendah hati. Di dalamnya terdapat vila-vila yang bertengger di atas tiang pancang, bertaburan di antara pohon-pohon dipterocarp, dan menghadap perairan berwarna batu giok Teluk Malohom. Resor ini tidak besar. Di sisi depan ada ruang publik berisi area penerimaan tamu, kolam renang, dan restoran. Di belakangnya, vila berserakan. Semuanya ditata dalam formasi lingkaran yang bisa dikelilingi dalam waktu hanya 10 menit. >>>

Kendati bersahaja, resor tersebut diperkaya banyak ornamen luks: matras lapang yang dibungkus seprai lembut, bathtub, serta dek yang dilengkapi daybed. Fasilitasnya antara lain kolam renang sepanjang 40 meter dan kompleks spa di tepi hutan bakau yang menawarkan sesi perawatan dengan bahan-bahan harum semacam kayu manis dan kenanga. Resor ini juga memiliki sepasang restoran. Yang pertama menyuguhkan sesi makan formal. Yang kedua, Fisherman’s Cove, melayang di dek dan menyajikan panorama bintang. Mayoritas kamar dilengkapi tontonan menarik, yakni pemandangan matahari terbit di atas Kinabalu, gunung terjangkung di Malaysia. Pada malam hari, resor ini senantiasa mengundang lamunan, terutama saat lampu-lampunya berkilauan seperti barisan lilin di lereng bukit.
Justin Juhun, naturalis resor, dibesarkan di sebuah perkebunan kayu di sisi lain Negara Bagian Sabah. Pria 42 tahun ini telah hidup di sekitar satwa sepanjang hayatnya, bahkan pernah memelihara buaya. “Di jam makan, mereka sangat menyenangkan dan bersemangat, mirip anjing peliharaan,” katanya pada suatu pagi, ketika kami berjalan kaki menuju interior pulau yang berbukit, meniti jalur di hutan yang mengular di sepanjang panggung pulau. Saya membayangkan Juhun mengenakan jubah biksu Buddha. Bukan hanya karena wajahnya bundar dan rambutnya cepak, tapi juga karena sikapnya yang begitu damai saat menembus hutan, meski nyamuk mengerubungi betisnya dan semut berbaris di lehernya.
Saat berjalan-jalan di hutan, saya menyadari Gaya dan pulau-pulau lain di taman laut ini secara geologis merupakan bagian dari rantai Pegunungan Crocker di Sabah, dan bahwa naiknya permukaan air laut di ujung zaman es terakhir telah menceraikan mereka dari daratan utama. “Semua ini awalnya hutan dipterocarp di pesisir; hanya ada segelintir pulau di dunia yang menyerupai Gaya,” jelas Juhun antusias. “Bekantan hidup di sini. Begitu juga 18 spesies kadal, 21 spesies ular, dan 72 spesies burung.”

Juhun lalu menunjukkan sebatang pohon endemis meranti dan kelapa nibong (buahnya, dalam keadaan darurat, berfungsi sebagai makanan). Dia kemudian mengambil bongkahan dari lantai hutan. Di dalamnya terdapat benih besar yang diselubungi warna merah darah. “Ini berasal dari pohon knema. Banyak orang menyebutnya pala liar. Rangkong menyantap benihnya, begitu pula merpati imperial hijau.”
Kami melewati satu resimen semut (“sebenarnya rayap,” Juhun mengoreksi saya) dan melihat seekor kadal terbang yang sedang tertidur pada juntaian liana keriput. Di atap hutan, tempat suara bising bersahutan, Juhun menjelaskan, “Cicada (tonggeret). Kebanyakan orang menganggap suara itu dihasilkan oleh gesekan sayap cicada, tapi sebenarnya tidak. Cicada mengonsumsi getah pohon yang kaya kadar air dan minim nutrisi. Mereka mengeluarkan airnya dan menyerap nutrisinya. Saat air keluar dari perut, layaknya membran akordeon, suara berisik pun muncul.” Beberapa menit kemudian, saya merasakan tetesan di kepala. “Cicada pipis,” jelas Juhun sambil menyeringai.
Seperti yang saya utarakan di awal, laut di sini sangat berwarna. Saya menyaksikannya saat snorkeling di atas padang karang yang berjarak singkat dari resor. Pemandu saya hari ini, Mayback, adalah pria pemalu asal New York yang sontak berubah garang di dalam air. Dia bergerak gemulai layaknya seseorang yang hidup di laut sejak lahir. Selain memimpin tur snorkeling, Mayback mengelola marine centre Gaya Island Resort di Teluk Tavajun, tak jauh dari tempat saya bertemu babi hutan penggemar jempol. Di sana, Mayback merehabilitasi penyu, menyemai karang, serta mengajarkan tamu dan siswa sekolah setempat tentang pentingnya konservasi. >>>
Tak lama setelah kami berenang, Mayback menyelam ke dasar laut dan membawa sepotong karang rusak. “Sepertinya patah akibat tertimpa jangkar,” katanya. “Kapal seharusnya tidak melego jangkar di taman nasional.” Setelah menyelam kembali untuk menempelkan karang, dia menunjuk patahan lainnya, lalu menyalahkan kaki katak penyelam atau siput drupella yang hobi mengunyah karang. Secara umum, karang di sini subur. Di suatu titik, hiu blacktip melewati kami, seolah bingung dengan kehadiran manusia.
Sore harinya, kami snorkeling di house reef resor. Warna-warna neon dari tubuh kawanan wrasse dan parrotfish terlihat semarak tersorot sinar ultraviolet. Ikan gobi berkeliaran di lubang yang digali oleh udang pistol. “Satwa-satwa ini melakukan aktivitas yang sama sepanjang hari, setiap hari,” ujar Mayback sembari menggelengkan kepala menyaksikan perilaku makhluk laut.

Barrel sponge menganga layaknya corong mutan; jari-jari lentik sabellidae menguncup setiap kali tersentuh. Ikan chromis biru-hijau bergoyang-goyang, sementara sepasang clownfish keluar-masuk anemone. Seekor kerapu bersembunyi di kolong karang meja. Belum pernah saya menyaksikan alam laut yang begitu rancak dan semarak di lokasi yang berjarak sangat dekat dari resor.
Malamnya, saya mengikuti sesi sunset cruise di atas Lumba-Lumba, yacht sepanjang 20 meter buatan Inggris yang dipercantik Louis Vuitton. Perahu merayap dari dermaga resor, lalu berputar setengah lingkaran di sekitar pulau, melewati Kota Kinabalu, hingga akhirnya kembali bersauh. Saat para penumpang mengagumi langit barat, kelasi menyajikan sauvignon blanc Selandia Baru yang memberi sensasi buah, serta cabernet sauvignon Chili yang beraroma kayu oak. Pulau Gaya dan Sapi di sisi kanan, sementara Mamutik dan Manukan di kiri. Perahu nelayan melenggang pelan ke batas cakrawala yang memudar. Laut nyaris tak beriak. Semuanya terlihat seperti lukisan.
Di luar semua pesonanya, Gaya tidak sepenuhnya bebas masalah. Kawasan yang dinobatkan sebagai hutan lindung pada 1923 ini menghadapi problem-problem klasik lingkungan yang terpaut dengan isu pembangunan dan kemiskinan. Di Kampung Pulau Gaya, sampah (kantong plastik, kaleng soda, sandal jepit, dan kemasan makanan) bertumpuk di segaris pantai. Desa berisi sekitar 500 keluarga ini tidak memiliki sistem air bersih dan pengolahan limbah. Toilet di sini hanyalah berupa lubang di bawah lantai rumah. Otoritas setempat pernah menyebar keranjang sampah, tapi sebagian justru raib dicuri warga. “Kacau,” ujar salah seorang warga ketika saya bertanya tentang kondisi tersebut. “Tapi orang-orang seolah tidak peduli.” >>>

Saya tidak sempat menyambangi Kampung Lok Urai, permukiman yang lebih besar. Menguping gosip setempat, kampung itu merupakan tempat berbahaya yang dipenuhi imigran ilegal, terutama asal Filipina. Tapi saya memang tidak perlu ke sana. Cukup menaiki perahu dan melewati rumah-rumah panggungnya yang berimpitan sesak, saya bisa melihat tumpukan kantong plastik dan gabus yang memblokade perairan dangkal.
Problem lingkungan di Taman Tunku Abdul Rahman umumnya terkait dengan jarak kawasan ini dengan Kota Kinabalu. Kota berpopulasi sekitar 600 ribu jiwa ini sedang berkembang. Pesisirnya ditaburi mesin-mesin yang sibuk mengerek mal dan kondominium, sekaligus mengirimkan debu konstruksi ke laut. Saluran drainase kota, salah satunya berbau busuk dan terletak di samping Mal Centre Point, memuntahkan segalanya langsung ke teluk. Di permukiman sebelah utara, sampah menimbun tanah dan hutan bakau. Meski sungai di Tuaran mengalir ke utara kota, arus laut membawa semua limbah ke selatan menuju taman nasional. Masalah lain di sini adalah pencemaran dari pelabuhan besar yang terletak persis di luar batas kota.
April tahun lalu, 134 penyelam dari penjuru bumi menggelar program bersih-bersih TAR , menghabiskan 168 jam nonstop di bawah air (rekor yang kemudian dicatat oleh Guinness World Record). Hasilnya: lebih dari 3.000 kilogram sampah, termasuk 1.560 kilogram plastik serta 357 kilogram karet dan pakaian. Setelah itu, Menteri Pelancongan, Kebudayaan dan Alam Sekitar Malaysia, Masidi Manjun, mengatakan, “Saya masih sedih mendengar pengunjung merasa bahwa kami sepatutnya bisa berbuat lebih banyak untuk membantu menjaga kebersihan laut.”
Menurut ahli biologi Inggris Hazel Oakley dari Tropical Research & Conservation Centre, organisasi yang menggelar proyek konservasi laut di Borneo sejak 1999, “TAR menyandang taman laut berkat lokasinya, bukan karena tempat ini memiliki ekosistem laut yang memukau. TAR berada persis di seberang kota; Anda bisa mengajak turis ke air tanpa harus berusaha. Tapi ada sisi buruknya. Datangnya turis dari Kota Kinabalu ke pantai menyebabkan polusi dan kerusakan pesisir.”
Oakley berbicara lugas tentang tantangan yang dihadapi TAR. “Pulau-pulau di sini bertindak sebagai penyaring cuaca buruk bagi Kota Kinabalu, jadi sebenarnya tak banyak pergerakan air di dalam teluk,” katanya seraya menjelaskan bahwa limpasan dari daratan mengandung tanah liat yang mengapung di permukaan air dan mereduksi daya fotosintesis karang. >>>
“Tapi Anda tak perlu pergi jauh untuk menyaksikan visibilitas laut yang baik. TAR terdiri dari dua taman: sebagian menyajikan diversitas yang impresif; sisanya yang lebih dekat ke kota, telah mati.” Saya sempat bertanya kepadanya tentang perikanan ilegal. “Masih terjadi. Patroli dijalankan oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia, tapi mereka memiliki cakupan tugas yang terlalu luas, mulai dari meringkuk penyelundup hingga membekuk pemburu penyu. Jadi sebenarnya penegakan hukum sangat tergantung pada Sabah Parks, namun mereka tak punya sumber daya yang mumpuni. Keuntungan dari eksistensi resor semacam Gaya Island dan operator selam lokal adalah, mereka terlibat dalam pengawasan—dan pengawasan bisa turut mencegah pelanggaran.”
Dia menambahkan, “Tentu saja, sulit melarang orang mengebom ikan di tengah tuntutan memberi makan keluarganya. Polisi bisa saja menangkap si pelaku, tapi anak sulungnya bakal langsung meninggalkan sekolah untuk menggantikannya. Kehadiran mata pencaharian alternatif adalah solusi terbaik, dan resor di Pulau Gaya bisa menjadi bagian dari solusi.”
Di hari terakhir saya di Gaya Island Resort, saya melihat seekor ular bronzeback (tipis seperti lidi dan panjang layaknya spageti) sedang berjemur di bawah mentari pagi. Sempat terlintas untuk menggenggam ular tak berbisa itu. Tapi saya kemudian teringat peristiwa gigitan babi hutan serta kata-kata Juhun di malam sebelumnya: “Jika biawak yang menggigit jempol kamu, pasti sudah putus.” Belajar dari pengalaman buruk, saya memutuskan tak mengusik ular bronzeback tersebut. Alam harus dihormati, dilindungi, dan tentu saja, dibiarkan apa adanya.
DETAIL
Gaya
Rute
Bandara di Kota Kinabalu merupakan yang tersibuk kedua di Malaysia. Anda bisa dengan mudah menjangkaunya dengan Malindo Air (malindoair.com) atau Malaysia Airlines (malaysiaairlines.com) dari Kuala Lumpur; SilkAir (silkair.com) dari Singapura; serta AirAsia (airasia.com) dari Jakarta.
Penginapan
Properti premium Gaya Island Resort (65/6836-2455; gayaislandresort.com; doubles mulai dari $400) menyediakan transportasi dari bandara menuju Sutera Harbour Marina, disusul speedboat ke Pulau Gaya.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2014 (“Asa Gaya”)

