
Oleh Boy Nugroho
Foto oleh Kurniadi Widodo
Mengenakan kaus oblong dan celana pendek, Apri Kusbiantoro menciptakan mural empat karakter punakawan pada dinding kamar nomor 701. Tema ini dipilihnya lantaran memiliki makna simbolis yang dalam. Punakawan, representasi rakyat kecil dalam jagat pewayangan, akrab bergaul dengan kalangan bawah dan luwes menembus kasta atas. Ditambah lagi, mereka sarat nilai kearifan Jawa, cocok untuk menghiasi sebuah hotel yang bersemayam di Yogyakarta.
Di kamar lain, Fatoni Makturodi juga sedang bergelut dengan mural. Jika Apri mengusung tema yang merakyat, Fatoni mengangkat kisah tragis Bandung Bondowoso. Kita ingat, tokoh ini melegenda sebagai kontraktor terhebat di dunia. Demi meminang Roro Jonggrang, dia mengerek 999 candi dalam semalam dengan bantuan legiun jin. Tokoh-tokoh mitologis inilah yang diolah Fatoni untuk melapisi kamar di lantai atas hotel.
Apri dan Fatoni, dua seniman yang berbasis di Yogyakarta, sedang membuat karya pesanan Artotel Yogyakarta. Selama kurang lebih sebulan, keduanya dikomisi untuk memberi sentuhan artistik berkarakter Jawa pada kamar-kamar hotel anyar ini. Selain keduanya, Artotel menyewa Uji ‘Hahan’ Handoko, Soni Irawan, Ronald Apriyan, serta duet Rara Kuastra dan Putud Utama. Proses pemilihan mereka melibatkan Heri Pemad, CEO ArtJog, bursa seni terbesar di Indonesia.
Bagi Artotel, menyewa seniman adalah praktik yang lumrah. Jaringan hotel lokal ini selalu menghiasi setiap propertinya dengan buah kreativitas para perupa. Di Jakarta, mereka menyewa antara lain Eddie Hara untuk mempercantik restoran, serta Darbotz untuk mewarnai fasad hotel. Di Sanur, tamu disambut oleh patung buatan Pintor Sirait dan dihibur oleh mural dari Kemal Ezedine.

Membuat hotel semacam itu tidaklah mudah. Untuk memilih seniman, Artotel menciptakan profesi Art Manager yang kini dijabat oleh Safrie Effendi. Dialah yang bertugas melacak kandidat perupa untuk dikomisi. Safrie, alumnus Savannah College of Art & Design, rajin bergerilya ke banyak pameran dan galeri, melakoni proses evaluasi dan kurasi, lalu mempresentasikan artis pilihannya kepada pihak hotel—proses yang biasanya lebih rumit ketika Artotel cuma bertindak sebagai pengelola, bukan pemilik bangunan, seperti dalam kasus Artotel Yogyakarta.
Bagi para seniman yang terlibat, Artotel juga menghadirkan tantangan tersendiri. Galibnya proyek komisi komersial, mereka tak bisa lagi bertindak sebagai subjek otonom yang berkreasi sesuka hati, sebab ada “syarat dan ketentuan” yang wajib ditaati. Supaya karya selaras dengan karakter bangunan misalnya, mereka mesti beradaptasi dengan gaya desain hotel. Kemudian, di tahap eksekusi, mereka harus sudi bekerja di lingkungan yang tak melulu kondusif dan steril layaknya studio, sebab proses berkarya digelar bersamaan dengan proses konstruksi bangunan.
Repotnya proses itu terlihat pula di ROCA, restoran yang bertengger di atas lobi Artotel Yogyakarta. Di sini, Rara Kuastra dan Putud Utama—duet yang bernaung di bawah Tempa Studio—meracik instalasi di antara tukang yang sibuk hilir mudik dikejar tenggat. Tempa meramu figur Dewi Sri yang dilukis pada sepotong kayu besar yang digantung di dinding. Karyanya sudah rampung, tapi terpaksa dicopot karena mural pada dinding di belakangnya mesti diselesaikan. Kendala lain muncul pada pintu restoran yang rencananya akan dilapisi ilustrasi. Baru saja sketsa akan digoreskan, pihak kontraktor mengumumkan pintu itu akan diganti. Alhasil, proses berkarya tertunda hingga dua minggu.
Artotel Yogyakarta, hotel yang bersarang di Jalan Kaliurang, merupakan properti keempat Artotel di Indonesia. Merek butik yang dirintis di Surabaya pada 2012 ini cukup giat berekspansi, dan pasar sepertinya merespons konsepnya yang segar. Tahun ini, Artotel akan melebarkan sayapnya ke Bandung, Ubud, dan Semarang. Masing-masingnya menyewa seniman yang berbeda.

Sesuai namanya, Artotel beriktikad menjadi “hotel seni.” Bukan spesies yang baru sebenarnya di dunia perhotelan, tapi kiprahnya menarik dicermati. Pendekatan yang dipakainya terbilang langka. Selama ini “hotel seni” didefinisikan sebagai penginapan yang ditaburi lukisan atau instalasi yang dibeli oleh si pemilik hotel. Sementara di Artotel, seni bangunan. Hasilnya: bukan semata hotel seni, tapi hotel yang nyeni.
Dicerna memakai kacamata bisnis, konsep itu tentu bisa dipandang sebagai taktik pemasaran belaka. Di tengah persaingan, wajar jika pengusaha hotel berlomba memberi tawaran yang unik demi menjala tamu. Akan tetapi, dalam kasus Artotel, pilihan itu agaknya juga dilatari interes personal sang pemilik. Erastus Radjimin, CEO Artotel Group, merupakan seorang pencinta seni. Perupa yang disewa Artotel Yogyakarta bukan nama yang asing baginya. Erastus, misalnya, sudah memiliki beberapa karya Ronald Apriyan.
Lazimnya hotel seni pula, Artotel tak semata menghidangkan permainan visual. Hotelini juga ingin berperan layaknya galeri yang mengadakan pameran secara berkala. Daniel Sunu Prasetyo, General Manager Artotel Yogyakarta, menguraikan rencananya menggelar ekshibisi seni tiap sebulan atau dua bulan sekali di galeri hotelnya.
Bagi Yogyakarta, kehadiran Artotel Yogyakarta jelas memperkuat citra provinsi ini sebagai kutub seni Indonesia. Selain kampus seni terpandang, bursa seni raksasa, dan beragam galeri mentereng di daerah Bantul, Yogyakarta kini memiliki sebuah hotel yang menjadikan seni bagian dari identitas bisnisnya. Satu hal yang menarik, tak semua orang menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Turut berduka cita atas kematian seni lukis Jogja.” Ucapan pedas itu terpampang pada sebuah karangan bunga yang dikirimkan untuk merayakan pembukaan Artotel Yogyakarta pada 7 Desember 2017. Pengirimnya tak jelas, tapi pesannya mudah ditangkap.
Mengawinkan seni dan hotel bukan sekadar perkara memadukan dua dunia yang saling melengkapi. Relasinya kompleks. Dalam proyek hibrida ini, ekspresi seni yang sejatinya “murni” mesti berkolusi dengan agenda bisnis untuk menjala laba. Persoalannya kemudian: di mana batasannya? Memesan karya tidak seperti memesan kendi atau televisi dari pemasok. Ekspresi seni bukan sesuatu yang mudah diatur secara tertulis dalam kontrak kerja. Kritik pada karangan bunga tadi agaknya bertolak dari kesimpulan Artotel Yogyakarta telah menjinakkan seni menjadi tak ubahnya benda dekorasi layaknya kendi dan televisi.
“Kita harus mengakui bahwa seni memang begitu. Buat hiasan,” ujar Apri, komikus asal Lombok. Kendati demikian, dia juga percaya seni bisa berperan lebih dari sekadar pemanis dinding. “Kalau kita punya bangunan ini [Artotel Yogyakarta], tak ada seni, tetap berfungsi, bisa buat beristirahat. Namun kita juga butuh seninya, untuk membuat orang merasa nyaman, betah di bangunan ini.”

Dalam peta industri perhotelan, Artotel memang memiliki tempat khusus. Konsepnya yang segar berhasil menyuntikkan warna berbeda. Akan tetapi, di Yogyakarta, hotel ini ternyata mengundang pula suara-suara miring yang kritis. Terlepas dari suguhannya yang atraktif, Artotel Yogyakarta seolah membangkitkan kembali perdebatan klasik perihal komersialisasi seni di Indonesia.
Tapi akar masalahnya mungkin bukan pada konsep Artotel. Sejenak menengok ke belakang, mengomisi seniman sebenarnya bukan praktik yang baru, termasuk di Indonesia. Dari patung-patung di perkantoran hingga ilustrasi pada botol minuman, banyak seniman telah melayani order karya dari korporasi. Jika polemik kerap muncul, itu mungkin karena “kode etik” dalam proyek komisi belum benar-benar tuntas dirumuskan, juga disepakati. Di satu sisi, seniman dipandang mengemban tanggung jawab moral untuk berkarya dengan jujur. Akan tetapi, dalam proyek komersial, kejujuran itu kerap harus memberi ruang bagi negosiasi dan kompromi yang pada akhirnya rentan merongrong independensi seniman.
Di Artotel Yogyakarta, komplikasi itu dirasakan pula oleh para seniman, termasuk Apri. Usai menerima tawaran untuk menggarap seluruh unit kamar di lantai tujuh, dia mengajukan gagasan karya berupa kombinasi antara wayang kulit dan elemen-elemen futuristik yang komikal. Pihak hotel awalnya mengangguk, tapi kemudian memintanya mengaplikasikan warna-warna yang mencolok pada karyanya—syarat yang bertolak belakang dari konsep orisinal yang memakai hanya warna hitam putih.

Intervensi serupa ditujukan ke Fatoni. Pelukis neo-ekspresionis ini awalnya juga mengajukan konsep mural hitam putih, tapi pihak hotel kemudian memintanya memodifikasinya. Padahal, bagi Fatoni, instruksi itu hanya akan berbuah visual yang norak. Mengambil jalan tengah, dia berniat menambahkan goresan-goresan manual setelah semua stiker dilekatkan di dinding.
Menurut Safrie, pihak Artotel selalu memberikan kebebasan kepada setiap seniman untuk mengeksplorasi kreativitasnya, asalkan tetap berkesinambungan dengan tema induk yang telah disepakati, contohnya tema “Jawa” di Artotel Yogyakarta. Dalam proses berkreasi, katanya lagi, campur tangan pihak hotel terbatas, misalnya berupa aturan warna, anjuran penambahan komposisi pendukung seperti teks, serta larangan membuat karya yang mengandung unsur kebencian. “Ini semua kanvas-lu, terserah mau diapain,” ujar Safrie menggambarkan keleluasaan yang diberikannya kepada para seniman.
Melihat wujud Artotel Yogyakarta, Safrie, yang juga seorang seniman, mengaku puas dengan hasil kerja para perupa pilihannya. Seluruh elemen seni berhasil membaur harmonis dengan interior hotel. Tentang tudingan Artotel menjadi bukti “kematian seni lukis Jogja,” dia lebih menganggap kritik itu sebagai hiburan. Menurutnya, publik seharusnya berpikir lebih terbuka. “Being crafty in any kind of medium is art,” pungkasnya.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Seni Masuk Hotel”).

