Adventures

Road Trip di Sumba Timur: Savana, Air Terjun, dan Jejak Tradisi

Savana adalah impresi pertama yang terekam begitu kaki menjejak Sumba Timur. Perjalanan darat menuju Waingapu—ibu kota Sumba Timur, membuka satu per satu lanskap yang membentuk karakternya: garis bergelombang di bukit berselimut rumput, langit bersih, hingga pemandangan kuda liar di sepanjang jalan dan pekarangan rumah warga setempat.

Perjalanan dari Jakarta membutuhkan transit singkat di Lombok dan total waktu terbang sekitar empat jam. Hingga artikel ini dimuat, rute menuju Bandara Umbu Mehang Kunda (WGP) masih dilayani satu maskapai, yaitu Wings Air. Kota pelabuhan ini menjadi titik awal sebelum menyusuri jalan-jalan panjang yang menyingkap pesona kabupaten tempat syuting film “Susah Sinyal” ini.

(Foto: Myze Hotel Waingapu)
Kambaniru, Waingapu

Saya mengawali perjalanan dengan bermalam di Myze Hotel Waingapu, hotel besutan Artotel Group yang baru buka pada akhir November 2025. Saat ini, Myze Hotel merupakan hotel bintang 4+ terbesar di Waingapu, dengan 127 kamar dan delapan vila, dan fasilitas lengkap mulai dari kolam renang, restoran all day-dining, gym, ruang pertemuan, dan ballroom. Hotel ini bisa jadi pilihan akomodasi yang ideal untuk mengawali perjalanan di Sumba Timur. Myze Hotel Waingapu, bekerja sama dengan agen travel lokal, juga menyediakan paket menginap dan tur di Sumba, cocok bagi wisatawan yang ingin pengalaman berlibur yang efisien.

Bukit Tanarara

Di hari berikutnya, saya mengawali road trip dari Bukit Tanarara di Katiku Luku, Kecamatan Matawai La Pawu. Tanarara memiliki arti “tanah merah” atau “tanah berpelangi” karena warna tanah di sekitar bukit yang merah, serta gradasi warna pada kontur tanah yang menakjubkan.

“Saat musim kemarau, savana berwarna kuning keemasan. Tapi, kalau sudah akhir tahun, padangnya jadi hijau karena sudah terkena hujan,” jelas pemandu yang merupakan warga Waingapu.

Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit dari Waingapu. Jalanan sudah beraspal, namun berkelok dan naik-turun mengikuti kontur savana. Perjalanan yang agak memabukkan terbayar dengan lanskap yang menakjubkan. Bukit-bukit dengan kontur bergelombang membentang, dengan warna yang berubah seiring musim. Semburat oranye matahari malu-malu memberi warna di langit sebelum muncul sepenuhnya.

Fajar adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Tanarara. Begitu matahari muncul sekitar pukul 05.30 WITA, garis-garis cahaya menyapu lembut lekuk savana, menciptakan lanskap yang nyaris tak memiliki gangguan visual. Burung-burung terbang bebas menyambut pagi, sementara sapi gunung sibuk sarapan. Tanarara cantik seutuhnya. Saat berkunjung ke sini, disarankan menggunakan sepatu atau sandal antislip, karena medan untuk berjalan dari satu bukit ke bukit lainnya terkadang cukup licin.

Selain mengejar sunrise, saya bergeser sekitar 1-2 kilometer untuk melihat lanskap Sexy Road yang ikonis. Julukan ini diberikan karena lekuk jalan yang indah namun sedikit menantang bagi para pengendara motor dan mobil.

Air Terjun Tanggedu

Dari Waingapu, perjalanan ke Air Terjun Tanggedu membutuhkan sekitar satu setengah jam. Rutenya panjang namun tidak membosankan. Tempat singgah minim; kebanyakan wisatawan—termasuk saya, membawa perbekalan sendiri. Saya menikmati panorama hamparan savana terbuka, lembah yang dalam, desa-desa kecil yang berdiri berjauhan; sesekali kuda liar melintas. “Kuda berkeliaran dengan bebas sudah menjadi pemandangan sehari-hari di sini,” ujar pemandu, sembari bercerita bagaimana kuda menjadi sesuatu yang mahal untuk dijadikan instrumen tradisi pernikahan di Nusa Tenggara Timur.

Setibanya di area parkir, perjalanan dilanjutkan dengan ojek lokal. Biaya ojek lokal sebesar 50 ribu (pulang pergi), sementara tiket masuknya dibanderol 10 ribu per orang. Setelah itu, lebih dari dua ratus anak tangga harus dituruni sebelum deras air terjun terdengar jelas. Air Terjun Tanggedu menampilkan formasi batu yang terukir oleh aliran air selama puluhan tahun, membentuk kolam-kolam dan jalur yang menyerupai kanion.

Di musim hujan, air berubah cokelat akibat lumpur yang turun bersama arus. Namun, pada musim kemarau sekitar Juni–Juli, warna biru kehijauannya kembali muncul—warna yang sering terlihat di foto-foto Tanggedu.

Di area yang lebih tinggi, wisatawan akan bertemu dengan Mama Bola dan Sara, satu-satunya penduduk yang tinggal di gubuk yang dibangun di atas batu berundak. Mama Bola yang masih lincah siap menyambut wisatawan dengan senyum hangat, dia juga menjual kelapa muda untuk melegakan tenggorokan dari terik matahari.

(Di dalam foto kanan-kiri: Mama Renol – Regina) Pengrajin kain Sumba di Kampung Adat Praliu. (Foto: Myranda Fae/DestinAsian Indonesia)
Kampung Adat Prailiu

Prailiu merupakan salah satu kampung adat paling mudah dijangkau dari Waingapu. Di sini, rumah-rumah panggung dengan menara atap menjulang menjadi struktur yang mendefinisikan lanskap budaya Sumba Timur. Desa ini juga dikenal sebagai pusat pengerjaan tenun ikat yang dibuat dengan pewarna alami dan alat tradisional.

Saya bertemu Mama Renol, salah satu pengrajin yang sudah memproduksi banyak kain Sumba. Mama Renol menjelaskan bahwa di dalam setiap kain terkandung simbol-simbol khas Sumba seperti kuda, pohon hayat, burung, hingga figur-figur kosmologis marapu—masing-masing memiliki makna. “Pola-pola ini juga berkaitan dengan hubungan antar makhluk hidup: manusia dengan binatang dan tumbuhan,” ujarnya.

Kain di Prailiu bukan hanya karya kerajinan, melainkan representasi identitas komunitas yang telah diwariskan lintas generasi.

Wisatawan dapat membeli kain Sumba yang dibanderol sekitar 3-4 juta tergantung motif dan teknik pengerjaan. Sementara untuk produk yang lebih kecil seperti syal, gelang, dan ikat kepala dijual dengan harga mulai dari Rp25.000.

Pantai Walakiri

Berjarak sekitar 35 menit dari Waingapu, Pantai Walakiri menjadi saah satu lokasi yang digandrungi untuk menikmati matahari terbenam. Ciri khasnya adalah mangrove kerdil yang tumbuh di bibir pantai, menghasilkan siluet yang tampak seperti figur menari saat air surut. Pada sore hari, langit bergerak dari biru pucat menuju oranye lembut sementara mangrove berdiri sebagai foreground yang kuat.

Disarankan untuk berkunjung di musim kemarau—pertengahan tahun, saat kondisi air sedang surut dan langit tidak berawan; karena pada akhir tahun atau saat musim hujan, air pasang kerap menutup sebagian area pasir sehingga bentuk pantai berubah. Jika tidak beruntung, matahari juga akan tertutup awan mendung.

Seafood Segar di Dermaga

Menjelang malam, dermaga Waingapu menjadi salah satu titik di mana kota ini terasa paling hidup. Perahu-perahu kecil kembali merapat, lampu pelabuhan menyala pelan, dan aroma laut bercampur dengan asap dapur restoran sederhana di sekelilingnya.

Deretan rumah makan di area dermaga menawarkan seafood segar hasil tangkapan harian: ikan, cumi, dan udang yang dipilih langsung sebelum dimasak. Suasananya kasual dan tanpa pretensi, tepat untuk menutup perjalanan tiga hari menjelajahi Sumba Timur.