Karina Anandya
19 April 2016

[dropcap type=”default”]”D[/dropcap]i sini Anda harus membayar retribusi jika ingin mengamen,” ujar Fiona Sweetman, pemandu saya, saat kami melewati musisi jalanan yang mangkal di kawasan pusat kota. “Usai membayar, jadwal mengamen akan diatur, sehingga kompetisi antar-pengamen berlangsung adil.” Fiona kemudian membawa saya ke Union Lane dan Hosier Lane. Kedua jalan ini menyerupai kanvas raksasa bagi para seniman. Banyak dinding di sini dihiasi mural, dan uniknya, semuanya legal. “Pemerintah mendukung aksi para seniman jalanan,” lanjut Fiona. “Saban hari pasti ada mural baru, betapapun kecil ukurannya.”
Pengamen ditata. Mural didukung. Sulit membayangkan semua itu terjadi di Jakarta. Betapa banyak emosi yang harus dimuntahkan Ahok untuk mengatur jadwal pentas pengamen. Betapa alot negosiasi dengan Dinas Pekerjaan Umum agar mereka sudi menyediakan dinding untuk dicat seniman.
Ini pertama kalinya saya ke Melbourne, dan saya beruntung bisa menemukan pemandu yang tepat. Fiona sudah hampir 10 tahun mengelola operator Hidden Secrets Tours. Sesuai namanya, perusahaannya berniat membawa pelancong ke sudut-sudut kota yang kerap luput dari brosur wisata. Layaknya pusat informasi berjalan, Fiona sangat mengenal kotanya. Sebelum bertemu, kami sempat berkomunikasi via telepon guna menyusun agenda. Usai mengetahui saya tengah menanti di restoran Taxi Kitchen, dia langsung menyarankan: “Coba menu salmon buns dan candied pork.” Dan sarannya jitu.
Saya memesan bakpao berisi selembar salmon yang dilumuri crème fraîche dan ditaburi kacang macadamia; disusul oleh daging babi yang dibumbui campuran gula dan daun bawang, lalu disajikan dengan salad kelapa. Bersama Fiona, saya mengarungi kawasan CBD. Kami menyusuri gang-gang cupet yang dijejali kedai kopi dan butik, melewati perpustakaan yang dipercantik area piknik, serta menyimak alunan musik indie dari toko vinil.
Melbourne sudah berusia hampir dua abad, tapi kota ini sepertinya enggan beranjak tua. Tren gaya hidup terbaru, termasuk yang berlangsung ribuan kilometer di utara khatulistiwa, bisa ditemukan di sini. Suatu kali, Fiona mengajak saya ke toko musik Basement Discs. Lokasinya sebenarnya di bawah tanah, tapi musik era 70-an yang disetelnya begitu berisik hingga tumpah ke jalan.
Memasuki toko, saya disambut poster Blondie dan Led Zeppelin yang bersanding di atas rak CD dan kaset. Entah siapa yang masih membeli kaset di zaman digital. Basement Discs seperti tempat yang mengawetkan masa lalu. “Melbourne terkenal dengan budaya kopi dan brunch-nya, tapi memulai hari di Basement Discs bagi saya adalah alternatif yang tak kalah menarik,” bisik Fiona. Bagi saya, Melbourne bagaikan hasil kawin silang antara Singapura yang tertib dan Bandung yang kreatif. Dengan status pusat finansial, Melbourne jelas memiliki aturan yang ketat dan standar keamanan yang prima. Tapi metropolitan ini tidak lantas berubah kaku dengan mengharamkan ekspresi. Itu juga mungkin sebabnya Melbourne dijuluki “pusat budaya” Australia. Bahkan aliran seni Australian impressionism lahir di sini.

Saya datang saat Melbourne sedang berbunga-bunga. Akhir tahun silam, lembaga riset Economist Intelligence Unit menempatkannya di posisi wahid dalam daftar Global Liveability Ranking. Ini pencapaian kelima Melbourne secara berturut-turut. Membanggakan tentunya, termasuk bagi Fiona, yang berulang kali mengungkapkan prestasi kotanya itu. Dan warga lebih bangga usai mendapati Sydney berada di peringkat ketujuh. Maklum, kedua kota ini sudah lama bersaing untuk menjadi yang terbaik di Australia. Economist Intelligence Unit menyusun peringkat “kota layak huni” berdasarkan evaluasi atas kualitas kesehatan, keamanan, infrastruktur, lingkungan, dan pendidikan.
Di semua aspek itu, Melbourne mencapai nilai nyaris sempurna, mengalahkan kota-kota dengan “peradaban” yang jauh lebih senior semacam Wina, Helsinki, dan Zurich. “Hal semacam ini yang merangsang warga lokal percaya diri untuk membuka usaha,” ujar Maria Paoli, seorang pakar kopi saya temui di persimpangan Flinders Lane. Baginya, status “kota layak huni” berarti terbukanya kesempatan untuk berwiraswasta bagi warga. “Lihat saja kedai-kedai kopi yang kini bertebaran,” tambah Maria, “mereka berhasil memukul bisnis Starbucks.”

Ngopi adalah bagian integral dari wisata kuliner di Melbourne, tak ubahnya makan nasi campur di Bali. Di kota ini, kopi diperlakukan serius, termasuk oleh Maria, wanita dengan tato “coffee scoop” di lengannya. Menekuni dunia “perkopian” selama 10 tahun, Maria sudah melatih banyak barista dan pernah mengadakan kompetisi barista pada 2006. Di Brunetti Cafe, dengan ditemani secangkir latte, saya mendengarkan ceramah Maria tentang third wave coffee movement, budaya ngopi yang mewabah di Melbourne (dan kini menular ke Indonesia).
“Warga rutin pergi ke kedai kopi yang memiliki mesin cold drip dan mesin sangrai, lalu memesan satu hingga dua cangkir cappuccino, kemudian memilih menu brunch favorit. Sungguh tipikal third wave coffee movement,” jelasnya. Dipandu Maria, saya melakoni tur kopi. Kami melewati kedai-kedai beraliran third wave, menyaksikan orang-orang yang mengagungkan kopi layaknya oenophile memuja wine. Kami singgah di Patricia Coffee Brewers, kafe yang cuma menawarkan tiga opsi kopi—black, white, dan filter—tapi dengan fleksibilitas racikan sesuai selera tamu.
“Ketika memesan, kita jarang hanya menyebut black atau white, tapi pasti menambahkan pesan-pesan seperti ‘sedikit gula’ atau ‘sedikit creamer.’ Di sini, mereka benar-benar menyimak pesan-pesan tersebut dan menghasilkan gelas-gelas kopi dengan racikan yang persis sesuai permintaan kita,” jelas Maria. Dengan darah bercampur kafein, saya dan Patricia menaiki trem sonder bayar menuju kawasan Southbank, lalu mampir di ST. ALi, kafe butik yang begitu dipuja hingga menyerupai sebuah sekte.
Tur kopi di Melbourne tak lengkap tanpa mengunjungi ST. ALi, sebagaimana wisata nasi campur di Bali tak afdal tanpa singgah di warung Bu Weti. Barista ST. ALi, Matt Perger, pernah memenangkan World Brewers Cup 2012. My Mexican cousin, menu andalan kedai ini, telah menginspirasi restoran bernama sama di area yang sama pula. Magnet lain ST. ALi tentu saja stafnya yang berparas rupawan dan berbusana necis—penampilan yang merefleksikan profil sang pemilik, Salvatore Malatesta, mantan perancang busana dan pengacara.
Di hari terakhir, saya melawat ke Fitzroy, permukiman kaum gipsi era 60-an yang berubah menjadi salah satu kantong urban paling hip di Melbourne. Mengikuti saran Maria, saya menemui Daniel Platt, pendiri Localing Tours, operator dengan spesialisasi kawasan suburban. Daniel pertama-tama membawa saya ke Bad Frankie, bar pertama yang didedikasikan bagi minuman beralkohol buatan Australia. Setelah itu, kami ke PolyEster Books yang dijuluki “toko buku paling absurd sejagat.”

Dagangan tempat ini memang absurd. Membaca judulnya, mayoritas buku di sini akan masuk daftar hitam jika dibawa ke Indonesia, sebut saja the Happy Atheist, Art of the Quickie, dan Marijuana Horticulture. Melambungnya pamor Fitzroy tak lepas dari kreativitas orang-orang keturunan imigran Daniel misalnya, lahir dari keluarga asal Eropa Timur. Di Fitzroy pula, George Calombaris, koki selebriti berdarah Yunani, membuka restoran Jimmy Grants yang meracik menu kaki lima dari tanah leluhurnya.
“Daerah seperti Fitzroy menjadikan Melbourne kota yang hangat,” kata Daniel. “Bahkan kaum pendatang seperti orang tua saya begitu mencintai kota ini dan mengajarkan saya untuk terus berkarya bagi Melbourne.” Mungkin semangat semacam itu yang membuat Melbourne bertahan sebagai kota yang layak ditinggali. Ia dibangun dan dirawat oleh warganya sendiri—tak peduli dari mana moyang mereka berasal.

Detail
Melbourne
Rute
Penerbangan langsung ke melbourne dilayani oleh Garuda indonesia (garuda-indonesia.com) dari Jakarta dan Bali. Opsi lainnya adalah Qantas (qantas.com.au) via Sydney dan Singapore Airlines (singaporeair.com) via singapura.
Penginapan
Di area Southbank, Crown Metropol (Whiteman Street 8, Southbank; 61-3/ 9292-6211; crownhotels.com.au; doubles mulai dari Rp3.600.000) menawarkan kamar-kamar berdesain atraktif, serta kolam renang indoor yang bertengger di lantai 27. sementara di jantung kota, Brady Hotel (Little La Trobe Street 30; 61-3/ 9650-9888; bradyhotels.com.au; doubles mulai dari Rp1.350.000) menyuguhkan lokasi yang strategis untuk menjangkau objek populer seperti Queen Victoria Market, State Library Victoria, dan kedai-kedai kopi ternama.
Referensi
Jika mencari pengalaman wisata yang berbeda, Hidden Secrets Tours (hiddensecretstours.com) menawarkan beragam tur tematik yang bisa disesuaikan dengan durasi liburan anda, misalnya tur bertema sejarah, kuliner, serta desain. khusus tur bertema kopi, Melbourne Coffee Tours (melbournecoffeetours.com.au) wajib dicoba. Sementara untuk wisata ke kantong suburban dan kawasan di sekitar Melbourne, salah satu operator yang layak disewa adalah Localing Tours (localingtours.com.au). Untuk mengetahui objek wisata secara komprehensif, kunjungi visitmelbourne.com.
Makan & Minum
Taxi Kitchen: restoran di tengah Federation Square yang menawarkan menu-menu inovatif dan pemandangan 180 derajat kota melbourne. taxikitchen.com.au.
Brunetti: kafe yang selalu ramai tidak hanya berkat racikan kopinya, tapi juga koleksi kue, pasta, dan pizanya. brunetti.com.au.
Jimmy Grants: restoran milik George Calombaris, koki selebriti dan juri MasterChef Australia, yang menyuguhkan beragam masakan kaki lima khas Yunani. jimmygrants.com.au.
Hashtag: kedai yang menawarkan biji kopi dari penjuru bumi, yang kemudian diracik dengan beragam metode.
Gradi: restoran italia yang dibesut oleh Johnny Di Francesco, juara World Pizza Championship 2014. 400gradi.com.au.
Patricia: walau menyajikan hanya tiga opsi kopi, tempat ini siap memodifikasi racikannya sesuai selera pembeli. patriciacoffee.com.au.
Om Nom Kitchen: restoran semi fine dining yang menawarkan dessert degustation berbentuk atraktif, misalnya cokelat berwujud jam dan taman. omnom.kitchen.
St. ALi: kedai kopi paling populer di Melbourne. kopinya diracik oleh barista andal yang pernah menjuarai World Brewers Cup. stali.com.au.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Maret/April 2016 (“Momentum Melbourne”)

