pameran Museum MACAN 2026
Arts

Pameran Baru Museum MACAN Digelar Juni 2026

Apa yang terlintas di pikiran ketika membayangkan satu lanskap pemandangan? Alam yang indah, atau jejak kekuasaan, sejarah, dan perubahan yang membentuknya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi benang merah pameran terbaru di Museum MACAN yang bertajuk Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes.

Mulai digelar pada 13 Juni 2026, pameran Museum MACAN ini menghadirkan serangkaian presentasi yang bergerak melintasi medium dan generasi. Mulai dari pameran tunggal seniman Indonesia Riar Rizaldi, pameran kelompok Menelan Cakrawala, hingga karya-karya terbaru dari perupa Singapura Dawn Ng dan seniman tekstil Malaysia Marcos Kueh. Di saat yang sama, ruang seni anak museum juga kembali diaktifkan melalui proyek partisipatif karya Ruth Marbun.

Alih-alih menawarkan satu narasi tunggal, rangkaian pameran ini mengajak pengunjung menelusuri berbagai lapisan waktu: masa lalu yang terus membentuk masa kini, lanskap yang menyimpan sejarah yang kerap terlupakan, hingga memori kolektif yang perlahan berubah seiring perkembangan teknologi dan masyarakat.

Sorotan pameran kali ini adalah Period Piece, pameran museum pertama Riar Rizaldi di Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, nama Rizaldi semakin dikenal di panggung seni internasional melalui karya-karyanya yang mengeksplorasi hubungan antara teknologi, sejarah kolonial, dan industri ekstraktif. Karyanya telah dipresentasikan di berbagai institusi dan ajang bergengsi, termasuk MoMA di New York, Centre Pompidou di Paris, serta Venice Architecture Biennale.

Di Museum MACAN, Rizaldi menghadirkan Bioskop Asymptotic (2026), instalasi baru yang dikomisi khusus oleh museum. Karya tersebut membayangkan ulang lobi bioskop Indonesia era 1990-an sebagai ruang yang seolah terjebak di antara nostalgia dan masa depan. Instalasi ini dipresentasikan bersama Fanfictie: Volcanology (2025), yang menelusuri pertemuan antara ilmu vulkanologi kolonial dan kosmologi Jawa, serta Tropenkolder (2026), karya yang merefleksikan sejarah perkeretaapian, sinema, dan gerakan buruh pada awal abad ke-20.

Jika pameran Rizaldi berangkat dari hubungan antara waktu dan kemajuan, Menelan Cakrawala mengajak pengunjung mempertanyakan sesuatu yang tampak lebih sederhana: cakrawala itu sendiri. Melalui karya-karya seniman modern dan kontemporer dari berbagai periode, pameran ini menunjukkan bahwa lanskap tidak pernah benar-benar netral. Cara sebuah gunung, laut, atau hutan digambarkan sering kali berkaitan erat dengan cara sebuah wilayah dipahami, dikuasai, atau dieksploitasi.

Di antara karya-karya yang dipamerkan terdapat nama-nama penting seperti Raden Saleh, S. Sudjojono, Wakidi, I Nyoman Masriadi, Robert Rauschenberg, Anselm Kiefer, hingga Theaster Gates. Salah satu titik tolak historis pameran ini adalah tradisi visual Mooi Indië, yang selama era kolonial membentuk citra Hindia Belanda sebagai negeri tropis yang damai dan harmonis, sembari mengaburkan realitas sosial serta ekologis yang berlangsung di baliknya.

Sementara itu, perupa Singapura Dawn Ng menghadirkan Atlantis II, proyek yang menggunakan es sebagai medium utama. Di negara tropis seperti Singapura, es menjadi simbol kefanaan yang menarik: sesuatu yang hanya dapat bertahan sementara sebelum akhirnya mencair dan menghilang.

Dalam proses penciptaannya, balok-balok es berpigmen digantung di atas tumpukan kertas xuan Tiongkok. Ketika es perlahan mencair, warna-warna yang terbawa air meninggalkan pola organik yang menyerupai gugusan pulau, peta imajiner, atau formasi kosmik. Hasil akhirnya menjadi semacam arsip visual tentang waktu yang terus bergerak, sekaligus pengingat akan ketidakabadian segala sesuatu.

Di Sculpture Garden, Pameran Museum MACAN 2026 juga menampilkan Kenyalang Circus karya Marcos Kueh. Seniman asal Malaysia ini dikenal melalui praktik tekstil yang memadukan teknik tenun digital dengan simbol-simbol budaya Borneo. Melalui karya-karyanya, Kueh menyoroti bagaimana identitas budaya dibentuk, dipasarkan, dan dipertontonkan dalam dunia yang semakin terhubung oleh pariwisata dan kapital global.

Sementara bagi pengunjung yang datang bersama keluarga, Museum MACAN Children’s Art Space menghadirkan Beradu Padu karya Ruth Marbun. Instalasi partisipatif ini mengundang anak-anak dan orang dewasa untuk menciptakan kolase bersama menggunakan gambar cetak, selotip berwarna, dan berbagai material sehari-hari. Karya-karya individual tersebut kemudian disatukan menjadi lanskap kolektif yang terus berkembang sepanjang durasi pameran.

Meski berbeda medium dan pendekatan, seluruh presentasi dalam musim ini tampak berbicara tentang hal yang serupa: bagaimana kita memahami dunia melalui apa yang kita lihat, ingat, dan warisi. Dalam konteks yang semakin ditandai oleh perubahan sosial, teknologi, dan lingkungan, pertanyaan tentang posisi kita dalam waktu menjadi semakin relevan.

Menelan Cakrawala berlangsung hingga 5 September 2026. Sementara Riar Rizaldi: Period Piece, Marcos Kueh: Kenyalang Circus, Dawn Ng: Atlantis II, serta Ruth Marbun: Beradu Padu dapat dikunjungi hingga 4 Oktober 2026 di Museum MACAN.