Updates

Panduan Menjelajah Seychelles

Panorama Seychelles.

[dropcap type=”default”]N[/dropcap]ama Seychelles sempat melambung usai dipilih sebagai tempat bulan madu oleh Pangeran William dan Kate Middleton. Sebelumnya, di kalangan turis Indonesia, kepulauan yang terapung di Samudra Hindia ini kurang dikenal. Jangankan mengunjunginya, membayangkan lokasinya di atas peta pun banyak orang kesulitan.

Dibandingkan Maladewa misalnya, tetangganya yang terpisah 2.000 kilometer, Seychelles memang belum menikmati reputasi sebagai destinasi utama dunia. Negara ini hanya membukukan 270.000 kunjungan turis asing, seperempat pencapaian Maladewa.

Tapi Seychelles setidaknya punya tiga aset yang tidak dimiliki tetangganya: kura-kura berusia dua abad, karnaval tahunan yang diikuti peserta internasional, serta buah kelapa gigantik yang bertubuh sensual. Saya datang untuk melihat ketiganya.

Saat pesawat bersiap mendarat di bandara, saya melongok ke jendela dan merasa sedang melayang di atas Indonesia Timur. Seychelles, negara terkecil di Afrika, disusun oleh 115 pulau yang dibingkai pantai berpasir putih, dinaungi perbukitan hijau, serta ditumbuhi nyiur. Populasinya cuma 92.000 jiwa. Luas daratannya 455 kilometer persegi, lebih kecil dari Singapura.

Pantai Anse Source d’Argent dengan batu-batu raksasa.

Saya mendarat di Mahe, pulau terbesar dan terpadat di Seychelles. Victoria, ibu kota negara, juga terletak di sini. Keluar dari pesawat, terik langsung menyengat dan saya berjalan menuju loket imigrasi dengan tubuh penuh peluh. Petugas imigrasi cukup pendiam, tidak banyak bertanya. Dia hanya meminta saya menunjukkan tiket bolak-balik, kemudian mengecap paspor dengan gambar yang menyerupai bokong wanita.

Saya menginap di daerah Pantai Beau Vallon, sekitar 15 menit berkendara dari Kota Victoria. Di sepanjang pantai berjajar hotel dan resor dengan latar perbukitan hijau. Pariwisata adalah sektor yang vital bagi Seychelles. Sekitar 70 persen devisanya dipasok dari kantong turis. Kendati demikian, negeri ini tidak membiarkan aspek komersial pariwisata memberangus ruang-ruang publik. Pantai misalnya, tidak ditutup oleh pagar hotel, sebab peraturan pemerintah menyatakan pantai milik semua orang. Usai check-in, saya langsung menuju pantai yang steril dari sampah dan menceburkan diri ke laut berair tenang.

Victoria tidak memiliki pencakar langit. Bangunan di sini rata-rata hanya berlantai dua dan beratap seng. Satu struktur yang paling menonjol adalah Arul Mihu Navasakthi Vinayagar, kuil berwarna-warni setinggi 50 meter yang dibangun pada 1992 dan sering terpampang fotonya pada kartu pos. Kuil ini melayani penganut Hindu, agama terbesar kedua di Seychelles setelah Kristen. Ajaran Hindu dibawa oleh orang-orang India yang diimpor sebagai budak pada masa lalu. >>

Dari kiri ke kanan: Buah kelapa endemis coco de mer; Kura-kura raksasa yang sanggup hidup hingga 200 tahun.

Saya datang saat Victoria tengah bersiap-siap menggelar ajang Seychelles International Carnival of Victoria 2015 selama tiga hari berturut-turut. Karnaval kali ini diikuti oleh 60 tim utusan 20 negara, termasuk Indonesia.

Malam pembukaannya digelar di Stadion Stad Popiler. Presiden Seychelles, para pejabat, serta tamu kehormatan Raja Ghana dan Puteri Mahkota Swaziland memberikan sambutan di atas panggung. Setelah itu, pesta semalam suntuk dimulai dengan iringan band dan DJ lokal.

Pada hari kedua, karnaval bergulir mulai pukul 15. Jalan-jalan kota ditutup. Puluhan kendaraan hias (float) berparade mulai dari Bois de Rose Avenue menuju Orion Mall. Di depan tenda VIP, setiap tim memperagakan tarian dan nyanyian selama lima menit. Tim dari negara-negara Afrika mengandalkan tarian yang mengentak-entak, sementara tim Asia tampil dengan kostum yang berkilauan. Mereka membuat utusan negara-negara Barat terlihat membosankan, mungkin karena budayanya kurang berwarna.

Diwakili oleh Kepulauan Nias, kontingen Indonesia menampilkan atraksi lompat batu yang sukses mendulang tepuk tangan riuh penonton. Tapi sambutan paling histeris diperoleh tim Brasil yang tampil seksi dengan mengenakan bikini. Selama berjam-jam saya menonton karnaval dan berjoget bersama ribuan penonton.

Acara hari terakhir dipusatkan di Freedom Square. Suguhannya: karnaval khusus anak-anak dan keluarga; festival kuliner lokal; serta pengumuman pemenang karnaval oleh Menteri Pariwisata Seychelles. Di kategori Best International Float, tim Inggris bertengger di posisi puncak, diikuti oleh Brasil dan Mauritius. Prestasi terbaik tim Asia diraih oleh Kamboja yang menyabet juara kedua di kategori Best Cultural Float.

Kelar festival, saya mulai menjelajahi Victoria. Salah satu ibu kota terkecil di dunia ini bisa tuntas dikelilingi cukup dengan berjalan kaki. Eksplorasi kota lazimnya dimulai di Clock Tower, landmark utama kota. Janganmembayangkannya sebagai menara gagah sekaliber Big Ben, sebab Clock Tower sejatinya hanya sebuah monumen langsing dan pendek yang menyerupai Tugu Yogyakarta. Arsitekturnya serupa dengan Vauxhall ClockTower di London. Di sampingnya terdapat gedung tua Liberty House yang menampung kantor-kantor kementerian. Dihuni 86 persen populasi negeri, Victoria juga tempat terbaik untuk berkenalan dengan kebudayaan dan sejarah Seychelles.

Mayoritas warga pribumi beretnis Seychellois Creole yang berakar di Afrika Timur dan Madagaskar. Leluhur mereka dibawa oleh pemerintah kolonial Prancis untuk menjadi budak di perkebunan kopi dan tebu. Prancis menjajah negeri ini sejak 1756, sebelum kemudian digeser oleh Inggris setengah abad berselang. Nama Seychelles sendiri diambil dari Jean Moreau de Séchelles, Menteri Keuangan Raja Louis XV. Kehadiran warga Eropa, ditambah kaum imigran asal Tiongkok dan India, menghasilkan akulturasi yang kompleks. Orang Creole umumnya berkulit “lebih putih” dibandingkan penduduk Afrika, meski rambutnya tetap keriting.

Dari kiri ke kanan: Clock Tower, salah satu ikon di Victoria; Kuil Arul Mihu Navasakthi Vinayagar yang dibangun pada 1992.

Eksplorasi saya berlanjut ke Domaine de Val des Près (“desa kriya”), sekitar 16 kilometer dari Victoria. Di desa ini terdapat Gran Kaz, rumah khas Creole di perkebunan dari abad ke-19, yang sudah disulap menjadi museum berisi aneka perabot antik. Di halamannya terdapat kios-kios kecil yang menjajakan kerajinan tangan dan suvenir berbahan kelapa. Di sinilah saya mengetahui bahwa cap imigrasi yang unik di paspor saya sebenarnya merefleksikan lekukan coco de mer, sejenis buah kelapa yang bentuknya memang mirip bokong wanita! Coco de mer hanya tumbuh di Seychelles, mungkin itu sebabnya ditetapkan sebagai lambang negara.

Mendaki bukit di atas Pantai Anse Royale, saya tiba di Le Jardin du Roi, kebun seluas 35 hektare yang berisi aneka tanaman obat dan bumbu. Wahana edukatif ini dikemas rapi. Bersama beberapa turis asing, saya meniti jalan setapak dan membaca penjelasan tentang tiap tanaman di pelang informasi. Satu hal yang membuat saya tertawa adalah banyak tanaman di sini sebenarnya lazim ditemukan di Indonesia, misalnya cabai, kunyit, dan lengkuas.

Usai mempelajari bahan-bahan dapur Seychelles, saya mencicipi warisan kulinernya. Le Jardin du Roi memiliki sebuah restoran yang menghadap samudra dan menyajikan masakan khas Creole yang dipengaruhi tradisi India, Prancis, Inggris, dan Tiongkok. Di meja saya terhidang nasi putih dengan lauk ikan bakar, kari ayam, pisang santan, ditambah cocolan berupa chutney mangga dan dhal. >>

Pagi-pagi sekali, saya meluncur ke pelabuhan dan menaiki feri menuju Praslin, pulau terbesar kedua di Seychelles. Persinggahan pertama adalah Vallee de Mai Nature Reserve, hutan lindung yang berpredikat Situs Warisan Dunia. Ikonnya tentu saja pohon palem endemis dan sensual coco de mer. Pohon ini ternyata sangat tinggi, sekitar 25-34 meter. Daunnya berbentuk kipas sepanjang 7-10 meter dan buahnya berukuran besar dengan bobot sanggup menembus 40 kilogram. Tak heran harganya cukup mahal, antara $250-400 per batoknya.

Layaknya pohon bersejarah, coco de mer menyimpan legenda. Syahdan, pohon jantan bisa berjalan menemui pohon betina untuk bercinta di tengah badai. Adegan sanggama ini haram ditonton. Barang siapa yang melihatnya akan diganjar sanksi tegas: menjadi buta atau tewas seketika. Barangkali legenda inilah yang menyebabkan coco de mer tetap lestari meski statusnya terancam punah.

Dari kiri ke kanan: Yacht yang bersandar di La Digue; Suasana Pantai Anse Royale.

Pantai terbaik di Pulau Praslin adalah Anse Lazio. Meski lokasinya terpencil, pantai berpasir putih ini senantiasa diawasi oleh lifeguard. Daya tarik tempat ini adalah Aldabra giant tortoise, salah satu spesies kura-kura terbesar sejagat. Beratnya rata-rata 250 kilogram, sementara usianya bisa menyentuh 200 tahun. Satwa ini berasal dari Aldabra Atoll yang terpisah jauh di barat daya Seychelles.

Tapi kita tak perlu ke sana untuk melihatnya, sebab Pantai Anse Lazio memiliki kandang berisi selusin kura-kura. Saya pun tak menyia-nyiakankesempatan berfoto bersama.

Dari Praslin, saya kembali menumpang feri dan meluncur ke Pulau La Digue. Kendaraan bermotor dilarang beroperasi di sini. Satu-satunya moda transportasi untuk menjelajahi pulau adalah sepeda. Saya menyambangi tempat penyewaan sepeda, lalu mengambil peta di kantor Biro Pariwisata Seychelles. Berhubung cuma punya waktu setengah hari, saya disarankan pergi ke L’Union Estate, daerah perkebunan kopra yang menampung makam penduduk asli dan pantai cantik Anse Source d’Argent.

Dalam perjalanan ke pantai, ketika sedang terengah-engah menggenjot sepeda, saya mendengar suara desahan dan hantaman keras dari tepian jalan. “Woh! Wooh! Grotak! Wwhooohhh!! Grotaaak!!” Saya kira suara perkelahian orang, tapi rupanya suara adegan percintaan kura-kura. Di sebuah penangkaran, dua ekor kura-kura raksasa sedang kawin. “Woh” adalah suara kedua kura-kura, sementara “grotak” suara benturan tempurung yang saling tindih. “Excess baggage” memang kerapmerepotkan dalam sebuah hubungan.

Kembali ke sepeda, saya melanjutkan perjalanan ke Anse Source d’Argent. Usai memarkir sepeda, saya berjalan menuju pantai dan disambut oleh bebatuan granit yang bertaburan sejauh mata memandang. Lanskap pantai ini mirip Belitung, tapi bebatuannya lebih besar dan banyak. Saat menyusuri pantai, saya berulang kali terpaksa merunduk dan memanjat bebatuan yang menjulang rapat. Membuka perjalanan di Seychelles dengan berenang di tepian ibu kota, saya kini menutupnya dengan berenang di pantai hening yang ditaburi bebatuan.

Detail
Seychelles

Rute
Penerbangan dari Jakarta ke Seychelles dilayani oleh Emirates (emirates.com) dan Etihad (etihad.com). Bagi pemegang paspor Indonesia, visa bisa diperoleh gratis dengan menunjukkan tiket pesawat pulang-pergi dan bukti reservasi hotel. Feri merupakan moda transportasi utama guna menjangkau pulau-pulau di Seychelles.

Untuk menuju Pulau Praslin dan La Digue, gunakan kapal feri reguler Cat Cocos (seychellesbookings.com/cat-cocos). Informasi seputar objek wisata dan agenda acara bisa disimak di situs resmi Biro Pariwisata Seychelles (seychelles.travel).

Penginapan
Mahe, pulau terbesar di Seychelles, mengoleksi banyak hotel, salah satunya Savoy Resorts & Spa (Beau Vallon; 248/4392-000; savoy.sc; doubles mulai dari Rp3.000.000) yang berlokasi di pantai publik terbaik di pulau ini.

Savoy juga berada di dekat banyak restoran dan bar. Berhubung Seychelles beriklim tropis dengan tingkat kelembapan tinggi, busana kasual dan sandal diterima di banyak tempat. Tapi jika Anda ingin memasuki kelab malam atau kasino, sepatu wajib dikenakan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2016 (“Segara Afrika”).