
Oleh Yohanes Sandy
Rute
Kota pelabuhan Hiroshima berada di sisi selatan Jepang. Jaraknya sekitar 330 kilometer ke arah barat Osaka dan 670 kilometer dari Tokyo. Tapi Anda tak perlu transit di Osaka atau Tokyo untuk menjangkaunya, karena Cathay Pacific telah meluncurkan penerbangan ke sana dari Indonesia dengan satu kali transit di Hong Kong.

Transportasi
Layaknya kota-kota di Jepang, Hiroshima memiliki infrastruktur transportasi umum yang mumpuni. Namun berbeda dari kota besar lainnya, Hiroshima mengandalkan trem (lazim disebut streetcar), moda yang dirintis lebih dari seabad silam. Kota ini bahkan memiliki jaringan trem terluas dan jumlah trem terbanyak di Negeri Sakura. Hiroshima kini mengoleksi 298 armada trem yang tersebar di delapan jalur dan dioperasikan oleh Hiroshima Electric Railway. Biaya untuk perjalanan di pusat kota dipatok jauh-dekat ¥160 atau sekitar Rp19.000. Sementara untuk menjelajah kawasan suburban, tarifnya disesuaikan dengan jarak tempuh. Perlu diingat, kartu Japan Rail Pass tidak bisa dipakai membeli tiket trem di Hiroshima. Kartu hanya berlaku untuk bus loop turis yang kerap disebut maple-oop.
Penginapan
Hiroshima, tanah kelahiran Mazda dan produsen utama jarum, mengoleksi banyak penginapan. Salah satunya Sheraton Hiroshima (starwoodhotels.com; doubles mulai dari Rp1.500.000) yang berada di dekat Stasiun Hiroshima. Untuk pengalaman yang lebih autentik, Iwaso (iwaso.com; mulai dari Rp2.700.000 per orang, inklusif makan) berada di Pulau Miyajima, anggota Situs Warisan Dunia, serta mengusung gaya ryokan, lengkap dengan terompah bakiak, fasilitas onsen, dan lantai tatami-nya. Dari sini, landmark ikonis Itsukushima Shrine bisa dijangkau hanya dalam waktu tiga menit berjalan kaki. >>

Makan & Minum
Berkunjung ke Hiroshima tak lengkap tanpa menyantap okonomiyaki, semacam panekuk khas lokal. Pedagangnya berlimpah, bahkan konon yang terbanyak di Jepang. Jika bingung memilih, Mitchan Sōhonten—kedai yang populer di kalangan turis—adalah titik awal yang ideal untuk mencicipinya. Okonomiyaki menawarkan beragam topping—misalnya kerang, cumi-cumi, dan babi—sesuai dengan nama penganan ini yang berasal dari kata okonomi (“sesuka Anda”) dan yaki (“dipanggang”). Sebagai kota pelabuhan, Hiroshima juga tersohor akan hidangan lautnya. Restoran Suishin cukup populer di kalangan warga, sedangkan Yakigaki-no-Hayashi siap menggoyang lidah dengan aneka menu berbahan dasar tiram.

Objek Wisata
Kenapa Amerika memilih Hiroshima sebagai target serangan? Menurut salah satu teori, penyebabnya adalah konsentrasi pasukan Nippon di kota ini. Teori yang lain mengatakan, Hiroshima tidak memiliki penjara yang menahan tentara Sekutu. Guna mengenang para korban tragedi tujuh dekade silam tersebut, beberapa struktur didirikan, mulai dari prasasti hingga museum. Tapi ada satu bangunan yang paling layak disebut sebagai saksi sejarah, yakni Atomic Bomb Dome. Bangunan ini awalnya difungsikan sebagai sentra pameran produk. Setelah bom atom dijatuhkan pada 6 Agustus 1945, struktur utama bangunan tetap bertahan, begitu pula kubahnya, padahal jaraknya dari pusat bom hanyalah 160 meter.

Jika tragedi bom terlalu menyakitkan untuk ditelusuri, objek wisata alternatif terbaik adalah Miyajima, pulau suci yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Usai turun dari feri, Anda bisa mengunjungi Itsukushima Shrine yang memiliki gapura raksasa sebagai ciri khasnya. Itsukushima juga merupakan salah satu kuil dengan pemandangan tercantik di Jepang yang memadukan pesona laut dan pegunungan. Selagi di Miyajima, pelancong juga bisa menjajal kehidupan tempo dulu dengan menaiki becak kuno jinrikisha.
Selain napak tilas dan wisata spiritual, Hiroshima menawarkan wisata bersepeda yang menarik. Ada tiga jalur yang ditawarkan. Dibandingkan dengan aktivitas bersepeda di Selandia Baru yang menyuguhkan lanskap berbukit, tur pedal di Hiroshima relatif lebih hemat keringat karena rutenya didominasi jalan aspal.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2015 (“Tak Lagi Berkabung”)

