
Oleh Atikah Zata Amani
Foto oleh Muhammad Fadli
SABTU
08:00 Pecel Bu Surya
Pada 1970-an, seorang wanita asal Yogyakarta merintis sebuah warung pecel yang kemudian menjadi ikon kuliner Sawahlunto. Nama resminya Pecel Bu Surya (Jl. Abdul Rahman Hakim), tapi lantaran lokasinya di sebelah Museum Lubang Mbah Soero, banyak orang lebih mengenalnya sebagai Pecel Mbah Soero. Harga pecelnya ramah kantong, hanya Rp10.000 per porsi berisi potongan sayuran segar dengan kuah kacang yang diracik langsung di cobek.

10:00 Museum Lubang Mbah Soero
Ini mungkin satu-satunya museum yang memakai nama seorang mandor. Bekas tambang batu bara warisan Belanda, Museum Lubang Mbah Soero (Jl. Abdul Rahman Hakim) menawarkan kesempatan memahami sejarah Sawahlunto sebagai lumbung “emas hitam.” Wujud aslinya dipertahankan, walau beberapa bagiannya disangga beton atas alasan keamanan. Atraksi utama di sini ialah menelusuri jalur lori, melacak bongkahan batu bara yang tertanam di dinding, dan, jika beruntung, membawa oleh-oleh serpihan batu yang kebetulan rontok. (Ini juga satu-satunya museum di mana “benda koleksinya” boleh dibawa pulang.)

11:30 Museum Goedang Ransoem
Pada 1918, pemerintah Belanda mendirikan Gudang Ransum yang berfungsi sebagai dapur umum untuk memasok perut ribuan pekerja tambang, pasien rumah sakit, hingga pejabat kolonial beserta keluarga. Kompleks ini terdiri dari 10 bangunan dan mengolah 3,9 ton nasi saban harinya, dan Museum Goedang Ransoem (Jl. Abdul Rahman Hakim) menyajikan memorabilia yang tersisa dari era itu. Di sini tersimpan misalnya periuk berukuran raksasa, serta beragam peralatan makan yang dibedakan berdasarkan strata sosial pemakainya. Menambah daya tarik museum, pengelola menyelipkan Galeri Etnografi, Galeri Malaka, serta Iptek Center.

13:30 Rumah Makan Dendeng Batokok
Tipikal daerah perlintasan di Jalan Lintas Sumatera, Muaro Kalaban mengoleksi banyak restoran. Tapi ada satu restoran di sini yang sudah beroperasi bahkan saat Jalan Lintas Sumatera baru dicetuskan oleh Presiden Soekarno pada 1965: Rumah Makan Dendeng Batokok (Jl. Lintas Muaro Kalaban). Menu andalannya dijelaskan oleh namanya: dendeng batokok, yakni daging berbumbu yang dibakar di atas bara kelapa lalu di-tokok (di-geprek) dan disiram minyak kelapa. Kecuali sangat lapar, sebaiknya jangan datang sendiri. Satu porsi dendeng batokok berisi hingga enam potong daging.

15:00 Tur Arsitektur
Berbeda dari kota lain di Sumatera Barat, Sawahlunto menyimpan banyak bangunan kolonial yang masih lestari, sebagian berstatus cagar budaya. Cukup berjalan kaki, Anda bisa mengunjungi beberapa di antaranya. Gedung Societeit (Jl. Ahmad Yani 279), bekas ruang pesta pejabat Belanda, dialihfungsikan menjadi Gedung Pusat Kebudayaan. Di depannya, ada gedung renta Hotel Ombilin (Jl. Ahmad Yani). Masih di lokasi yang sama, berdiri Kantoor Ombilin Mijnen (Jl. Lubang Panjang) yang dihuni kantor PT. Bukit Asam, serta Gereja St. Barbara (Jl. Yos Sudarso No.45).

17:00 Lapangan Segitiga
Warga lokal menyebutnya Lapseg, akronim dari Lapangan Segitiga (Saringan, Barangin). Ibarat Piazza San Marco versi Sawahlunto, tempat ini adalah sentra keramaian sekaligus pusat hiburan warga. Ada panggung terbuka yang menampilkan kesenian rakyat seperti kuda kepang (kuda lumping) dan wayang kulit. Ada pula jaringan internet gratis yang bisa diakses umum. Sembari duduk di bangku taman yang nyaman, nikmati jajanan mi ayam dan sate Padang.

MINGGU
06:00 Puncak Cemara
Kelahirannya menandai peralihan Sawahlunto dari kota tambang menjadi kota wisata, terutama setelah tambang batu bara Ombilin resmi ditutup. Puncak Cemara (Saringan, Barangin) adalah salah satu lokasi pertama yang dikembangkan sebagai atraksi turis. Di lahan sekitar satu hektare, pengunjung bisa menggelar outbound, menyambut matahari pagi, atau berfoto dengan latar tulisan Sawahlunto yang menyerupai Hollywood Sign.

09:00 Pasar Sawahlunto
Sebagaimana pasar tradisional umumnya, Pasar Sawahlunto (Lembah Segar) menjajakan keperluan sehari-hari, aneka oleh-oleh unik seperti kuah pecel, hingga aneka jajanan. Layaknya pasar pula, tempat ini menghadirkan banyak tempat makan, salah satunya Warung Ketupat Pitalah Juli. Hidangannya meliputi lupis ketan, bubur sumsum, bubur kacang hijau, dan tentu saja ketupat pitalah. Berbeda dari ketupat sayur Padang lainnya, ketupat pitalah disiram kuah santan yang berisi tiga macam sayuran: rebung, nangka, dan kol.

11:00 Museum Kereta Api
Setelah penemuan batu bara di Sawahlunto oleh peneliti Belanda Willem de Greve pada 1868, pemerintah kolonial mengucurkan investasi kolosal untuk membangun jalur rel menuju Pelabuhan Emmahaven, yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Teluk Bayur. Kisah ini diabadikan di Museum Kereta Api (Jl. Ahmad Yani). Berbagai benda lawas perkeretaapian terpajang apik pada etalasenya, sementara di area belakang terparkir Mak Itam, kereta api legendaris buatan Jerman berkode E1060. Datang sore hari, pengunjung bisa mampir di Mak Itam Resto di dalam gerbong.

14:00 Kawasan Wisata Kandi
Awalnya mengandalkan batu baru, Kandi (Sijantang Koto, Talawi) bergeser jadi destinasi wisata keluarga. Pada 2007, tempat ini meresmikan Taman Satwa dan Kebun Buah. Sekitar 700-an jenis tanaman tumbuh di sini, bersanding dengan lubang-lubang tambang yang sebagian masih menghasilkan batu bara. Bawa tikar dan bekal untuk piknik sembari melihat deretan buah bergelantungan di dahan.

17:00 Danau Biru
Seperti di Yogyakarta, Sawahlunto memiliki tur menaiki jip Willys. Menaiki mobil tua tanpa atap, pengunjung akan dibawa mengarungi jalur berbatu dan mendaki lereng terjal menuju Danau Biru (Tumpuak Tangah, Talawi), sebuah contoh lain bekas tambang yang menemukan nyawa baru sebagai objek wisata. Gambar lubang bekas tambang di sini menjadi foto utama pada portal resmi Pemkot Sawahlunto.

