Myranda Fae
19 Agustus 2026
Ada kalanya sebuah restoran layak didatangi bukan semata karena apa yang tersaji di atas piring, melainkan karena lokasinya yang tak biasa, menjadikan mereka restoran unik di dunia.
Pada sejumlah restoran pilihan MICHELIN Guide, pengalaman bersantap tidak dimulai saat menu pertama di antar ke atas meja, melainkan, bahkan, sebelum kita sampai di restoran tersebut.
Petualangan seperti ‘menyelam’ ke bawah permukaan laut, mendaki pegunungan Alpen, memasuki bangunan bersejarah, atau menyaksikan Paris dari balik struktur besi Menara Eiffel menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang ditawarkan.
Ada beberapa restoran kurasi MICHELIN Guide dengan lokasi yang tak terduga, memadukan gastronomi dengan lanskap, arsitektur, sejarah, hingga seni pertunjukkan.
Berikut 7 Daftar Restoran Unik di Dunia
1. Under, Lindesnes, Norwegia
Di pesisir Lindesnes, bangunan beton berbentuk kapsul yang seolah tenggelam ke laut menjadi rumah bagi Under. Sekitar separuh restoran ini berada di bawah permukaan laut, dengan ruang makan yang terbenam sekitar 5,5 meter di bawah permukaan. Dirancang oleh firma arsitektur Snøhetta, bangunannya perlahan menyatu dengan lingkungan lait di sekitarnya dan bahkan dirancang untuk berfungsi sebagai terumbu buatan.
Daya tarik utamanya tentu jendela panorama besar yang menghadap langsung ke dasar laut. Dari meja makan, perubahan cahaya, arus, serta kehidupan bawah air menjadi bagian dari pemandangan yang terus bergerak. Tidak mengherankan bila laut juga menjadi sumber inspirasi utama di dapurnya, dengan hidangan yang banyak mengeksplorasi hasil laut dan bahan-bahan dari lanskap pesisir Norwegia. Under saat ini mempertahankan satu MICHELIN Star.
2. Alchemist, Kopenhagen, Denmark
Menyebut Alchemist sekadar restoran rasanya kurang tepat. Di bawah komando Chef Rasmus Munk, tempat ini lebih menyerupai panggung gastronomi yang menggabungkan seni, makanan, teknologi, sains, bahkan isu sosial.
Pengalaman bersantap berlangsung selama lebih dari enam jam dan terbagi dalam sejumlah “Acts”. Para tamu berpindah melalui beberapa ruang dengan atmosfer berbeda, termasuk sebuah kubah menyerupai planetarium. Hidangannya pun tidak sekadar mengejar rasa. Setiap sajian membawa gagasan atau komentas tertentu mengenai dunia di sekitar kita, mulai dari perubahan iklim dan kesejahteraan hewan, hingga persoalan sosial.
Dengan konsep yang sedemikian teatrikal, Alchemist memang membutuhkan waktu dan persiapan lebih dari sekadar makan malam biasa. Restoran ini mempertahankan dua MICHELIN Stars pada seleksi 2026.
3. Aponiente, El Puerto de Santa María, Spanyol
Di kawasan pesisir Andalusia, Chef Ángel León, yang dikenal sebagai The Chef of the Sea, mengubah sebuah kincir air pasang abad ke-19 menjadi panggung bagi eksplorasi gastronomi laut.
Pengalaman di Aponiente dimulai bahkan sebelum memasuki ruang makan. Para tamu melewati jalur kayu yang membentang di antara rawa-rawa dan muara, wilayah yang juga menjadi sumber sejumlah bahan yang digunakan dapur. Kepiting biru, belut moray, ikan, udang, hingga tanaman halofit menjadi bagian dari pendekatan León terhadap ekosistem pesisir.
Di meja makan, filosofi tersebut diterjemahkan ke dalam menu degustasi yang mengeksplorasi bahan-bahan laut yang selama ini kurang mendapat perhatian. Plankton, ikan hasil tangkapan sampingan, sereal laut, hingga olahan seafood yang menyerupai charcuterie menjadi bagian dari upayanya memperluas cara kita memandang kekayaan laut.
Pendekatan tersebut membuat Aponiente bukan hanya sebuah restoran, melainkan juga ruang untuk memahami kembali hubungan manusia dengan laut. Restoran ini mempertahankan tiga MICHELIN Stars pada MICHELIN Guide Spain 2026.
4. ice Q, Sölden, Austria
Jika Under menawarkan pengalaman dari kedalaman, ice Q bertengger di puncak Gunung Gaislachkogl. Restoran ini membawa pengunjung ke ketinggian 3.048 meter di atas permukaan laut.
Berada di Gaislachkogi, Sölden, restoran berbentuk kubus kaca ini tampak seperti bongkahan es yang muncul di tengah lanskap Alpen. Dinding kaca dari lantai hingga langit-langit menyuguhkan panorama pegunungan, menjadikan lanskap bersalju sebagai bagian dari pengalaman bersantap.
Menu yang ditawarkan bergerak antara masakan dan hidangan klasik Austria, sementara lounge di lantai atas menyediakan tapas. Salah satu detail menariknya adalah PINO 3000, anggur yang dimatangkan di ketinggian sekitar 3.048 meter di lokasi yang sama.
Bagi penggemar James Bond, lokasi ini memiliki daya tarik tambahan. ice Q menjadi salah satu lokasi pengambilan gabar Spectre, sementara instalasi sinematik 007 Elements berada di dekat restoran.

5. Le Jules Verne, Paris, Prancis
Di lantai kedua Menara Eiffel, sekitar 125 meter di atas permukaan tanah, Le Jules Verne menawarkan dua alasan sekaligus: pemandangan kota dan masakan yang membuat restoran ini meraih dua MICHELIN Stars.
Dipimpin Chef Frédéric Anton, dapurnya mengolah bahan-bahan pilihan menjadi sajian Prancis kontemporer dengan pendekatan yang presisi. Salah satu tantangannya justru datang dari lokasinya sendiri. Ruang dapur dan penyimpanan yang terbatas di dalam struktur Menara Eiffel membuat setiap proses harus dirancang dengan cermat.
Namun, pemandangan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman. Dari balik struktur besi Menara Eiffel, Paris terbentang di bawah meja makan dan ini menjadi sebuah perspektif yang sulit ditemukan di tempat lain.
6. Born, Singapura
Di kawasan Neil Road, Singapura, sebuah bangunan yang pernah menjadi depo becak pada awal abad ke-20 kini menjadi rumah bagi Born. Dibangun sebagai Jinricksha Station sekitar 1903, bangunan bersejarah tersebut kini disulap menjadi restoran dengan interior kontemporer.
Di dalamnya, lengkungan bercahaya, langit-langit kaca yang tinggi, dan instalasi berbentuk pahatan kertas menciptakan susasana yang jauh berbeda dari fungsi awal bangunan tersebut.
Di dapur, Chef Zor Tan menyusun menu sembilan hidangan yang terinspirasi dari konsep Circle of Life dan perjalanan personalnya. Teknik gastronomi Prancis bertemu dengan pengaruh kuliner Tionghoa, menghasilkan sajian yang bermain pada kontras tekstur dan rasa.
Born mempertahankan satu MICHELIN Star dalam MICHELIN Guide Singapore 2026.

7. Potong, Bangkok, Thailand
Di jantung Chinatown Bangkok, sebuah bangunan Sino-Portugis berusia lebih dari seabad menyimpan kisah keluarga di balik salah satu restoran unik di dunia dan paling menarik di kota ini. Potong menempati bekas apotek Tionghoa milik keluarga Chef Pichaya “Pam” Soontornyanakij, yang kini diubah menjadi restoran lima lantai.
Alih-alih menghapus jejak masa lalunya, Potong justru menjadikannya sebagai unsur yang ‘antik’. Elemen bangunan lama berpadu dengan interior kontemporer, sementara perjalanan dari bar di lantai bawah hingga area rooftop membuat pengalaman bersantap terasa seperti menjelajahi bangunan yang berlapis.
Menu degustasinya mengangkat latar belakang Thai-Chinese sang chef melalui sajian progresif yang mengolah bahan dan teknik dari dua tradisi kuliner. Setiap hidangan juga menjadi bagian dari narasi personal yang menghubungkan makanan dengan sejarah keluarga dan identitas kuliner.
Potong saat ini mempertahankan satu MICHELIN Star dalam MICHELIN Guide Thailand 2026.












