
Oleh Thomas Kean
[dropcap type=”default”]P[/dropcap]ada kunjungan terakhir ke Naypyidaw, kota yang baru delapan tahun menyandang gelar ibu kota, saya menyusuri jalan raya dari Yangon, melintasi jalan sepi yang dipagari barisan beton, lalu melewati sebuah bundaran dan bulevar utama. Setelah beberapa ratus meter, jalan megah empat lajur ini berujung pada hamparan tanah dan sawah yang membentang sejauh mata memandang.
Saya datang menjelang malam, saat hamparan tanah itu dipenuhi sepeda dan gerobak sapi yang mengangkut para petani ke desa-desa terdekat. Setelah meminta petunjuk arah, saya memutar kendaraan dan melabrak keempat lajur jalan. Saya pun menyadari, tak satu pun mobil terlihat sejak 15 menit silam.
Awalnya terselubung enigma, Naypyidaw (dibaca Nay Pyi Taw) kini terbuka bagi umum. Orang-orang yang mendiaminya kebanyakan bekerja sebagai PNS. Dengan berat hati, mereka bermigrasi ke sini pada 2005 saat status ibu kota negeri dipindahkan dari Yangon. Naypyidaw dibangun secara terencana dari nol, di sebuah daerah terpencil di tengah Myanmar. Berbeda dari produk rekayasa sipil lainnya (misalnya Brasília dan Putrajaya), Naypyidaw dirancang oleh militer dan demi kepentingan militer.
Gedung-gedung utama di sini terkesan megah sekaligus galak. Kompleks parlemen memakai atap tradisional pyathat, tapi di sekitarnya terbentang parit. Bahkan nama kota ini (Naypyidaw berarti “rumah para raja”) berfungsi sebagai penghubung sejarah dengan kaum penguasa di masa lalu. Tiga di antaranya—Alaungpaya, Anawrahta, dan Bayinnaung—diabadikan dalam bentuk patung yang menjulang di atas sebuah lokasi parade. Turis yang ingin mengenal para jenderal pemimpin junta bisa singgah di Defence Services Museum. Bangunannya begitu besar hingga Anda membutuhkan beberapa hari untuk mendalami semua koleksinya.
Naypyidaw kadang digambarkan sebagai proyek boros dari rezim paranoid yang senantiasa mengisolasi dirinya dari dunia. Namun, sejak tentara menyerahkan kekuasaannya kepada Presiden Thein Sein pada Maret 2011, karakter siap tempur Naypyidaw telah banyak terkikis. Dalam waktu singkat, Naypyidaw berubah dari benteng sebuah negara tertutup menjadi ruang pamer bagi bangsa yang sedang dipuji-puji komunitas internasional. Salah satu kebijakan pertama Thein Sein adalah menangguhkan proyek-proyek konstruksi pemerintah yang tidak esensial. Restriksi terhadap turis asing juga sudah dicabut.

World Economic Forum on East Asia yang diselenggarakan di Naypyidaw Juni silam, barangkali bisa dianggap sebagai pesta peresmian kota ini. Eksekutif dari beberapa korporasi kakap menginap di hotel-hotel dan menyewa banyak mobil. Standard Chartered menggelar sebuah pesta bertema sirkus, yang berisi antara lain akrobat dan parade jangkungan. Setelah sesi tukar kartu nama rampung, para delegasi mudik dan Naypyidaw pun kembali lengang.
Pesta Olahraga Asia Tenggara, hajatan besar selanjutnya, dijadwalkan bergulir mulai 11 Desember. Pergelaran ini diharapkan bisa membawa lebih banyak tamu ke Naypyidaw. Sejumlah perusahaan swasta telah meneken kontrak kerja untuk memastikan Naypyidaw memiliki cukup kamar hotel bagi atlet dan penonton. Stadion dan gelanggang modern dikerek di area yang beberapa tahun lalu diselimuti belukar. Semua persiapan SEA Games ini diperkirakan memakan anggaran sebesar $400 juta, angka yang kolosal untuk negara dengan pendapatan per kapita $1.400. Beberapa pengamat melihat SEA Games sebagai ajang uji coba menjelang beberapa pertemuan ASEAN yang lebih besar di 2014, ketika Myanmar mendapat giliran memegang kursi Ketua ASEAN.
Fasilitas militer di Naypyidaw tertutup bagi umum, tapi masih ada tempat-tempat bagi kita untuk menikmati kota ini. Kendati para perancang kota sejatinya hendak mendirikan kantong para jenderal, penduduk Naypyidaw rupanya berhasil menciptakan replika kehidupan “normal” khas Burma. >>>


“Jika Anda hendak mencari sesuatu yang aneh di Naypyidaw, Anda akan menemukannya,” jelas Nicholas Farrelly, seorang associate professor di Australian National University di Canberra. “Tapi masih banyak kreasi yang cukup menarik, misalnya mal, lapangan golf, pasar becek, dan tempat minum yang bising. Kota ini memiliki pola anehnya sendiri. Ia dihuni warga dari penjuru Myanmar yang berniat mencari pendapatan dan rasa aman.”
Jantung kota ini dihuni area komersial di sekitar Pasar Thabyaygone. Di sebuah bukit di sisi timur terdapat restoran Shan, Thailand, dan Cina, serta sejumlah “beer station” yang ceria. Saya mencari sarapan dengan menyusuri labirin, lalu singgah di sebuah warung teh di mana birokrat, pengusaha, dan wartawan duduk berdampingan sembari menikmati samosa, nasi dengan kacang polong rebus, dan teh manis. Tawaran yang mungkin kurang menyenangkan bisa ditemukan di Jalan Yazarhtani. Jalan ini begitu terkenal akan panti pijat dan bar karaokenya, sampai-sampai namanya dipelesetkan menjadi “Massage-htani.”

Berkendara 20 menit dari zona hotel, saya singgah di Pyinmana, daerah yang eksis jauh sebelum Naypyidaw berdiri, tapi kemudian diintegrasikan sebagai bagian kota baru ini. Pyinmana terkesan uzur dan autentik: menampilkan rumah-rumah kayu dan pohon-pohon asam yang menjulang. Ia bagai dunia yang terpisah dari Naypyidaw, kota yang dihuni patung-patung di bundaran, rumah bergaya McMansion, dan lapangan golf.
Dengan niat merasakan realitas hidup, bersama sekelompok teman, saya menenggak bir dan makan barbeku khas Cina di ruang terbuka. Ini pengalaman yang khas Myanmar. Tapi, di Naypyidaw, karya-karya modern para perancang kota seolah tak mau melepaskan kita. Dari jarak tiga kilometer, kubah terang Pagoda Uppatasanti yang dibangun pada 2009 sebagai pesaing Shwedagon di Yangon, membuat restoran saya terkubur dalam cahaya keemasan.

Berhubung Yangon kian sesak, mendirikan pusat pemerintahan yang jauh dari jantung ekonomi tentu memberikan banyak manfaat. Lima belas tahun lagi, menurut Farrelly, keputusan merelokasi kantor pemerintah ke Naypyidaw akan diakui sebagai ide yang visioner. Namun, untuk saat ini, Naypyidaw masih sulit mengalihkan perhatian turis dari candi-candi Bagan atau Danau Inle. Naypyidaw akan mengoleksi hampir 5.000 kamar hotel pada akhir 2013, tapi bandaranya yang berkapasitas 3,5 juta penumpang per tahun, hingga kini masih sering menganggur. Hanya 1.250 turis internasional yang mendarat langsung di sini pada 2012.
Mereka yang berkunjung mungkin akan mengalami perasaan dislokasi. Upaya para jenderal menciptakan obyek-obyek wisata (air mancur, museum batu mulia, dan kebun binatang) justru memperkuat citra artifisial kota. Tamu asing dikumpulkan di zona hotel, sedangkan PNS di pusat pemerintahan. Kaum kaya memiliki rumah di daerah kota, warga sisanya menyisi ke Pyinmana. Di luar buruh migran yang berkerumun di tepi jalan dan bundaran, tanda-tanda kehidupan terbilang minim, dan pastinya tak ada spontanitas. Fungsi kota ini, singkat kata, sesuai dengan khitahnya.
DETAIL
Naypyidaw
Rute
Penerbangan harian oleh Air Bagan (airbagan.com) menghubungkan Naypyidaw dengan Yangon. Tahun ini, AirAsia (airasia.com) berencana meluncurkan rute ke Naypyidaw dari Bangkok. Naypyidaw juga bisa disambangi dengan berkendara selama lima jam dari Yangon, tapi rute ini hanya untuk mereka yang berstamina kuat.
Penginapan
Aureum Palace Hotel & Resort (95-67/420-746; aureumpalacehotel.com; doubles mulai dari $59) memiliki pondokan-pondokan berlantai kayu jati di sekitar danau mungil yang didiami kawanan angsa.
Tempat Makan
Restoran sederhana Maw Kham Non, yang berdiri di bukit kecil yang menghadap Pasar Thabyaygone, adalah tempat ideal untuk mencicipi kuliner Shan.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2013 (Dispatches: “Burma Tanpa Enigma”)

