Tenda putih di Amanwana, resor glamping perintis di Indonesia. (Foto: Aman)

Oleh Cristian Rahadiansyah  

Pulau Sumbawa dikaruniai magnet wisata alam yang memukau. Ombak selancar menerjang ganas di sisi selatannya. Titik selam bertaburan di pelataran Moyo dan Bima. Sementara Gunung Tambora menjulang di utara, menyimpan kisah erupsi dahsyat yang memicu kelahiran Frankenstein dan sepeda.

Untuk saat ini, pamor Sumbawa memang belum berdering kencang. Dibandingkan kedua tetangganya, Lombok dan Flores, namanya kalah tenar. Tapi justru itulah yang membuatnya menarik. Berhubung masih sepi, turis bisa lebih leluasa menikmati alam dan lebih tenang saat berlibur di resor, termasuk di kelima resor berikut:   

Kiri-kanan: Restoran di Whales & Waves; Tamu peselancar dengan latar pondok-pondok di Whales & Waves. (Foto: Putu Sayoga)

Whales & Waves
Tarif: Rp825.000
Resor ini bersemayam di tepi Desa Kertasari, sentra ombak yang dijuluki K-Land. Tapi Whales & Waves tak hanya membidik kaum peselancar. Untuk segmen keluarga, fasilitasnya cukup lengkap, contohnya jet ski, lapangan voli, area yoga, gelanggang skateboard, hingga restoran bertubuh bambu yang menyajikan hidangan dalam presentasi modern—kemewahan yang masih langka di Sumbawa. Satu hal lain yang menarik dari resor ini ialah desain vila-vilanya. Wujudnya ibarat kombinasi antara kamp safari Afrika, rumah tropis, dan kediaman Bilbo Baggins. Desa Labuan Kertasari, Taliwang, Sumbawa Barat; whales-and-waves.com

Kiri-kanan: Menu sarapan di Amanwana, Pulau Moyo; Jip milik Amanwana untuk mengantar tamu menjelajahi Pulau Moyo. (Foto: Putu Sayoga)

Amanwana
Tarif: Rp24.400.000
Saban pagi, resor di Pulau Moyo ini disatroni kawanan monyet. Sore harinya, belasan rusa berdatangan. Di antara monyet dan rusa, dulu, pernah hadir tamu-tamu agung seperti Putri Diana dan Pangeran Belanda. Amanwana, resor glamping perintis di Indonesia, didirikan pada 1993. Properti berkonsep safari ini menaungi 20 tenda putih yang ditata anggun menatap laut. (Kata staf resor, Putri Diana dulu menginap di tenda nomor 20.) Bagian dari ikhtiarnya merawat alam, Amanwana meluncurkan Moyo Conservation Fund pada 2008. Programnya antara lain penanaman karang, kampanye anti-konsumsi telur penyu, serta pelepasan tukik. Pulau Moyo, Sumbawa; aman.com

Kiri-kanan: Lorenzo, pria asal Timor Timur (kini Timor-Leste) yang bekerja di Samawa Seaside Cottage; Panorama Pulau Moyo dari dek terbuka Samawa. (Foto: Putu Sayoga)

Samawa Seaside Cottage
Tarif: Rp1.500.000
Samawa menawarkan enam pondokan bertubuh kayu yang menghadap Teluk Saleh dan Pulau Moyo. Digawangi beberapa staf yang pernah bekerja untuk Amanwana, resor butik ini punya standar servis yang cukup prima, juga koki yang terampil memasak kuliner tradisional Sumbawa, contohnya sepat dan singang. Bertetangga dengan resor ini, ada kebun buah milik Ibu Bustanil Arifin. Di sinilah puluhan kaum eksodus dari Timor Timur (kini Timor-Leste) bekerja mengurus pohon mete, jeruk, dan buah naga. Tanjung Menangis, Sumbawa Besar; samawaseasidecottages.com

Kiri-kanan: VW Kombi yang dipakai Myamo Beach Lodge untuk mengangkut tamu dan papan selancar; Area bersantai di pelataran Myamo. (Foto: Putu Sayoga)

Myamo Beach Lodge
Tarif: Rp900.000
Properti yang membidik peselancar ini bersemayam di tepi Desa Jelengah, tak jauh dari titik selancar ekstrem Scar Reef (namanya terinspirasi fakta mereka yang berselancar di sini hampir pasti mendapatkan oleh-oleh berupa sobek kulit). Myamo diluncurkan pada pertengahan November 2016, tapi riwayat bangunannya jauh lebih tua. Properti ini mengambil alih bangunan peninggalan properti senior Scar Reef, sesuai nama lokasi selancar di dekatnya. Bangunannya kini didominasi cat putih dengan sentuhan pirus. Desainnya menyerupai hasil kawin silang antara rumah Mediterania dan pondok selancar tropis. Desa Jelengah, Sumbawa Barat; myamolodge.com

Kiri-kanan: Kolam renang dengan latar Selat Sape di Kalimaya Dive Resort; Interior bungalo Kalimaya. (Foto: Nyimas Laula)

Kalimaya Dive Resort
Tarif: Rp2.100.000
Bima, kabupaten di timur Sumbawa, punya citra yang cukup suram. Namanya sempat ditulis dengan tinta merah, lantaran dihuni banyak desa miskin, juga sempat menjadi wadah gembong teroris Santoso merangkul pengikut. Tapi sebuah resor bertaruh semua itu tak akan mencegah petualang untuk berkunjung. Kalimaya, yang diresmikan Oktober 2016, bersemayam di tepi Selat Sape, menatap Gili Banta dan Pulau Komodo di kejauhan. Tiap bungalonya dirangkai dari kayu jati dan mahoni, dipayungi ilalang, dihubungkan jalan setapak berlapis bata. Fasilitasnya antara lain dive center, restoran, serta kolam renang. Merujuk pemetaan terakhir, ada 40 titik penyelaman di sekitar resor ini. Poja, Sape, Bima; kalimayadiveresort.com