Saat berkunjung ke Jepang, ada satu kegiatan yang saya tebalkan bertengger di daftar itinerary: mencoba pemandian umum atau sentō.
Saya tidak sedang mengejar onsen populer seperti Goshogake Onsen di Prefektur Akita atau Tamagawa Onsen. Tujuan saya jauh lebih sederhana: ingin merasakan langsung pengalaman yang sejujurnya masih tabu bagi saya—dan mungkin sebagian besar orang Indonesia – yaitu mandi dan berendam dalam keadaan telanjang bulat di hadapan orang asing.
Saya terus membatin, “bagaimana mungkin masyarakat Jepang yang sangat menjaga privasi justru merasa nyaman berendam tanpa busana bersama orang asing di pemandian umum?”

kesetaraan dan kebersamaan saat berendam bersama
Kepulan uap tipis langsung mengaburkan pandangan saat pintu saya geser. Para pengunjung tampak sibuk berendam. Butuh beberapa menit yang canggung bagi tubuh saya untuk berkompromi dengan panasnya air.
Berlindung di balik handuk kecil, saya perlahan merendam kaki ke dalam kolam bersuhu 40°C di Grand Mercure Wakayama Minabe Resort & Spa. Hotel ini memiliki area pemandian dalam dan luar ruangan.
Di area luar, terdapat dua kolam: satu beralas dan berdinding batu alami dengan aroma belerang yang khas, sementara yang lain berisi air arag atau charcoal yang dipercaya dapat menghaluskan kulit. Dengan suhu yang serupa, sensasinya terasa berbeda ketika tubuh yang hangat diterpa semilir angin malam Wakayama.
Di ruang yang penuh dengan bumbungan uap, rasa canggung perlahan ikut menguap. Saya tak bisa menebak apakah wanita di seberang saya seorang eksekutif, seniman, atau sekadar wisatawan. Di pemandian umum ini, identitas sosial seolah ditanggalkan bersama pakaian yang ditinggalkan di loker.
“Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin mengenakan pakaian bermerek atau menggendong simbol status tertentu. Tetapi di pemandian umum, semua orang telanjang. Tidak ada kasta, tidak ada perbedaan status, tidak ada aksesoris puluhan juta. Semua setara,” ujar seorang warga lokal yang saya ajak bercakap-cakap selepas mencoba fasilitas pemandian tersebut.
Di balik kenyamanan masyarakat Jepang untuk tampil telanjang di ruang publik, terdapat konsep sosiologis yang dikenal sebagai hadaka no tsukiai atau “komunikasi telanjang”. Menurut Shinya Hayasaka, MD, PhD, Profesor di Tokyo City University sekaligus Direktur Onsen Medical Science Research Center, konsep tersebut mencerminkan cara masyarakat Jepang memandang tubuh bukan sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan, melainkan sebagai bagian alami dari kehidupan bersama.
“Alih-alih sekadar membasuh tubuh, mandi air panas mungkin membawa makna spiritual penyucian yang lebih kuat, dan ketelanjangan itu sendiri mungkin memiliki konotasi seksual yang lebih sedikit,” jelas Profesor Hayasaka dalam wawancara daring yang difasilitasi oleh Japan National Tourism Organization.
Profesor Hayasaka juga menambahkan bahwa kondisi geografis Jepang sebagai negara kepulauan dengan ruang hidup yang terbatas turut membentuk budaya yang menekankan kerja sama.
“Mengingat lahan Jepang yang terbatas dan geografi kepulauan, serta fakta bahwa pertanian adalah pekerjaan utama, kerja kelompok sangat penting untuk mempertahankan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, mandi bersama dalam keadaan telanjang mungkin juga membantu meningkatkan keharmonisan sosial, yang penting untuk menjaga kelancaran kehidupan bermasyarakat,” tambahnya.

tradisi yang lahir ribuan tahun lalu
Gagasan tentang kebersamaan dan penyucian diri ini ternyata lahir dari sejarah panjang budaya pemandian di Jepang. Negara yang berada di jalur cincin api Pasifik ini dianugerahi sekitar 27.000 sumber mata air panas berkat aktivitas vulkaniknya yang tinggi. Selama berabad-abad, sumber-sumber air panas tersebut tidak hanya menjadi tempat berendam, tetapi juga ruang sosial untuk saling berinteraksi.
Lebih dari seribu tahun lalu, tepatnya pada periode Nara dan Heian, kuil-kuil Buddha mulai menyediakan layanan pemandian bagi masyarakat. Budaya ini berkembang sebagai bentuk amal, di mana fasilitas mandi ditawarkan secara gratis kepada orang sakit dan kurang mampu. Dalam ajaran Buddha sendiri, memandikan orang lain dipahami sebagai tindakan sedekah dan perbuatan baik yang mendatangkan kebajikan.
Waktu berjalan, budaya pemandian kian mengakar. Pada abad pertengahan, muncul praktik tōji, yaitu tradisi tinggal di kawasan pemandian air panas untuk memulihkan kondisi tubuh. Tradisi ini digemari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa hingga samurai dan panglima perang pada era Sengoku.
Pemandian umum pada zaman Edo terus berkembang. Bagi banyak warga yang tidak memiliki fasilitas mandi di rumah, sentō menjadi tempat untuk membersihkan diri sekaligus bersosialisasi dengan sesama anggota komunitas.

Kini, meski hampir setiap rumah di Jepang telah memiliki kamar mandi modern, sentō dan onsen tetap tidak kehilangan pesonanya. Fungsi pemandian umum telah berevolusi dari kebutuhan sanitasi praktis menjadi pemenuh kebutuhan emosional dan psikologis.
Berdasarkan survei nasional “New Toji” yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang di mana Profesor Hayasaka turut terlibat, alasan utama masyarakat mengunjungi pemandian air panas adalah karena mereka menyukai sensasi berendam itu sendiri, diikuti oleh keinginan untuk melepas stress dan penat. Banyak responden yang mencari suasana yang lebih zen untuk menyegarkan pikiran di luar rutinitas harian mereka.
Menariknya, pemandian umum modern tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga kehidupan sosial. Menurut Profesor Hayasaka, penelitian mereka menemukan bahwa pengguna sentō cenderung lebih supel dengan komunitas di sekitarnya serta memiliki tingkat kepercayaan sosial yang lebih tinggi.

Ketika saya melangkah keluar dari pemandian malam itu, udara dingin Wakayama menembus kulit yang baru saja dihangatkan. Saya belum bisa mengatakan bahwa mandi bersama orang asing terasa sepenuhnya nyaman.
Namun, saya mulai memahami mengapa tradisi ini tetap relevan di tengah modernisasi Jepang yang serba digital. Di balik kepulan uap hangatnya, sentō merawat sebuah ruang transparan tempat manusia bisa hadir secara utuh, dan melepaskan penat dari beratnya beban status sosial. (chs)

