Lonceng gereja berdentang pelan di Minggu pagi. Dengan mata yang masih merah, Obet menyisir rapi rambutnya. Sisa mabuk semalam masih berbekas. Rika, anaknya, telah mandi dan berdandan, mengoleskan gincu, mengenakan baju merah menyala. Mereka menggenggam Alkitab, kemudian berangkat ke gereja yang berjarak hanya 10 meter dari rumah.

Di desa yang populasinya tak sampai 1.000 jiwa ini, Kristen dan Islam hidup berdampingan. Niko seorang Protestan, sedangkan Sayid, adik kandung bapaknya, menganut Islam. Ketika kor di gereja bergema ke seantero kampung, Sayid menemui saya, “Besok pagi kita ke hutan!”

Waktu bergerak secepat rusa berlari. Pagi-pagi sekali, perahu telah disiapkan. Sayid ingin ikut berburu. Menantunya, Minggu, hanya tersenyum melihat Sayid meregangkan busur. Dengan tubuh renta, Sayid seakan tidak kuat lagi menariknya, tapi matanya berkaca-kaca terbakar semangat seorang pemburu gaek dari masa silam. Menaiki perahu bermesin tempel, kami menelusuri kanal-kanal sempit, menusuk rawa dan hutan bakau yang didiami buaya.

Kiri-kanan: Oleh pemburu, cenderawasih rata-rata dijual Rp500.000 per ekor kepada pengusaha taksidemi; Sayid dan Minggu, dua pemburu dari dua generasi di belantara Kobror.

Turun dari perahu, kami berjalan menerabas ladang-ladang penduduk. Usai seharian berjalan, kami tiba di sebuah pondok di tengah ladang. Kami disambut Romanus Faturara. Faturara merupakan nama klan yang disegani di tanah Gwanabai. “Saya telah mengetahui kedatangan Anda. Anda orang baik yang datang dari Barat,” katanya membuka perbincangan. Saya seperti sedang menonton film silat. Futurara, pria yang tidak pernah beranjak dari hutan Aru, bisa menerawang jauh hingga Sumatera.

Saat malam turun lagi, kami menikmati seekor ayam hutan yang diburu Minggu, juga burung maleo hitam dan seekor nuri yang dijatuhkan oleh bidikan Niko. Pagi muncul kembali dan kami terus berjalan, kadang rehat di pondok-pondok yang ditinggal peladang, kemudian berjalan lagi hingga malam kembali datang.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, Sayid tua lebih banyak diam. Tapi kakek 70 tahun ini akan menjadi penentu perburuan malam ini. Anak dan menantunya, Niko dan Minggu, telah menghabiskan berjam-jam tanpa hasil.

Purnama bersinar terang, momen yang buruk untuk berburu, padahal semua bekal telah sirna. Minggu dan Niko menyerah. Tak seekor pun mangsa didapat. Rasa lapar kian menyiksa perut. Kembali ke Desa Pafakula bukanlah pilihan. Jaraknya terlampau jauh. “Seorang pemburu tidak akan kelaparan di tengah hutan!” Sayid berusaha memompa semangat.

Dia keluar dari pondok, meraba busur yang tergantung, lalu memasang talinya. Tapi tangannya gemetar. Tubuhnya setengah bergoyang. Barangkali badannya terlalu sepuh. Dia kemudian berpaling pada selaras senapan yang tergolek di samping tungku, kemudian raib di balik rapatnya pepohonan.

Tak sampai hitungan jam, Sayid kembali dengan seekor kuskus yang digantung di ujung senapan. Binatang marsupial yang hidup bergelayutan di pohon itu masih meneteskan darah segar dari hidungnya. Di kantongnya, ada bayi yang masih putih dan belum berbulu. Harapan untuk menambal lapar tersaji di depan mata. Tapi rasa iba menyergap Yoppy, fotografer saya. Kuskus itu terlalu imut dan bayinya terlampau menggemaskan.