Tapi tempat ini tak selalu semanis gula. Tingkat kematian begitu tinggi, setidaknya untuk standar sebuah ibu kota kecamatan. Hampir tiap minggu korban jatuh akibat perkelahian atau overdosis arak. “Bukan tiap minggu. Tapi tiap hari! Selalu ada yang mati di sini. Lihat, kuburan orang Thailand saja jauh lebih banyak daripada kuburan orang Aru sendiri,” ujar Elvis, pria Kobror berbadan tegap.

“Kita tidak akan menginap di sini,” kata Niko, yang kemudian mengajak saya ke kampungnya yang berada tak jauh dari Benjina. Tapi, sebelum berangkat, dia membawa saya berkeliling Kobror dengan perahu sewaan. Kami singgah di gerbang perusahaan pengolahan ikan, lalu dihadiahi tiga ekor tuna sepanjang satu meter. Untuk seorang sersan seperti Niko, mendapatkan “kado” semacam itu bukanlah perkara sulit.

Kami melompat ke perahu bermesin tempel berkapasitas empat orang, lalu meluncur ke Desa Pafakula, tanah kelahiran Niko. Di atas perairan yang kalem, perahu melesat mulus bagaikan tuna membelah laut. Cahaya bulan berpendar jauh. Tak sampai dua jam, kami mendarat di Pafakula. Saya akhirnya singgah di tanah para pemanah, kaum yang hidup dari berburu.

Kiri-kanan: Hasil kebun yang menjadi santapan utama penduduk Kobror; Rumah yang dibangun menggunakan bahan-bahan dari hutan.

Dermaganya ramai oleh anak-anak. Gerbang Pafakula sangat simpel: dibentuk oleh kayu yang bersusun sepanjang belasan meter. Beberapa wanita menyambut kami, membantu mengangkat barang bawaan kami, termasuk tiga ekor tuna. Malam turun di Kobror. Malam yang berarti kegelapan yang nyaris sempurna. Hanya dua-tiga rumah yang dilengkapi lampu bertenaga diesel, sebab kabel PLN terlalu pendek untuk menjangkau tempat terpencil yang terapung di antara Papua dan NTT ini.

Bertepatan dengan kedatangan kami, beberapa perahu terlihat hendak berangkat ke Benjina. “Suntuk, kami berangkat dulu,” kata seorang lelaki seraya menyulut mesin tempel. Benjina adalah jawaban segala keluh kesah, bukan hanya bagi awak kapal ikan, tapi juga penduduk lokal.

Di rumah tanpa jendela yang didiami 15 anggota keluarga Niko, beberapa laki-laki datang silih berganti, masuk ke ruang tamu, menyalami saya. “Saya ingin melihat cenderawasih menari,” kata saya seadanya. Hanya itu jawaban saya saat pertanyaan berikut meluncur: apa yang engkau cari?

“Tepat, tepat sekali. Kau datang tepat pada musimnya,” ujar seorang kakek dengan punggung yang nyaris bungkuk. Sayid Lefumonai menyalami saya untuk kedua kalinya. “Memangnya, tadi di Benjina tidak lihat itu cenderawasih? Di sana lebih mudah menangkapnya, to?” Semua orang di rumah ini tertawa mendengarnya. Sayid tua berkelakar dengan lelucon yang jauh lebih muda dari umurnya.

“Mereka sudah susah dicari,” kata Sayid lagi, setelah suara tawa mereda. “Harus masuk ke hutan dulu,” Niko berbisik pada saya, menyadari kebingungan saya akan lompatan pembicaraan Sayid. Kata Niko, “mereka” yang kini dimaksud Sayid adalah cenderawasih sebenarnya, bukan perempuan-perempuan pemantik berahi di Benjina. “Kalau hanya itu alasanmu ke sini, saya masih menyimpannya, masih baru,” tutur lelaki lain, Minggu, yang berbadan tegap dengan otot liat di sekujur tubuhnya. Namanya Minggu karena dia memang terlahir pada hari Minggu. Dia muncul dengan empat ekor cenderawasih. “Tapi yang ini sudah tidak lagi bisa menari,” kata seorang lain meningkahi, dan semua orang kembali tertawa.

Empat ekor cenderawasih dengan bulu menjuntai telah diawetkan. Minggu akan menjualnya ke Dobo, di mana “burung surgawi” itu akan dihargai Rp400-600 ribu per ekornya oleh cukong. Dari perdagangan aviator eksotis ini, Minggu mampu membiayai sekolah keempat anaknya.

Semua lelaki di Kobror sepertinya sadar, mereka terlahir sebagai pemburu. Dalam tubuh mereka mengalir darah pemanah-pemanah ulung di masa lalu. Senapan angin memang telah beredar, tapi belum sepenuhnya menggantikan peran busur dan anak panah. “Dulu, dalam sepekan, saya bisa menangkap hingga 30 ekor,” kenang Sayid. “Sekarang saya sudah tidak lagi berburu. Buat apa? Anak saya tidak ada lagi yang sekolah.”

Orang-orang Kobror tidak hanya membidik burung, tapi juga rusa, kasuari, serta hewan berkantong seperti kuskus dan kanguru. Nyaris semua fauna yang hidup di pulau ini diburu. “Dua tahun lalu, saya butuh uang banyak sekali. Adik saya ingin kuliah. Anak saya secara serempak akan masuk sekolah. Saya terpaksa berburu hingga ke Papua sana,” kata Minggu berapi-api.