Christina Andhika Setyanti Jacobs
12 Juni 2026

Di tengah pesatnya perkembangan kawasan bisnis dan gaya hidup baru Kuala Lumpur, hadir sebuah hotel yang menawarkan pengalaman berbeda. Bukan sekadar tempat menginap di jantung kota, Kimpton Naluria Kuala Lumpur mengajak tamu untuk merasakan kembali kedekatan dengan alam melalui desain, kuliner, hingga pengalaman menginap yang terinspirasi dari lanskap tropis Malaysia.
Berlokasi di kawasan The Exchange TRX, distrik terpadu yang kini menjadi salah satu pusat gaya hidup paling bergengsi di Kuala Lumpur, hotel ini menempati posisi strategis tepat berhadapan dengan TRX Park, taman kota seluas empat hektare yang menjadi paru-paru hijau kawasan tersebut. Kedekatan dengan ruang terbuka hijau inilah yang menjadi fondasi utama konsep desain Kimpton Naluria.
Dirancang oleh firma desain asal Australia, Hassell, hotel ini menghadirkan suasana yang terasa seperti perpanjangan dari alam luar. Begitu memasuki area hotel, tamu akan langsung disambut berbagai elemen hijau yang tersebar di seluruh sudut bangunan, termasuk koleksi tanaman tropis unik seperti kantong semar asal Kalimantan. Kesan lapang dan segar terasa sejak langkah pertama memasuki lobi.
Jantung utama hotel berada di lantai satu melalui ruang komunal bernama The Living Room. Alih-alih menghadirkan area resepsionis konvensional, ruang ini dirancang sebagai tempat berkumpul, bekerja, bersantai, sekaligus berinteraksi. Berbagai pilihan tempat duduk, mulai dari sofa santai hingga meja kerja panjang yang digunakan bersama, menciptakan suasana yang hangat dan inklusif.
Konsep kebersamaan tersebut juga diperkuat melalui program harian Kimpton Social, sebuah sesi sore yang memungkinkan para tamu bertemu dan berinteraksi sambil menikmati minuman dan hidangan ringan. Sementara di pagi hari, area yang sama bertransformasi menjadi Kimpton Kickstart, menawarkan kopi dan pastry bagi tamu yang ingin memulai aktivitas dengan cepat.
Sentuhan lokal Malaysia juga menjadi benang merah yang terasa di seluruh pengalaman kuliner hotel ini. Di Rise & Grind, sebuah espresso bar yang terinspirasi budaya kopitiam Malaysia, tamu dapat menikmati kopi Liberica lokal yang dipadukan dengan aneka kudapan khas. Bahkan, cita rasa lokal turut hadir di minibar kamar melalui pilihan camilan seperti granola pandan gula melaka, keripik kentang salted egg yolk, hingga Passa Cola, minuman craft cola berbumbu yang hanya diproduksi di Malaysia.
Eksplorasi rasa berlanjut di restoran utama Tuai + Till. Sesuai namanya yang berasal dari kata Melayu tuai atau panen, restoran ini mengusung konsep farm-to-table yang menonjolkan penggunaan bahan-bahan segar. Menu yang disajikan memadukan kekayaan kuliner Malaysia dengan hidangan internasional, mulai dari Nyonya curry laksa hingga wagyu burger. Interior restoran memperkuat konsep tersebut melalui dekorasi berupa tangkai padi dan peralatan pertanian yang menjadi simbol hubungan erat antara makanan dan alam.

Sementara itu, pengalaman bersantap yang lebih glamor dapat ditemukan di Sabato’s, restoran bergaya Italia-Amerika yang mengusung nuansa disko era 1970-an. Namun daya tarik utama berada di lantai atas melalui Four Siblings, rooftop bar yang menjadi satu-satunya bar atap di kawasan TRX saat ini.
Nama Four Siblings terinspirasi dari empat rempah penting dalam masakan Malaysia: bunga lawang, cengkeh, kayu manis, dan kapulaga. Keempat bahan tersebut menjadi elemen utama dalam berbagai kreasi koktail yang disajikan. Namun lebih dari sekadar minuman, daya tarik terbesar bar ini terletak pada panorama kota Kuala Lumpur yang terbentang dari dua sisi area terbuka. Dari sini, tamu dapat menikmati pemandangan gemerlap kota dengan latar bangunan ikonis seperti Menara Kuala Lumpur dan Merdeka 118, gedung tertinggi kedua di dunia.
Di dalam kamar, konsep alam kembali hadir melalui berbagai detail desain. Palet warna bumi yang didominasi hijau dan cokelat dipadukan dengan karya seni abstrak yang terinspirasi hutan hujan tropis. Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian adalah penggunaan cermin berbentuk daun raksasa serta berbagai karya seni yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Sebagai hotel Kimpton pertama di Malaysia, Kimpton Naluria Kuala Lumpur tidak hanya menawarkan kemewahan dan lokasi strategis. Hotel dengan 466 kamar ini juga menghadirkan pendekatan desain yang sangat personal, di mana setiap ruang memiliki cerita yang berakar pada lanskap, budaya, dan identitas Malaysia.
Salah satu karya seni paling menarik bahkan menggantung di area publik lantai tiga. Instalasi yang terdiri dari batu-batu berkilau berwarna biru dan hijau tersebut tampak melayang dari langit-langit, menyerupai tetesan air yang menempel di dedaunan setelah hujan deras. Karya ini menjadi simbol sempurna dari filosofi hotel yang mencoba menghadirkan ketenangan alam ke dalam ritme kehidupan urban yang serba cepat.
Nama Naluria sendiri merupakan gabungan dari dua kata Melayu, naluri dan ria, yang dapat dimaknai sebagai kegembiraan yang muncul secara alami. Filosofi tersebut terasa di seluruh sudut hotel, menjadikan Kimpton Naluria Kuala Lumpur bukan sekadar destinasi menginap, melainkan sebuah ruang untuk menemukan kembali keseimbangan antara hiruk-pikuk kota dan ketenangan alam. (Charukesi Ramadurai)

