Seorang turis asal Bandung menginap di Alila Uluwatu, Bali, pada awal April 2021. (Foto: Cristian)

Di Indonesia, lockdown diberlakukan sporadis mulai Maret 2020 dan pariwisata pun terjerembap sebulan berselang. Karena itulah, April 2021 adalah periode krusial untuk menakar dampak pandemi pada pariwisata, sekaligus proses pemulihannya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kesimpulan sementara yang bisa ditarik: pariwisata domestik mulai mengobati krisis. Walau wisatawan mancanegara (wisman) turun, okupansi hotel meningkat, begitu pula jumlah penumpang pesawat di rute domestik.

Pada April 2021, Indonesia membukukan 127.512 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Angkanya turun dibandingkan April 2020 yang mencapai 158.066 kunjungan.

Akan tetapi, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang justru meningkat. Pada April 2021, nilainya 35%, lebih dari dua kali lipat TPK April 2020 yang hanya 13%.

Selama pandemi, performa hotel di Indonesia memang cukup impresif. Semenjak PSBB diberlakukan, TPK ajek meningkat. Pada 2019, angkanya sebesar 55%. Sepanjang 2020, walau wisman susut, TPK bertahan di kisaran 32%. Lalu, saat wisman susut lebih drastis pada awal 2021, TPK justru naik menjadi rata-rata 33%.

Belum ada data tentang penyebab peningkatan gairah check in itu. Yang jelas, banyak hotel agresif merayu publik lewat beragam insentif, termasuk korting biaya menginap besar-besaran. Bahkan, sejumlah vila mewah di Bali memasang tarif seharga kamar hotel.

Tak hanya hotel, maskapai pun turut menikmati gairah wisata domestik. Pada April 2019, pesawat di Indonesia mengangkut 5,7 juta penumpang (termasuk wisman) di rute domestik. Setahun berselang, jumlahnya drop kronis menjadi 840.000. Tapi, April 2021, angkanya berhasil naik jadi 2,8 juta penumpang.

Banyak pelaku pariwisata percaya 2021 adalah tahun pemulihan. Menurut 10 CEO perusahaan pariwisata yang diwawancarai DestinAsian Indonesia, proses pemulihan itu akan dimotori oleh aktivitas wisata domestik, hingga pariwisata akhirnya kembali normal pada 2022.Cristian Rahadiansyah