Features

Jasa Rental Pesawat Privat

Oleh Reza Idris

[dropcap type=”default”]T[/dropcap]ak perlu mengantre lama. Destinasinya bebas. Jadwal dan jenis layanan bisa diatur lebih leluasa. Bisnis penyewaan pesawat privat hadir untuk melayani pelancong yang mendambakan privilese lebih dalam perjalanan bisnis atau wisata. Tapi di Indonesia, usaha ini juga berkembang akibat “keterpaksaan”. Dari 14 maskapai nasional yang memiliki rute berjadwal, hanya satu yang bermain di segmen full-service (Garuda Indonesia) dan hanya tiga yang menawarkan kelas bisnis (Garuda, Lion Air, dan Sriwijaya Air). Konstelasi tersebut membuat pelancong premium harus bersaing ketat demi mendapatkan kursi dengan layanan prima.

Faktor lain yang memicu bisnis pesawat carter adalah pertumbuhan signifikan kelas atas di Indonesia sejak 2003. Tak heran, dalam lima tahun terakhir, banyak investor melirik lahan bonafide ini. Sky Aviation terjun ke segmen pesawat carter sekitar tiga tahun silam. Lion Air masuk melalui BizJet, anak perusahaannya yang diluncurkan pada Juni 2012. Empat bulan sebelumnya, Grup Mayapada menggandeng operator pesawat premium Crystal Air Aviation untuk membentuk Mayapada Crystal. Contoh lainnya adalah Susi Air yang mengandalkan Piaggio Avanti dan puluhan Cessna Grand Caravan.

Trigana Air lebih sering melayani rute di pedalaman.

Tapi bisnis pesawat carter bukanlah fenomena baru, melainkan sudah eksis sejak 1990-an. Trigana Air, yang kini beroperasi di seputar Kalimantan, Jawa, Maluku, dan Papua, mulai mengangkasa pada 1991 sebagai perusahaan rental pesawat. Dua pemain senior lainnya adalah Pelita Air Service dan Indonesia Air Transport.

Konsumen perusahaan-perusahaan tersebut bukan cuma pasien rumah sakit dan karyawan tambang, tapi juga jutawan dengan mobilitas tinggi. Beberapa operator menyediakan jet bertubuh langsing dan helikopter untuk menjangkau klien di medan terpencil. “Yang terbang umumnya pebisnis dari industri perminyakan, gas bumi, atau batu bara, juga orang-orang yang ingin berobat ke luar negeri,” ujar Sutito Zainudin, General Manager Marketing Sky Aviation.

Pesawat PK-VVK milik Susi Air yang melayani penjelajahan di Kalimantan.

Jika Anda jarang mendengar nama-nama semacam BizJet atau Mayapada Crystal, itu disebabkan mereka jarang melancarkan promosi atau publikasi. Perusahaan jenis ini menggarap ceruk sempit di mana informasi diperlakukan layaknya barang eksklusif. Tarif sewa armada tidak diumumkan secara terbuka dan jenis layanan bisa dinegosiasikan. Mereka juga sangat merahasiakan identitas klien. Maklum, penumpangnya kadang merupakan figur penting yang menuntut privasi. Javajet Asia misalnya, pernah mendapatkan klien kakap sekaliber Valentino Rossi, Pangeran Andrew, serta pasangan selebriti glamor David dan Victoria Beckham yang lima tahun silam menyewa Embraer Legacy 600 saat berpelesir ke Singapura, Bali, dan Yogyakarta.

Pesawat jenis Embraer Lineage 1000 Menara-Airplanes Charter

Ada dua prosedur umum dalam penyewaan pesawat. Opsi pertama adalah menyewa melalui agen yang mewakili operator. Sedangkan untuk maskapai komersial yang memiliki lini usaha pesawat carter, calon pengguna bisa menghubungi langsung pihak maskapai. Perusahaan semacam Lion Air dan Sky Aviation mengantongi dua lisensi: penerbangan tidak terjadwal dan reguler. Pesawat yang berstatus “standby” (sedang tidak beroperasi), biasanya disewakan. Tarif sewa lazimnya ditentukan oleh durasi pemakaian dan jenis pesawat, bukan jumlah penumpang. Cristina SW, Marketing Communications Manager Trigana Air, memberikan ilustrasinya: penerbangan memakai ATR 72 dengan jarak tempuh 240 kilometer, contohnya Jayapura-Wamena, dipatok $7.000.

Salah satu armada milik Trigana Air.

Kendati belum jamak, sistem reservasi online mulai diaplikasikan. Salah satu yang mengadopsi sistem ini adalah Menara-Airplanes Charter (MAC). Perusahaan yang berdiri di awal 2013 ini menawarkan portal yang mengompilasi lebih dari 50 operator pesawat internasional. Jaringannya menampung sekitar 5.000 armada untuk berbagai destinasi. Jika ingin bepergian, calon konsumen cukup memasukkan destinasi yang dituju, tanggal keberangkatan, serta jumlah penumpang. Sistem kemudian secara otomatis akan merekomendasikan pesawat yang tersedia, lengkap dengan spesifikasi dan tarifnya. Armada yang ditawarkan MAC bervariasi, mulai dari jet ramping berkapasitas 6-14 orang seperti Hawker 800 dan Citation 550, hingga pesawat bertubuh besar semacam B767-300ER dan A340 dengan daya tampung antara 200 hingga 500 kursi.

Untuk pembayaran, sistem online memberlakukan prinsip wet lease. Artinya, tarif mencakup jasa pilot, bahan bakar, makanan, servis kru, serta perawatan pesawat. Sebelum lepas landas, klien akan diminta meneken kontrak khusus yang mengatur hak dan kewajibannya. “Dalam kontrak akan tertera biaya terperinci yang meliputi biaya kru, bahan bakar, asuransi, juga ketentuan force majeure, seandainya terjadi kendala seperti bencana alam,” jelas Imam Syafii, Direktur MAC.

Seperti para pesaingnya, MAC mengandalkan layanan yang serba-eksklusif. Tiap penumpangnya bakal mendapatkan keleluasaan dan kemewahan yang sulit diberikan oleh maskapai komersial berjadwal, contohnya jam terbang yang fleksibel, proses check-in tanpa antrean, serta servis yang personal baik di darat maupun udara. “Bangun subuh, tapi antrean sudah panjang di konter check-in. Pagi hari saja sudah susah, apalagi kalau ambil flight siang dan malam,” kenang Imam Syafii tentang pengalaman buruknya bepergian ke Dubai.

Satu tantangan perusahaan pesawat carter adalah infrastruktur. Tak semua bandara di Indonesia mampu melayani mereka. Namun Angkasa Pura selaku operator bandara berencana menyiapkan sejumlah terminal khusus pesawat carter di luar Jakarta. Di tahap awal, terminal ini akan ditempatkan di Bali, Balikpapan, serta Lombok.

Pesawat-pesawat kecil menjadi andalan Susi Air.

Maskapai Carter di Indonesia:

Premiair
Halim Perdanakusuma, Terminal Building Ground Floor, Jakarta; 021/809-1255; flypremiair.com.

Javajet Asia
Cityloft Sudirman Lt.10 Suite 1012, Jl. K.H Mas Mansyur No.121, Jakarta; 021/2995-9898; javajetasia.com.

Trigana Air
Kompleks Puri Sentra Niaga, Jl. Wiraloka Blok D 68-69-70, Kalimalang, Jakarta; 021/860-4867; trigana-air.com.

Menara-Airplanes Charter
Wisma Bumiputera Kav.75, Jakarta; 021/522-0494; menara79.com.

Sky Aviation
Halim Perdanakusuma, Terminal Building 2 Room A-44, Jakarta; 021/8087-4902; sky-aviation.co.id.

Enggang Air Service
Halim Perdanakusuma, Terminal Building Lt. 2 A14PK, Jakarta; 021/8088-3913; enggangair.co.id.

Pegasus Aviation
Halim Perdanakusuma, Terminal Building 2 Suite A.60, Jakarta; 021/8088-4882; pegasusairops.com.

BizJet Lion Air
Lion Air Tower, Jl. Gajah Mada No.7, Jakarta; 021/6379-8000;lionair.co.id.

Indonesia Air Transport
MNC Tower Lt. 24, Jl. Kebon Sirih Raya No.17-19, Jakarta; 021/391-2935; indonesia-air.com.

Deraya
Terminal Building 1st Floor No. 150/HT, Halim Perdanakusuma, Jakarta; 021/809-3627; deraya.co.id.

Whitesky Aviation
Secure Building, Tower A Lt. 1, Jl. Raya Protokol Halim Perdanakusuma, Jakarta; 021/8089-0066; whiteskyaviation.co.id.

Susi Air
Gedung BNI 46 Lt. 32, Jl. Jenderal Sudirman Kav. I, Jakarta; 0811-211-1080; susiair.com.

Airfast Indonesia
Jl. Marsekal Suryadarma No. 8, Tangerang; 021/520-0696; airfastindonesia.com.