Sebuah mobil membelah jalan di Shigar Valley, gerbang menuju Pegunungan Karakoram. (Foto: Haroon Sadiq/Getty Images)

Meski lanskapnya cantik dan fotogenik, Kashmir ternyata tak ubahnya tumpukan nestapa. Di tengah alam yang menyejukkan hati ini, manusia sangat gigih bertarung memperebutkan garis-garis di atas peta, bahkan sudi saling mengancam nyawa. Begitu panjang dan kompleks persoalannya sampaisampai Kashmir telah menjadi semacam epitome bagi konflik perbatasan warisan zaman penjajahan.

Semua orang, tak peduli kastanya, turut terkena dampak dari sengketa. Selagi di Baltistan, saya sempat diundang ke rumah Puteri Jiya, cucu dari Raja Fateh Ali Khan. Khaplu, kerajaan kakeknya di Baltistan, sudah dihapus oleh pemerintah Pakistan pada 1972, sementara istananya dialihfungsikan menjadi hotel mewah yang merangkap museum. Akan tetapi, walau sistem monarki sudah punah, keturunan raja masih dihormati oleh warga setempat.

Saya menikmati sesi minum teh bersama Abbas, suami dari Puteri Jiya. Topik diskusinya lagi-lagi tak lepas dari tragedi. “Ibu saya berasal dari Desa Tyakshi yang sekarang berada di India,” Abbas membuka obrolan. “Suatu hari pada 1971 dia dan sepupunya pergi ke Khaplu. Ketika kembali ke rumah, tiba-tiba jalan sudah dipagari oleh tentara India. Ibu saya menangis menjerit-jerit minta lewat tapi tidak dikasih, padahal jarak dari pagar ke rumah hanya sekitar tiga hingga empat kilometer. Dia meninggalkan suami dan dua anak.”

Selama di sini, hampir setiap orang yang saya temui menyimpan kenangan pilu yang ingin ditumpahkan: tentang istri yang berpisah dari suami, ibu yang kehilangan anak, tetangga yang tak lagi bersilaturahmi. Barangkali, Kashmir adalah kawasan yang paling mengagumkan sekaligus paling mengharukan di dunia. Ironis memang. Jika ada satu pengalaman berbeda saya dapatkan di sini, jawabannya ialah pertemuan dengan Raja Adeel Amacha. Alih-alih mengundang ke rumahnya untuk curhat, beliau mengajak saya menonton pertandingan polo, olahraga tua asal Persia yang ternyata populer di Gilgit-Baltistan. Tak menyangka saya menonton polo pertama kalinya di Lembah Shigar yang dikurung pegunungan bersalju. Melihat kerumunan di sekitar, ini juga pertama kalinya bagi saya menonton pertandingan olahraga sebagai satu-satunya perempuan di antara ratusan penonton pria lokal.

Dalam panggung politik Pakistan, Gilgit-Baltistan adalah isu sensitif yang terpaut kedaulatan negara. Akan tetapi, berhubung lokasinya jauh dari pusat kekuasaan di Islamabad, tempat ini mengalami problem khas daerah pinggiran: kurang perhatian. Hingga kini, Gilgit-Baltistan belum secara resmi diintegrasikan ke dalam negara Pakistan. Warga berharap wilayahnya ditetapkan sebagai provinsi kelima, tapi pemerintah pusat tak menggubrisnya.

Jika membayangkan diri saya sebagai penduduk Gilgit-Baltistan, saya akan menganggap Pakistan sebagai pacar yang buruk. Diminta putus, menolak. Ditantang naik ke jenjang berikutnya, malah diam saja. Pada 2009, Pakistan berkompromi dengan memberikan status otonomi. Di tengah hidupnya yang susah, Gilgit-Baltistan justru dipaksa mandiri. Pacar yang buruk dan pelit.

Kiri-kanan: Seorang penggembala di Deosai National Park, Skardu District. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images); seorang gadis lokal yang berasal dari etnik Balti keturunan Tibet. (Foto: Nadeem Khawar;/Getty Images)

Tapi kondisi itu tak melulu buruk sebenarnya. Minimnya perhatian pemerintah pusat telah melahirkan semacam privilese untuk terbebas dari pajak. Warga setempat bisa menikmati penghasilan tanpa terkena PPh dan berbelanja tanpa membayar PPN. “Saya telah bekerja puluhan tahun di seluruh Pakistan dan di beberapa negara di luar negeri, tapi baru di sini saya merasakan nikmatnya gaji yang utuh tidak kena pajak,” jelas Robin, general manager sebuah hotel berbintang di Skardu.

Robin juga mengaku telah membeli mobil dengan harga sangat murah, walau dengan pelat khusus berwarna biru sebagai tanda mobilnya cuma bisa dikendarai di Gilgit-Baltistan. “Di masa pensiun begini,” tambah Robin, “saya sengaja mencari kerja di Gilgit Baltistan yang alamnya indah bak surga, plus bisa lebih banyak menabung.”

Satu perkembangan yang menarik, dalam beberapa tahun belakangan Gilgit-Baltistan mulai menikmati pembangunan infrastruktur yang cukup signifikan. Diabaikan oleh Islamabad, daerah ini justru dilirik oleh Beijing. Mengarungi Gilgit, Ibu Kota Gilgit-Baltistan, jalan-jalan membentang mulus. Saat bergeser ke sisi selatan, saya menyusuri Karakoram Highway yang melintang 1.300 kilometer, juga berulang kali menembus pegunungan berbatu. Di banyak titik terpampang pelang besar bertuliskan “China-Pakistan Friendship Highway.”

Ambisi Tiongkok melebarkan pengaruhnya telah menempatkan Gilgit-Baltistan sebagai titik strategis yang mesti dirangkul. Maklum, kawasan ini berada di jalur panjang yang terbentang dari Khunjerab di tepi utara hingga Pelabuhan Gwadar di ujung selatan Pakistan. Pejabat politbiro tentu ingin memastikan kargo dari Tiongkok lancar menjangkau pelabuhan Pakistan untuk kemudian diekspor ke kawasan Afrika dan Asia Barat.

Di bawah payung CPEC (China-Pakistan Economic Corridor), semacam Jalan Sutra abad ke-21, Tiongkok mengguyurkan dana untuk beragam proyek infrastruktur di Gilgit-Baltistan, termasuk membangun instalasi pembangkit listrik. Perbaikan infrastruktur ini secara tak langsung turut menunjang sektor pariwisata. Pelancong lebih mudah bergerak. Objek-objek wisata kian gampang dijangkau. Dan Gilgit-Baltistan mengoleksi objek wisata yang luar biasa banyak.

Salah satu tempat di sini yang sudah tersohor di kalangan petualang ialah Lembah Hunza, di mana gunung-gunung menjulang dengan kepala runcing mirip sayur okra. Objek lainnya yang juga memukau ialah Khunjerab Pass, perbatasan antarnegara tertinggi di dunia, yang dilengkapi mesin ATM tertinggi versi Guinness World Records.

Kiri-kanan: Sebuah instalasi pembangkit listrik di tebing terjal di Gilgit-Baltistan, kawasan yang kurang diperhatikan pemerintah pusat Pakistan tapi kini menuai manfaat dari ekspansi Tiongkok ke Asia Barat. (Foto: Amir Mukhtar/Getty Images); perahu melabrak permukaan beku Attabad, danau yang memikat turis berkat keindahannya walau sejatinya tempat ini terbentuk dari tanah longsor pada 2010 di Gojal Valley. (Foto: Nadeem Khawar/Getty Images)

Memang, setidaknya saat ini, Kashmir belum laris sebagai tujuan liburan. Mendengar namanya saja bisa membuat orang mengernyitkan dahi. Tapi satu pelajaran yang saya petik dari trip ini ialah berita-berita di media massa kerap kurang proporsional dalam merangkum realitas di lapangan. Kontras dari citranya yang suram, Gilgit-Baltistan menurut saya memiliki panorama alam yang paling indah di seantero Pakistan. Berjalan-jalan di sini juga terasa aman. Tingkat kriminalitasnya nol. Tidak ada pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, maupun teror bom. Kata Hamid, pemandu saya, semua itu tak lepas dari keyakinan yang dianut masyarakatnya. “Kami mayoritas Muslim Syiah,” jelasnya. “Syiah pencinta damai. Kami tidak boleh membunuh manusia, meski atas nama jihad sekalipun.”

Tanah indah ini masih didera masalah, tapi warganya kini punya alasan untuk tak melulu berkabung. Pergeseran kekuatan ekonomi ke Tiongkok telah membuka harapan bagi perbaikan di masa depan.

PANDUAN

Rute
Belum ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Islamabad. Untuk durasi tersingkat, pilih transit di Bangkok. Tapi jika wilayah udara India ditutup, rute tergampang adalah via Doha. Visa Pakistan bisa diperoleh secara daring melalui Pakistan Official Visa Portal (visa.nadra.gov.pk) dengan menyerahkan dokumen yang terdiri dari scan paspor, foto diri, bukti reservasi hotel, dan undangan dari operator tur di Pakistan. Menuju Gilgit-Baltistan, Anda bisa menempuh jalur darat selama 20-22 jam ke Skardu atau 12-14 jam ke Gilgit. Skardu dan Gilgit sebenarnya memiliki bandara, tapi penerbangan ke sini sangat rentan dipengaruhi cuaca.

Informasi
Untuk menjelajahi Gilgit-Baltistan, sebaiknya sewa mobil 4WD dari pemandu lokal, salah satunya Mountain Travel Pakistan (mountaintravels.com), yang merupakan operator tur pelopor di kawasan ini. Serena (serenahotels.com) adalah merek hotel yang kerap direkomendasikan kedutaan berkat standar keamanannya yang prima. Cabangnya terdapat di Gilgit, Shigar, dan Khaplu. Di beberapa kota, Serena merupakan satu-satunya hotel yang menyediakan listrik dan air panas 24 jam. Wanita asing tidak diwajibkan berjilbab di Pakistan. Turis, termasuk pria, hanya disarankan menutupi bagian kaki dan lengan.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Oktober/Desember 2019 (“Elegi Elok”)