Inovasi di balik pandemi

Produk-produk inovatif yang lahir untuk menjawab tantangan zaman sekaligus menyongsong dunia pasca-pandemi.

Fortum, perusahaan Finlandia, mendesain Vipu, gagang lengan untuk membuka pintu kulkas atau lemari. (Foto: Fanny Haga/Fortum)

Tatkala Inggris terjangkit wabah pada 1665, Isaac Newton menghabiskan waktunya mengutak-atik rumus dan berhasil menelurkan kalkulus. Dua abad sebelumnya, terinspirasi pengalaman buruk Milan diserang pagebluk, Leonardo da Vinci merumuskan konsep kota masa depan yang lebih aman. 

Inovasi bisa lahir di kala pandemi. Asa tak padam di tengah mala. Mungkin karena manusia cenderung lebih fokus saat terkurung, seperti dalam kasus Newton, atau justru lebih ulet saat dijepit masalah, sebagaimana Da Vinci.

Fenomena serupa terlihat sekarang. Di tengah PSBB global akibat Covid-19, sejumlah insan kreatif berkarya untuk menjawab kebutuhan dan tantangan kontemporer. Berikut beberapa contoh inovasi yang akan memengaruhi cara kita bergerak dan bepergian.

Fortum Vipu, gagang pembuka berbahan plastik daur ulang buatan Fortum asal Finlandia. (Foto: Fanny Haga/Fortum)

Alat Pembuka
Demi menghindari penyebaran virus lewat tangan, jabat tangan kini diganti salam Sunda, namaskara, atau tempel siku. Khusus gagang pintu, solusinya praktisnya ialah hands-free door opener. Steve Brooks, desainer Inggris dari firma Draft Design Build, menggagas Hygienehook, benda mungil mirip kapstok yang bisa dipakai untuk membuka pintu. Di kategori yang sama, Stay Safe Lab asal Slovenia menciptakan Carabiner yang dibekali fitur tambahan seperti stylus (misalnya untuk menekan tombol ATM), pisau penyayat selotip, serta pemutar mur. Bagi para pemilik kantin atau toko kelontong, perusahaan Finlandia Fortum mendesain Vipu, gagang lengan untuk membuka pintu kulkas atau lemari.

Mediamatic, pusat seni di Amsterdam, mendesain bilik makan Serres Séparées. (Foto: Willem Velthoven/Mediamatic)

Bilik Makan Privat
Untuk mengurangi rasa waswas tamu, banyak restoran menyediakan hand-sanitizer, rutin menyemprot disinfektan, serta mewajibkan pramusajinya mengenakan masker. Selepas pandemi, mereka mungkin akan berpikir untuk menciptakan bilik privat, seperti yang didesain oleh Mediamatic di Amsterdam. Pada 27 April silam, laboratorium seni ini mengetes bilik makan Serres Séparées di Mediamatic ETEN, restoran yang menyajikan makanan organik. Restoran ini dijadwalkan beroperasi setelah PSBB berakhir, sementara bilik-biliknya dikhususkan bagi tamu individual atau pasangan yang sudah tinggal bersama.

Immutouch memberi peringatan saat tangan akan menyentuh wajah. (Foto: Immutouch)

Detektor Tangan
Kebiasaan menyentuh wajah sulit distop, karena kita kerap melakukannya tanpa sadar. Tapi kini ada gawai yang bisa membantu Anda. Immutouch, produk yang dilansir pada Maret 2020, akan memberi peringatan saat tangan bergerak ke arah mulut, hidung, atau mata. Produk wearable ini diciptakan oleh trio asal Seattle—Justin Ith, Matthew Toles, dan Joseph Toles—yang sebelumnya menggarap Slightly Robot—mirip Immutouch, tapi fungsinya lebih mirip alat bantu terapi bagi pengidap dermatillomania (sering mengelupas kulit), trichotillomania (mencabut rambut), dan onychophagia (menggigit kuku).

Kursi pesawat dengan partisi buatan pabrikan Italia Aviointeriors. (Foto: Aviointeriors)

Kursi ‘Social Distancing’
Selepas pandemi, social distancing akan terus diterapkan, termasuk di pesawat. Bertolak dari prediksi itu, Aviointeriors meluncurkan dua model kursi ekonomi pesawat yang dilengkapi partisi transparan. Kursi pertama, Glassafe, dibekali semacam tudung di bagian kepala. Kursi kedua, Janus, menjanjikan proteksi ekstra lewat pemasangan sekat transparan, plus modifikasi penataan kursi: dalam formasi tiga kursi berjajar, kursi bagian tengah akan dibalik arahnya. Partisi ini diklaim mudah dibongkar-pasang dan dibersihkan. 

Baca juga: Juara Sayembara Pemulihan Pariwisata Dunia

Kiri-Kanan: Masker Myant PPE mengandung serat tembaga dan perak. (Foto: Myant PPE); Masker motif Wayang Beber buatan Ghea Fashion Studio. (Foto: Ghea Fashion Studio)

Masker Modis  
Beberapa tahun selepas pandemi, masker akan terus menjadi bagian lumrah dari busana, dan beberapa organisasi mulai menangkap peluang itu dengan menciptakan masker modis yang berbeda dari masker ojek atau masker bandit. Virustatic, firma bioteknologi asal Inggris, menciptakan Virustatic Shield yang menyerupai masker koboi dan diklaim sakti menangkal virus. Dari Kanada, Myant menciptakan masker dengan lapisan ganda dan kandungan serat tembaga dan perak. Inovasi buatan Indonesia tak kalah atraktif. Label fesyen Liunic on Things mendesain masker kaya warna dan corak. Mengusung agenda sosial, gerakan Masker Untuk Indonesia menciptakan masker artistik hasil kemitraan dengan seniman. Sementara Ghea Fashion Studio meramu masker bercorak motif Indonesia yang sepertinya cocok dipakai Ghea Panggabean saat naik ojek.

Kiri-Kanan: Bixby dalam bahasa Spanyol. (Foto: Samsung); Miikka Rosendahl, CEO Zoan, perusahaan pencipta tur virtual. (Foto: Hannes Honkanen/Zoan)

Teknologi Virtual 
Teknologi ini tidak baru tentu saja, tapi akan mengalami akselerasi akibat pandemi. Misalnya untuk keperluan wisata. Ketika kelak orang lebih selektif memilih destinasi, tur virtual menawarkan peluang untuk inspeksi sebelum membeli tiket. Perusahaan Zoan asal Helsinki mengembangkan teknologi VR bagi turis yang ingin melihat kondisi kota di musim apa pun, memeriksa interior hotel, bahkan mencoba pengalaman naik trem. Asisten virtual semacam Siri, Bixby, dan Google Assistant juga berpotensi lebih sering digunakan, berhubung turis akan lebih cemas mencari info dari sembarang orang. Juga didorong kecemasan, avatar mungkin akan kian populer, terutama bagi mereka yang berkelana seorang diri. Vinclu Inc menawarkan silinder Gatebox yang menghadirkan karakter hologram Azuma Hikari. Januari 2020, sebelum wabah melanda dunia, Samsung melansir Neon, avatar digital yang diproyeksikan bisa menjadi sahabat, penasihat finansial, hingga juru bicara. 

Comments