Sutradara Wes Anderson di gerbong Cygnus hasil rancangannya. (Foto: Nicolas Receveur/Belmond)

Dunia simetris ala Wes Anderson kini tak cuma bisa ditonton. Mulai bulan ini, Anda bisa memasukinya, duduk di dalamnya, sembari menikmati wine dan pemandangan yang berkelebat di balik jendela.

Seperti yang terlihat dalam karya emasnya semacam The Darjeeling Limited, Moonrise Kingdom, serta The Grand Budapest Hotel, Anderson dicirikan oleh sinematografinya yang mengutamakan permainan warna pastel, sentuhan nouveau, serta komposisi simetris yang eksesif.  

Pendekatan unik itulah yang juga diaplikasikan dalam desain interior gerbong kereta milik Belmond. Lewat sebuah kolaborasi paling unik dalam sejarah sepur, Belmond menyewa Anderson untuk mendandani ulang gerbong Cygnus di kereta British Pullman.

Interior gerbong Cygnus di kereta British Pullman. (Foto: Belmond)

“Saya sering menciptakan kompartemen dan gerbong kereta dalam film saya,” jelas Anderson, dalam siaran pers Belmond, “Jadi saya dengan senang langsung mengatakan ‘ya’ untuk kesempatan mewujudkannya dalam kehidupan nyata.”

Dibandingkan gerbong dalam The Darjeeling Limited, Cygnus jauh lebih mewah. Interiornya menyerupai ruangan istana, sementara servisnya berstandar bintang lima. Uniknya, wagon buatan 1950-an ini juga punya tempat dalam sejarah sinema. Ia pernah tampil dalam film Agatha yang dibintangi Dustin Hoffman dan Vanessa Redgrave.

Kereta British Pullman membelah kawasan Surrey Hills. (Foto: Belmond)

“Kami selalu mencari cara baru untuk tetap relevan dan menciptakan petualangan legendaris baru,” ujar Arnaud Champenois, Senior VP Belmond, tentang alasannya berkolaborasi dengan Anderson. “Adalah misi kami untuk menjaga mimpi perjalanan tetap hidup melalui kolaborasi dengan talenta yang paling kreatif.”

Sepur mewah British Pullman melayani trayek dari London Victoria Station menuju kawasan bersejarah semacam Kent dan Bath. Untuk mencoba gerbong “sinematik” Cygnus, tersedia paket Pullman Dining by Wes Anderson dengan tarif mulai dari £400 (sekitar Rp7,7 juta) per orang.Cristian Rahadiansyah