Kiri-kanan: Karya Michal Nachmany di URS127 Art Factory; Songshan Cultural Creative Park dengan latar Taipei 101.

Memasuki URS127 Art Factory, saya menyusuri interior yang fotogenik. Langit-langitnya tinggi. Kamar-kamarnya sempit dan panjang, sangat panjang, hingga terkoneksi ke sebuah pekarangan yang dikepung dinding. Oleh pengelola Art Factory, ruang-ruang ini telah dialihfungsikan menjadi studio, aula pameran, kafe pop-up, serta kios yang menjajakan beragam benda unik karya perusahaan lokal, salah satunya Uncle & Sister.

Bergerak ke sisi utara, saya mampir di URS155 Cooking Together. Stasiun ini juga menempati gedung uzur, tapi tawarannya sepenuhnya berbeda. Dipandu oleh seorang klerek yang menamai dirinya Jamie, saya melawat sebuah toko yang menjajakan komoditas lokal semacam buah kering dan rempah buatan keluarga terpandang Tuan Yuan. Setelah itu, saya dibawa ke sebuah dapur komunal di mana pengunjung mencicipi aneka resep, lalu ke sanggar yang didedikasikan bagi kegiatan residensi seniman lokal. “Makanan adalah tawaran utama di sini,” jelas Jamie. “Kami berupaya mempromosikan produk-produk khas Taiwan ke segmen baru.”

Makanan juga menjadi fokus URS329 Rice & Shine di sisi utara Dadaocheng. Menempati bangunan lapuk bekas toko grosir beras, URS 329 menjajakan beras putih dan hitam organik yang dikirimkan oleh para petani di seantero Taiwan, ditambah aneka produk terkait boga seperti jus plum, perlengkapan dapur, dan kriya bertema kuliner.

Program URS mulai diimplementasikan secara sungguh-sungguh pada 2011. Merujuk statistik pemkot, antara 2011 dan 2015, Dihua Street telah menyambut 61 bisnis baru, sementara tingkat pemanfaatan bangunan komersial melonjak 65 persen. Barangkali terlalu dini untuk menyimpulkan URS sukses memulihkan kejayaan Dadaocheng, tapi kehadirannya pastinya telah membuat daerah ini tampil lebih trendi. Di antara kuil tua dan pedagang ikan, Dadaocheng kini mengoleksi banyak toko buku, kedai kopi, galeri, dan emporium, salah satunya Artyard yang menawarkan keramik mengilat Hakka Blue.

Yang juga penting dicatat, proyek transformasi di Dadaocheng tidak serta-merta menggeser para pemain lokal. Ambisi menyegarkan situs-situs tua berjalan seiring dengan kearifan untuk menjaga kepentingan warga setempat. Banyak orang masih setia menjalani rutinitas mereka, loyal berbelanja di kios yang sama, tetap berkuasa layaknya tuan rumah. Ini mungkin bukan contoh yang ideal, tapi berkesan bagi saya: suatu kali, saat berhenti untuk mengintip interior sebuah toko, saya tanpa sadar menutupi badan trotoar sampai-sampai seorang nenek yang kesal menyabet saya memakai payungnya.

Banyak pihak menilai pembangunan di Taipei relatif berhasil menjaga keseimbangan antara kepentingan komersial dan lokal. Tapi tak ada yang tahu persis sampai kapan pendulum itu bisa dijaga. Di tengah kecemasan inilah kita mendengar suara-suara sumbang.

Kiri-kanan: Alex Chou, pencetus sepeda artistik Gochic Bicycle; dada ayam organik dengan sayur musiman di Leputing.

Meninggalkan Dadaocheng, saya bertamu ke bengkel milik Alex Chou, desainer blasteran Taiwan-Amerika yang mencetuskan sepeda merek Gochic. Ini bukan sepeda pada umumnya. Dibuat dengan tangan secara saksama, Gochic sejatinya sebuah karya seni. Alex Chou hanya memproduksi 100 unit per tahunnya. Pembelinya mungkin lebih suka memajangnya ketimbang mengayuhnya.

Studio dan showroom Gochic bersemayam di seutas jalan yang dihuni rumah-rumah dari zaman penjajahan Jepang. Tempat ini sekarang menjadi kuil suci bagi penggemar sepeda, komunitas yang tumbuh subur seiring kehadiran jalur-jalur sepeda di Taipei. “Kami berupaya membuat kota ini lebih baik,” ujar Alex. “Merek-merek independen seperti Gochic akan menyediakan momentumnya.” Gochic awalnya bermarkas di Huashan, tapi kemudian Alex memutuskan merelokasinya ke area yang lebih bersahaja. “Huashan adalah wadah yang sempurna. Studio kami selalu penuh tiap akhir pekan dan orangorang harus mengantre,” jelasnya. “Tapi sekarang Huashan menjadi terlalu komersial—bagus untuk bisnis, tapi buruk untuk startup. Kami berharap ada lebih banyak dukungan, terutama dalam bentuk tarif sewa yang lebih murah. Huashan memang sebuah taman kreatif, tapi ia sejatinya tetap bermotif bisnis.”

Kritik yang lebih halus ditembakkan oleh Sean Hu, kurator Hu’s Art, institusi yang menaungi jaringan galeri. Menurutnya, pemkot kurang gereget dalam pembangunan museum, tapi setidaknya mereka rajin mendukung kegiatan seni dan menjadikan Taipei platform yang bagus untuk proyek-proyek eksperimental. Dukungan, lanjut Sean Hu, juga datang dari pelaku partikelir. “Sektor swasta mau melakukan sesuatu yang berbeda,” ujarnya. “Kini kolaborasi antara perusahaan dan seniman terlihat sebagai sesuatu yang trendi.”

Untuk memahami maksudnya, saya menyatroni Leputing, asrama buatan 1920-an yang dulu ditinggali PNS Jepang. Pemkot dan pengembang Lead Jade berkolaborasi memulihkan kondisinya. Desain autentik Jepang dipertahankan: pintu geser berlapis kertas, lantai kayu yang terus berderit, serta jendela yang menghadap taman. Tapi suguhannya kini berbeda total, yakni restoran Eropa yang melayani makan siang dan malam, serta sesi afternoon tea. Walau harga menunya terbilang mahal, restoran ini cukup laris. Banyak pihak memujinya karena berhasil memberi citra prestisius ke sebuah area yang redup.

Kiri-kanan: Kafe bergaya Jepang di Huashan 1914 Creative Park; Tas-tas kanvas buatan perancang lokal Mogu di Dihua Street.

Lagi-lagi, pertanyaannya, apa yang terjadi ketika citra prestisius itu kian dominan? “Pemerintah telah mengubah banyak tempat. Publik senang dengan hasilnya, dan regenerasi memang membantu pertumbuhan industri kreatif,” jelas Hu dari URO. “Akan tetapi di saat yang sama saya juga cemas akan kian banyaknya pengunjung dan pedagang. Nantinya tempat-tempat ini akan seperti apa?”

Kecemasan itu beralasan karena, seperti yang diakui Hu, banyak proyek restorasi sebenarnya “tidak dirancang untuk menjadi permanen.” Apa yang terjadi jika tarif sewa di sejumlah daerah melonjak? Atau jika pengembang mendadak mengambil alih tempat-tempat baru yang sedang populer—kasus yang menimpa sejumlah URS—lalu mengonversinya menjadi entitas yang lebih komersial?

Bagi pemkot, semua kecemasan itu tak perlu terlalu dipusingkan. Mereka yakin, saat semua kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi, energi baru yang disuntikkan oleh URS telah cukup kuat untuk memutar perekonomian di kawasan sekitarnya. Dengan kata lain, sebuah “destinasi” baru telah lahir. Tentu saja, cara pandang pemkot ini sejatinya sebuah pertaruhan. Tapi jika kita mau memandang sebuah kota sebagai ruang yang mau tak mau akan tumbuh dan bergerak, maka kita akan memandang setiap pertaruhan untuk membuat perubahan yang positif layak diambil. Taipei kini melakukannya tanpa ragu, dan ia mulai menikmati hasilnya.

Rute
Penerbangan dengan satu kali transit ke Taipei dilayani antara lain oleh Cathay Pacific (cathaypacific.com) via Hong Kong dan Singapore Airlines (singaporeair.com) via Singapura. Khusus dari Jakarta tersedia penerbangan langsung yang dilayani oleh Eva Air (evaair.com) dan China Airlines (china-airlines.com).

Direktori
Gochic Bicycle 59 Qidong St., Zhongzheng; 886-2/2314-3296; gochicbicycle.com; Huashan 1914 Creative Park 1 Bade Rd., Zhongzheng; 886-2/2358-1914; huashan1914.com; Leputing 67 Hangzhou South Rd., Da’an; 886-2/2395-1689; leputing.com.tw; Songshan Cultural & Creative Park 133 Guangfu South Rd., Xinyi; 886-2/2765-1388; songshanculturalpark.org; URS127 Art Factory 127 Dihua St., Datong; 886-2/2550-6775; urstaipei.net; URS155 Cooking Together 155 Dihua St., Datong; 886-2/2552-0349; campobag.com; URS329 Rice & Shine 329 Dihua St., Datong; 886-2/2550-6607; ricenshine329.com.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei-Juni 2017 (“Gerakan Jarum Urban”)