
Oleh Rony Zakaria
[dropcap type=”default”]F[/dropcap]lores menawarkan sosok yang sulit dihapus dari benak. Kebudayaannya eksotis dan bernyawa. Warganya murah senyum dan hangat. Alamnya relatif steril dari kontaminasi. Awal Juni silam, saya kembali mengunjunginya, kali ini untuk mengikuti Semana Santa di Larantuka, Flores Timur. Pergelaran umat Katolik ini ditujukan untuk mengenang wafat dan bangkitnya Yesus.
Ziarah adalah bagian integral dalam tradisi Katolik. Kita bisa menyaksikannya di banyak tempat religius, seperti kota suci Jerusalem, Lourdes di kawasan perbukitan Pyrenees di selatan Prancis, Fátima di Portugal, ataupun rute ziarah Santiago de Compostela di Spanyol yang menginspirasi novel populer The Pilgrimage karya Paulo Coelho. Di Indonesia, Semana Santa juga memikat peziarah dari penjuru bumi.
Daya tariknya bukan cuma terletak pada seremoninya yang kolosal, tapi juga riwayatnya yang mengandung nilai sejarah yang sangat penting. Larantuka punya ikatan kuat dengan drama penjajahan di Indonesia. Pada awal abad ke-16, kota ini menjadi salah satu tempat bermukimnya para pedagang dan misionaris Portugis. (Kata “Flores” diambil dari bahasa Portugis yang berarti “bunga.”) Walau pada awal abad ke-17 banyak orang Portugis meninggalkan Larantuka usai invasi VOC, pengaruh mereka telanjur tertanam di hati warga. Kita bisa menemukannya dalam nama-nama klan, misalnya da Costa, de Hornay, dan da Gomez. Dalam Semana Santa, jejak Portugis juga terpatri pada beragam aksesori dan istilah peribadatan.

Di Larantuka, Semana Santa dianggap lebih penting dari Natal. Salah satu suster di Larantuka mengatakan, Paskah merayakan kemenangan umat Katolik ketika Yesus bangkit dan menyelamatkan warga bumi. Ribuan orang melawat ke Larantuka demi mengenang peristiwa monumental tersebut. Di Kupang, para peziarah berebut tiket pesawat yang hanya beroperasi satu kali per hari ke Larantuka. Mereka yang tidak tertampung terpaksa menaiki kapal feri selama 15 jam dan menembus ombak Laut Sawu yang kerap ganas. Jika pelancong digerakkan oleh keinginan melihat dunia, peziarah disatukan oleh niat mendekati Sang Penguasa. Keduanya memancarkan militansi, tapi peziarah sepertinya lebih digerakkan oleh kekuatan di luar dirinya.>>

Selain Gereja Katedral, ada tiga kapel di Larantuka yang menjadi titik penting dalam Semana Santa, yaitu Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana, dan Kapela Tuan Meninu. Ketiganya dinamakan sesuai dengan nama tiga patung suci yang disimpan di rahim ketiga bangunan. Di luar Paskah, ketiga patung itu disembunyikan dari mata publik. Patung Tuan Ma merupakan simbol utama dalam perayaan. Patung ini menampilkan figur Bunda Maria (disebut “Mater Dolorosa” oleh warga) yang sedang menangis. Merujuk hikayat setempat, patung Tuan Ma bersama Tuan Ana (Yesus) didatangkan ke Larantuka pada abad ke-16 oleh dua misionaris Portugis, Gaspardo Espírito Santo dan Agostinhode Madalena.
Menjelang Paskah, ketiga patung sakral di Larantuka dikeluarkan untuk dimandikan, kemudian diperlihatkan kepada umat. Proses pemandiannya berlangsung klandestin dan tertutup. Orang-orang yang terlibat dalam ritual ini juga disumpah untuk merahasiakan semua yang dilihatnya. Bagi warga setempat, hari-hari sebelum Paskah biasanya dimanfaatkan untuk berziarah ke makam keluarga. Orang-orang membersihkan ilalang dan debu di kuburan, lalu menyalakan lilin menjelang senja. Praktik ini berlangsung hingga puncak perayaan Jumat Agung.


Semana Santa dimulai dengan perayaan Rabu Trewa yang dipusatkan di Kapela Tuan Ma. Bangunan ini dipadati umat, termasuk anak-anak yang membawa dahan pohon, tongkat kayu, serta lembaran seng. Saat lampu kapel padam dan lonceng berbunyi, anak-anak berlarian seraya memukul-mukul seng tanpa henti, hingga menyulap suasana yang khidmat menjadi gaduh.
Rabu Trewa mengingatkan kita pada pengkhianatan Yudas Iskariot yang berujung pada penangkapan Yesus. Bunyi-bunyian di hari ini memancarkan duka menjelang wafatnya Sang Juru Selamat. Setelah hari berakhir, Larantuka berubah senyap. Tak ada lantunan musik maupun suara bising. Yang terdengar hanyalah sayup-sayup doa yang merambat syahdu di udara. Pada Kamis Putih, umat memadati ketiga kapel untuk berdoa dan mencium patung. Diiringi asap lilin dan nyanyian-nyanyian Mama Muji (para ibu yang melantunkan syair-syair berbahasa Portugis), ribuan orang bergiliran memasuki ketiga kapel. Prosesi ini bergulir sejak pagi hingga larut malam.

Di hari puncak perayaan, kotak salib Tuan Meninu (Yesus saat bayi) diarak melewati Selat Gonzalu yang berarus deras. Puluhan kapal mengiringi perahu kecil yang mengangkut Tuan Meninu. Di momen inilah musibah datang. Salah satu kapal terempas oleh arus galak. Tujuh penumpang tewas dan puluhan lainnya hanyut. Tragedi yang baru pertama kali terjadi dalam Semana Santa itu sempat menghiasi tajuk media. Beberapa orang percaya, musibah sebenarnya disebabkan pelanggaran terhadap tabu adat: si kapal nahas memutar di depan perahu yang mengusung Tuan Meninu.


Malam harinya, perayaan dilanjutkan dengan prosesi arak-arakan mengelilingi Larantuka dengan rute sepanjang tujuh kilometer. Diiringi nyanyian dan doa-doa oleh ribuan peziarah, ketiga patung sakral diarak dari Katedral dan singgah di delapan titik yang melambangkan delapan klan utama di Larantuka. Prosesi malam ini juga diwarnai fenomena misterius: bunyi gemuruh layaknya tsunami yang menyeruak tiba-tiba dari belakang rombongan. Ratusan peziarah sontak lari berhamburan. Tapi kemudian samar-samar terdengar suara tangisan dan rintihan memohon pertolongan kepada Bunda Maria. Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Prosesi malam tuntas, tapi pertanyaan masih berkecamuk di kepala saya. Esok paginya, ketiga patung dibawa pulang ke kapel masing-masing dan Semana Santa tahun ini pun rampung. Tahun depan, ribuan peziarah akan kembali merangsek Larantuka untuk tenggelam dalam perayaan iman yang menggetarkan batin di tanah Flores. Setelah melewati separuh milenium, Semana Santa tak lagi dilihat sebagai hajatan spiritual semata, tapi juga pergelaran kolosal yang melebur tradisi, sejarah, dan peradaban. Semana Santa adalah bagian integral dari identitas Kota Larantuka, juga bagian penting dari perjalanan panjang Nusantara.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Sep/Okt 2014 (“Tiga Iman, Satu Tuan”)

