Features

Geliat Wisata Pinisi di Indonesia

Bentuk kapal Alila Purnama.

[dropcap type=”default”]M[/dropcap]eski berstatus negara kepulauan terbesar, Indonesia ternyata hanya dilewati segelintir kapal pesiar. Namun tidak berarti pelayaran mewah di jalur laut adalah barang langka di sini. Terinspirasi tradisi melaut warga Bugis, sejumlah investor asing dan lokal membeli kapal pinisi, lalu menawarkan petualangan ke pulau-pulau di Nusantara.

Payahnya infrastruktur pelabuhan adalah salah satu alasan kapal pesiar besar sulit menavigasi Indonesia. “Perairan di sini memiliki banyak terumbu karang, terutama di dekat dermaga, jadi kapal besar sekelas Oasis of the Seas sulit merapat,” ujar Ivan Soetikno, General Manager Royal Caribbean International Indonesia. “Jika kita ingin menjadi destinasi port of embarkation, pelabuhan membutuhkan bagian imigrasi, bea cukai, dan transportasi yang memadai.”

Makan malam di bawah taburan bintang di dek kapal Si Datu Bua.

Kondisi itulah yang membuka pintu bagi kemunculan operator pinisi. Dengan ukuran kapal yang jauh lebih kecil dibandingkan kapal yang dioperasikan Royal Caribbean atau Princess Cruise, mereka bisa menawarkan mobilitas di perairan sempit sekaligus fleksibilitas di pelabuhan berukuran kecil. Wisata pinisi telah lama ditawarkan banyak dive centre lewat paket yang lazim disebut liveaboard, yakni tur selam berdurasi satu hingga dua minggu. Memakai kapal kayu berpostur medium, penumpang bisa berlabuh di perairan banyak pulau dengan biaya yang lebih murah dibandingkan jika harus berpindah dari satu bandara ke bandara lain.

Di luar dive centre, muncul operator yang fokus membidik segmen premium. Sasarannya bukan Cuma penyelam, tapi juga kalangan korporat, selebriti, hingga pasangan bulan madu. Silolona Sojourns adalah salah satu perintis di kategori ini. Kisah perusahaan ini dimulai 30 tahun silam saat Patti Seery mengunjungi pelabuhan Sunda Kelapa dan jatuh cinta pada pinisi-pinisi di sana yang difungsikan sebagai kapal kargo. Di awal 2000-an, Patti meluncurkan MSV Silolona, kapal berisi lima suite yang dibuat oleh tangan-tangan terampil orang Sulawesi, ditambah sentuhan desain modern dari Kasten Marine Design di Amerika.

Kapal Si Datu Bua yang tengah melakoni pelayaran di kawasan Pulau Komodo.

Sukses dengan kapal pertama, Patti merilis MSV Si Datu Bua, yang juga dibuat oleh orang Sulawesi. “Hanya ada sedikit tempat di dunia di mana tradisi ratusan tahun pembuatan perahu kayu masih dipraktikkan,” kenangnya. Silolona Sojourns melayani sekitar 130 pelayaran carter tiap tahunnya. Destinasinya bukan cuma Indonesia, tapi juga Myanmar dan Thailand. Sedangkan penumpangnya adalah kalangan VIP, mulai dari anggota keluarga Rockefeller hingga para petinggi BMW. Mei silam, Gwyneth Paltrow menyewa Silolona untuk tur ke Taman Nasional Komodo. Secret Retreats, grup khusus akomodasi butik, memasukkan Silolona sebagai anggotanya. “Silolona ibarat hotel butik terapung; memiliki karakter, karisma, serta sejarah dan kebudayaan yang terukir di rangkanya. Persis seperti hotel-hotel kami,” ujar Stéphane Junca, Managing Director Secret Retreats.

Dek Si Datu Bua yang lumayan lapang.

Hotel juga terjun ke bisnis wisata pinisi, salah satunya Grup Alila. Pinisi miliknya, Alila Purnama, mulai beroperasi pada Desember 2012 dengan opsi dua destinasi, yakni Taman Nasional Komodo dan Raja Ampat. Kapal sepanjang 46 meter ini dibekali tiga dek, lima kabin, serta interior berisi furnitur kayu. Servis khas Alila menjadi standar baku dalam memuaskan 10 penumpangnya.

Kamar Mastersuite di Alila Purnama.

Jumlah penumpang yang minim adalah salah satu ciri pinisi premium. Pembatasan ini ditujukan untuk menjaga privasi dan kenyamanan. Baru-baru ini, Oazia menawarkan level privasi yang lebih ekstrem melalui kapalnya yang berkapasitas hanya dua orang! Grup yang membawahi resor, studio, serta butik ini didirikan oleh Veronika Blomgren, pengusaha Rusia yang bermukim di Bali.

Alexa hanya dibuat untuk mengakomodasi dua tamu.

Tahun ini, dia meluncurkan Alexa, pinisi sepanjang 31 meter yang menaungi hanya satu kabin. Target utamanya pelancong avonturir yang ingin menikmati trip bahari romantis bersama pasangan. Wujud Alexa mencerminkan karakter pemiliknya yang gemar mengeksplorasi desain. Veronika Blomgren memasang karpet asal Persia, alas piknik dari Uzbekistan, serta ornamen interior dari India, Thailand, juga Pakistan. “Saya ingin membuat kapal yang unik,” ungkap Veronika. “Minimnya pengalaman dalam mendesain kapal membebaskan saya dari stereotip pembuatan kapal.” Alexa bukanlah kapal baru. Awalnya, pinisi ini merupakan kapal kargo yang melayani rute ke Sumba, Sulawesi, serta Sumbawa. Dua tahun silam, Victoria membelinya, lalu mentransformasinya menggunakan jasa belasan pekerja di Sulawesi dan Bali.

Perjalanan Alexa menjelajah lautan Indonesia.

Pinisi, produk terbaik Sulawesi selain rempah-rempah dan Habibie, adalah kapal layar dengan reputasi harum di dunia maritim. Pelaut-pelaut Bugis menaikinya untuk menaklukkan samudra dalam ekspedisi-ekspedisi niaga dan muhibah. Dikutip dari berbagai sumber, babad La Galigo mencatat, pinisi pertama dibuat pada abad ke-14 oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu, guna membawanya ke Tiongkok. Kapal ini juga menorehkan tinta emas dalam sejarah pelayaran nasional dengan menempuh rute Jakarta-Vancouver pada 1986.

Kapal Silolona Soujorn yang pernah disewa oleh Gwyneth Paltrow.

Pinisi hingga kini masih diproduksi. Tiap tahapannya, mulai dari pemilihan kayu hingga pelepasan kapal, diiringi ritual khusus. Segala dimensi sejarah dan budaya itulah yang turut dijajakan para operator dalam memikat klien. Rasanya tak ada yang lebih seksi dari mengarungi negara yang nenek moyangnya seorang pelaut, menuju pulau-pulau eksotis di jantung segitiga karang dunia, dengan menaiki kapal kayu yang melegenda dalam dunia pelayaran internasional.

Kamar di pinisi Alexa dengan peranti mumpuni.

Diterbitkan pertama kali pada majalah DestinAsian Indonesia edisi November/Desember 2013. (Special Report—Wisata Pinisi: “Balada Bugis”)