Cultures

Tur Budaya Nan Menarik di Wina

Seorang anak lelaki tengah mendengarkan musik di Haus der Musik.

Sorot mata takjub. Saya selalu melihatnya di wajah warga Wina usai saya mengaku pernah berkunjung ke kota ini empat hingga lima kali dalam beberapa tahun terakhir. Mereka mungkin berpikir saya pengidap sindrom Freudian, seorang maniak opera, atau pecandu museum yang kepincut kaum Secessionist (seniman yang menentang kemapanan dengan mendirikan aliran Secession).

Semua dugaan itu bisa dimengerti, sebab Wina memang membangun reputasinya dari musik klasik, galeri seni, dan teori-teori eksistensialisme. Namun trip saya ke sini juga berhasil menemukan dimensi lain yang turut membentuk identitas kota. Dimensi yang umumnya hanya dimasuki oleh warga lokal.

Bagi saya, sejujurnya, suguhan-suguhan kultural yang luhur itu kerap memicu sakit kepala. Untungnya, Wina menawarkan banyak alternatif yang lebih menyenangkan untuk menyerap peradabannya. Berikut salah satunya: Haus der Musik, tempat melihat warisan komponis-komponis berpengaruh sekaliber Mozart, Haydn, dan Beethoven.

Salah satu inspirasi desain Lena Hoschek, perancang dengan spesialisasi busana.
Hiasan-hiasan terbuat dari porselen di Augarten Porcelain Factory. Pabrik ini juga menyediakan jasa tur di balik layar tradisi pembuatan porselen yang sudah berjalan selama tiga abad.

Sebelum pulang, comot stik dirigen, lalu jadikan diri Anda pemimpin Vienna Philharmonic di depan layar interaktif. Di Kunsthistorisches Museum, saya menemukan Kunstkammer Wien, koleksi seni tak lazim yang dikumpulkan oleh Dinasti Habsburg selama ratusan tahun. Benda-benda eksentrik itu dilansir ke publik pada Februari silam. Menelusurinya membuat saya terbuai, apalagi ketika melihat goblet yang kerap muncul di serial Game of Thrones.

Tawaran yang juga atraktif datang dari Augarten Porcelain Manufactory: tur “di balik layar” yang memperlihatkan tradisi tiga abad pembuatan porselen di sebuah pabrik yang hingga kini masih melestarikannya. Dan Anda bukan cuma melihat, tapi merasakannya. Di Décor, restoran yang tersambung ke pabrik, saya menikmati daging sapi dan selada di atas barang pecah-belah buatan Augarten.

Kiri-kanan: Cafe Sperl, kafe kesukaan Adolf Hitler. Restoran ini sudah berumur 120 tahun; suasana menjelang malam di Museums Quarter, Wina.

Bisa disimpulkan, orang-orang yang menganggap Wina semata gundukan sisa-sisa kerajaan, pasti belum pernah melenceng dari agenda standar dalam paket-paket tur. Andaikan tidak menyukai museum, seperti saya, Anda masih bisa menyelami seni, arsitektur, dan desain berusia ratusan tahun. Dan jika Anda mengenal rahasia-rahasia lokal, penyelaman itu menjanjikan pengalaman yang sangat berkesan. Untuk memulainya, masuki kedai kopi, di mana kue-kue umumnya dimahkotai whipped cream dan dihias cantik seperti dekorasi istana Keluarga Habsburg.

Saya bisanya singgah di Café Sperl, tempat nongkrong komponis Franz Lehár. Kendati saya belum pernah melihat opera Merry Widow garapan Lehár di sini, tapi setidaknya atmosfer sopan abad ke-19 senantiasa terpancar dari warga yang datang untuk menyantap strudel sembari membaca koran. Untuk karakter yang lebih bohemian, pilih Café Hawelka. Dialasi lantai kayu yang reyot dan dihiasi poster-poster teater yang sudah terkelupas, tempat ini senantiasa memelihara aura 1930-an yang berpotensi membuat kita merasa tersesat dalam adegan film The Third Man. Tidak ada kue-kue cantik di sini, kecuali roti selai buchteln dan penekuk cincang yang ditaburi gula bubuk.

Toko-toko yang terpaut riwayat ningrat juga menyenangkan. Didirikan pada 1823 dan setia mempertahankan pesona tuanya, J. & L. Lobmeyr awalnya bertugas membuat kandil kristal untuk Habsburg. Kini, produknya direka ulang guna menciptakan barang beling modern. Lobmeyr adalah satu dari segelintir perusahaan yang masih bangga menampilkan plaket k.u.k. Hoflieferant, artinya “vendor imperial dan royal” bagi Kekaisaran Austria-Hongaria.

Toko ningrat lain yang menarik adalah Backhausen, pemasok kain yang terkenal akan desainnya yang beraliran Art Nouveau. Opsi lainnya, Knize, adalah rumah penjahit yang dulu meracik busana untuk para baron, tapi kini beralih melayani pengusaha urban. Interior tokonya yang menawan dirancang pada 1910-an oleh salah seorang arsitek perintis aliran modern, Adolf Loos.

Berjalan sejenak dari kantong belanja di Innere Stadt, terdapat mahakarya Adolf Loos lainnya: American Bar. Di ruang mungil ini, saya menemukan lantai bermotif kotak hijau-putih, serta dekorasi maskulin yang dibuat dari marmer dan mahoni. Menyeruput mint julep di bar legendaris adalah salah satu cara terbaik untuk mengapresiasi warisan seni dan arsitektur Austria dari awal abad ke-20.

Dengan niat melacak sisi-sisi kota yang memadukan kontras, saya mengikuti saran warga dengan menyatroni Haas Haus. Dirancang pada akhir 1980-an oleh arsitek peraih Pritzker Prize, Hans Hollein, landmark pascamodern ini berbentuk bunker. Di sebelahnya, ada gedung kerajaan dengan paras barok. Keduanya bersanding tanpa canggung. Di malam-malam musim panas, halaman di antara kedua bangunan itu disulap menjadi area bersantai massal: remaja berbaring di bangku-bangku plastik berwarna ceria.

Kiri-kanan: Cafe Sperl, kafe kesukaan Adolf Hitler. Restoran ini sudah berumur 120 tahun; suasana menjelang malam di Museums Quarter, Wina.

Di belakang MQ ada 7th District yang kian trendi berkat kehadiran sejumlah butik berisi karya perancang kondang, sebut saja pakaian edgy yang terinspirasi fetisisme buatan Tiberius, perhiasan berbahan tanduk dari Anita Münz, serta tas kulit karya Ina Kent. Bagi saya, Lena Hoschek dengan spesialisasi dirndl tampil paling menonjol. Mewakili gairah nasional untuk merawat tradisi tanpa menafikan selera pasar, Lena sukses menafsirkan ulang gaun tradisional Austria agar sejalan menampilkan fasad berbentuk tabung raksasa yang dirangkai cermin dan baja.

Lokasinya persis di seberang struktur gotik St. Stephen’s Cathedral. Dan bukan cuma parasnya yang ikonis, tapi juga penghuninya. Semua warga lokal pasti tahu, Haas Haus menyimpan salah satu bar paling trendi di Wina: Onyx, wadah selebriti Austria menenggak koktail di area banquette berlapiskan kulit, sebelum meluncur ke restoran untuk melahap sushi. Dari jendela-jendela besar Onyx yang menghadap katedral, saya pun menangkap karakter khas Wina: sebuah jukstaposisi antara abad pertengahan dan modern.

Bar ultramodern lainnya teronggok di dalam Museum Leopold, ruang bagi koleksi gambar dan lukisan Egon Schiele terlengkap di dunia. Saya mampir di Café Leopold, gerai mengilap yang dibalut marmer. Langit-langitnya digerayangi kandil yang menyerupai ubur-ubur, sedangkan atmosfernya dijejali tembang-tembang hip hop yang diputar DJ.

Suguhan kontras semacam itu juga terlihat gamblang di MuseumsQuartier (MQ), kompleks yang dibingkai kandang kuda kerajaan dari abad ke-18. Di satu sisi, ada Museum Moderner Kunst yang dengan semangat zaman. Katy Perry adalah salah satu kliennya. 7th District juga menampung hotel berdesain liar: 25hours. Dengan pendekatan yang terilhami sirkus, hotel ini menampilkan dekorasi janggal yang menyerempet elemen sureal, contohnya mural badut karya perupa Berlin, Olaf Hajek. Dari bar di atap hotel, saya menyisir panorama Weghuberpark dan kawasan di sekitarnya. 25hours bukan satu-satunya hotel yang menggeser karakter konservatif Wina. Terselip di Kota Tua Innere Stadt, Hotel Topazz tampil berani dengan permainan lubang-lubang silinder di bagian eksterior, serta kamar-kamar dengan panel mahoni yang merujuk pada Wiener Werkstätte (bagian Gerakan Seni dan Kerajinan era 1860-1910).

Kamar tamu di Hotel Topazz.

Di kamarnya, aksesori lampu dengan kaki bebek akan mengundang tawa, sementara bingkai oval di jendela menawarkan tribune pribadi di atas jalur pejalan kaki. Hotel artistik lainnya, Sofitel Vienna, dirancang oleh Jean Nouvel. Properti yang berdiri di bantaran Sungai Danube ini memayungi 182 kamar dengan warna dominan putih, hitam, atau abu-abu. Sensasi utama hotel ini adalah restoran Le Loft. Di langit-langitnya, seniman multimedia asal Swiss, Pipilotti Rist, memasang instalasi video yang memutar adegan mata yang berkedip-kedip, pemandangan hutan, dan ikan mas yang berenang. Di malam hari, suguhan apik itu beradu anggun dengan kelap-kelip lampu kota Wina. Wunderbar!

DETAIL
Wina

—Rute
Penerbangan ke Wina dilayani antara lain oleh Qatar Airways (qatarairways.com) dan Turkish Airlines (turkishairlines.com).

—Penginapan
Dibangun pada 1863, Hotel Imperial (16 Kärntner Ring; 43-1/501-100; imperialvienna.com; doubles mulai dari $550) adalah akomodasi ideal bagi pencinta sejarah. Untuk nuansa yang lebih kontemporer, coba Sofitel Vienna Stephansdom (1 Prater-strasse; 43-1/906-160; sofitel.com; doubles mulai dari US $320) atau Hotel Topazz (3 Lichtensteg; 43-1/532-2250; hoteltopazz.com; doubles mulai dari $200). 25hours Hotel Vienna (1-3 Lerchenfelder Strasse; 43-1/521-510; 25hours-hotels.com; doubles mulai dari $132) menawarkan lokasi strategis di dekat MuseumsQuartier.

—Makan & Minum
Café Sperl  11 Gumpendorferstrasse; 43-1/586-4158; cafesperl.at
Café Hawelka 6 Dorotheergasse; 43-1/512-8230; hawelka.at
Onyx Bar 12 Stephansplatz; 43-1/24188; docohotel.com

—Obyek Wisata
MuseumsQuartier 1-5 Museumsplatz; 43-1/523-5881; mqw.at
Haus der Musik 30 Seilerstätte; 43-1/513-4850; hausdermusik.at
Kunstkammer Wien Kunsthistorisches Museum, 1A Maria-Theresien-Platz; 43-1/5252-45202; khm.at
Augarten Porcelain 1 Obere Augartenstrasse; 43-1/2112-4201; augarten.at

Diterbitkan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mar/Apr 2014 (“Praja Multimatra“)