Cultures

Jelajah Zürich West

The Freitag Store yang terbuat dari kotak-kotak kontainer lawas.

Oleh Christi Hang
Foto oleh Lauryn Ishak

[dropcap type=”default”]K[/dropcap]ota terbesar di Swiss dibelah Sungai Limmat dan teronggok di utara Danau Zürich. Karakternya atraktif sekaligus janggal. Sulit memastikan di mana area kota tuanya berawal dan berakhir. Toko-toko tutup saban Minggu. Pusat kotanya cuma berjarak 10 menit naik kereta dari bandara. Bahkan sentra belanjanya yang paling modis, Bahnhofstrasse, masih memancarkan aura kuno: seutas jalan yang dibatasi danau, di mana sejumlah menara gereja dan bangunan kayu bergandengan erat dengan butik-butik mewah.

Corak yang kontras terlihat usai meluncur sejenak dengan trem ke Zürich West, kompleks kelas pekerja yang menampilkan gedung-gedung kotak dan fungsional berbahan batu bata dan baja. Didirikan pada akhir abad ke-19 di jantung kawasan industri, terselip di antara bentangan rel dan sungai, Zürich West sempat berkembang pesat hingga 1970-an, sampai akhirnya pabrik-pabrik di sini bangkrut di tengah kejatuhan perekonomian. Setelah kaum pengusaha minggat, seniman dan kaum kreatif merangsek. Angin perubahan kemudian berembus. Pada era 80-an dan 90-an, daerah ini lebih tersohor berkat pertunjukan pop-up dan pesta-pestanya.

Kiri-kanan: Schiffbau, teater tersohor tempat digelarnya drama-drama unik; danau Zurich dilihat dari salah satu jembatan di Kota Tua. Di hari cerah, Pegunungan Alpen terlihat dari sini.

Di tangan penghuni barunya yang eksentrik itulah Zürich West bertransformasi menjadi kawasan yang paling dinamis dan bergairah di Zürich. “Pada 2000, untuk pertama kalinya, saya menonton pementasan di sini. Sebuah pentas berdurasi empat jam tanpa dialog, sepenuhnya nyanyian, dan semua orang bugil!” kenang Susanne Bosanis, pemandu saya, ketika kami singgah di Schiffbau, bekas galangan kapal yang kini berfungsi sebagai cabang Teater Schauspielhaus. Pada 1805, bangunan ini sempat dipugar oleh firma asal Wina, Ortner & Ortner. Mereka mempertahankan bata dan balok orisinal, lalu meletakkan tiga panggung, ruang latihan teater, klub jazz, dan restoran berbungkus kaca bernama LaSalle. “Pembukaan Schiffbau menyuntikkan kepercayaan diri baru pada area ini,” kata Bosanis.

Im Viadukt, sentra belanja dan makan di Zurich West.

Kredensial artistik Zürich West juga diperkuat oleh Kunsthalle Zürich, museum seni kontemporer yang bermukim di sebuah bangunan bata sederhana bekas instalasi penyulingan bir Löwenbräu. Di bawah arahan kurator berpengaruh Beatrix Ruf, museum ini sempat mendatangkan karya-karya seniman internasional papan atas sekaliber Michael Elmgreen, Ingar Dragset, dan Trisha Donnelly.

Di Jalan Pfingstweidstrasse, Bosanis dan saya berhenti untuk menilik 25hours Zürich West, hotel baru bertarif terjangkau (untuk standar Swiss) yang dihuni interior funky dan modern gubahan desainer Alfredo Häberli. Selanjutnya kami berjalan ke sebuah toko yang tengah bersinar, Les Halles. Parasnya lebih mirip kedai yang menyuguhkan kue dan potongan piza takeaway. Namun, usai melewati gerbangnya, properti ini lebih mirip perpaduan restoran dan toko kelontong yang dihiasi air mancur absinthe.

Penampilannya mirip bar-bar sepuh di televisi. Bernyawa, agak berantakan, tapi tidak kumuh. Dindingnya ditaburi iklan-iklan minuman keras klasik. Barang dagangannya mulai dari sepeda antik hingga menu-menu simpel semacam salmon dengan saus hollandaise dan kerang yang dibalur saus krim. Keluar dari pintu belakangnya, kami meniti trotoar yang diselingi bekas rel kereta. Bosanis mulai bercerita tentang perubahan yang melanda Zürich West.

“Antara 80 dan 90-an, pernah muncul wacana untuk mengisi area ini dengan gedung perkantoran. Tapi banyak orang menentang gagasan itu. Mereka lebih menginginkan area multifungsi yang dilengkapi ruang-ruang publik—aspirasi yang akhirnya jadi nyata,” katanya.

“Tentu saja, warga sekarang pusing dengan naiknya tarif sewa properti dan mulai mempertanyakan apa saja yang bakal dibangun di sini nantinya. Tapi sejauh ini belum ada isu yang benar-benar mengancam.”

Kiri-kanan: Interior restoran Markthalle di Im Viadukt; restoran mewah Clouds berdiri di atas lantai 35 dengan pemandangan lanskap kota yang menawan.

Kendati banyak tempat hip bermunculan, Zürich West kadang masih memancarkan corak kawasan kaum pekerja yang bersahaja. Kami melewati bengkel yang mendendangkan suara denting logam, toko kelontong, serta kereta mungil yang merangkak malas. Kata Bosanis, sepur ini berasal dari sebuah pabrik tepung, sebuah memorabilia dari periode industrial Zürich West.

Pemberhentian kami berikutnya sangat bertentangan dengan reputasi hip kawasan ini: Prime Tower, bangunan tertinggi di Swiss, yang menjulang 126 meter. Struktur yang dilansir pada 2011 ini dihuni kantor-kantor perusahaan dan bank internasional. Di lantai ke-35, restoran premium Clouds menyajikan panorama lanskap kota dan menu-menu berpenampilan rumit, contohnya daging sapi dengan busa truffle, serta ikan kod di atas kentang tumbuk dan sosis terrine.

Di seberang Prime Tower yang formal, terdapat perusahaan dengan fasad paling progresif di Zürich West: Freitag Shop Zürich, tumpukan 17 kontainer yang menampung toko flagship milik Markus dan Daniel Freitag. Suguhan utamanya adalah aneka tas dan aksesori busana berbahan terpal bekas. Andaikan tote bag di sini kurang pas dengan gaya Anda, kunjungi atap toko untuk menikmati tawaran apik yang cocok dengan semua gaya: dek observasi yang menampilkan panorama Frau Gerolds Garten, lahan luas berisi taman kota, butik indie, studio seni, serta restoran dan bar yang dilengkapi area outdoor. Di sini, sepanjang musim dingin, sebuah restoran temporer rutin dibuka di dalam tenda. Suguhan utamanya adalah sup penangkal dingin khas Swiss, fondue.

Toko-toko di Im Viadukt. Toko-toko ini dibangun di bawah jembatan rel kereta.

Di Geroldstrasse, hari ini, saya melihat pemuda-pemuda berkumis dan berpakaian rapi yang mengayuh sepeda fixie; ruang-ruang musik indie yang mempromosikan musisi internasional semacam Goldfrapp dan Low; serta toko-toko mebel yang menjajakan benda-benda antik dan replika. Di ujung jalan terdapat area yang senantiasa ramai oleh manusia: Im Viadukt. Menampung pasar indoor pertama di Swiss dan 30 kios, properti sepanjang 500 meter ini adalah antitesis yang segar bagi kawasan trendi Bahnhofstrasse. Tak ada butik fesyen atau toko jam mewah. Tawarannya adalah segala produk kebutuhan rumah tangga.

Setiap toko bernaung di bawah kaki-kaki jembatan kereta. Semuanya berukuran sama, tapi dagangannya bervariasi. Ada toko pakaian dan peralatan dapur, studio tari, hingga kedai kopi dengan moto “ruang nongkrong social start-up.” “Kondisinya berbeda dari era 90-an, saat semuanya hanya berbentuk gudang,” ujar Bosanis. “Orang-orang hanya datang ke sini pada hari Minggu, ketika seorang pemilik restoran Yunani membuka kedai yoghurt.” Sembari menunjuk beberapa anak tangga, dia menambahkan, “Tapi tidak semua orang datang untuk berbelanja.”

Kiri-kanan: Salah seorang pegawai di Street-Files; salah satu produk Street-Files.
Toko New York Fashion yang bersemayam di dalam bus usang.

Di atas barisan toko terbentang sebuah jalan setapak, tempat bersantai populer di mana Bosanis kadang mengajak anjingnya berjalan-jalan. Persinggahan terakhir kami di Im Viadukt adalah jejeran toko yang menjual roti hangat, jus buah, cokelat artisan, serta buah dan sayur. Dalam sesi makan siang di Restoran Markthalle di ujung pasar, saya duduk di ruangan yang dibingkai struktur batu melengkung dan melihat orang-orang berbusana kantoran, anak-anak, dan beberapa wanita. Tadinya saya membayangkan Zürich West menyerupai kantong hipster Williamsburg di Brooklyn atau Silver Lake di Los Angeles, tempat kaum eksentrik dan flamboyan berkerumun.

“Anda akan bertemu orang-orang semacam itu, tapi Anda juga akan melihat banyak keluarga berkumpul di sini tiap akhir pekan. Dan ada banyak pemuda dan orang-orang kreatif yang berbelanja atau nongkrong di sini,” ujar Bosanis. “Ini tempat untuk semua jenis orang.”

DETAIL
Zürich West

Rute
Salah satu maskapai yang melayani penerbangan dari Jakarta ke Zürich adalah Swiss International Air Lines (swiss.com) dengan transit satu kali di Singapura, Hong Kong, atau Bangkok.

Penginapan
Desainer kelahiran Argentina, Alfredo Häberli, mempercantik 126 kamar di 25hours Hotel Zürich West (102 Pfingstweidstrasse; 41- 44/577-2525; 25hourshotels.com; doubles mulai dari $182) dengan percikan warna-warna cerah dan aura santai yang memikat.

Makan & Minum
Bertengger di lantai puncak gedung tertinggi di Swiss, Clouds (35/F, Prime Tower, 5 Maagplatz; 41-44/404-3000; clouds.ch) menawarkan menu-menu berkelas yang dikombinasikan apik dengan panorama lanskap kota. Opsi yang lebih rendah hati adalah Les Halles (6 Pfingstweidstrasse; 41-44/273-1125; les-halles.ch) yang mengoleksi menu sedap dan ramah kantong. Usai menjelajahi kios yang bertaburan di Im Viadukt (im-viadukt.ch), singgahlah di Markthalle (231 Limmatstrasse, 41- 44/201-0060, markthalle.im-viadukt.ch) untuk mencicipi menu-menu spesial yang selalu berbeda setiap harinya.

Aktivitas
Usai berbelanja tas dan aksesori busana di Freitag (17 Geroldstrasse; 41-43/366-9520; freitag.ch), berjalanlah ke Frau Gerolds Garten (23 Geroldstrasse; fraugerold.ch), sebuah ruang komunal yang mengombinasikan taman kota, kantong belanja, serta restoran dan bar. Bagi pencinta budaya, Schiffbau (4 Schiffbaustrasse; schauspielhaus.ch) secara reguler mementaskan teater, sedangkan Kunsthalle Zürich (270 Limmatstrasse; 41-44/272-1515; kunsthallezurich.ch) memamerkan karya-karya seni kontemporer.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jul/Ags 2014 (“Biofera Barat”)