
Oleh Warren Singh-Bartlett
Foto oleh Petar Peshev
[dropcap type=”default”]K[/dropcap]ami hendak mengunjungi Buzludzha, gedung beton berbentuk piring terbang. Di belakangnya menjulang menara ramping yang dihiasi bintang merah Soviet. Tentu saja, Buzludzha berasal dari zaman yang lebih gemerlap, persisnya masa kejayaan komunisme Bulgaria. Monumen yang didedikasikan bagi para pendiri partai itu diresmikan pada 1981. Kurang dari satu dekade berselang, ia dilupakan, menyusul transisi Bulgaria dan kawasan Eropa Timur menuju alam demokrasi.
Kendaraan kini memasuki medan yang berbeda: aspal tambal sulam yang berkelindan dengan rumput, lalu jalan tanah yang bergelombang. “Pegangan,” Dimitr memperingatkan. “Jika cara ini gagal, kita mungkin akan terperosok ke parit.” Saya mulai bertanya-tanya apakah ekspedisi ini sepadan dengan risikonya. Buzludzha sebenarnya tidak masuk agenda awal kami. Kami tadinya cuma ingin bertamu ke Desa Gela di Pegunungan Rhodope.
Tapi perjalanan dari Sofia ke sana dipenuhi begitu banyak godaan. Ketimbang mengambil jalan pintas, kami berbelok ke Kota Kazanlak dan Lembah Thracian Rulers untuk singgah di sejumlah tempat, salah satunya Shushmanets, kuil berusia 2.300 tahun yang pernah menjadi tempat para pendeta Thracian bermeditasi dalam kegelapan selama tiga hari. Dalam perjalanan ke Shushmanets itulah saya menangkap sosok Buzludzha, artefak yang juga mirip kuil, tapi dari zaman yang jauh lebih modern.
Dilihat dari kejauhan, lekukan Buzludzha begitu mengagumkan, begitu jemawa di tengah lanskap yang dingin. Tapi interiornya jauh lebih memukau, setidaknya jika saya merujuk pada foto-fotonya yang beredar di internet. Keagungannya memang telah dikikis waktu. Plafonnya rontok, dindingnya penuh lubang, dan kursi-kursinya reyot. Ornamen yang relatif utuh adalah mosaik di aula, serta lambang palu arit raksasa di langit-langit. Untuk melihat itu semua, perjalanan berat ini rasanya sepadan.
Dimitr tancap gas. Menerjang bubur salju dan padang rumput kuning, Land Rover menderu dan melaju. Tiga puluh detik kemudian, kami terbebas dari siksaan. Di etape berikutnya, kami menatap lereng yang sudah bersih dari salju, tapi senantiasa diterjang angin ganas.

Beberapa menit kemudian, saya berlari mendaki tangga menuju gerbang Buzludzha. Pintunya terkunci, tentu saja. Rantai melintang dan memblokade tamu. Layaknya tawaf di Kakbah, saya mengelilingi bangunan, berusaha menemukan celah, tapi usaha saya gagal.
Jendela-jendela yang dulu dipecahkan orang, kini ditutup berlapis. Sebenarnya ada celah kecil di salah satu sisi dinding, tapi butuh tangga untuk menjangkaunya. Gagal menembus segel, saya harus rela mengintip lewat lubang sempit pada lempengan baja pintu utama. Sempat tergoda untuk berlama-lama di sini, tapi awan mulai berkerumun dan angin kencang kembali berkesiur. Terancam beku, saya pun memilih minggat.
Saya berlalu dengan membawa tumpukan rasa kecewa. Kendati demikian, pengalaman ini mengingatkan saya akan sensasi kebebasan dari tahun-tahun pertama menetap di Lebanon, domisili saya sejak 1998. Saya menikmati semangat liar Dimitr, semua tantangan yang dihadapi di perjalanan, serta fakta bahwa yang kami lakukan menyerempet hukum.
Meninggalkan Asenovgrad, kendaraan meniti jalan berliku di sepanjang Sungai Chepelare. Kami melewati biara-biara Bizantium, sebuah benteng dari abad ke-13, serta begitu banyak marka yang menunjukkan arah ke reruntuhan istana, gereja, juga kuil. Menurut Dimitr, jalan penghubung Balkan dan Yunani ini telah dilalui pengelana selama 3.000 tahun. Seiring waktu, lembah-lembah menyempit dan hutan merekah.
Kala malam tiba, satu-satunya cahaya berasal dari lampu-lampu mobil yang kebetulan lewat. Negeri ini didominasi pedesaan. Sekilas tampak melarat. Muka-muka sayu berkeliaran. Bulgaria adalah tempat bagi bangunan bobrok, juga bagi gerobak kuda dan keledai berseliweran, termasuk di Sofia, Ibu Kota Bulgaria. Di banyak tempat lain di Eropa, pemandangan lesu semacam itu telah lama dihapuskan oleh kemakmuran.
Tapi itu semua bukanlah jati diri Bulgaria sebenarnya. Kemiskinan adalah pengingkaran akan sejarah, alam, dan budayanya yang kaya. Negara yang merdeka dari cengkeraman Kesultanan Ottoman pada 1908 ini mengoleksi gereja-gereja agung, kota-kota tua yang menyimpan kisah-kisah perang, masjid megah bergaya Turki, sinagog berarsitektur Beaux-Arts, juga gunung-gunung berlapis hutan yang ditinggali beruang, serigala, babi hutan, serta elang.
Pantai-pantai yang membingkai Laut Hitam juga menawan, kendati banyak resor di sini dibangun di bawah panji Pax Sovietica. Meminjam slogan pemasaran negeri tetangganya, Montenegro, Bulgaria bagaikan manifestasi dari “kecantikan yang liar.” Sebuah kombinasi antara wajah Eropa tua dan kepolosan Eropa lama.

Dua jam kemudian, kekecewaan karena gagal memasuki Buzludzha mulai terobati. Kami memasuki lahan parkir milik Villa Gella, sebuah oasis mewah yang langka di kawasan rural Bulgaria. Saat pedalaman negeri dilingkupi kegelapan, Villa Gella adalah satu dari sedikit tempat yang terus menyala. Eksteriornya tampak tradisional, tapi interiornya berkilau oleh perabotan modern, benda seni lokal dan asing, perapian yang terus berkeritik, serta enam kamar berdesain distingtif. Ruang publiknya nyaman untuk bercengkerama, baik di perpustakaan, ruang tamu, teras, bahkan sauna dan kolam renang yang terletak di sisi bawah bangunan lima lantai ini. Bertengger di lereng curam, pondokan ini juga menghadirkan panorama di sekitarnya, termasuk Pegunungan Rhodope yang mengular di sepanjang perbatasan lama antara negeri Tirai Besi ini dengan Yunani. Saat cuaca cerah, Perelik, gunung tertinggi di Rhodope, juga bisa terlihat.

Selain Villa Gella, alasan kedatangan saya lainnya adalah Kukeri, festival yang berakar pada tradisi pagan di masa lalu. Kukeri dirayakan di seantero Bulgaria, tapi perayaan paling tradisional tersaji di Desa Shiroka Laka, sekitar 10 menit berkendara dari Villa Gella. Dari foto-foto yang beredar, festival menyambut musim semi ini menyuguhkan penari dalam kostum absurd, kaum pria yang berdandan seperti perempuan buruk rupa, serta perempuan yang berdandan seperti pendeta urakan. Semua orang berjalan beriringan dalam parade akbar yang memandang datang dan perginya sebuah musim layaknya siklus kematian dan kelahiran.
Tapi acara itu masih dua hari lagi. Malam ini, agenda saya adalah pesta makan dan minum. Kedua pemilik properti, Dimka dan Ivan, memiliki kebun-kebun anggur yang memproduksi wine organik Terra Tangra. Sewaktu di Sofia, saya sempat menyeruput rosé wine buatan mereka, dan kini tak sabar mencicipi kreasi lainnya. >>
Di tengah meja makan tersaji beragam menu tradisional yang dikemas inovatif. Sementara di tepian jamuan, gabus syrah wine Yatrus telah dicabut. Rasanya halus sekaligus kuat. Kandungan tannin-nya berhasil mengusir dingin malam ini. Pagi baru datang dan saya berkendara menuju “neraka.” Atau lebih tepatnya, menuju Hades. Dunia kegelapan mengenal banyak pintu: Danau Avernus, Fengdu, Glastonbury Tor, Gunung Osore. Semuanya tergantung pada mitologi yang Anda baca. Tapi bagi orang Yunani kuno, gerbang utama ke neraka adalah sebuah gua di Rhodope yang bernama Dyavolsko Garlo. Terjemahannya: “Tenggorokan Iblis.”
Di gua inilah musisi mitologis Thracian bernama Orpheus berusaha membangkitkan Eurydice, istrinya, dari kematian. Caranya adalah membujuk Hades dengan mengandalkan kemampuannya bermusik. Orpheus musisi yang kelewat lihai. Tak seorang pun, termasuk penguasa dunia kegelapan, sanggup melawan sihir dari lyre (harpa berbentuk U) yang dipetiknya.
Singkat cerita, taktik Orpheus moncer. Roh istrinya diizinkan keluar dari alam astral. Tapi ada syaratnya: Orpheus hanya boleh memandang istrinya setelah mereka berdua beranjak dari gua. Celakanya, ketika sedang menuntun istrinya, Orpheus menoleh. Nada-nada syahdu yang meluncur dari dawainya tak berdaya melihat belahan jiwanya buyar dan kembali ke kegelapan.

Saya memasuki Tenggorokan Iblis melalui terowongan kayu yang dibuat beberapa dekade silam. Saat lorong menukik ke sebuah podium di atas aula besar, suara cucuran air terdengar riuh. Sungai Trigrad penuh murka mengirimkan airnya dari ketinggian 42 meter ke lantai gua. Di kejauhan terlihat seutas jalan sempit yang dihiasi anak tangga. Barangkali itulah rute yang dulu ditempuh Orpheus. Sulit melewatinya tanpa tali pengaman. Orpheus agaknya tak cuma memiliki kemampuan bermusik, tapi juga kenekatan.
Tapi gua ini tak cuma soal mitologis dewa-dewi. Ia punya misteri lain yang hingga kini belum terjawab. Setelah terjun bebas ke lantai gua, Sungai Trigrad menghilang di bawah sebidang dinding batu, lalu menyeruak kembali setengah kilometer kemudian di luar gua. Di sinilah letak misterinya: benda apa pun yang jatuh ke air di dalam gua tak pernah muncul lagi.
Beragam cara pernah ditempuh untuk mencari penjelasannya. Tes memakai zat pewarna menyimpulkan sungai ini memiliki banyak liku di bawah tanah, kira-kira sepanjang 20 kilometer. Benda apa pun yang tercemplung akan tersangkut, terjebak, atau tersesat di salah satu keelokan tersebut, baik berupa batang pohon, kaleng soda, ataupun manusia.
Kata pemandu saya, seorang penyelam Jerman masih raib ditelan Trigrad. Dia orang terakhir yang mencoba memetakan jaringan bawah tanah sungai ini, kira-kira pada 1970-an. Teknologi canggih juga pernah dicoba dan hasilnya setali tiga uang. Kata pemandu saya lagi, semua robot yang diutus ke sungai mendadak berhenti mengirimkan sinyal tak lama setelah menyelam. Mungkin akibat arus kencang atau sedimen. Atau barangkali, akibat intervensi dewa-dewi.
Langit sedang murung, tapi Desa Shiroka Laka tetap bergairah menyambut Festival Kukeri. Geladi resik berlangsung di sebidang lahan parkir dekat gerbang desa. Para partisipan membawa kostum dan melatih gerakan. Di seberang mereka, kemeriahan lain berlangsung di jalan utama: pengunjung mengerubungi stan-stan penjaja topeng, sweter bulu, karpet warna-warni, dan, seperti pasar lain di dunia, aneka benda murah buatan Cina. Stan-stan makanan juga marak. Pukul 10 pagi, para pedagang telah membariskan daging sapi rebus, sosis panjang, kebab, kentang goreng, juga gulali berwarna ceria.

Bersama Darina Dobreva, staf Villa Gella, saya datang lebih awal demi mengamankan posisi menonton terbaik di depan alun-alun. Dengan hanya 10 menit tersisa sebelum festival dimulai, saya memutuskan berkelana dan melihat-lihat.
Dalam beberapa hari terakhir, saya telah berulang kali melewati Desa Shiroka Laka, termasuk tadi malam saat menghadiri konser yang digelar siswa-siswa National School of Folk Arts. Di lobi sebuah gedung tua, para pementas berpakaian warna-warni penuh bordir dan memerankan karakter punakawan, pengemis, istri petani, pasukan kavaleri, kesatria, serta ratu gipsi. Mereka lebih terlihat bak pengungsi dari masa silam, namun nyanyian mereka punya sihir yang melintasi masa. >>
Harmoninya kompleks dan bernyawa. Tak sulit dicerna jika kita pernah menyimak karya-karya Le Mystère des Voix Bulgares, grup paduan suara Bulgaria yang pernah menyabet Grammy. Menjauh dari kerumunan, saya melihat-lihat sepasang jembatan warisan Roma, serta gereja batu yang dikonstruksi dalam waktu hanya 38 hari saat Bulgaria berada di bawah kekuasaan Ottoman—sebuah masa ketika gereja baru dilarang didirikan.
Aroma kambing panggang tiba-tiba merebak di udara. Salah satu “penari roh hewan” telah tiba dengan memakai jubah yang menyerupai mantel bulu musisi rock era 60-an, tapi kali ini menutupi sekujur tubuhnya dari kepala hingga kaki. Ia langsung menjadi pusat perhatian. Telepon genggam sibuk memotret. Shutter kamera bersahutan. Jubahnya tinggi dan berlapis bulu kambing warna putih dan cokelat. Penonton terkagum. Sebagian mungkin ketakutan. Terkesan primal dan atavistik, yeti jadi-jadian ini menebar teror dan memantik mimpi buruk di siang bolong. Dan si penari sepertinya menyadarinya. Sembari bergerak perlahan, ia mengayunkan bagian atas tubuhnya ke kanan dan kiri, hingga menciptakan efek gelombang pada bulu-bulu halus di kostumnya.
Saat itulah kami mendengar suara kaval, seruling yang dimainkan oleh para penggembala di pegunungan yang membentang dari Bulgaria hingga Azerbaijan. Rombongan pertama telah tiba. Mereka mengenakan rok, celemek wol bermotif rumit, kaus kaki penuh garis, kemeja bordir, juga barisan lonceng sapi di depan pinggang. Konon, suara bel ampuh untuk menjauhkan iblis. Ornamen yang juga mencolok adalah aneka topeng hewan, mulai dari kambing, beruang, elang, bison, hingga makhluk-makhluk ajaib yang sulit dikenali. Dituntun oleh tiga musisi gipsi, rombongan peniup seruling memasuki alun-alun seraya menebarkan suara nyaring.

Festival kukeri di Desa Shiroka Laka.
Dalam formasi lingkaran, orang-orang berjubah hewan mulai menari. Darina membungkuk. Katanya, gerakan itu bertujuan mengusir roh-roh jahat yang menghantui musim dingin. Beberapa pementas mengusung ikon-ikon Kristen Ortodoks, tapi festival ini sejatinya tak hendak berkesan monoteistik. Karakter pendeta memang hadir, tapi sosoknya kumal dan lusuh, bahkan lebih mirip sebuah anekdot: memakai janggut tebal palsu dan tidak membawa salib kayu, melainkan ukiran berbentuk penis. Ia melirik ke arah kerumunan, lalu menciptakan “air suci” memakai ranting berdaun.
Di belakang si pendeta, tepatnya di tengah lingkaran, seorang pria tampil semrawut dalam dandanan banci saat memerankan wanita desa: rambut pirang berkepang, kerudung merah polkadot, rias yang berantakan. Tiba-tiba ia tersungkur ke tanah, mencengkeram perut buncit mainan, lalu berpura-pura hendak melahirkan. Setelah menangis dan mengerang, sesosok bayi plastik “lahir” lalu diarak keliling alun-alun oleh seorang pria yang bertindak sebagai ayah yang bangga.
Musik berhenti dan seorang wanita kekar tampil sebagai pembaca acara. Ia menjadikan momen kelahiran bayi plastik itu sebagai isyarat untuk mengumumkan bahwa festival meriah ini telah diberkati. Musim dingin, katanya, telah dikalahkan. Musim semi, katanya lagi, telah di depan mata dan panen berikutnya sangat menjanjikan. Penonton bertepuk tangan. Kukeri berakhir.
Rute
Penerbangan ke Sofia, Ibu Kota Bulgaria, tersedia dari banyak kota di Eropa. Dari Indonesia, salah satu yang menawarkannya adalah Qatar Airways (qatarairways.com) via Doha. Musim panas adalah periode turis tersibuk di Bulgaria. Jika ingin merasakan atmosfer karnaval dan menonton pesta kostum Kukeri, datanglah di ujung musim dingin. Acara di Desa Shiroka Laka digelar tiap akhir pekan pertama di Maret.
Penginapan
Dilapisi marmer Italia dan dilengkapi ruang tamu bermahkota kandil, Sofia Hotel Balkan (5 Sveta Nedelya Square; 359-2/981-6541; starwoodhotels.com; doubles mulai dari Rp4.364.000) adalah akomodasi termegah di Ibu Kota. Properti anggota Luxury Collection Starwood ini berada di dekat beberapa museum dan monumen terkenal, salah satunya bahkan persis bertetangga, yakni Church of St. George, bekas rotunda Romawi yang merupakan salah satu bangunan tertua di Sofia. Di wilayah Smolyan, tak jauh dari Desa Gela, Villa Gella (359-888/566-872; villagella.com; doubles mulai dari Rp4.016.000, half-board) adalah persinggahan yang mewah untuk menjelajahi pesona rural kawasan pegunungan di selatan Bulgaria, termasuk untuk menonton Festival Kukeri. Bagi penggemar ski, lereng Pamporovo bisa dijangkau dengan berkendara dalam waktu singkat.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/Agustus 2015 (“Randai Rute Rhodope”)

