
Oleh Wikana
Foto oleh Danang Sutasoma
Bursa seni ArtJog kembali digelar di Ibu Kota Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta. Di episode kedelapannya, ajang tahunan yang dulu bernama Jogja Art Fair ini kian matang.
Pintu masuk Taman Budaya Yogyakarta ditindih bola hijau raksasa yang digerayangi tanaman. Menarik, tapi jika dibanding tahun-tahun sebelumnya, tampilan ruang pamer ArtJog kali ini tidak terlalu menggedor. Dulu, CEO ArtJog, Heri Pemad, dan kurator Bambang “Toko” Witjaksono pernah menyulap Taman Budaya menjadi struktur baru yang ajaib: dicat ulang warna jingga, diselubungi mural, diubah seperti galeri modern yang minimalis, hingga dibentuk menjadi Istana Negara gadungan.
Tahun ini, kejutan tersaji dari karya-karya yang ditampilkan. Di ruang pamer tak banyak lukisan seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Di bagian tengah ruang hanya terdapat lukisan Nyoman Masriadi, seniman yang namanya tengah moncer di balai lelang. Gantinya, panitia menjejali rahim Taman Budaya dengan seni media baru, sebuah genre yang menurut kurator Bambang Toko, meluruhkan “batas-batas.”

Karya instalasi dari Yoko Ono, “Wish Tree,” yang ditempatkan di tengah bola raksasa, masuk kategori tersebut. Di sini, pengunjung sibuk menuliskan harapan pada secarik kertas, lalu mengikatkannya pada sebatang pohon. Setelah itu, mereka melakoni selfie dan mengunggah foto ke media sosial. Tema ArtJog tahun ini, “Infinity in Flux,” terinspirasi dari pola interaksi semacam itu. “Seperti mengganggu, tapi justru ingin berinteraksi dan lebih dekat dengan karya,” ujar Bambang Toko. >>
“Wish Tree” dikerjakan istri mendiang John Lennon sejak 1981 dan pernah ditampilkan di banyak kota, seperti London, Washington, dan San Francisco. Karya ini meraup sejuta harapan publik, yang kemudian dikuburkan di Imagine Peace Tower, Islandia. Di Yogya, Yoko Ono merestui karyanya dihidupkan kembali. “Yoko Ono melebur batas antara seniman dan aktivis perdamaian,” kata Bambang Toko.
Selain “Wish Tree,” ArtJog memajang sejumlah artefak seni Yoko Ono yang dipinjam dari kolektor Jorg Starke. Ada karya “Imagine Peace Tower” yang diproduksi saat konser, kotak kayu berisi kunci berjudul “A Key To Open a Faded Memory,” hingga karya “The Bottle Remember” berupa botol dengan kertas bertuliskan “remember” di dalamnya.

Yoko Ono memang kerap berkolaborasi dengan sejumlah eksponen fluxus, kelompok seni beranggotakan seniman lintas disiplin, misalnya John Cage, Nam Jun Paik, Joseph Beuys, hingga George Maciunas. Mereka mengkritik seni yang elitis dan berniat membawa seni ke persoalan sosial yang lebih luas.
Semangat fluxus seperti mengejawantah dalam berbagai karya yang ditampilkan. Seni Tantra misalnya mengapropriasi karya penulis manifesto fluxus George Maciunas. Ia membuat meja pingpong yang warna dan bentuknya berbeda dalam “Colour Flux Ping Pong.”
Mendampingi Yoko Ono, kurator mengundang Indieguerillas. Delapan karya suami istri Miko Bawono dan Santi Ariestyowati ditempatkan mengelilingi karya Yoko Ono. Duo seniman ini menabrakkan visual ikon pop, cerita rakyat, mainan anak, komik, video game, musik, hingga seni jalanan lewat karya berwujud sepeda urban. Karya ini termasuk yang paling banyak memancing interaksi. Pengunjung mengambil foto, menunggangi, dan mengayuh sepeda aneka bentuk seperti tengah mengikuti karnaval kehidupan. >>

Ada banyak seni kinetik di ArtJog tahun ini. Karya Jompet Kuswidananto, “Order and After # 1,” termasuk yang berjejak panjang. Ia membayangi kita hingga keluar gedung Taman Budaya karena terasa aktual dengan pola beragama sebagian orang saat ini. Gerakan-gerakan ritmis dari tangan yang menjabat, sosok-sosok berjubah, bendera, pengeras suara, dan lampu motor yang berkedap-kedip, terasa terus membetot.
Pengunjung juga sibuk mengambil foto diri di hadapan karya Laksmi Shitaresmi, “Nakhoda Kecil.” Karya Laksmi terasa sangat feminin. Sesosok perempuan kecil duduk mencangkung di atas perahu. Ia tampak tengah berselancar di atas awan-awan putih, dengan hamparan bunga matahari yang bergerak ritmis.
Cukup menghibur adalah “Mimefield” dari Mark Justiniani yang menghadirkan citra ilusif bolongnya lantai Taman Budaya. Pengunjung tampak penasaran dengan detail karya yang banyak menggunakan cermin ini. Lainnya adalah karya seni lintas media yang seolah hendak “melampaui” seni rupa. Aktivis Apotik Komik, Popok Tri Wahyudi, menghadirkan rumah sakit lapangan, lengkap dengan tenda, tandu, dan mobil jip.

Selebihnya adalah karya yang memancarkan kesan permainan, namun sebenarnya mengajak pengunjung “kritis” dan “menghayati” kembali fenomena kehidupan sehari-hari. Ambil contoh “Jasa Desain Cepat” dari Agus Wahyudi; Olga Rindang Amesti dan Robet Bayu dengan “Songs for Everyone”; atau “Hipnotisme untuk Niaga dan Pergaulan” dari Ade Darmawan.
Sebagai bursa seni yang mempertemukan langsung pembeli dengan seniman, ArtJog juga menjadi ajang transaksi. Kabarnya lukisan “Shangri-La” buatan Nyoman Masriadi terjual hingga Rp 4,5 miliar usai pembukaan ArtJog.
Informasi lebih lanjut, kunjungi artjog.com

