Yohanes Sandy
24 April 2014

[dropcap type=”default”]G[/dropcap]eneral manager-nya baru. Sous chef-nya baru. Tapi yang paling memikat tamu adalah tampilannya yang baru. Setelah 15 tahun, Four Seasons Resort Bali at Sayan menggelar renovasi komprehensif guna menyegarkan parasnya sekaligus memberi publik alasan untuk datang kembali. Menyandang status senior tak lantas membuat resor ini malas berubah.
Four Seasons mendirikan resor di Ubud pada 1998, enam tahun setelah propertinya di Jimbaran. Firma Heah & Co. disewa untuk menangani desain bangunannya. Vila dibuat simpel seperti rumah liburan di tengah alam hijau. Ornamen kayu disebar di interior guna menonjolkan atmosfer natural. Renovasi yang digelar pada Desember 2012 tidak membuang karakter tersebut, melainkan justru menegaskannya, tapi dengan interpretasi yang lebih segar. Hasilnya: rasa baru properti lama.

Fokus utama renovasi adalah merombak vila dan suite. Proyek yang dieksekusi secara bertahap ini dikomandani oleh Koichi Yushiro, arsitek sekaligus pendiri firma tersohor asal Tokyo, Design Studio SPIN. Sebelumnya, firma ini menukangi Rock Bar di Ayana Resort dan Sundara, beach club milik Four Seasons Jimbaran.
Yushiro bertugas menjadikan seluruh vila dan suite di Ubud—dalam kata-kata resmi Four Seasons—“makin romantis, kian harmonis dengan alam, dan lebih autentik Bali.” Sang arsitek menjawabnya dengan permainan desain yang dilandasi pemahaman mendalam atas karakter lanskap dan budaya Ubud. Dia mengganti atap vila demi memperbesar akses sinar natural. Mebel usang di interior diganti dengan furnitur kontemporer bercorak lembut. Di dekat kasur dipasang ukiran kayu berukuran besar.
Tipe Royal Villa mengalami bedah estetika yang paling dramatis. Jika dulu terkesan lebih “protektif” terhadap para penghuninya, vila berkapasitas sembilan orang ini sekarang mengundang panorama alam menginvasi sisi interior melalui konsep arsitektur yang lebih terbuka. >>>

Sebenarnya ada satu lagi tugas Yushiro dalam proyek renovasi Four Seasons Sayan: menciptakan kompleks yang lebih ramah terhadap keluarga guna menepis anggapan resor ini hanya peduli pada segmen couple. Buktinya tersaji di tipe suite. Selain menggelar operasi permak wajah di seluruh interior kamar, Four Seasons meluncurkan kategori baru Family Suite yang menampung orang tua dan dua anak. Kamar mewah seluas 190 meter persegi ini berada di dekat fasilitas khusus anak yang juga baru diresmikan, Pici Pici Club, tempat si kecil bisa menikmati sejumlah aktivitas edukatif dan hiburan, termasuk kelas menari dan seni origami janur khas Bali.

Di luar evolusi desain tersebut, pelanggan fanatik Four Seasons masih bisa menikmati suguhan-suguhan lawas yang membuat resor ini begitu memikat. Kolam berbentuk piring terbang masih menggelar sesi makan malam romantis. Kolam renang utama yang memanjang di tepi sungai masih bersanding dengan Riverside Café. Dan Ayung Terrace masih menyuguhkan menu sedap dan panorama apik yang membuat koki sekaliber Chris Salans jatuh hati.
Berdiri di atas lahan seluas tujuh hektare, Four Seasons Sayan kini menaungi 18 suite dan 42 vila. Seluruh vilanya dilengkapi kolam renang privat. Untuk urusan kuliner, resor bintang lima milik taipan asal Singapura ini menyajikan pengalaman distingtif. Sesi makan malam mengusung tema berbeda setiap hari. Ubud Night, misalnya, menyediakan menu-menu khas Ubud seperti babi guling dan sup bebek. “Kami berusaha memperkenalkan nilai tradisi pada para tamu. Termasuk dari sisi kuliner,” tutur Prhativi Dyah, Wakil Direktur Humas Four Seasons Bali, yang menemani makan siang saya di Riverside Café.
Sejalan dengan gairah barunya untuk lebih melebur dengan alam, Four Seasons Sayan meluncurkan sejumlah aktivitas yang mengajak pengunjung untuk mengibaskan selimut dan menyapa lanskap sekitar, sebut saja yoga di tepi kolam teratai, trekking, bersepeda menyusuri pedesaan di sekeliling resor, kelas memasak, serta arung jeram di Sungai Ayung. Beberapa dipungut biaya, sisanya sonder bayar. Karena kuota peserta terbatas, sangat disarankan memesan jauh hari jika ingin berpartisipasi.

Resor ini dirancang untuk memanjakan tamu. Bila tak kebagian jatah aktivitas, saya lazimnya menghabiskan waktu untuk menyusuri sawah di kompleks resor atau bersantai di infinity pool di tepi sungai. Bagi mereka yang menginginkan sesi pijat atau perawatan kecantikan tradisional, The Spa hadir dengan beragam menu yang mengakomodasi perawatan dari rambut hingga ujung kaki.
Keinginan untuk menjadi “lebih romantis, harmonis, dan autentik” tak membuat Four Seasons Sayan melupakan magnet-magnet utamanya. Berita baik bagi para penggemar loyalnya. Menarik untuk melihat bagaimana Four Seasons Jimbaran menempuh renovasi serupa.
Desa Sayan, Ubud, Bali; 0361/977-577; Four Seasons Resort Bali at Sayan; doubles mulai dari $439.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mar/Apr 2014 (“Rasa Sayan”).

