Tampak depan dari lobby utama Paradisus by Meliá Bali.
Check In

Checking In: Paradisus by Melia, Bali

Selama lebih dari empat dekade, Meliá Bali telah menjadi salah satu resor premium yang ikonis di Nusa Dua. Berdiri sejak 1985 sebagai properti pertama Meliá Hotels International di Asia, resor ini akhirnya memasuki babak baru. Meliá Bali resmi bertransformasi menjadi Paradisus by Meliá Bali. Ini adalah properti Paradisus pertama di Asia.

Tidak cuma berganti nama. Di bawah merek luxury milik Meliá Hotels International tersebut, Paradisus menghadirkan konsep Destination Inclusive Luxury Resort, yang menggabungkan pengalaman menginap, kuliner, wellness, hingga eksplorasi destinasi dalam satu paket. Tamu dapat memilih pengalaman all-inclusive yang mencakup santapan di berbagai restoran, free minibar, aktivitas kebugaran, hingga berbagai pengalaman budaya selama menginap.

Magical Pathway di Paradisus by Meliá Bali. (Foto: Paradisus by Meliá Bali)

Meski mengusung identitas baru, resor ini rupanya tidak menghapus seluruh jejak masa lalunya.

Saya baru menyadarinya beberapa menit setelah tiba di lobi utama. Di salah satu dinding masih terpajang sebuah denah raksasa yang dipahat di atas batu alam. Denah tersebut memperlihatkan lokasi kamar, restoran, kolam renang, hingga taman yang tersebar di seluruh kawasan resor. Rupanya, batu itu telah berada di sana sejak resor pertama kali dibuka pada 1985.

Baca Juga: Panduan Menikmati TRX Kuala Lumpur: 10 Tempat yang Wajib Dikunjungi

Tentu saja, susunan bangunan di dalam denah tidak lagi sepenuhnya sama. Selama empat dekade terakhir, Meliá Bali telah mengalami berbagai renovasi dan penambahan fasilitas. Namun alih-alih menggantinya dengan versi baru yang lebih modern, pihak resor memilih mempertahankan batu tersebut sebagai bagian dari sejarah properti.

“Banyak elemen yang memang sengaja kami pertahankan untuk menjaga karakter asli resor,” ujar Tasya Aulia, Director of Marketing Communications Paradisus by Meliá Bali, saat memperkenalkan transformasi resor ini.

Filosofi itu kemudian saya temukan berulang kali selama dua hari menginap. Beberapa bangunan memang tampil lebih segar, sejumlah kategori kamar diperbarui, dan layanan ditingkatkan mengikuti standar Paradisus. Namun di saat yang sama, taman-taman tropis yang menjadi ciri khas Meliá Bali tetap dipertahankan, begitu pula pepohonan dewasa yang telah tumbuh selama puluhan tahun.

Perubahan terbesar justru terasa pada cara resor ini mengajak tamunya menikmati Bali.

Baca Juga: 7 Lokasi Syuting The Odyssey yang Layak Masuk Bucket List Liburan

Menjadi Tamu The Reserve

Seorang staf mengantar saya menaiki buggy yang kemudian melaju perlahan menyusuri kawasan resor. Dalam perjalanan menuju area The Reserve, saya sempat melewati lapangan tenis, taman tropis, hingga Aquazone—waterpark yang kini menjadi salah satu fasilitas terbaru Paradisus.

Lobi The Reserve sendiri tampil jauh lebih tenang dibanding area utama. Tidak ada keramaian anak-anak yang berlarian atau antrean tamu yang baru datang. Proses check-in berlangsung santai sambil menikmati welcome drink, cukup singkat, sebelum saya kembali diantar menuju kamar.

Selama dua malam berikutnya, saya menginap di The Reserve Junior Suite Lagoon Access, yaitu kategori kamar yang menawarkan akses langsung menuju kolam renang dari teras pribadi. Kolam laguna ini khusus untuk tamu The Reserve, saya bahkan sempat beberapa kali memilih berenang di pagi hari sebelum sarapan, memanfaatkan suasana yang masih benar-benar sepi.

Interior kamarnya tampil jauh lebih modern. Sentuhan kayu, warna-warna hangat, dan pencahayaan alami membuat ruangan terasa nyaman tanpa kehilangan nuansa tropisnya.

Di dalam kamar tersedia dua smart TV, bathtub, sofa untuk bersantai, serta minibar yang diisi ulang setiap hari. Sebagai tamu all-inclusive, seluruh isi minibar dapat dinikmati tanpa biaya tambahan.

Namun fasilitas-fasilitas tersebut bukanlah hal yang paling saya nikmati. Yang paling berkesan justru suasananya.

Area The Reserve memang dirancang khusus untuk tamu dewasa. Kolam renang, restoran eksklusif, hingga area pantainya terasa jauh lebih tenang dibanding area utama resor. Di beberapa kesempatan, saya bahkan bisa duduk cukup lama di tepi kolam hanya ditemani suara angin dan suara percik air yang sedang berenang.

Akses All-inclusive untuk menjelajah resor

Jika ada satu hal yang paling mengubah cara saya menikmati resor ini, jawabannya adalah konsep all-inclusive.

Selama ini, istilah tersebut sering kali identik dengan buffet sepuasnya atau minibar gratis. Di Paradisus by Meliá Bali, pengalaman yang ditawarkan terasa sedikit berbeda. Saya tidak perlu lagi berpikir apakah ingin mampir menikmati es krim di tengah perjalanan kembali ke kamar, memesan cocktail saat matahari mulai tenggelam, atau mencoba restoran lain untuk makan malam. Semuanya sudah termasuk dalam paket yang saya pilih.

Selama dua malam, saya berpindah restoran hampir di setiap waktu makan. Dari delapan restoran dan tiga bar yang tersedia, Arum menjadi yang paling membekas lewat interpretasi modern hidangan Indonesia, mulai dari rawon hingga es campur yang disajikan dalam bentuk éclair. Sementara Samira menawarkan suasana Timur Tengah yang intim, sedangkan Peseta dan Tokimeku menghadirkan cita rasa Spanyol dan Jepang.

Di sela-sela waktu makan, saya sesekali berjalan mengelilingi taman tropis yang dipenuhi pepohonan dewasa, kolam-kolam kecil, serta Magical Pathway yang menghubungkan berbagai sudut resor. Sesekali angsa, bebek, merak, hingga tupai berkeliaran bebas, menghadirkan suasana yang lebih menyerupai taman botani dibanding sebuah resor di kawasan Nusa Dua.

Aktivitas lainnya yang juga patut dicoba adalah waterpark-nya. Bagi keluarga, tersedia Aquazone yang diklaim sebagai waterpark terbesar di Nusa Dua, sementara pilihan aktivitas lain mulai dari yoga, pilates, tenis, padel, hingga perawatan di YHI Spa membuat hari terasa selalu terisi. Bahkan malam hari pun masih ada arena bowling mini, biliar, dan tenis meja di Teens Club yang menjadi tempat favorit saya menghabiskan waktu.

Namun, semakin lama berada di Paradisus, saya menyadari bahwa konsep all-inclusive yang mereka tawarkan sebenarnya tidak sebatas soal kuliner dan aktivitas hiburan. Melalui program Destination Inclusive, tamu juga dapat mengikuti berbagai pengalaman di luar resor tanpa biaya tambahan, mulai dari aktivitas budaya hingga eksplorasi kawasan sekitar Bali.

Di sinilah menurut saya Paradisus berhasil memberi makna baru pada konsep all-inclusive. Yang ditawarkan bukan sekadar makan sepuasnya, melainkan kebebasan menikmati seluruh pengalaman tanpa terus-menerus memikirkan biaya tambahan atau harus meninggalkan kawasan resor. (chs)