Christina Andhika Setyanti Jacobs
2 Oktober 2025
Suka tak suka, film Laskar Pelangi memang jadi pintu gerbang dikenalnya pariwisata Belitung. Banyak orang berbondong-bondong mengunjungi Belitung, khususnya di Tanjung Tinggi, bagian utara Belitung. Namun Belitung bukan cuma Tanjung Tinggi, ada banyak area lain yang tak kalah indah dan menarik untuk dikunjungi, salah satunya Tanjung Kelayang.
Di tempat ini, Anda tak hanya diajak untuk menikmati pantai dengan air sejernih kristal berwarna kebiruan cerah dan keanekaragaman hayati laut di bawahnya, tapi juga hutan asri dan hewan-hewan langkanya. Semuanya berada di dalam Geopark yang diakui UNESCO, Tanjung Kelayang Reserve. kawasan seluas 350 hektar.

Hari 1 : Piknik di Pulau Pribadi, Island Hopping
Perjalanan dari Jakarta menuju ke Tanjung Pandan, Belitung hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Saya langsung menuju ke hotel dengan menggunakan mobil hotel. Selama di Tanjung Kelayang, saya menginap di Sheraton Belitung Resort yang berjarak 35 menit.
Usai check in, saya tak ingin menyia-nyiakan waktu, mumpung matahari masih cerah dan udara segar – Belitung merupakan pulau dengan udara paling bersih di Indonesia – saya langsung menuju pantai.
Hari ini, saya ingin menikmati pemandangan laut lepas yang indah dengan pulau kecil dan batu-batu granit raksasa yang ikonik. Kapal motor nelayan yang sudah dimodifikasi agar para tamu bisa duduk lebih nyaman membawa saya ke Pulau Tukong dan beberapa pulau lainnya.
Pulau Tukong adalah pulau pribadi yang bisa digunakan untuk menggelar berbagai aktivitas, termasuk piknik di atas batu kala sunset. Jangan khawatir, ada anak tangga bambu ramah lingkungan yang sudah disediakan, dan aman. Diterangi cahaya obor kecil, saya menuju ke puncak batu besar Pulau Tukong untuk menikmati sajian afternoon tea dengan kue-kue lokal yang dibungkus daun simpor sembari menyesap teh atau kopi.
Matahari mulai turun menyisakan semburat jingga gelap, dari kejauhan, lampu-lampu kapal pencari cumi-cumi dan ikan mulai bermunculan menyerupai bintang yang terang. Para staf dari Sheraton Belitung Resort mulai bergerak untuk menyalakan api unggun untuk menghangatkan suasana.
Namun, tak ada rasa kedinginan atau bahkan udara lengket, seperti layaknya di tepi pantai. Langitnya bersih dan indah, bintang-bintang muncul di langit yang tak berpolusi. Inilah momen yang paling saya tunggu, memandang langit penuh bintang usai matahari terbenam dalam keheningan yang menyenangkan, bukan menakutkan. Tanpa polusi udara dan suara.
Dari kejauhan mercusuar ikonik di Pulau Lengkuas menemani saya bersantai di sana sebelum akhirnya kembali untuk makan malam dengan aneka seafood bakar yang sedap, dari ikan, udang, kepiting, sampai lobster besar yang disajikan di atas daun simpor.
Hari 2: Snorkeling dan menjelajah geopark
Hari ini, jadwalnya main air bersama ikan dan terumbu karang. Hari itu hujan, air Pantai Tanjung Kelayang sedikit pasang. Rencana untuk snorkeling sedikit tertunda. Namun beruntung, setelah menunggu 1 jam, hujan pun reda dan saya bisa ‘melaut.’
Setelah berlayar sekitar 30 menit, perahu saya mendarat di Pulau Burung. Usai mesin perahu dimatikan, saya terkejut bukan main. Ternyata saya tak perlu snorkeling untuk bisa melihat dunia bawah air. Airnya sebening kaca, keindahan bawah laut terpampang nyata hanya dibatasi air yang sangat jernih.
Uniknya lagi, laut ini ternyata tak seberapa dalam, hanya 3 meter sampai ke bawah laut. Namun, apalah artinya kalau sudah sampai di sini tapi tak snorkeling kan. Kru perahu membantu mempersiapkan saya untuk segera turun ke air. Airnya tidak dingin, tapi cenderung hangat dan nyaman. Koral warna-warni dan ikan-ikan kecil muncul dan berenang-renang. Hanya satu yang harus diingat, jangan mencoba untuk menginjak atau menyentuh koralnya.
Para tamu juga bisa ke Karang Salam, perairan tenang nan jernih yang menjadi surga bagi para penyelam snorkel. Di sini, kehidupan bawah laut yang masih alami menyajikan pengalaman menyelam yang damai dan menyegarkan. Petualangan ditutup dengan kunjungan ke Pulau Kelayang dan Batu Berlayar, formasi granit megah yang menjadi bagian dari situs geologi UNESCO di Belitung, sebelum kembali ke resor menjelang sore.
Usai puas snorkeling, saya beristirahat sebentar sebelum melanjutkan berkeliling geopark. Geopark yang menjadi bagian dari Tanjung Kelayang Reserve ini ada berbagai aktivitas yang bisa diikuti, termasuk whistle trail, sebuah jalur untuk menikmati flora dan fauna yang terancam punah.
Geopark ini menjadi rumah bagi beraneka macam hewan langka dan endemik, misalnya tarsius. Tarsius adalah hewan nocturnal berukuran mini yang hidup bebas di alam. Jika beruntung, ada juga trenggiling bahkan ular. Namun jangan khawatir, alam adalah rumah mereka, jika Anda tak mengganggunya, maka mereka pun tak akan mengganggu Anda. Semua hidup berdampingan di sini.
Di hutannya, saya juga menanam pohon pelepak yang terancam punah. Ada juga jamur pelawan yang tumbuh di pohon pelawan, pohon endemik di Belitung dan hanya bisa tumbuh saat hujan deras dan berpetir. Kunjungi juga area stingless bee, trigona yang menghasilkan madu alami dan sehat.

Hari 3: Keliling kota dan kuliner Belitung
Saya hanya punya setengah hari di Belitung sebelum kembali ke Bandara Tanjung Pandan. Namun saya berangkat lebih awal agar bisa menikmati area pusat kota dan mencicipi kulinernya. Sebagai perhentian pertama, tentunya saya mencicipi Mi Belitung yang khas di Mi Atep.
Dibuat dari mi telur yang berwarna kekuningan, hidangan ini dicampur dengan udang dan bakso ikan. Disajikan di atas daun simpor, mi dengan kuah bening dan sedikit kental ini punya rasa gurih manis.
Usai makan Mi Belitung, saya juga mencicipi mi ayam jamur yang populer di sini. Warung ini terletak di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Pandan.
“Maaf sudah habis,” ucap bapak penjualnya.
Namun melihat, saya dan rombongan yang datang dari jauh, si penjual pun sedikit luluh dan meminta kami untuk menunggu 20 menit sembari dia mempersiapkan porsi mi tambahan untuk kami. Semangkuk mi ayam jamur yang manis gurih dan dikombinasikan dengan kuah mi berisi bakso ikan, lumpia kulit tahu di mangkuk terpisah siang itu, menjadi sebuah salam perpisahan yang menghangatkan hati sebelum kembali ke Jakarta.












