Myranda Fae
7 Juli 2026
Saya pernah bertanya kepada seorang travel travel influencer di Instagram, “Menurutmu, bagaimana cara terbaik menikmati Wakayama?”
Jawabannya singkat, “Cukup one day trip dari Osaka.”
Pendapat itu sebenarnya cukup umum. Wakayama memang kerap dipandang sebagai salah satu destinasi one-day trip yang bisa dikunjungi dari Osaka ata Kyoto. Dengan jaringan kereta yang baik, sebagian besar atraksi utamanya memang bisa dijangkau dalam perjalanan sehari.
Namun, setelah menghabiskan waktu selama hampir 48 jam di prefektur ini, saya justru merasa sebaliknya. Berlibur di Wakayama tidak bisa terburu-buru. Prefektur di bagian selatan Semenanjung Kii ini justru mengajak pengunjung untuk benar-benar mengenal tiap sudut kota mulai dari menikmati pantai, mencicipi hasil bumi, mengenal sejarah kuliner Jepang, hingga berendam di pemandian air panas tanpa terburu-buru.
Dikenal sebagai rumah bagi jalur ziarah Kumano Kodo yang telah berstatus Warisan Dunia UNESCO, kawasan Koyasan, serta kota Yuasa – tempat lahirnya kecap Jepang – Wakayama menyimpan sisi Jepang yang jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Osaka di utara.

Mendarat di Wakayama
Dari Kansai International Airport, saya menempuh perjalanan darat sekitar dua jam menuju Minabe, sebuah kota kecil di pesisir selatan Prefektur Wakayama. Setibanya di Grand Mercure Wakayama Minabe Resort & Spa, sambutan hangat langsung terasa lewat dentuman taiko – drum tradisional Jepang – yang dimainkan di area lobi outdoor hotel.
Setelah perjalanan panjang, saya hanya punya sedikit waktu sebelum matahari tenggelam. Beruntung, pantai berada tak jauh dari hotel dan bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar lima menit. Dari kamar di lantai 10, hamparan laut sudah menjadi pemandangan utama, namun melihat langsung warna langit berubah perlahan di tepi pantai terasa jauh lebih mengesankan.
Ume Domaine Arimoto Plum Farm
Ini agenda pertama saya di hari berikutnya: mencicipi Umeshu langsung di tempat asalnya. Memang sulit memisahkan Wakayama dari buah ume. Prefektur ini merupakan penghasil ume terbesar di Jepang, sementara Minabe dikenal sebagai kampung halaman varietas premium Kishu Nanko-ume yang banyak digunakan untuk umeboshi maupun umeshu.
Di Ume Domaine Arimoto Plum Farm, saya melihat bagaimana buah yang sekilas menyerupai aprikot itu diolah menjadi berbagai produk dengan karakter rasa yang berbeda-beda.
Saya juga sempat mencicipi beberapa produk olahannya mulai dari yang difermentasi dengan gula hingga alkohol. Bagi wisatawan yang ingin mencicip juga, pabrik ini membuka reservasi untuk kunjungan dan tur.
Ume Domaine Arimoto
872-3 Higashiiwashiro, Minabe, Hidaka District, Wakayama 645-0013, Japan
Berkunjung di Pantai Shirarahama dan makan siang di Ikesuwarouda, restoran yang menghadap pantai Shirarahama
Dari Pantai Shirarahama, saya berjalan kaki menuju restoran Ikesuwarouda. Jalannya tidak ramai. Sesekali hanya terlihat kendaraan melintas di antara bangunan-bangunan tua yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Suasananya jauh berbeda dari kawasan wisata pantai yang biasanya penuh hiruk pikuk.
Restoran ini menyajikan set menu khas Jepang dengan berbagai lauk dalam porsi kecil. Bagi saya, menikmati washoku seperti ini justru menjadi cara paling sederhana untuk mengenal budaya makan masyarakat setempat.
Yuasa Soy Sauce Factory
Saya memang penasaran mencicipi kecap Jepang langsung dari tempat asalnya. Namun sebelum mencelupkan sashimi ke dalam shoyu, saya ingin memahami dulu bagaimana bumbu sederhana ini lahir.
Di Yuasa Soy Sauce Factory, saya mengikuti tur singkat yang menjelaskan sejarah shoyu melalui rekaman audio dan berbagai peralatan tradisional. Menariknya, kecap Jepang dipercaya berasal dari cairan hasil fermentasi kinzanji miso yang secara tidak sengaja ditemukan sekitar 800 tahun lalu di Yuasa. Dari sinilah teknik pembuatan shoyu kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh Jepang.
Hingga kini, sebagian produsen di Yuasa masih mempertahankan proses fermentasi alami di dalam tong kayu besar, sebuah metode yang membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum menghasilkan kecap dengan rasa umami yang kompleks.
Yuasa Soy Sauce Factory
1464 Yuasa, Arida District, Wakayama 643-0004, Japan
The Yuasa Preservation District
Hanya beberapa menit dari pabrik kecap, saya tiba di satu kota sunyi: The Yuasa Preservation District, kawasan bersejarah yang dahulu menjadi pusat perdagangan dan produksi kecap Jepang.
Berjalan di antara rumah-rumah kayu berusia ratusan tahun terasa seperti memasuki kota yang berhenti di suatu masa. Jalanannya nyaris kosong. Beberapa rumah masih dihuni, sementara lainnya dipertahankan sebagai bangunan bersejarah. Tidak banyak toko modern atau papan reklame mencolok. Yang terdengar justru suara langkah kaki sendiri dan kendaraan sepeda yang melintas. Tak heran kawasan ini ditetapkan sebagai distrik pelestarian bangunan tradisional Jepang.
Beberapa warga yang tinggal masih mengandalkan hasil bumi sebagai sumber penghasilan untuk dijual. Beberapa membuka toko serba ada atau toko souvenir yang menjual barang-barang antik khas Wakayama.
The Yuasa Preservation District
Yuasa, Yuasa Town, Arida District, Wakayama Prefecture

Public Bath
Menjelang malam, saya memutuskan mencoba public bath di hotel. Awalnya canggung. Ini adalah pengalaman pertama saya berendam tanpa busana bersama orang-orang asing.
Namun rasa kikuk itu hanya bertahan beberapa menit. Begitu masuk ke ruangan yang dipenuhi uap hangat, semua orang tampak sibuk dengan dunianya masing-masing. Tidak ada yang saling memperhatikan. Di situlah saya sadar bahwa onsen maupun sento bukan sekadar tempat mandi, melainkan ruang untuk melepas penat.
Wakayama sendiri dikenal memiliki banyak pemandian air panas, baik yang berada di hotel maupun berdiri sendiri. Jika memiliki waktu lebih panjang, saya justru menyarankan mencoba onsen di luar area hotel agar dapat merasakan bagaimana budaya berendam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.
Menurut salah satu staf hotel, beberapa pemandian menggunakan arang (charcoal) sebagai bagian dari fasilitas mandi, yang secara tradisional dipercaya membantu membuat kulit terasa lebih halus. Terlepas dari manfaat tersebut, satu hal yang pasti, berendam setelah seharian berkeliling membuat tubuh terasa jauh lebih ringan.
Kebun Mikan
Masih ada satu alasan untuk kembali ke Wakayama. Sebelum saya pulang, staf Japan National Tourism Organization (JNTO) menyarankan agar lain kali saya menyempatkan diri mengunjungi kebun mikan. Saran itu masuk akal. Sebagai penghasil mikan terbesar di Jepang, Wakayama memiliki bentang alam dan iklim yang ideal untuk menghasilkan jeruk dengan rasa manis yang khas. Pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya pun menjadi salah satu aktivitas yang banyak direkomendasikan bagi wisatawan.
Mungkin itu pula alasan mengapa saya tidak sepenuhnya setuju jika Wakayama hanya dianggap sebagai destinasi one day trip dari Osaka. Dalam waktu hampir 48 jam saja, rasanya masih banyak cerita yang belum sempat saya bawa pulang. (Chs)
















