Dulu, saya membayangkan Raja Ampat sebagai situs yang membeku dalam waktu, menolak mengikuti daerah-daerah di sekitarnya yang bergegas mengejar hari esok. Kenyataannya, mesin-mesin pariwisata telah menancapkan kukunya di sini. Sejumlah resor menyempil di pantai, pondokan kayu dikerek di desa-desa, dan perahu penyelam berseliweran. Purnama adalah pendatang terbaru, tapi pastinya bukan yang terakhir.

Kiri-kanan: Kenes Andari, salah satu penumpang Alila Purnama tengah bersantai di pantai dangkal di sebuah pulau tak berpenghuni di Raja Ampat; menikmati pemandangan laut di kepulauan Raja Ampat dari dek Alila Purnama.

Tempat yang sempat tenggelam pasca-Perang Dunia II ini kembali terendus radar dunia sekitar 20-an tahun silam. Max Ammer yang memulainya. Pria Belanda ini mendarat di Raja Ampat pada 1989 untuk berburu relik Perang Dunia II. Tersadar tempat ini punya harta yang lebih bernilai ketim-bang bangkai pesawat, Max beralih profesi dengan mendirikan sebuah resor.

Pariwisata berjasa menempatkan Raja Ampat dalam orbit dunia. Tapi terbukanya akses dan informasi juga berarti terbuka-nya peluang-peluang lain, termasuk untuk merusak. Di kawasan yang berstatus zona konservasi ini, kita pernah mendengar berita perburuan hiu, pembukaan tambang nikel, juga pembabatan hutan.

Gesekan langsung akibat bisnis pari-wisata juga terjadi. Saat saya datang, Pulau Wayag diblokade warga yang merasa tidak mendapatkan potongan adil dari kue manis turisme. Purnama pun terpaksa mengurungkan niatnya ke sana.

Kiri-kanan: Meskipun hidup di atas kapal, makanan yang disajikan sekelas hotel bintang lima; jus segar yang dihidangkan untuk para penumpang Alila Purnama.

Saya coba memahami protes warga. Merujuk catatan lembaga riset Kata Data, Raja Ampat menyetor Rp3 miliar per tahun dari sektor pariwisata dan memiliki potensi tangkapan ikan Rp126 miliar per tahun. Realitasnya, kepulauan ini justru bertengger dalam daftar 183 wilayah ter-tinggal. Di tanah yang ditinggali burung surgawi, kita ternyata masih mendengar kisah-kisah lirih. Bahkan nirwana tak bisa lepas dari nestapa.

Tapi perjalanan ini juga mengembuskan harapan. Dari beberapa kali menjelajahi kepulauan di Indonesia, yang jumlahnya tentu kalah banyak dari pulau dalam catatan Lawrence Blair atau Wallace, untuk pertama kalinya saya mengalami proses pemeriksaan petugas. Selama seminggu di Raja Ampat, setidaknya ada tiga institusi yang mengutus aparatnya untuk mengecek kelengkapan dokumen kapal dan tamu.

Ketatnya pemeriksaan bisa jadi terkait regulasi baru yang dilansir Pemkab Raja Ampat untuk memproteksi hiu, manta, dan penyu. Penetapan suaka ini memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi jagawana untuk menindak pemburu ilegal. Memang, ada banyak lubang antara aturan dan penegakan di lapangan. Tapi Raja Ampat setidaknya telah mengambil inisiatif untuk menutupnya.

Terlalu banyak pulau yang mesti dijelajahi. Terlalu banyak dive site yang menarik diselami. Jika benar liburan adalah sebuah koma di tengah rutinitas hidup, Raja Ampat mungkin bisa meng-ubahnya menjadi titik.

Seorang anak kecil bermain di dermaga Arborek.

Trip Purnama mendekati hari-hari terakhir. Suasana telah cair. Di depan meja makan, penumpang duduk berbaur, tak cuma merapat ke orang terdekat. Hotel terapung ini telah menciptakan sesuatu yang jarang diciptakan oleh hotel sebenarnya: lingkaran pertemanan baru.

Purnama kini berputar ke utara, kembali memasuki jantung kepulauan. Beberapa kali saya melihat kapal berbadan fiberglass. “Siapa yang mau naik kapal seperti itu?” ujar penumpang asal Amerika. “Terlihat dingin dan kaku. Tidak cocok untuk menjelajahi kepulauan ini.” Saya berusaha memahami maksud kata-katanya.

Kapal-kapal fiberglass mungkin terasa mengganggu karena merupakan simbol modernitas. Dan kita ingat, modernisasi merupakan upaya manusia untuk menjaga jarak dari alam, lalu menciptakan teknologi untuk mengendalikannya. Di Raja Ampat, yang terjadi justru sebaliknya: kita ingin mengubur jarak; kita ingin menyelami alam. Analogi sederhana mungkin bisa menjelaskan pendapat teman saya: menaiki kapal fiberglass di Raja Ampat seperti mengendarai Ferrari saat melewati sawah-sawah di Ubud. Pinisi mungkin terlihat renta, tapi di Raja Ampat, di mana waktu seolah membeku, ia adalah kendaraan yang sempurna.

Seorang gadis cilik lokal dengan ukulele buatan sendiri di Arborek, Raja Ampat.

Sehari sebelum Purnama kembali ke Sorong, kami menyelam di perairan Pulau Kri, di mana para peneliti dulu menemukan konsentrasi ratusan spesies koral hanya dari satu penyelaman. Malam harinya, Annalisa merelokasi tempat makan. Kami dibawa ke Pulau Gam untuk menikmati sajian di tepi pantai. Dalam balutan sinar jingga lilin, koki menyuguhkan seafood kebab dan bebek betutu, lengkap dengan sambal uleknya.

Purnama lebih dari sekadar tur lintas pulau, bukan semata singgah dari satu titik selam ke titik lainnya. Diving memang aktivitas utama, tapi pengalaman yang terus bertahan setelah tur berakhir adalah persahabatan yang terjalin di atas kapal. Penumpang saling bertukar alamat email dan membuat janji-janji untuk bertemu kembali, suatu hari nanti.

Dalam 154 tahun terakhir, Raja Ampat memang bicara hal yang sama: tentang keindahan yang sulit ditampik, tentang lanskap yang menyulut kontemplasi. Yang jadi soal bukanlah apa yang bisa kita nikmati di sini, melainkan bagaimana kita menikmati. Di atas kapal tradisional Bugis yang dulu menebar teror kepada dunia, saya mengarungi kepulauan yang memikat takjub dunia. Ironi, untuk pertama kalinya, terasa menyenangkan.

Kiri-kanan: Dek depan kapal pinisi yang disulap menjadi hotel terapung mewah; kamar mewah Alila Purnama.

Detail
Raja Ampat

Rute
Sorong adalah titik tolak penjelajahan di Raja Ampat. Penerbangan ke Sorong dilayani antara lain oleh Sriwijaya Air (sriwijayaair.co.id) dan Express Air (expressair.co.id). November silam, Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com) meresmikan rute Makassar-Sorong.

Aktivitas
Pinisi pendatang baru Alila Purnama (alilahotels.com) diluncurkan pada Desember 2012. Sementara ini, rute yang ditawarkan adalah Raja Ampat, Taman Nasional Komodo, serta Ambon. Tur di Raja Ampat bergulir dari Oktober hingga Maret. Kapasitas ideal penumpang adalah 10 orang. Rute tur bisa disesuaikan dengan permintaan tamu, tentunya jika arus memungkinkan. Durasi normal tur adalah tujuh hari, tapi bisa ditambah untuk klien yang mencarter seluruh kabin. Purnama dioperasikan oleh 16 orang kru, termasuk koki yang meracik menu berbeda setiap hari. Di atas kapal, fasilitasnya antara lain lima kabin berisi shower dengan air panas, sepasang kano, dive centre (menyediakan kursus selam berlisensi PADI), lounge yang merangkap restoran, dek untuk berjemur, serta perpustakaan. Tur Raja Ampat dipatok mulai dari $11.000 per malam, minimum empat malam, inklusif akomodasi, makanan, diving, dan tur pulau untuk 10 orang.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Jan/Feb 2014 (“Saga Raja Ampat”).