Burung mulai bernyanyi. Kontras dari dunia manusia, justru pejantan yang bersolek. Dengan bulu-bulu menawan layaknya penari Jember Carnaval, ia berdansa, mengoceh, mengeluarkan jurus-jurus rayuan guna memikat betina. Burung juga kerap berpindah dahan. Kami menanti selama belasan menit untuk bisa melihatnya lagi. Birdwatching sangat menuntut kesabaran. Tak heran kegiatan ini umumnya dilakoni kaum sepuh.

Cenderawasi Merah di Pulau Gam.

Melihat cenderawasih menarik ingatan saya pada seorang legenda: Alfred Russel Wallace. Juni 1860, naturalis tersohor ini berlayar dari Seram ke Raja Ampat. Awalnya dia berniat ke Pulau Misool di selatan Raja Ampat, tapi ketika kapalnya sudah berjarak hanya sekitar 200 meter dari pesisir, angin melemparkannya ke utara menuju Pulau Waigeo.

Waigeo berada sangat dekat dari tempat saya kini berdiri. Wallace berhasil mengumpulkan 73 spesies burung di sana, 12 di antaranya baru pertama kali dilihatnya. Entah mengapa, dia menilainya sebagai hasil yang mengecewakan, tapi setidaknya dia berhasil mendapatkan cenderawasih merah. “Berhubung saya berhasil membawa 24 spesimen Paradisea rubra,” tulis Wallace, “saya tidak menyesali kunjungan saya ke pulau ini, walau itu tidak berarti seluruh ekspektasi saya terpenuhi.”

Kisah itu saya kutip dari Malay Archipelago, karya klasik yang tak pernah usang. Melalui buku ini pula, dunia membayangkan Raja Ampat, bisa jadi untuk pertama kalinya. Dengan nada puitis, Wallace menceritakan panorama yang dilihatnya saat menyusuri teluk yang menghubungkan Gam dan Waigeo. Saya terjemahkan sebisa mungkin kata-katanya: “Tiap pulau tertutup semak dan pohon yang berkelindan dalam formasi aneh, dan umumnya dimahkotai oleh pohon kelapa yang jangkung dan elegan—yang juga bertaburan di pantai di kaki-kaki bukit—hingga membentuk salah satu pemandangan tunggal paling cantik yang pernah saya saksikan.”

Kapal kecil penuh dengan penumpang Alila Purnama meninggalkan Pulau Gam setelah aktivitas birdwatching.

Ada 27 titik penyelaman di Raja Ampat. Itu statistik 2012. Dan sumber saya hanya satu buku, Underwater Paradise: A Diving Guide to Raja Ampat.

Dalam tur pesiar Purnama, menyelam adalah aktivitas favorit penumpang. Tiada hari tanpa memasang rompi dan mengenakan sepatu katak. Di percobaan pertama, saya disambut ikan berjidat bengkak layaknya produk gagal suntik silikon. Di hari yang lain, saya menonton kawanan ikan yang mengepakkan sayapnya seperti elang. Hari lainnya lagi, ada ikan yang tubuhnya bermotif zebra tapi wajahnya mirip wombat.

Menyelam seperti membuka pintu ke dimensi yang berbeda. Alam bawah laut bagaikan dunia asing yang bergerak paralel dengan dunia manusia. Ada di sekitar kita, tapi memiliki orbitnya sendiri. Terpisah, tapi di saat yang sama terpaut. Lebih tepat disebut jukstaposisi ketimbang koeksistensi.

Uniknya, ada banyak kesamaan karakter di antara kedua dimensi tersebut. Satwa laut senantiasa saling mengancam, menjebak, menipu, dan berebut rumah. Senjatanya pun beragam: barisan gigi mirip gergaji, kamuflase tubuh dengan lingkungan sekitar, berpura-pura baik, atau beramai-ramai mengeroyok korban. Di sini tak ada aparat. Hukum satu-satunya disebut rantai makanan. Pengadilannya bernama seleksi alam.

Dek dengan kursi santai dan tempat berjemur.

Kenapa laut Raja Ampat begitu kaya, ada banyak teorinya. Konstelasi pulau ini bertindak layaknya saringan bagi arus kaya nutrisi yang mengalir dari Samudra Pasifik menuju Hindia. Karang merekah di banyak tempat dan menyediakan rumah bagi banyak satwa. Tapi yang paling mencengangkan bukanlah keragaman penghuninya, melainkan terbukanya peluang untuk menyingkap rahasia-rahasia baru: taksonomi satwa di Raja Ampat belum final. New Guinea, pulau terluas kedua, adalah satu dari sedikit teritori di bumi yang belum tuntas dieksplorasi. Raja Ampat hanyalah serpihan kecilnya. Tapi bahkan di sini berita penemuan spesies baru kadang masih terdengar.

Di atas perairan yang penuh misteri itulah Purnama berkelana selama tujuh hari: dari Sorong, kapal bergerak ke barat, lalu ke selatan, kemudian memutar ke lokasi awal. “Rute tur bisa berubah mengikuti permintaan tamu,” kata Annalisa, “tapi lebih sering karena menyesuaikan dengan kondisi arus.” Pinisi anggun ini umumnya bergerak di malam hari, membelah gulita Papua yang begitu pekat, hingga langit dan laut seolah melebur di batas cakrawala. Di momen-momen itulah saya kerap menghabiskan waktu di geladak seraya menanti tarian cahaya di angkasa, berusaha membayangkan apa sebenarnya yang dilihat Wallace 154 tahun silam. “Saya menyaksikan sesuatu yang menyerupai Aurora Borealis,” tulisnya, “kendati saya sulit percaya fenomena itu bisa terjadi di tempat yang berada sedikit di selatan ekuator.”

Agaknya saya berharap pada waktu yang keliru. Wallace mendarat di Raja Ampat pada pertengahan tahun, sementara Purnama beroperasi di sini sejak akhir hingga awal tahun, periode yang memang ideal untuk pesiar.

Kiri-kanan: Mario Gonzalez, pembimbing dan pengawas selam di Alila Purnama; seorang penyelam senior dari Arborek, pulau kecil di Raja Ampat.

Di tiap titik transit, penumpang menyelam. Kadang satu kali. Sering kali lebih. Tapi Purnama bukanlah kapal untuk penyelam garis keras. Kapal ini memang menyambangi surga-surga kaum petualang, tapi suguhannya lebih dari sekadar petualangan. Dalam banyak hal, Purnama adalah tentang kebersamaan di sesi sarapan, berjemur sembari membaca novel, canapé menjelang senja, juga bir dingin di dek yang terik. Sebuah Orient Express di atas laut.

Di malam kedua, penumpang berkumpul di meja makan yang diterangi lilin. Sesi akrab ini berhasil melumerkan kebekuan yang tersisa dari hari kemarin. Kami mulai berbagi cerita, menyamai benih pertemanan, juga bertukar lelucon. Kelar melahap menu penutup, Annalisa melontarkan opsi kegiatan untuk esok hari, lalu kami dibiarkan memilih dan bermufakat. Pelaut Bugis mungkin tak pernah membayangkan pinisi bisa dipakai untuk piknik.

Waktu tempuhnya dari Jakarta hanya lima jam, namun Raja Ampat seperti terpisah jarak ribuan tahun. Kepulauan ini menyimpan memori purba yang membuat kita membayangkan momen-momen primal: penciptaan bumi, evolusi alam, dunia sebelum manusia. Di sini tak ada minimarket. Tak ada pula sinyal telepon. Sebuah Disneyland tanpa Disney.

Mengendarai speedboat, saya dan beberapa tamu menghampiri kubah-kubah yang berbaris di sisi barat. Tebing berlembar-lembar menjulang, membelah-belah lautan, membentuk kompleks labirin yang magis. Di lereng bagian atas, pohon-pohon berebut tempat berpijak. Dari balik rimbunnya daun, burung-burung menyeruak akibat terusik kehadiran kami.

Perahu bermanuver zigzag, berusaha menghindari tebing yang fasadnya mirip gigi hiu. Semakin jauh ke perut labirin, air yang terperangkap melahirkan sejumlah laguna berair tenang. “Seperti seprai kasur, begitu orang Istanbul menyebut air yang tak berombak,” ujar seorang penumpang.

Tur laguna ini membuat saya berulang kali larut dalam lamunan. Pulau-pulau kosong, karang yang merekah di kakinya, satwa-satwanya… semua seolah ditata saksama guna memunculkan kekaguman yang universal: bahwa lanskap ini diciptakan dengan kemampuan Photoshop yang transendental.

Tapi, benarkah kondisinya selalu demikian?