
[dropcap type=”default”]D[/dropcap]i Indonesia, negara kepulauan dalam jaringan cincin api, sangat masuk akal jika tema “manusia, gunung, dan laut” sudah dikupas oleh puluhan fotografer. Tapi, kenyataannya, tema ini justru minim peminat.
Mungkin karena terlalu luas cakupannya, juga terlalu mahal dan terlalu menyita waktu prosesnya. Atau mungkin karena memang cuma segelintir fotografer yang sudi mengabdikan energinya untuk menggarap tema jangka panjang yang berbobot.
Rony Zakaria adalah satu dari segelintir fotografer itu. Dia memberi tajuk proyeknya: Men, Mountains and the Sea. Rony, peraih penghargaan dalam NPPA Best of Photojournalism, memotret aspek-aspek kebudayaan agraris dan pesisir, mengabadikan prosesi klenik yang berkelindan dengan religi, menempatkan manusia dalam hubungannya yang kompleks dengan gunung dan laut. Tema dengan cakupan yang luas memang. Tak heran durasi reportasenya cukup lama.


Rony memulai Men, Mountains and the Sea delapan tahun silam, saat tengah merintis karier sebagai fotografer. Suatu kali, ketika melawat ke Yogyakarta, dia singgah di Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo, lalu menemukan betapa gunung dan laut memiliki tempat khusus dalam spiritualitas warga. “Saya tertarik untuk melihat relasi tersebut dan mendokumentasikannya,” ujarnya.
Dari Yogya, dia melacak tempat-tempat lain di Indonesia yang menganut kosmologi serupa, antara lain Tengger, Jepara, Bali, dan Lembata. Sebuah perjalanan panjang yang penuh cerita. Di puncak Merapi, jari-jarinya membeku hingga terpaksa dikencingi agar bisa kembali mengoperasikan kamera. Di Lembata, dia bergaul akrab dengan kaum pemburu paus sampai-sampai mereka pun saling menyapa dengan panggilan “reu” (kawan).

Di Yogya, gunung dan laut mewakili dua kutub penguasa alam. Melarungkan sesajen di kedua singgasana spiritual itu penting untuk menjaga perimbangan kekuatan di muka bumi. Daerah-daerah lain tentu menganut praktik yang berbeda. Lalu, apa kriteria yang dipakai dalam menyeleksi lokasi? “Saya merasa larut ketika mengunjungi Merapi dan Parangkusumo, dan saya kemudian mencari tempat-tempat di mana saya mengalami perasaan yang sama,” jawab Rony.

Oleh Rony, wasilah segitiga manusia-gunung-laut agaknya tidak dibakukan menjadi sebuah wacana “antropologi” murni, berbeda dari, misalnya, proyek Genesis yang tersohor itu. Alih-alih, dia memberi porsi yang cukup dominan bagi batinnya untuk memilah dan memilih subjek foto. “Proyek ini,” ujarnya, “juga tentang apa yang saya rasakan ketika berada di lokasi.” Bisa dibilang, Men, Mountains and the Sea adalah sebuah “self-discovery” dalam kerangka dokumenter.
“Sebenarnya sah-sah saja jika fotografer mendokumentasikan sesuatu dengan melibatkan subjektivitas perasaan,” ujar Edy Purnomo, pengajar di PannaFoto Institute, lembaga yang mengembangkan fotografi dokumenter dan jurnalistik di Indonesia. “Yang rumit dari subjektivitas ini, publik memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda tentang tempat-tempat yang ditampilkan, karena itu pemaknaannya juga akan berbeda.”


Sebagian foto dalam Men, Mountains and the Sea sudah dipamerkan di sejumlah ajang fotografi. Pada 2009, Rony memajangnya di Chobi Mela Festival, Bangladesh. Empat tahun berselang, dia memboyongnya ke Photoquai Biennale, Prancis. Terakhir, November 2015, hasil jepretannya dipamerkan di Photolux Festival, Italia. Berstatus kontributor bagi media ternama semacam The New York Times dan The Wall Street Journal, Rony agaknya tak kesulitan menembus kurator-kurator internasional. Tantangannya mungkin sedikit berbeda untuk memikat publik dalam negeri, terutama saat nanti Men, Mountains and the Sea dibukukan.
Edy melihat Rony sebagai fotografer yang berada di antara dua generasi: generasi fotojurnalis klasik semacam Kemal Jufri dan generasi kontemporer seperti Yoppy Pieter. Tipe yang pertama memakai pendekatan denotatif dengan menampilkan realitas secara lugas apa adanya, sedangkan tipe yang kedua lebih konotatif di mana foto lebih bersifat alegoris. “Jika nanti proyek Men, Mountains and the Sea dijadikan buku,” pesan Edy, “Rony sebaiknya memilih satu pendekatan agar metode kuratorialnya tidak membingungkan.”


Tentu juga lebih menarik jika kelak Rony bermitra dengan, umpamanya, seorang sosiolog atau antropolog, guna menuliskan pengantar buku yang bisa memberikan konteks akademis bagi foto-fotonya. Terlepas dari pendekatannya yang personal, Men, Mountains and the Sea sejatinya mengusung isu yang “riil”: relasi geografis dan spiritual antara manusia, gunung, dan laut. Relasi yang begitu jamak di sekitar kita, tapi uniknya, jarang dielaborasi di bawah satu judul.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Januari/Februari 2016 (“Kosmologi Cincin Api”).

