Yohanes Sandy
24 Mei 2013

[dropcap type=”default”]H[/dropcap]awa panas menyergap kota kecil yang hiruk-pikuk di pesisir barat Sumatera. Derap sepatu kuda penarik bendi sesekali terdengar. Di kompleks Pasar Raya, pusat perbelanjaan tradisional belum tergantikan oleh pasar modern di sebelahnya. Kioskiosnya didirikan dari kayu sisa operasi tanggap darurat bencana 2009.
Ruang terbuka Imam Bonjol bak radiator pendingin bagi tubuh-tubuh yang gerah. Di bawah naungan dedaunan, saya menatap mesin crane yang menyusun lantai-lantai gedung. Kota Padang telah kembali ke siklus normal, empat tahun setelah tanahnya bergoyang 7,6 skala Richter. Satu perubahan drastis adalah dipindahkannya titik nol kilometer ke dataran tinggi, sekitar 15 kilometer dari bibir Samudra India, jauh berbeda dari cetak biru warisan Belanda yang menguatkan daerah pantai sebagai pusat kota.
Sebuah area di tepian samudra biru diramaikan kaum muda. Warga setempat menyebutnya Taplau, akronim dari tapi lauik atau tepi laut. Gairah seni memberi nyawa pada kawasan ini. Bangunan megah beratap gonjong menjulang di lahan seluas satu hektare. Kompleks ini bernama Taman Budaya, pusat kebudayaan yang dikelola pemerintah. Sejumlah fasilitas berkesenian tersedia: galeri, gedung pertunjukan, panggung serbaguna, serta pasar seni yang menjadi ruang transaksi bagi perupa Minang. Di pengujung 2012 hingga awal 2013, Galeri Taman Budaya menjadi saksi diluncurkannya bienial pertama di luar Jawa dan Bali: Sumatera Biennale 2012.

Ajang yang digelar di galeri pelat merah itu bagaikan puncak es dari gejolak masif di dunia seni nasional dalam beberapa tahun terakhir: pertumbuhan progresif perupa asal Sumatera. Awalnya bersinar melalui guratan-guratan menawan grup Mooi Indie, Swarnadwipa kini rajin memproduksi aneka karya kontemporer dari figur-figur muda, mulai dari Rudi Mantofani hingga Yusra Martunus. Kreativitas mereka berhasil membius banyak galeri dan kolektor internasional Sumatera Barat berada di jantung perkembangan impresif itu. Bermodalkan catatan gemilang para senimannya, provinsi ini mulai menembus galaksi seni elite yang dihuni Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Selama tiga hari, saya menemui para perupa yang berjuang memelihara momentum positif tersebut.
Kelompok Pentagona+ adalah salah satu aktor sentral dalam harumnya reputasi Sumatera Barat. Markasnya berlokasi di studio lukis Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 di Cengkeh, Padang. Publik lebih mengenal nama lawasnya: Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), institusi pendidikan yang lahir di masa pergolakan hebat 1965. Lingkungannya asri. Suara riuh siswa terdengar di selasar. Dari rahim sekolah inilah lahir banyak perupa berbakat, misalnya Amrianis, Zirwen Hazry, dan Irwandi. Beberapa alumni tersohor lainnya mengasah kemampuan di perantauan, contohnya Stefan Buana, Rudi Mantofani, dan Yunizar.
Saat saya singgah di studio SMSR, Amrianis tengah menggarap dua lukisan bergaya naturalis dan sebuah karya surelis bertajuk “Dunia Hijau”. Karyakaryanya kerap menyuarakan gagasan bernas yang sarat protes. Di atas kanvas, pentolan Pentagona+ ini menerjemahkan realitas, menyisipkan kritik, dan menyentak kesadaran kita. Amrianis dikenal gemar mengangkat tema-tema berbau politik, budaya, dan lingkungan. “Ini studio buat guru berproses. Di sebelah khusus buat siswa,” ujarnya. “Kami tidak mencari hidup di sini, tapi kami yang menghidupi seni.”

Harisman Tojes, perupa paling senior di Pentagona+, juga hadir di studio SMSR. Dia mulai berkarya sejak era 80-an. “Rudi Mantofani murid saya, tapi tidak selamanya kita menjadi guru,” jelasnya. Pria kelahiran Batusangkar ini setia mengusung konsep surealis: imajinasi berbalut pergulatan pemikiran yang memunculkan degradasi warna yang tajam. Studio SMSR masih menyimpan sebagian karya para senior Pentagona+. Beberapa dijadikan koleksi tetap untuk bahan studi siswa. Sisanya menanti matamata jeli pemilik galeri dan kolektor.
Sumatera adalah pulau yang kaya cerita. Perupa lokal memiliki banyak sumber inspirasi untuk berkarya. Terakhir, Pentagona+ berpameran pada 2007 dengan mengikutsertakan Nasrul yang berkutat dalam pseudo kaligrafi. Pentagona+ juga bagaikan pohon induk yang menebarkan tunas. Salah seorang tokohnya, Irwandi, turut membidani Komunitas Belanak 10 tahun silam. Melewati jalan kerikil, saya mendarat di sekretariat Belanak di Gang Bakti II, Padang Utara. Sebuah pohon Dadok menjulang di sisi depan. “Saya dulu yang menanamnya; cepat sekali besarnya,” gumam Irwandi.

Belanak adalah wadah bagi perupa muda, salah satunya Muhammad ‘Mamad’ Ridwan. Dia sedang menyiapkan sebuah karya naturalis bertajuk “Lanskap Bukit Barisan” di atas kanvas selebar tiga meter. “Wakidi-an dengan konsep kekinian,” ujarnya merujuk Wakidi, figur sentral dalam sejarah seni Sumatera.
Kantor sekretariat itu juga bertindak layaknya galeri. Dindingnya seperti kewalahan menampung buah kreativitas. Lukisan abstrak berukuran tiga kali empat meter buatan Erlangga memenuhi tembok di ruang depan. Di masa booming seni 2008, sekretariat ini masuk daftar target buruan para kolektor dari dalam dan luar negeri. Pemilik Edwin’s Gallery dari Jakarta pun pernah bertandang.
Gairah tinggi para perupa muda di Belanak tumpah hingga ke luar kantor sekretariat. Studio-studio lain bermunculan. Ada Rumpuik, Bleng, dan Samek. Masing-masingnya fokus pada aliran dan media yang spesifik. Rumpuik misalnya, berkonsentrasi pada desain pakaian eksentrik bertema seni. Kehadiran mereka membuat Gang Bakti lebih mirip kampung seniman. “Ide membangun perkampungan seni sempat diusung di Air Dingin, berdampingan dengan jajaran Bukit Barisan,” kenang Irwandi. Sayangnya, ide itu rontok bersamaan dengan lesunya pasar seni Sumatera dalam dua tahun belakangan.

Tapi Belanak seperti tak peduli pada lesunya pasar. Para anggotanya terus berpegang pada idealisme, tanpa berkompromi pada selera publik. Kebebasan berekspresi ini berjasa menjaga kemurnian seni Padang sekaligus memastikan kota ini terus memproduksi seniman berkelas.
Di masa lalu, kemurnian seni serupa melahirkan Wakidi. Pelukis naturalis ini wafat lebih dari tiga dekade silam, tapi sosoknya belum berhenti menebarkan inspirasi. Pendekatan sang maestro dalam berkarya bahkan dihidupkan kembali, tentunya dengan sedikit modifikasi, oleh sejumlah perupa kontemporer.
Lahir dengan bakat seni di Plaju, Palembang, Wakidi pernah menuntut ilmu di Kweekschool Bukittinggi, di mana dia menekuni tema-tema pemandangan alam: gunung, sungai, dan ngarai—obyek-obyek yang bertaburan di Sumatera. Wakidi juga sempat berguru pada seniman Belanda, Van Dijk. Bersama Abdullah Suriosubroto dan Mas Pirngadie, Wakidi oleh kritikus kerap ditempatkan dalam kelompok Mooi Indie (“Hindia yang elok”).
Meski orang tuanya lahir di Semarang, Wakidi memilih untuk menetap di Sumatera. Dia bekerja sebagai pengajar di INS (Institut Nasional Syafei) Kayu Tanam, Padang Pariaman. Karya-karya legendarisnya kini tersebar di tangan para kolektor. Seperti Raden Saleh, Wakidi mendokumentasikan banyak lanskap yang berbicara banyak tentang alam Nusantara di masa silam.

Di bawah asuhan Wakidi, sejumlah seniman besar terlahir di INS Kayu Tanam, sebut saja Zaini, yang pernah berpartisipasi dalam São Paulo Biennial 1953; serta Mochtar Apin, yang sempat menggelar pameran tunggal di Paris dan Amsterdam. Keduanya juga dikenal menggemari obyek-obyek alam. “Naturalis yang kuat itu adanya di INS,” kata Ady Rosa, dosen dan kritikus seni dari Universitas Negeri Padang.
Kepergian Wakidi dan pudarnya Mooi Indie meninggalkan ruang kosong dalam hikayat seni Sumatera. Melalui payung komunitas, perupa muda kini mengisinya lewat karya-karya progresif yang memikat galeri-galeri ternama. Konsistensi mereka akan menentukan seberapa lama Sumatera Biennale menghiasi agenda seni nasional.
Detail
Sumatera Barat
Rute
Padang adalah gerbang utama Sumatera Barat. Rute Jakarta-Padang dilayani oleh Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com), sedangkan Lion Air (lionair.co.id) memiliki penerbangan ke Padang dari sejumlah kota, di antaranya Jakarta, Batam, dan Medan.
Aktivitas
Ekspedisi seni di Sumatera Barat bisa dimulai di Taman Budaya (Jl. Diponegoro 31, Padang), kompleks berisi galeri, gedung pertunjukan, panggung serbaguna, serta pasar seni. Di tempat inilah perhelatan perdana Sumatera Biennale digelar. Jika ingin menemui para perupa senior, kunjungi studio lukis di SMKN 4 (Cengkeh, Lubuk Begalung), yang juga merupakan markas Pentagona+, kelompok seni paling berpengaruh di Sumatera Barat saat ini. Tapi jika Anda ingin melihat karya-karya eksentrik perupa muda, datanglah ke sekretariat Komunitas Seni Belanak (Gang Bakti 2 No. 20, Dadok, Tunggul Hitam; belanak.wordpress.com).
Dipublikasikan perdana di DestinAsian Indonesia edisi Mei-Juni 2013 (“Repertoar Jilid Dua”).

