Yohanes Sandy
26 Mei 2015
[dropcap type=”default”]S[/dropcap]ejak akhir 2014, Cathay mengganti seluruh kursi bisnis di jaringan regionalnya. Lebih menawarkan ruang kerja ketimbang area tidur.
“Generasi baru Regional Business Class kami,” ujar CEO Cathay Pacific John Slosar, “diracik berdasarkan masukan yang kami terima dari para penumpang.” Itu kata-katanya tiga tahun silam. Tak semua penumpang merasa didengar, tentu saja. Beragam respons mengemuka terhadap inovasi Cathay tersebut. Salah satu keluhan yang kerap muncul adalah absennya fully flat seat.
Dalam terjemahan sederhananya, Regional Business Class (RBC) adalah kelas bisnis yang tersedia di rute regional atau jarak pendek, dengan durasi terbang maksimum lima jam dari Hong Kong. Kursi ini dipasang bertahap di armada B777-200/300 mulai Januari 2013, disusul A330-300 pada kuartal keempat 2013. Sejak akhir 2014, RBC sudah bisa dinikmati di semua pesawat di rute regional.
Dibandingkan generasi sebelumnya, RBC menawarkan ruang kerja, standar kenyamanan, dan fitur yang lebih mumpuni. Dalam armada A330-300 yang saya naiki dari Jakarta ke Hong Kong, kursi ditata dalam formasi 2-2-2. Dibandingkan kursi lawas, lebar kursi ditambah satu inci, sementara jarak antarkursi dikatrol dua inci. Penumpang di tepi jendela masih harus permisi ke tetangga untuk menuju toilet, tapi setidaknya tak perlu melompati perutnya.
Batas sudut kemiringan sandaran kursi dinaikkan empat inci dari versi sebelumnya. Cukup menekan tombol, kemiringan bisa diatur hingga posisi maksimal “lazy-z.” Tak perlu cemas bakal menghadapi perangkat terlarang “knee defender,” sebab tiap kursi RBC ditempatkan dalam rangka statis. Artinya, saat sudut kemiringan ditambah, sandaran kursi sebenarnya bergerak merosot ke depan, bukan merebah ke belakang.
Lalu, kenapa tidak memakai flat bed? “Karena durasi terbang di rute regional cukup singkat, akan lebih baik memakai posisi lazy-z, sementara fully flat seat dipasang hanya di penerbangan jarak jauh,” ujar Sierin Hamelia, Assistant Manager Marketing & Loyalty Cathay Pacific Indonesia.
RBC juga mengalami peningkatan signifikan dalam aspek fitur. Monitornya lebih besar, sistem hiburannya diganti dari “broadcasting” menjadi “on-demand,” dan kompartemen barangnya lebih lega. Colokan USB, yang sebelumnya absen, kini telah tersedia untuk memutar film atau musik dari gajet pribadi. Baterai perangkat elektronik seperti laptop bisa diisi melalui stop kontak universal. Melihat semua spesifikasi tersebut, RBC sepertinya tidak didesain sebagai “hotel terbang,” melainkan ruang transit untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan menonton setidaknya satu film.
Pada akhirnya, penumpang tentu lebih mengharapkan servis yang memuaskan ketimbang pertarungan teknologi yang tak berkesudahan. Selama 4,5 jam di udara, saya menikmati pelayanan yang penuh perhatian. Kru melafalkan nama saya ketika menyapa atau menawarkan makanan. Mereka juga hadir dalam hitungan detik usai saya menekan tombol layanan.
Terlepas dari beragam kritik di sejumlah blog, Cathay sepertinya bergerak di jalur yang benar. Tahun lalu, berdasarkan survei global yang digelar oleh lembaga Skytrax, Cathay bertengger di peringkat kedua dalam daftar Best Business Class Airlines.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2015 (“Kantor Regional”)

