Kiri-kanan: Panorama kota Ambon dan Jembatan Merah Putih yang membentang sepanjang 1.140 meter di atas Teluk Dalam; Seorang ibu dan putrinya dengan warna pakaian senada bersiap memasuki katedral St. Fransiskus Xaverius.

Di Ambon yang terik, saya berputar-putar tak tentu arah. Amin, seorang penyanyi hip hop, membawa saya berkeliling. Kami berpindah dari satu angkot ke angkot lain, dari terminal ke plaza. Kami juga sempat melawat kompleks-kompleks perumahan yang dikawal tentara. Bahkan setelah konflik reda lebih dari 10 tahun silam, tentara masih berjaga dan siaga.

Di banyak tempat, saya mendengar orang-orang berkaraoke, menonton organ tunggal, memasang sound system dengan suara yang menggelegar, padahal tak ada hajatan. Orang Ambon memang tidak perlu alasan untuk bernyanyi. Ini juga barangkali yang membuat Ambon mengoleksi lebih banyak toko sound system ketimbang pabrik.

Amin kini membawa saya ke sebuah kompleks perumahan di pinggang Gunung Nona, Dataran Tinggi Ambon, di mana sejumlah pria tengah bernyanyi bergantian. Di dekat mereka, beberapa lelaki lain sibuk menghempaskan kartu. “Ini adalah tapal batas antara Muslim dan Kristiani. Ini adalah jurang yang memi- sahkan antara teman dan tetangga,” kata Munawir seraya menunjuk segaris jalan kecil. Dia terdengar kesal, entah kesal pada siapa. Saya dan Amin hanya membisu. “Tapi,” lanjut Munawir, “di meja judi dan panggung organ, jurang pemisah sedalam Laut Banda itu seng ada lai. Islam atau Kristen, bisa nyanyi, bisa judi jua. Hanya beta yang tidak bisa bernyanyi.”

Saya kembali menumpang angkot, kemudian menyusuri pelabuhan hingga malam datang. Malam yang tak pernah sepi. Di kafe-kafe, kopi dan lagu memberi alasan orang untuk terus terjaga. Rasa kopi di sini mungkin tidak sedahsyat kafe-kafe di Jakarta atau Bali. Namun kualitas rasanya berhasil dikompensasi oleh hiburan lagu-lagu yang mengalun.

Panorama Pantai Natsepa, objek wisata populer di Ambon.

Mendarat di jantung kota, saya mampir di Maples Cafe. Di sini, sebagaimana di Pension Cafe, kursi-kursi dikuasai kaum remaja. Saya mengambil satu kursi yang tersisa, memesan kopi, lalu menyimak penampilan sebuah grup.

And I found it there in your heart. It isn’t too hard to see. We’re in heaven.” Michael Pelu Pessy sedang melantunkan Heaven saat saya duduk di antara tamu kafe. Lagu ini kerap saya dengar di kafe-kafe di Jakarta, tapi Michael berhasil memberikan warna yang berbeda. Mungkin terdengar berlebihan, tapi menurut saya Michael harusnya meminta izin dari Bryan Adams untuk mengemas ulang Heaven.

“Jangan heran, jadi orang Ambon itu cuma ada dua pilihan untuk bertahan hidup: jadi preman atau penyanyi. Dua-duanya harus serius,” kata Dalenz Utra’k, seorang penyanyi reggae yang gemar berfilosofi. Sepanjang diskusi, saya tidak bisa membedakan kapan dia berbicara serius atau bergurau. Tentang dikotomi preman-penyanyi misalnya, dia punya hipotesis yang absurd: “Setiap preman yang berasal dari Ambon pintar bernyanyi, tapi tidak setiap penyanyi Ambon bisa jadi preman. Sekarang tidak masanya lagi Bob Tutupoly, Broery, aih, itu lagu padede [cengeng].”

Dalenz mengajak saya pindah ke kafe lain. Di Pasir Putih Cafe, dia membawakan nomor-nomor klasik Bob Marley hingga lagu karangannya sendiri. Usai dia turun dari panggung, seorang pengunjung kafe langsung merebut mikrofon. Kolonel Sahal Ma’ruf, seorang perwira Angkatan Darat, mengambil alih panggung. Sahal tidak lahir di Maluku, dan suaranya tentu tidak bisa dipadankan dengan Michael, Marioni, atau Dalenz. Tapi bukankah Monita Tahalea, Bayu Risa, dan Glenn Fredly juga tidak lahir di Ambon? Apakah tanah memengaruhi suara, Dalenz?

“Yang mendamaikan Maluku itu nyanyian. Orang Ambon tidak perlu belajar bernyanyi,” kata Dalenz. Saya bertanya lain, Dalenz menjawab lain. Tanpa diminta, dia bercerita tentang pengalamannya bernyanyi di Jakarta, juga tentang segala aliran musik yang hidup di Ambon, mulai dari hip hop, reggae, hingga Hawaiian. Usai mengulas grup Arnes Star yang manggung di setiap upacara Sidi di gereja, sang filsuf ini mengajukan satu hipotesis lain: di Ambon kita bisa menemukan banyak pemusik dan pengemis, tapi sukar menemukan pengamen. Betapa janggal.

Kiri-kanan: Seorang pria di Masjid Jami, salah satu rumah ibadah paling bersejarah di Ambon; umat katolik mengikuti perayaan Paskah di depan katedral St. Fransiskus Xaverius.

Di Indonesia atau di seberang benua, dulu atau kini, orang Ambon bernyanyi. Bagi mereka, bernyanyi laksana hobi yang melintasi ruang dan waktu. Saya teringat Wempi. Barangkali dia benar, Tuhan menganugerahkan musikalitas pada orang Ambon sejak lahir.

Saya sudah lelah bertanya bagaimana Ambon melahirkan begitu banyak penyanyi. Saya pernah melayangkan surel kepada Monita Tahalea dan Bayu Risa untuk mencari tahu kenapa begitu banyak penyanyi berdarah Ambon. Apakah kemampuan bernyanyi mereka adalah suratan takdir? Monita dan Bayu Risa tidak membalas surel saya. Barangkali pertanyaan saya hanya lelucon yang tidak perlu ditanggapi.

Rute
Bandara Pattimura di Ambon terkoneksi ke sejumlah kota, antara lain Jakarta, Makassar, Manado, Banda Naira, dan Sorong. Penerbangan ke sini dilayani antara lain oleh Batik air (batikair.com), Garuda Indonesia (garuda-indonesia.com), serta Sriwijaya air (sriwijayaair.co.id).

Penginapan
Ambon mengoleksi cukup banyak penginapan. Salah satu yang menarik dicoba adalah Swiss-Belhotel ambon (Jl. Benteng Kapaha 88; 0911/322-888; swiss-belhotel.com; mulai dari Rp760.000), hotel yang berlokasi di pusat kota, tak jauh dari taman Pattimura dan kedai-kedai kopi ternama. Swiss-Belhotel Ambon menaungi 111 kamar yang terbagi dalam enam tipe, ditambah fasilitas seperti restoran, bar, dan spa.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi September/Oktober 2017 (“Kota Gita”).