
Oleh Nina Hidayat
Foto oleh Ricko Fernando
Jauh sebelum Ridwan Kamil yang melek desain menjabat Wali Kota Bandung, kecintaan terhadap desain telah menjadi bagian integral dari kota ini. Di era penjajahan, seorang pedagang bernama Roth menjuluki Bandung “Parijs van Java,” sebuah label pemasaran yang terinspirasi koleksi bangunan art deco dan butik busana trendi di kota ini. Taktiknya berhasil. Label itu mengangkat pamor Bandung di mata meneer dan mevrouw.
Kemudian, usai Proklamasi, Bandung merekah jadi kutub ekonomi kreatif. Ibu Kota Jawa Barat ini giat mencetak seniman, arsitek, desainer, serta musisi. Di belantika musik misalnya, Bandung konsisten mencetak bintang, sejak era Nike Ardilla hingga Isyana Sarasvati. Sementara di ranah fesyen, Bandung merupakan kota pertama yang menumbuhkan industri distro di Indonesia. Pernah ada masa ketika kaus-kaus buatan studio Bandung diburu oleh remaja Jakarta.
Banyak bagian dari karakter itu berlanjut hingga kini. Tetapi, khusus bidang seni dan desain, perkembangannya terasa lebih mencolok dalam beberapa tahun terakhir. Setelah lama berada di bawah bayang-bayang Yogyakarta, skena seni Bandung mulai mencuri panggung. Para perupanya aktif menelurkan terobosan segar dalam wujud karya dan acara. Sementara di cabang desain, kota ini ditetapkan UNESCO sebagai anggota Jaringan Kota Kreatif di kategori desain. Apa pemicu perkembangan tersebut, dan seperti apa dampaknya bagi Bandung?

Setiap Selasa, Fajar Abadi bertamu ke Ruang Gerilya. Masuk ke dapur, seniman performatif ini memasak, lalu menghidangkan hasilnya kepada rekan-rekannya yang datang untuk berdiskusi soal seni. Mereka membahas proyek yang tengah digarap, karya yang dibuat, kadang soal harga karya yang terjual.
Ruang Gerilya, ruang alternatif yang dirintis pada 2011, beriktikad menyediakan wadah untuk bertukar pikiran, berbagi gagasan, serta menelurkan proyek kolaborasi di antara para seniman muda. Di sebuah kota seni, forum-forum cair semacam ini tentu sesuatu yang lumrah. Akan tetapi, bagi Bandung, Ruang Gerilya sebenarnya mengemban fungsi yang lebih vital. Di sinilah banyak artis mencari solusi bersama untuk bertahan hidup.
Menurut Zico Albaiquni, salah seorang pendiri Ruang Gerilya, jagat seni Bandung sedang terperosok ke level darurat “existential survival,” terjemahan bebasnya kira-kira “sekadar bertahan hidup.” Melalui diskusi dan kolaborasi yang difasilitasi Ruang Gerilya, dia berharap bisa menggeser status itu ke level awas “pragmatic survival,” artinya “upaya sintas yang mengutamakan manfaat.”
Teori Zico mungkin terdengar njlimet, tapi landasan berpikirnya bertolak dari kondisi riil. Bandung memang tengah berupaya memulihkan pamornya sebagai kutub seni. Sejenak menengok sejarah, kota ini pernah menikmati reputasi yang luhur. Pada paruh kedua abad ke-20, Bandung mencetuskan mazhabnya sendiri. Ahmad Sadali, Popo Iskandar, dan Srihadi Soedarsono, adalah beberapa pelopornya. Generasi penerus, misalnya Sunaryo dan Gregorius Sidharta, memberi napas baru pada aliran ini dengan memasukkan unsur spiritual dan bahan alami dalam karya.

Sayang, pada pertengahan 1980-an, gairah itu meredup. Seniman-seniman Bandung jarang berkarya ataupun berpartisipasi di ajang seni. Di masa vakum itu, Yogyakarta bersinar kian terang, bahkan mendominasi wacana seni nasional. Fenomena ini sempat dikaji oleh kurator Enin Supriyanto dalam catatan kritisnya, The Lost Generation. Menurut Enin, represi Orde Baru, antara lain lewat program NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan), merupakan salah satu penyebab melempemnya aktivitas berkesenian di Bandung.
Selepas kejatuhan Soeharto, angin perubahan mulai berembus. Pada akhir 1990-an, Bandung perlahan bangun dari tidurnya. Perupa jebolan Bandung seperti Jim Supangkat dan Priyanto Sunarto berkibar. Seiring itu, di banyak pameran dan festival, kota ini ajek menempatkan wakilnya. Dengan pamor yang menanjak, beberapa nama baru pun tertangkap radar global, salah satunya Ay Tjoe Christine. Lulus dari ITB (Institut Teknologi Bandung) pada 1997, dia rajin berpameran keliling di Asia. ARNDT, broker seni di Jerman, mendeskripsikannya sebagai “salah seorang perupa perempuan Indonesia yang paling ternama.”
Lepasnya cengkeraman Orde Baru berkontribusi besar bagi kebangkitan seni Bandung. Tentu saja, kondisi serupa dinikmati oleh kota-kota lain di Indonesia. Jika ada satu hal yang membedakan generasi baru Bandung, jawabannya adalah prosesnya. Mereka bukan semata bebas berkarya, tapi juga bebas menentukan cara berkarya.
Berbeda dari banyak koleganya di Jogja yang seperti terkurung pakem para senior, seniman Bandung merayakan keleluasaan lebih dalam mengeksplorasi gagasan artistik. Mereka ulet dan luwes mengolah ide segar, baik dalam aspek wacana maupun medium. Menurut Mulyana alias Mogus, artis Bandung yang bermukim di Jogja, otonomi dalam berkarya itulah yang menjadi kekuatan sebenarnya dari Bandung kini. “Mereka lebih fokus berkarya secara individual, dibandingkan seniman Jogja yang terkenal guyub,” jelasnya.

Tren positif itulah yang sekarang hendak dibawa ke babak baru oleh Ruang Gerilya. Zico sepakat tentang alasan kesuksesan aksi solo banyak seniman lokal, tapi dia juga melihat individualitas itu pada akhirnya akan terbentur banyak batasan, salah satunya sumber daya finansial. Maklum, banyak seniman muda Bandung bekerja paruh waktu lantaran tuntutan ekonomi. Guna mendobrak batasan, Zico percaya kolaborasi sebagai solusi pamungkasnya. “Sesudah boom seni rupa tahun 2007, ada kesadaran kolektif dalam diri seniman- seniman muda Bandung untuk bekerja sama agar semua bisa maju,” jelas Zico.
Dari kesadaran kolektif itu pula terbit LIPLAP: 35 Bandung Artists Under 35, buku garapan Ruang Gerilya dan Omni Space. Edisi perdananya memuat profil pekerja seni lintas disiplin, misalnya Duto Hardono dan Meicy Sitorus. Rencananya, buku ini akan diperbarui tiap tiga tahun sekali. Tujuannya mengarsip para seniman muda sekaligus memotivasi mereka agar terus berkarya. “Dengan begitu,” tambah Zico, “saya harap kami tidak akan lagi kehilangan satu generasi seniman.”
Ruang Gerilya tidak sendirian dalam menghidupkan skena seni Bandung. Pada 2010, Lawangwangi Creative Space meluncurkan Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA). Tahun lalu, ajang apresiasi ini menggelar jilid kelimanya. Dewan jurinya diisi kurator Agung Hujatnika dan kritikus Carla Bianpoen.

Inisiatif lain datang dari Pak Naryo, sapaan akrab maestro Sunaryo. Di Selasar Sunaryo Art Space, beliau mencetuskan Bandung New Emergence (BNE) untuk memetakan seniman generasi baru. Dalam hajatan bienial ini, mereka yang telah berkesenian minimum dua tahun diminta mengirimkan karyanya untuk kemudian dikurasi, dipamerkan, serta diulas oleh para senior. Setelah Bandung Biennale mati suri, BNE adalah kanal satu-satunya yang menyalurkan energi kreatif artis muda lokal.
Tak ketinggalan, Nyoman Nuarta turut memberi dukungan bagi bakat-bakat belia. Di NuArt Sculpture Park, pematung senior ini mendirikan fasilitas residensi dan sanggar tari. Joko Avianto adalah contoh figur sukses dalam asuhan Nyoman. Kini, melihat ekosistem seni Bandung kian kondusif, Nyoman berharap seniman tak lagi bekerja dengan pola menyambi. Bagi eksponen Gerakan Seni Rupa Baru ini, mereka harus berani bertaruh dengan memberikan totalitas energinya. “Kalau seniman takut miskin, ya sulit membuat karya yang berbobot,” ujarnya pedas.
Berjarak dari Mazhab Bandung, generasi kontemporer berhasil menyuguhkan eksperimen- eksperimen yang memberi warna baru pada dunia seni. Kini, dengan pasokan seniman yang kian berlimpah, Bandung pun mulai dilirik oleh kolektor dan pemilik galeri. ROH Projects, galeri partikelir di Jakarta, mewakili enam seniman yang seluruhnya alumnus ITB. Mei 2017, Rifky Effendy, Creative Director Art Jakarta, melansir Galeri Orbital Dago di dataran tinggi Dago. Terakhir, dalam bursa seni ArtJog 2017, lebih dari sepertiga seniman yang terlibat berdomisili di Bandung.

Pada 2015, Bandung menerima kabar gembira. Kota ini ditetapkan UNESCO sebagai anggota Jaringan Kota Kreatif di kategori desain. Ia merupakan wakil kedua Indonesia dalam liga elite ini setelah Pekalongan. Hingga 2017, jaringan ini berisi total 180 kota di 72 negara.
Jaringan Kota Kreatif dibentuk pada 2004 dengan tujuan menyediakan ruang bertukar ide dan berkolaborasi bagi kota-kota yang berjantungkan ekonomi kreatif. Kelahirannya tak lepas dari tren pergeseran penyebaran penduduk. Kini, 54 persen warga bumi adalah kaum urban. Ketimpangannya diprediksi makin melebar hingga 60 persen pada 2050.
Bagi Bandung, gelar kota kreatif mungkin sebuah keniscayaan. Sejarah telah menunjukkan betapa kreativitas mengalir deras dalam nadi kota ini. Setidaknya, 56 persen perekonomiannya ditopang oleh beragam kegiatan desain. Selain itu, Bandung memiliki sejumlah hajatan bertema industri kreatif, salah satunya Helarfest, ajang berusia 10 tahun yang diikuti berbagai komunitas seni dan desain.
Dalam konteks itu, pengakuan UNESCO memang terkesan hanya mengonfirmasi fakta lapangan, tapi bukan berarti tak berguna. Dengan masuk Jaringan Kota Kreatif, Bandung kini memiliki sebuah platform global untuk melembagakan potensi kreatifnya. Setahun usai masuk Jaringan Kota Kreatif, Bandung mempresentasikan cetak biru industri kreatifnya di konferensi tahunan UNESCO, lalu di World Urban Forum. Seiring itu, proyek kolaborasi dengan Kota Kreatif lain mulai digarap. Tahun lalu, Bandung menggelar festival film melalui kemitraan dengan kota Santos, Brasil.
Gelar Kota Kreatif Bandung lahir dari jalan yang panjang. Pada 2008, Bandung melansir Bandung Creative Community Forum (BCCF). Ridwan Kamil, yang waktu itu masih bekerja sebagai arsitek, menjabat ketua pertamanya. BCCF diniatkan sebagai simpul yang menghubungkan pemangku kepentingan dan komunitas kreatif. Lembaga ini pula yang kemudian melayangkan proposal ke UNESCO agar Bandung masuk Jaringan Kota Kreatif.

Proposal itu memang akhirnya tembus, tapi dengan sejumlah catatan. Oleh UNESCO, Bandung ditempatkan dalam kategori Kota Kreatif dalam “tahap berkembang.” Dibandingkan kota lain di kategori desain, sebut saja Budapest dan Nagoya, Bandung masih kalah kelas. Kota ini punya banyak pekerjaan mendasar untuk membenahi infrastruktur dan fasilitas publiknya. Jangankan bicara konsep smart city, taman-taman di Bandung bahkan baru dibenahi beberapa tahun belakangan.
Bagaimanapun, BCCF menyambut positif pengakuan dari UNESCO. Meski terkesan prematur, masuknya Bandung dalam jaringan global bisa menjadi katalis untuk mengebut pembangunan industri kreatif kota ini. “Kita bisa menunjukkan potensi kota kita terhadap pemerintah, dan memaksa pemerintah untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan kreatif,” ujar Dwinita Larasati, ketua baru BCCF.
Tapi modus “paksaan” itu tak selalu mulus dalam praktiknya. Beberapa program terkesan “asal jadi.” Lihat misalnya Bandung Design Biennale. Edisi debutnya pada 2017 digagas oleh Bandung Design Forum bersama Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Sayang, pergelaran berdurasi sepekan ini seperti menguap begitu saja. Gaungnya nyaris tak terdengar. Beberapa laman dari situs resmi acara ini bahkan hanya diisi teks dummy.

Payahnya Design Biennale itu mengecewakan banyak pihak, salah satunya studio desain Kyub. Bersama 11 studio lain, Kyub diminta membantu persiapan Design Biennale. Studio yang pernah menyabet Red Dot Award ini kebagian tugas merumuskan branding acara. Tapi, sampai acara digelar, konsep itu tak jelas nasibnya, begitu pula kompensasi finansial yang dijanjikan oleh panitia.
Ketidakjelasan serupa menghantui sebuah lembaga kreatif bentukan Pemkot. Pada 2015, Ridwan Kamil meluncurkan proyek Bandung Creative Hub (BCH). Infrastruktur yang kabarnya bernilai Rp40 miliar ini dilengkapi studio musik, bengkel kerja fesyen, serta ruang ekshibisi. Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, merancang BCH sebagai wadah bagi komunitas kreatif untuk “berproses.”
Kini, setelah dua tahun, justru BCH yang terlihat masih “berproses.” Bangunan ini sempat terbengkalai. Pemkot kemudian menggelar pesta peresmian BCH pada 28 Desember 2017 dengan harapan bisa merevitalisasinya, tapi panggang masih jauh dari api. Hingga Februari 2018, ruang kreatif ini masih kering kreativitas. Kegiatannya minim. Banyak stafnya malas-malasan. Ketika ada seorang tamu menanyakan izin pemakaian ruang musik, petugas cuma berkata “ruangan belum siap.”

Sebagai Kota Kreatif, Bandung memang diwajibkan menelurkan banyak program. Tapi mungkin karena niatnya semata memenuhi syarat kuota, eksekusinya kadang terlihat setengah hati. Penyebabnya mungkin bukan semata karena Bandung masih dalam “tahap berkembang,” tapi karena peran Pemkot yang kelewat dominan. Berbeda dari skena seni lokal yang berdenyut kencang berkat gerakan arus bawah, gebrakan Bandung dalam payung Kota Kreatif tampak terlalu bergantung pada keseriusan para pejabat di Balai Kota.
Kendati rapornya ternoda warna merah, mesti diakui era Kang Emil berhasil memberi banyak sumbangsih positif pada industri kreatif Bandung. Selain mendulang pengakuan UNESCO, Pemkot telah memetakan lebih dari 4.000 komunitas ekonomi kreatif dalam 13 kategori. Beberapa kebijakannya, seperti penghapusan izin usaha untuk UKM dengan kapital di bawah Rp500 juta, revolusioner.

Tahun depan, beban pengembangan industri kreatif sepertinya akan berpindah sepenuhnya ke pundak swasta. Bukan karena tuntutan idealisme, melainkan keterpaksaan. Kang Emil akan mengakhiri masa jabatannya pada 2018, sementara tak seorang pun calon penggantinya mengusung program ekonomi kreatif. Menyadari hal itu, BCCF pun mulai memasang kuda-kuda. “Kita mesti siap jadi counterpart pemerintah,” ujar Dwinita, “untuk memastikan Bandung maju, bukan mundur ke masa Orde Baru.”
PANDUAN
Rute
Jika tak ada aral melintang, Bandara Internasional Jawa Barat (bijb.co.id) di Majalengka akan mulai beroperasi di pertengahan 2018 untuk menggantikan Bandara Husein Sastranegara (huseinsastranegara-airport.co.id). Khusus jalur darat, Bandung bisa dijangkau dengan berkendara via Tol Cipularang, atau dengan menaiki kereta Argo Parahyangan (kai.id; tiket mulai dari Rp80.000).
Penginapan
Bagi pencinta desain dan sejarah, Bandung punya banyak hotel yang patut dicoba. Di jantung kota ada Hotel Bidakara Grand Savoy Homann (savoyhomann-hotel.com; mulai dari Rp780.000), penginapan bersejarah yang pernah menampung para delegasi Konferensi Asia Afrika. Fasad tuanya dipelihara, tapi kamarkamarnya tampil segar usai dipermak. Jika menyukai desain yang melebur harmonis dengan alam rindang Tanah Pasundan, salah satu opsi ideal adalah Padma Bandung (padmahotelbandung.com; mulai dari Rp1.550.000). Khusus penggemar desain kontemporer, Maja Group menaungi beberapa properti, di antaranya Stevie G (stevieghotelbandung.com; mulai dari Rp550. 000), serta Blackbird (majagroup.co.id; mulai dari Rp650.000).
Tur Seni
Di kawasan Bukit Pakar, Selasar Sunaryo Art Space (selasarsunaryo.com) menaungi antara lain perpustakaan, kafe, toko suvenir, serta amfiteater. Tahun ini, merayakan usia dua dekade, ruang seni ini akan menanggap banyak acara menarik. Kunjungi pula tetangganya, Wot Batu (wotbatu.id), untuk melihat karya-karya berbahan batu buatan maestro Sunaryo. Masih di area yang sama, ada Serambi Pirous (0852-2160-7732) milik seniman senior A.D Pirous; serta Orbital Dago (orbitaldago.com) yang dibuka pada 2017 oleh kurator Rifky Effendy. Ruang seni fotogenik NuArt Sculpture Park (nuartsculpturepark.com) menyuguhkan patungpatung yang bertaburan di lahan seluas tiga hektare, ditambah area khusus pementasan tari dan musik. Tak jauh darinya, Museum Barli (022/ 2011-898) mendokumentasikan karya-karya Barli Sasmitawinata dan menyediakan kelas menggambar khusus anak. Lawangwangi Creative Space (lawangwangi.com), galeri milik duet matematikawan Benny van Groesen dan Andonowati, memajang banyak karya seniman muda Bandung, termasuk para kontestan Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA). Bandung juga menampung galeri kampus tertua di Indonesia, Galeri Soemardja (@galeri_soemardja). Namanya diambil dari dosen seni legendaris Sjafe’i Soemardja.
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi April/Juni 2018 (“Bandung Bangun”).

