Alasan Baru Mengunjungi Belitung

Demam Laskar Pelangi memang sudah reda, tapi Belitung tak mau begitu saja dilupakan. Magnet-magnet wisata baru diciptakan agar turis sudi kembali.

Kisah Belitung tak bisa dilepaskan dari timah. Berkat timah, pulau ini memiliki status penting dalam perekonomian global di masa lalu. Berkat timah pula, Belitung berubah menjadi pulau yang multirasial. Dan akibat kejatuhan bisnis timah, kemiskinan mendera, kemudian melahirkan kisah haru yang direkam dalam Laskar Pelangi—novel yang memperkenalkan keindahan Belitung dan mengubah nasib pulau ini dalam semalam.

Kiri-kanan: Dermaga tempat kapal-kapal nelayan berlabuh; Kepiting segar yang bisa dibeli dari nelayan lokal.

Eksplorasi timah besar-besaran dimulai oleh Belanda pada abad ke-19. Lapangan kerja, yang saat itu kerap berarti kerja paksa, dibuka bagi warga lokal. Tapi karena populasi pulau terlalu minim, penjajah mendatangkan kuli-kuli terampil ras Tionghoa. Banyak dari mereka terus menetap setelah bisnis tambang tak lagi menjanjikan. Mereka beranak-pinak, berkeluarga, serta menjadi bagian integral dari perkembangan pulau. Belitung adalah satu dari sedikit tempat di Indonesia di mana warga Tionghoa aktif terlibat dalam politik.

Di sisi timur pulau, saya singgah di Bukit Ki’Kara, satu-satunya tambang di Belitung yang memakai konsep open-pit, yakni lubang tambang yang dilengkapi jalur transportasi yang melingkari dinding lubang. Tapi lubang mungkin kata yang kurang pas, sebab bentuknya lebih mirip kubangan raksasa, seperti kawah bekas serangan bom. Diameternya setara tiga lapangan sepak bola.

Bukit Ki’Kara merupakan tonggak penting dalam sejarah tambang dunia. Di sinilah pada 1851 perusahaan tambang Billiton memulai eksplorasinya. (Kini Billiton merupakan perusahaan tambang terbesar di dunia.) Seperti di Sawahlunto, bekas tambang bisa ditelusuri turis, walau atraksi ini belum dikemas sebagai objek wisata resmi. Kata warga, open-pit menyimpan sebuah terowongan bawah tanah yang terhubung dengan desa setempat. Tapi mereka juga mengingatkan, terowongan itu rapuh dan rentan ambruk.

Kita tahu, seperti juga Sawahlunto, Belitung telah beranjak dari bisnis tambang dan berpaling pada pariwisata. Kendati demikian, timah tidak pernah benar-benar dilupakan. Di sekitar Bukit Ki’Kara, beberapa warga tetap gigih mengais-ngais tanah demi mendapatkan sisa-sisa timah. Lubang-lubang baru bermunculan.

Laguna Kubing berlokasi di sisi selatan pulau dan menjadi objek wisata alternatif di Belitung selain pantai dan pulau.

“Dalamnya sekarang sudah lima meter. Kalau tidak dapat biasanya kami gali terus,” ujar salah seorang pekerja. “Beberapa bulan lalu dapat timah hingga ratusan gram.”

Dari sisi timur pulau, saya berbalik arah ke sisi barat dan menikmati pengalaman yang jarang dikenal publik di Belitung: ekowisata. Di kawasan Batu Mentas, Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB) mendirikan kawasan konservasi bagi satwa liar, seperti burung hantu, kancil, tupai, serta tarsius. Keanekaragaman fauna Batu Mentas juga mengagumkan.

Comments