Ini Alasan Mengapa Abu Vulkanik dapat Membatalkan Penerbangan.
Updates

Kenapa Abu Vulkanik dapat Membatalkan Penerbangan?

Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang belum lama ini mengalami erupsi sempat mengganggu penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah juga sempat menutup sementara operasional sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebagai langkah antisipasi demi menjaga keselamatan penerbangan.

Antrean penumpang yang mengular di bandara akibat penerbangan yang dibatalkan, penumpang yang gelisah menunggu jadwal penerbangan yang tak pasti namun juga khawatir akan keselamatan mereka karena abu vulkanik. Maskapai pun tak bisa berbuat apapun karena kondisi alam ini.

Apa yang membuat abu vulkanik begitu berbahaya bagi pesawat dan membuat batal penerbangan ? Bukankah material tersebut pada dasarnya hanya menyerupai debu?

Baca Juga: Daftar 42 Negara Bebas Visa untuk WNI 2026

Abu vulkanik berpotensi mengganggu jarak pandang hingga kerusakan mesin pesawat.
Abu vulkanik berpotensi mengganggu jarak pandang hingga kerusakan mesin pesawat. (Foto: Magda Ehlers/Pexels).

 Menurut United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik dapat menjadi ancaman serius bagi penerbangan, bahkan ketika pesawat berada jauh dari lokasi gunung api yang mengalami erupsi.

Bagaimana Abu Vulkanik Mengganggu Penerbangan?

Abu vulkanik sendiri bukanlah debu biasa. Material ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik berukuran sangat kecil yang terlontar ke atmosfer saat terjadi erupsi. Partikel-partikel tersebut bersifat abrasif dan dapat terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari sumber erupsi.

Karena itu, ketika jalur penerbangan berpotensi melintasi awan abu vulkanik, maskapai dan otoritas penerbangan dapat memutuskan untuk mengalihkan rute atau menghentikan sementara penerbangan hingga kondisi dinyatakan aman.

Salah satu risiko utama adalah terganggunya jarak pandang pilot. Partikel abu yang sangat halus dapat membentuk kabut pekat di udara, sementara endapan abu dapat menempel pada kaca kokpit dan mengurangi efektivitas lampu pesawat.

Baca Juga: 6 Pengalaman Kuliner Musim Panas yang Wajib Dicoba di Turki

Mesin Pesawat Paling Riskan

Namun, ancaman terbesar berada pada mesin pesawat. Abu vulkanik yang masuk ke dalam mesin dapat terpapar suhu sangat tinggi hingga meleleh dan kemudian menempel pada bagian-bagian turbin. Endapan tersebut berpotensi menghambat aliran udara di dalam mesin dan, dalam kondisi tertentu, menyebabkan gangguan serius hingga hilangnya tenaga mesin.

Selain itu, sifat abrasif abu vulkanik dapat mengikis berbagai komponen mesin dan menurunkan performanya. Paparan dalam jumlah besar juga berpotensi mempercepat kerusakan serta memperpendek usia pakai komponen pesawat.

Partikel abu juga dapat masuk dan mencemari sejumlah sistem penting, termasuk sistem ventilasi, hidrolik, dan sistem pengukur data udara. Dalam beberapa kasus, abu bahkan dapat menyumbat probe pitot-static, perangkat yang membantu pesawat mengukur kecepatan dan ketinggian.

Tantangannya, partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil sehingga tidak selalu dapat terdeteksi oleh radar cuaca pesawat maupun radar pengawas lalu lintas udara. Awan abu juga tidak selalu mudah dibedakan dari awan biasa.

Inilah alasan mengapa pemantauan melalui satelit, observasi aktivitas gunung api, laporan kondisi atmosfer, serta koordinasi antara otoritas penerbangan menjadi sangat penting. Ketika keberadaan abu vulkanik terdeteksi di jalur penerbangan, pesawat harus menghindari wilayah tersebut karena risiko yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada sekadar gangguan berupa “debu” di udara. (chs)