Atmosfer hening restoran Wisata Bahari di Manado. (Foto: Vera Aurima/Unsplash)

Bisnis liburan butuh bantuan. Pandemi sudah bergulir sekitar enam bulan, dan tak banyak pelaku yang sanggup bertahan tanpa pemasukan selama itu. Setidaknya hingga vaksin disebarkan, 13 juta tenaga kerja pariwisata di Indonesia mesti menjalani hari dalam deprivasi.

Untungnya, tapi tak semua pihak berpangku tangan. Sejumlah perusahaan, organisasi, dan individu menanggap inisiatif demi menolong para pelaku pariwisata. Mereka menjaring donasi, menawarkan tenaga, menguji solidaritas di tengah wabah.

Tak semua sukses memang. Beberapa program urun dana gagal mencapai target—sebuah bukti niat mulia saja tak cukup untuk menggerakkan publik. Di sisi lain, ada kampanye yang mencurigakan. Profil penyelenggara tidak tertera, begitu pula info para penerima bantuan.

Berikut beberapa inisiatif yang sudah atau masih bergulir di Indonesia:

1. The Lodge Group
Demi membantu para pemandu, The Lodge Group mengumpulkan sumbangan lewat prakarsa Apple Tart for Hope. Operator penginapan dan restoran ini menjajakan apple tart dengan harga Rp45.000-150.000 per loyang, di mana seluruh keuntungannya diberikan kepada para pramuwisata di daerah Bandung dan sekitarnya. Seluruh apple tart diklaim dibuat memakai resep keluarga sang CEO Heni Smith, sementara penjualannya dipusatkan di Herbal House by The Lodge.

2. Gung Arya & Dewi
Beralih ke bisnis daring adalah siasat populer di tengah pandemi. Tapi usaha ini tetaplah membutuhkan modal, termasuk untuk memproduksi aset visual. Kebutuhan inilah yang coba ditambal oleh fotografer I Gusti Ngurah Agung Arya bersama istrinya, Widiyanti Ristadewi. Lewat inisiatif Difotoin Yuk, keduanya menawarkan jasa foto produk secara gratis bagi pemilik usaha daring di Bali. Tawaran ini tidak berlaku untuk hotel, restoran, dan kafe.

3. Trinity
Tersohor lewat tulisan seputar pengalaman wisata, Trinity tergerak menolong orang-orang di lokasi wisata. Pada 23 Mei, penulis seri laris The Naked Traveler ini meluncurkan kampanye urun dana Trinity Berbagi. Inisiatif ini berhasil menjaring dana Rp11.480.284, yang kemudian dipakai membeli sembako bagi 70 warga di daerah wisata Sumatera Barat.

4. Tiket.com  
Tiket.com memberikan bonus poin untuk tiap transaksi. Selama pandemi, platform reservasi ini mengajak konsumen mengonversi poin itu menjadi donasi bernilai Rp10.000-500.000. Program ini sudah dua kali digelar: April dan Mei. Pada masing-masingnya, Tiket.com menyalurkan 1.000 paket sembako kepada pekerja harian di sektor pariwisata, termasuk porter stasiun, tukang becak, serta pemandu.

Sebuah warung makan di Ubud ditutup akibat wabah. (Foto: Eduardus Pradipto/Unsplash)

5. David Biner
Menyandarkan hidupnya di Bali, David Biner kini mengulurkan tangan untuk membantu warga Bali. Peselancar merangkap fotografer ini menjala dana untuk dibelikan sembako lewat kampanye The People Must Makan. Menurut info terakhir, David sukses mengumpulkan $30.000 dari kantong 450 donor. Sembako telah disalurkan antara lain ke daerah Medewi, Karangasem, Tabanan, serta Denpasar.

6. Building Culture Movement
Bersama Hype Festival, BCM menjaring dana lewat konser musik elektronik daring Good Vibrations pada 5-7 Juni dan 12-14 Juni. Total ada 27 DJ yang tampil, termasuk Dipha Barus, Blinders, dan Irene Agustine. Donasi dikumpulkan lewat platform Kita Bisa. Dana tahap pertama sebesar Rp19.713.733 sudah disalurkan kepada 50 pelaku industri pariwisata dan impresariat di Jabodetabek, Bali, dan Bandung.

7. Esta Dana Ventura
Satwa turut menjadi korban pandemi. Di banyak kebun binatang, susutnya pengunjung memengaruhi jatah makanan bagi hewan. Problem inilah yang coba dijawab oleh perusahaan pembiayaan Esta Dana Ventura lewat penggalangan dana di platform Benih Baik. Per 29 Juli, dari target Rp500 juta, terkumpul dana Rp17.270.830. Bantuan akan disalurkan antara lain ke Taman Satwa Bumi Kedaton, Bontomarannu Education Park, serta Kebun Binatang Surabaya.  

8. Icon Travel Services
Di awal Agustus, biro perjalanan yang beralamat di Tangerang ini menggelar tur virtual ke enam destinasi, termasuk Rusia, Yunani, dan Kanada. Biayanya Rp75.000 per destinasi. Di poster promosinya tertulis “sebagian dana akan disumbangkan kepada pelaku pariwisata Indonesia.”