48 Jam di Penang

Berobat, wisata kuliner, dan berburu durian masih menjadi aktivitas terpopuler di Penang. Tapi jika Anda jeli mencari, negara bagian ini sebenarnya punya banyak tawaran lain yang menarik, mulai dari sarang hipster hingga situs sejarah.

Chew Jetty, kampung terbesar dengan infrastruktur pariwisata paling mumpuni di Penang.

Teks & foto oleh Yusni Aziz

SABTU

09:00 Clan Jetties
Warga ras Cina, yang mewakili sekitar 40 persen populasi Penang, hidup menyebar di negara bagian ini. Tapi ada satu permukiman bersejarah yang masih melestarikan gaya hidup mereka tempo dulu—Clan Jetties (Pengkalan Weld, George Town). Di permukiman terapung ini, setiap gugusan umumnya ditinggali puluhan keluarga dengan marga yang sama. Jika Anda tipe yang sudi bangun pagi demi momen yang tak terlupakan, kunjungi dermaga Tan Jetty untuk melihat indahnya matahari terbit. Jika gemar berbelanja, kampung Chew Jetty dihuni banyak toko.

Seorang pengunjung tampak sedang berpose di ruang santai lantai dua Pinang Peranakan Mansion.

11:00 Pinang Peranakan Mansion
Panel kayunya dilapisi motif Cina, teralinya dihiasi ukiran bergaya Skotlandia, sementara keramiknya khas Inggris. Desain eklektik Pinang Peranakan Mansion (pinangperanakanmansion.com.my) membuktikan betapa keragaman budaya telah menjadi karakter Penang sejak abad ke-19. Sempat mangkrak akibat pewarisnya tak sanggup merawat, rumah megah ini dibeli oleh arsitek Peter Soon yang kemudian membukanya sebagai museum pada 2004. Di dalamnya tersimpan lebih dari 1.000 barang antik Peranakan. 

Aneka masakan India-Melayu disajikan di Restoran Hameediyah.

13:00 Hameediyah
Bermula dari mengandar (memikul) dua keranjang nasi di bawah pohon angsana pada 1907, Mohamed Thamby, seorang imigran India, berhasil membesarkan usahanya menjadi restoran nasi kandar tertua, barangkali juga tersukses, di Penang. Konsep penyajian Hameediyah (Lebuh Campbell 164, George Town) mirip warung Padang: pengunjung memilih langsung lauk yang terhidang di meja. Bedanya, di sini tamu bisa memilih opsi nasi biryani.  

Taman Buddha dan Lima Biksu di kompleks Kuil Kek Lok Si.

15:00 Kek Lok Si
Buddha adalah agama dengan penganut terbanyak kedua di Malaysia, dan rumah ibadahnya yang terbesar berlokasi di Penang. Di lahan 12 hektare di kaki bukit Air Itam, Kek Lok Si (Tingkat Lembah Ria 1) menampung patung tembaga Kwan Im, serta Pagoda Rama VI yang berdesain eklektik—kombinasi antara bentuk dasar oktagon khas Cina, bagian tengah bergaya Thailand, serta mahkota khas Burma. Momen paling magis untuk berziarah ke sini ialah Tahun Baru Cina, ketika kompleks kuil berpendar di waktu malam berkat kehadiran ribuan lampion dan instalasi cahaya.

Lampion warna-warni menghiasi langit-langit Restoran Tai Tong untuk memperingati Festival Hantu Lapar.

18:30 Tai Tong
Ini tipikal restoran keluarga oriental yang ditaburi kursi plastik, dilapisi ubin dari lantai hingga dindingnya, serta didinginkan kipas angin yang melekat di tiap pilarnya. Selama lebih dari separuh abad Tai Tong (Lebuh Cintra 45, George Town) setia menjajakan dim sum. Selain memesan ke pramusaji, tamu bisa mencomot dim sum hangat dari troli yang didorong oleh staf wanita paruh baya. Satu yang perlu diingat, restoran ini rehat sejenak dari pukul 14:30 hingga 18:15 setiap harinya.

Suasana Love Lane yang cukup ramai menjelang malam hari.

21:00 Love Lane  
Walau belum ada kesepakatan di kalangan sejarawan, julukan Love Lane (George Town) konon terinspirasi dari kehadiran banyak rumah bordil di jalan ini pada masa lalu. Kehidupan malamnya masih meriah, tapi tawarannya sudah berbeda. Untuk memulai tur nokturnal, kunjungi Micke’s Place (Love Lane 94) yang kerap menanggap live music. Berjalan sekitar 10 menit ke utara, ada Upper Penang Road yang dihuni kelab-kelab malam yang lebih premium, salah satunya Three Sixty Revolving Restaurant & Sky Bar (360rooftop.com.my), wadah ideal untuk menyeruput koktail seraya menatap lanskap George Town. 

Comments