Myranda Fae
23 Desember 2025
Saya datang ke Kuala Lumpur tanpa ambisi menaklukkan semuanya. Hanya 48 jam, waktu yang singkat untuk sebuah kota dengan begitu banyak lapisan. Alih-alih mengejar daftar panjang destinasi, saya memilih menyusuri pasar tua, tempat ibadah, hingga ruang kreatif yang tengah digandrungi anak muda.
Kuala Lumpur memang menarik saat ‘dibaca’ pelan-pelan. Kota ini menyimpan cerita tentang perubahan, keberagaman, dan cara sebuah kota merawat identitasnya.
Perjalanan selama 48 jam membawa saya ke titik-titik yang, bagi saya, merepresentasikan wajah Kuala Lumpur hari ini.
Hari pertama: Jelajah kearifan lokal dan kuliner Asia

Central Market Kuala Lumpur
Langkah pertama saya dimulai di Central Market, tak jauh dari Sungai Klang—tempat Kuala Lumpur bertumbuh sebagai kota dagang. Dibangun pada 1888 sebagai pasar basah, bangunan bergaya Art Deco yang berdiri saat ini berasal dari era 1930-an, sebelum akhirnya direvitalisasi sebagai pusat seni dan budaya.
Berjalan di lorong-lorongnya, saya melihat bagaimana sejarah kota dirangkum dalam bentuk yang lebih mudah diakses: batik, songket, kerajinan tangan, hingga galeri kecil berisi barang antik atau kerajinan peranakan. Central Market terasa seperti pengantar untuk mengenalkan Kuala Lumpur sebagai kota yang lahir dari pertemuan budaya dan perdagangan.
Kulineran di Jalan Alor
Malam hari membawa saya ke Jalan Alor, kawasan yang selalu aktif di malam hari. Di sepanjang ruas jalan ini, deretan kedai dan tenda makanan menyajikan spektrum kuliner yang mencerminkan keberagaman Kuala Lumpur itu sendiri.
Kuliner yang ditawarkan beragam: mulai dari char kway teow yang dimasak cepat di atas api besar, sate daging berukuran dua setengah jengkal, hingga seafood segar seperti kepiting, udang, dan kerang, yang dijajakan di atas gerobak sebelum dimasak sesuai pesanan. Pengaruh Chinese terasa kuat melalui hidangan seperti Hokkien mee, wantan mee, dan aneka claypot rice, sementara masakan Melayu dan Thai hadir lewat nasi goreng berbumbu kuat, tom yum, dan grilled fish berbalut rempah.
Di sela-sela hidangan berat, jajanan ringan juga tak kalah menggoda: chicken wings panggang, lok-lok, hingga pencuci mulut seperti ais kacang dan buah tropis segar. Aroma asap, suara wajan yang beradu dengan api, dan pelayan yang saling bersautan membuat suasana di Alor semakin hidup.
Grand Mercure Kuala Lumpur
Setelah seharian menyerap hiruk-pikuk kota, saya kembali ke Grand Mercure Kuala Lumpur. Hotel ini baru dibuka pada November 2025, menghadirkan suasana yang kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Interiornya modern dan tenang, memberi ruang untuk beristirahat dan isi energi sebelum lanjut berpetualang di esok hari.
Hari kedua: wisata spiritual dan jelajah spot kekinian

Batu Caves
Pagi berikutnya, saya menuju Batu Caves. 272 anak tangga membawa saya ke dalam kompleks gua kapur raksasa yang menjadi situs ibadah penting bagi umat Hindu. Suasana di sini hidup. Peziarah menjalankan ritual, monyet berkeliaran, dan suara langkah bergema di antara dinding batu.
Di dalam gua, cahaya matahari pagi menembus celah-celah, menyinari stalaktit dan menciptakan sisiran cahaya alami yang memukau. Sesekali air gua menetes, menandakan kondisinya yang masih sangat alami.
Berdiri di bawah formasi batu yang terbentuk selama jutaan tahun, saya merasakan skala waktu yang jauh melampaui perjalanan singkat saya di kota ini.

Thean Hou Temple
Perjalanan spiritual berlanjut ke Thean Hou Temple, kuil Buddha-Tao yang dibangun pada tahun 1980 hingga 1987-an oleh komunitas Hainan. Kuil dengan arsitektur khas Tiongkok ini memiliki enam tingkat untuk Dewi Laut Mazu. Di tingkat paling atas terdapat beberapa pagoda indah, kemudian lampion kecil digantung berbaris. Tempat ini digunakan oleh para umat Tionghoa Hainan untuk berdoa namun wisatawan dapat berkunjung dengan berpakaian sopan.
Kuil ini terasa hidup, bukan sebagai monumen yang beku, melainkan ruang spiritual yang menjadi bagian dari keseharian kota.
REXKL
Dari ruang spiritual, saya beralih ke denyut kreatif kota di REXKL. Bangunan yang dulunya dikenal sebagai Rex Cinema atau Rex Theatre ini kini dihidupkan kembali sebagai pusat seni dan budaya urban. Fasadnya yang ikonis tidak direvitalisasi, sementara interiornya dipugar dengan sentuhan kontemporer untuk menyesuaikan dengan konsep fungsi bangunan yang diperuntukkan bagi para komunitas kreatif. Banyak tenan kreatif dan kuliner menempati tiap kios dalam bangunan.
Di lantai enam terdapat BookXcess Signature Store, toko buku yang menempati bekas ruang bioskop. Rak-raknya disusun bak perpustakaan Hogwarts, berada di bawah pencahayaan temaram dengan latar suara khas film-film lawas. Seorang warga lokal berujar kepada saya, “Sekarang tempat ini lebih sering dijadikan lokasi berfoto karena rak-raknya yang Instagramable, ketimbang untuk membaca atau membeli buku.” Pengalaman itu menjadi refleksi menarik tentang bagaimana ruang budaya hari ini dimaknai ulang oleh generasi muda.

Gmbb Building
Perjalanan saya di Kuala Lumpur ditutup di GMBB Building, sebuah ruang kreatif yang kini menjadi mercusuar seni kontemporer di jantung kota. Gagasannya dirintis sejak sekitar 2018, ketika para pendirinya membayangkan sebuah tempat di mana kreatif lokal bisa tumbuh, bereksperimen, dan saling berkolaborasi. Setelah melalui proses panjang, GMBB akhirnya dibuka secara resmi sebagai Creative Community Mall pada pertengahan 2024.
Bangunan sembilan lantai ini jelas berbeda dari pusat perbelanjaan pada umumnya. Di dalamnya terdapat galeri seni, studio seniman, toko buku independen, ruang kerajinan tangan, hingga area aktivitas kreatif. Bahkan, tenant kulinernya pun dirancang dengan pendekatan visual yang selaras dengan identitas produk masing-masing.
GMBB juga hidup lewat programnya: workshop seni, talkshow kreatif, pertunjukan lintas disiplin, pemutaran film independen, pameran bergilir, hingga bazaar komunitas yang membuat setiap kunjungan terasa selalu baru.
Dari segi harga, karya seni di GMBB hadir dengan rentang yang cukup luas. Karya kecil seperti cetakan ilustrasi, keramik, atau suvenir kreatif umumnya dibanderol mulai RM50 hingga RM150. Sementara lukisan orisinal, karya instalasi, atau desain edisi terbatas dapat mencapai RM2.000 hingga RM10.000 atau lebih—bergantung pada medium, nama seniman, dan cerita di baliknya. Saya pun akhirnya membawa pulang beberapa karya artisan ke Jakarta, sebagai penanda kecil dari perjalanan ini.
Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang
Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang adalah hotel bintang 5 yang baru saja diresmikan oleh grup Accor pada 1 Oktober 2025, sekaligus menandai debut merek Grand Mercure di Malaysia. Berlokasi strategis di Jalan Pudu, hotel hasil transformasi total dari Swiss-Garden Hotel Bukit Bintang ini menawarkan 325 kamar modern yang dilengkapi Smart TV 40 inci dan rainfall shower.
Sebagai akomodasi kelas atas, hotel ini menyediakan fasilitas lengkap seperti Grand Mahkota Ballroom yang mampu menampung 300 tamu, sembilan ruang pertemuan, pusat kebugaran, serta kolam renang outdoor. Lokasinya yang strategis memungkinkan tamu menjangkau destinasi ikonik seperti Jalan Alor, Pavillion KL, dan Chinatown hanya dengan berjalan kaki singkat.
117, Jln Pudu, Bukit Bintang, 55100 Kuala Lumpur, Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur, Malaysia
Telepon: +60 3-2141 3333
Website: all.accor.com



