Kiri-kanan: Rangkaian bunga joba phool (kembang sepatu) di pasar bunga Mallik Ghat; seorang pria membawa rangkaian bunga berwarna kuning.

Teks & foto oleh Fransisca Angela

SABTU

07:00 Mallik Ghat Flower Market
Hiruk pikuknya nonstop, aroma bunga menyengat, dan mata dimanjakan oleh warna-warna kembang marigold. Mallik Ghat (Strand Bank Road 1), salah satu pasar bunga termegah di Asia, memang memberikan pengalaman indrawi yang memukau. Tempat ini terbentang di kaki Jembatan Howrah, persis di tepian Sungai Hooghly. Di sinilah banyak warga berbelanja bunga untuk keperluan persembahan dan ritual. Mallik Ghat beroperasi sejak pagi hingga malam. Untuk suasana yang lebih lengang, datanglah sore hari.

Kedai historis Indian Coffee House di College Street.

09:00 Indian Coffee House
Konsep adda (kongko) warga Bengali diterjemahkan harfiah di sini. Cukup merogoh 18 rupee (Rp3.600) untuk secangkir kopi, tamu duduk berjam-jam sambil berdiskusi. Tapi Indian Coffee House (Bankim Chatterjee Street) bukan sekadar kedai. Gedung yang dihuninya punya tempat khusus dalam sejarah sebagai wadah rapat para pejuang kemerdekaan, penulis, juga kaum revolusioner. Beberapa benda peninggalan era kolonial masih tersimpan di interiornya. Sebelum pulang, kunjungi toko buku Chuckervertty Chatterjee di lantai tiga.

Memotret bangunan Victoria Memorial Park, kompleks megah berisi lebih dari 20 galeri.

11:00 Victoria Memorial
Berbahan marmer Makrana putih dan didirikan untuk mengenang seorang permaisuri, tak heran jika Victoria Memorial (victoriamemorialcal.org) kerap dibandingkan dengan Taj Mahal di Agra. Satu perbedaan yang menonjol, monumen megah ini dihuni lebih dari 20 galeri tematik yang menampung antara lain lukisan, patung, senjata, hingga karya sastra karangan William Shakespeare dan Omar Khayyam. Semuanya bisa dinikmati dengan membayar 500 rupee (Rp100.000).  

Interior 6 Ballygunge Place, restoran yang menyajikan masakan Bengali autentik dan menghuni rumah warisan keluarga Zamindar.

14:00 6 Ballygunge Place
Restoran ini menghuni rumah warisan keluarga Zamindar, julukan bagi penguasa di masa lampau. 6 Ballygunge Place (Dr Amiya Bose Sarani Rd 6, Ballygunge) menyuguhkan masakan Bengali yang dimasak dengan metode autentik seperti para ibu di rumah. Menu khasnya antara lain daab chingri, chingri chiney kebab, dan kosha mangsho. Seraya bersantap, mata akan dimanjakan oleh lukisan patachitra dan karya seni Madhubani khas Bengali. Jika ingin bercengkerama dengan warga, datanglah pukul tiga sore, waktu yang lumrah bagi mereka untuk makan siang.

Beberapa pengunjung tampak sedang menikmati koleksi seni yang ada di Academy of Fine Arts.

17:00 Academy of Fine Arts
Suguhan utamanya: kombinasi antara seni kontemporer dan pertunjukan khas Bengali. Academy of Fine Arts (academyoffinearts.in) menampung empat galeri dan sebuah auditorium. Tiap galerinya memajang antara lain lukisan, instalasi, serta foto. Jika ingin menyaksikan pertunjukan, tiket bisa dibeli di loket. Pulang dari sini, kunjungi kompleks budaya Rabindra Sadan yang terletak persis di sebelah. Sore hari ialah waktu yang populer bagi anak muda lokal berkumpul di sini.

Penjual makanan yang sibuk melayani pembeli di Tiretti Bazaar.

MINGGU
07:00 Tiretti Bazaar
Selain di Mumbai, pecinan di India bisa ditemukan di Kolkata. Salah satu areanya dijuluki Old Chinatown. Dulu, tempat ini dipenuhi imigran yang mengelola bisnis farmasi, sepatu, hingga restoran. Akibat gelombang eksodus, Old Chinatown berangsur lengang, hingga akhirnya diubah menjadi pasar tradisional. Tiap akhir pekan, tempat ini populer untuk menikmati sarapan aneka makanan khas pecinan seperti momo, char siew bao, dan siew may. Tiretti Bazaar (Tiretti) sekaligus menjadi saksi pengaruh budaya Tiongkok dalam skena kuliner India.

Oxford Bookstore punya koleksi buku paling lengkap di Kolkata.

09:00 Oxford Bookstore
Lokasinya di Park Street, salah satu kawasan elite yang digandrungi turis. Oxford Bookstore (oxfordbookstore.com) memiliki koleksi buku yang paling lengkap dibandingkan toko buku lain di Kolkata. Alasan lain dari popularitas tempat ini ialah kesigapan para stafnya dalam membantu melacak buku. Jika ingin membaca seraya bersantai, kunjungi kafe di lantai dua yang menjajakan chai dan camilan. Zona pernak-pernik di pojok kiri toko juga patut dilirik untuk berburu oleh-oleh.

Sienna Store & Cafe, salah satu tempat hipster di Kolkata.

12:00 Sienna Store & Cafe
Salah satu tempat hipster di Kolkata, Sienna (49, 1, Hindustan Park) adalah concept store yang dipadukan dengan kafe di kompleks asri Hindustan Park. Dagangannya beragam, mulai dari pakaian, keramik, hingga buku dan zine. Mayoritas kriya di sini dihasilkan dari kolaborasi antara Sienna dan perajin lokal. Pemiliknya, Sulagna Ghosh, memiliki misi memperkenalkan desain kontemporer kepada para perajin tradisional.  

The Lighthouse, kafe favorit fotografer.

14:00 The Lighthouse
Biji kopinya dipetik dari perkebunan bersejarah Thogarihankal di Baba Budangiri, titik awal industri kopi India. Sementara menu andalannya adalah mushroom calzone dan beetroot salad. Tapi The Lighthouse (lighthousecalcutta.com) bukanlah sekadar wadah bersantap dan bersantai. Tempat ini jugalah sebuah episentrum bagi penggiat fotografi. Pemiliknya, Rahul Dhankani, alumni Danish School of Media & Journalism, giat menghubungkan fotografer India dan asing untuk berbagi ilmu dan berkolaborasi. Beberapa mantan mentor tamunya ialah Pieter Ten Hoopen, Michael Ackerman, dan Katrin Koenning.

Seorang serimala bekerja di sanggarnya di Kumortuli, sentra pembuatan patung.

17:00 Kumortuli
Tiap Oktober, Kolkata menggelar festival akbar Durga Puja untuk memperingati dewi Hindu yang melambangkan sosok ibu. Segala patung dan pernak-pernik pergelaran itu dibuat di Kumortuli. Sepanjang gang, kita bisa menyaksikan para perajin membuat patung berbahan tanah liat. Berjalan hingga ujung gang, kita akan menemukan Kumortuli Ghat, sudut melankolis untuk menyaksikan matahari terbenam. Di antara penelusuran itu, jangan lupa singgah di warung chai.