4 Program Menarik Komunitas Foto di Indonesia

Empat komunitas foto yang menawarkan program khas lokal, ruang berbagi cerita, juga peluang kolaborasi.

Oleh Cristian Rahadiansyah

Kelompok Logawa di Banyumas kerap menggelar pameran di ruang terbuka.

Kelompok Logawa, Banyumas
Ibarat photo-slamming, Kelompok Logawa menggelar pameran yang “menginvasi” ruang terbuka, mulai dari pasar hingga lahan sengketa. Dalam program annual bertajuk Logawa Bergerak ini, mereka mengeksplorasi isu sosial sekaligus mengundang warga memaknainya. “Makhluk sosial berhak menyuarakan pandangannya,” jelas Abdul Aziz Rasjid, Penyelia Program. Kelompok Logawa dididirikan pada 2015. Markasnya di Desa Kedungrandu, sekitar 300 meter dari Sungai Logawa. @kelompok_logawa.

Pengunjung tampak menikmati pameran yang digelar komunitas Performa di Makassar.

Performa, Makassar
“Organisasi dengan rasa komunitas,” begitu Junaidi Sudirman, Ketua, merangkum karakter Performa (Perkumpulan Fotografer Makassar). Organisasi ini beranggotakan sekitar 100 orang dari beragam latar, termasuk amtenar dan mahasiswa. Didirikan pada 2006, Performa sejak 2011 berafiliasi ke Federasi Perhimpunan Foto Seni Indonesia. Salah satu karya agungnya ialah buku 1357 KM Tour of Photography: South Sulawesi in 17 Photographer’s Eyes yang terbit pada 2009. @performa.makassar.

Komunitas Walkingalam Malang kadang juga mengadakan workshop singkat.

Walkingalam, Malang
Awalnya menampung karya fotografer Malang yang tersebar di jagat maya, Walkingalam berkembang jadi komunitas yang aktif menanggap kegiatan.  Kelompok ini juga ingin menjadi semacam gudang memori bagi kotanya. Melalui proyek pengarsipan, mereka telah mengumpulkan 400-an foto Malang. “Kami meletakkan fotografi dokumenter sebagai fondasi. Street photography ada sebagai salah satu upaya untuk mendokumentasikan kota,” jelas Donny Hary, pendiri Walkingalam. walkingalam.com.

Skolmus di Kupang juga menawarkan pelatihan hingga dokumentasi sosial.

Skolmus, Kupang
Dalam peta komunitas foto, SkolMus adalah spesies unik. Bertekad mandiri, komunitas yang dulu bernama Sekolah Musa (Sekolah Multimedia untuk Semua) ini bertransformasi jadi “wirausaha sosial.” Mereka menawarkan pelatihan, dokumentasi sosial, juga mencetak pengusaha multimedia. “SkolMus tidak berada di bawah naungan Lembaga tertentu dan mendapatkan dana secara konsisten,” jelas Tata Yunita, Communications Officer, tentang alasan perubahan komunitasnya. sekolahmusa.org.

Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Juli/September 2019 (“Poros Lokal”).

Tags : listsMagazine
Comments