Ruang pamer di Selasar Sunaryo. (Foto: Ricko Fernando)

Bandung punya reputasi yang disegani sebagai kutub seni nasional. Pada paruh kedua abad ke-20, kota ini mencetuskan mazhab seninya sendiri. Ahmad Sadali, Popo Iskandar, dan Srihadi Soedarsono adalah beberapa pelopornya. Generasi berikutnya, misalnya Sunaryo, Gregorius Sidharta, hingga Zico Albaiquni, memberi napas segar pada aliran ini dengan memasukkan unsur spiritual, bahan alami, serta warna-warna yang berani. Berikut 12 ruang seni untuk menyelami jagat seni Bandung:

1. Lawangwangi Creative Space  
Kompleks elok berisi kafe dan galeri ini kerap dirujuk pencinta seni untuk melihat karya-karya segar artis muda, termasuk para kontestan Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA). Dalam waktu dekat, Lawangwangi akan memikat segmen baru—desainer—lewat fasilitas Design Space. Satu fakta unik dari tempat ini ialah pendirinya bukanlah seniman, melainkan duet matematikawan Benny van Groesen dan Andonowati. Jl. Dago Giri 99A; 022/2504-065; creativespace.lawangwangi.com  

Kiri-kanan: Area terbuka NuArt Sculpture Park. (Foto: Nyimas Laula. Model: Tatyana Akman); Kreasi Nyoman Nuarta di NuArt Sculpture Park. (Foto: Ricko Fernando)

2. NuArt Sculpture Park
I Nyoman Nuarta, eksponen Gerakan Seni Rupa Baru, telah menghasilkan banyak patung ikonis, termasuk GWK di Bali, Arjuna Wijaya di Jakarta, serta Monjaya di Surabaya. Jika ingin mengenal sang seniman, kunjungi NuArt Sculpture Park, taman patung atraktif yang dirintis pada 2000. Di lahan tiga hektare, kompleks ini memajang beragam kreasi Nuarta dalam ruang-ruang pamer yang ditata rapi, sebagian diselipkan di antara pepohonan. Berjalan sedikit ke belakang, ada dapur produksi patung, plus fasilitas residensi dan sanggar tari. Jl. Setra Duta Raya L 6; 022/2017-812; nuartsculpturepark.com  

Karya-karya Restu Taufik Akbar dipamerkan di Orbital Dago, Bandung. (Foto: Ricko Fernando)

3. Orbital Dago
Orbital, galeri seni kontemporer yang diresmikan pada 2017, berlokasi di kawasan dataran tinggi Dago. Seluruh artis yang dinaunginya memiliki hubungan genealogis atau akademis dengan Bandung, contohnya Yuli Prayitno, Yudi Noor, Erika Ernawan, serta Aliansyah Caniago. Selain area pamer, Orbital memiliki toko, kafe, serta ruang lokakarya. Dapur seninya diasuh oleh Rifky Effendy, kurator independen yang rajin terlibat di acara seni akbar, termasuk Bandung Biennale dan Art Jakarta. Jl. Rancakendal Luhur 7, Bandung; 022/8252-2980; orbitaldago.com 

4. Serambi Pirous
Abdul Djalil Pirous, seniman asal Aceh yang menempuh pendidikan seni di ITB, mengelola ruang seni Serambi Pirous bersama istrinya, Erna Garnasih. Selain memajang karya-karya khasnya yang bernuansa Islam, tempat ini rutin menampilkan pameran temporer. Akhir 2019 misalnya, ada Titik Tahun 2 yang memajang 54 karya. Sebelumnya, Serambi Pirous dipilih sebagai salah satu lokasi Bandung Design Biennale 2019. Jl. Bukit Pakar Timur II/111; 022/2530-966; serambipirous.id  

Beberapa kreasi Nurdian Ichsan dalam pameran tunggalnya di Selasar Sunaryo. (Foto: Ricko Fernando)

5. Selasar Sunaryo Art Space
Satu dari segelintir ruang seni yang populer sebagai objek wisata, SSAS layak dipilih jika Anda hanya punya waktu singkat di Bandung. Sesuai namanya, tempat ini didirikan oleh Sunaryo, seniman kelahiran Banyumas. Fasilitasnya antara lain perpustakaan, kafe, toko suvenir, pondok residensi, serta amfiteater yang dikepung alam rindang. Salah satu programnya yang bergengsi ialah Bandung New Emergence, hajatan bienial yang memetakan bakat-bakat muda. Terpisah dua menit berjalan kaki dari SSAS, ada Wot Batu yang memajang karya-karya unik berbahan batu kreasi Sunaryo. Jl. Bukit Pakar Timur 100; 022/2507-939; selasarsunaryo.com  

Interior Gudang Selatan, sarang kreatif anak muda Bandung. (Foto: Prabowo Prajogio)

6. Gudang Selatan
Pada 2015, sebuah gudang tentara beralih fungsi menjadi sarang kreatif anak muda Bandung. Spasial, salah satu penghuninya, mewadahi panggung musik, area sinema, hingga studio “dadakan” seniman Arin Sunaryo. Beberapa musisi yang pernah tampil di sini adalah Siksakubur, Jamie Aditya, dan Teenage Death Star. Selemparan batu dari Spasial ada Kozi Lab, kedai mungil dan temaram dengan interior yang ditaburi buku. Sukses di Gudang Selatan, Kozi Lab membuka cabang di Bukit Dago dan Cilandak, Jakarta. Jl. Gudang Selatan 22

7. Semata Gallery
Awalnya hanya berniat menampung buah kreativitas anak-anak di sekitar rumah, duet seniman-edukator Wilman Hermana dan Suniaty pada 2013 mendirikan sekolah seni alternatif untuk pemula. Lewat program After School dan Art Studio, sanggar yang menempati garasi ini mengajarkan teknik seni dasar kepada anak dan remaja, lalu memamerkan hasil karya mereka. Setelah beberapa tahun beroperasi, Semata Gallery mulai menerima pula peserta dewasa. Jl. Boscha III 147; 0818-0906-0959; @sematagallery  

Beberapa patung di Galeri Soemardja, ruang seni senior yang rutin menanggap acara kontemporer. (Foto: Fauzan Abdul Syukur Kesuma)

8. Galeri Soemardja
Ini contoh galeri senior yang berupaya relevan dengan zaman. Programnya meliputi Pameran Arsip, Soemardja Book Fair, Orasi Budaya, Pameran Akademik, serta Mini Art Project, sebuah ekshibisi unik yang menampilkan karya-karya berukuran maksimum 15 x 15 x 15 sentimeter. Galeri yang memakai nama tokoh pendidikan Syafe’i Soemardja ini didirikan pada 1974 dan berlokasi di kompleks ITB. Jl. Ganesha 10; 022/2534-242; galerisoemardja.itb.ac.id 

Interior Museum Barli, tempat yang memajang karya dan koleksi mainan Barli Sasmitawinata. (Foto: Ricko Fernando)

9. Museum Barli
Bermula sebagai ilustrator Balai Pustaka, Barli Sasmitawinata merekah jadi seniman terpandang di Bandung. Bersama Affandi dan Hendra Gunawan, dia mendirikan Kelompok Lima Bandung, kemudian merintis Sanggar Seni Rupa Jiwa Mukti. Sejak 1992, kiprah dan sebagian karyanya bisa dipelajari di Museum Barli. Berniat merangsang minat seni di kalangan muda, tempat ini juga menyediakan kelas seni untuk anak-anak dan remaja putus sekolah. Jl. Prof. Sutami 91; 022/2011-898 

10. Ruang Gerilya
Ruang seni alternatif yang dirintis pada 2011 ini beriktikad menyediakan wadah bagi para seniman muda untuk bertukar pikiran dan berkolaborasi. Salah satu karya emasnya, buku LIPLAP: 35 Bandung Artists Under 35, memuat profil pekerja seni lintas disiplin, misalnya Duto Hardono dan Meicy Sitorus. Buku ini bertujuan mengarsip para seniman muda sekaligus memotivasi mereka agar terus berkarya. Jl. Raden Patah No.12; 0813-1288-8129; @ruanggerilya  

Kiri-kanan: Erwin Windupranata, pengelola OmniSpace. (Foto: Fauzan Abdul Syukur Kesuma); Zico Albaiquni, eksponen kanal seni Ruang Gerilya. (Foto: Ricko Fernando)

11. OmniSpace
Selain diskusi, konser, dan pameran, ruang seni yang dirintis pada 2015 ini rutin menggelar dua program eksentrik yang berikhtiar mendobrak pasar. Pertama, Getok Tular, yakni lelang karya dengan harga mulai dari Rp10.000. Kedua, Open PO, saluran bagi publik untuk memesan karya, dengan cara mendaftar dan bertemu langsung dengan seniman pilihan panitia. Jika datang saat tak ada acara, kunjungi lantai duanya yang berisi distro dan toko buku. Jl. Ciumbuleuit 151B; 0817-9209-597; omuniuum.net 

Interior Tobucil, tempat yang aktif masih menggelar kelas kreatif. (Foto: Prabowo Prajogio)

12. Tobucil
Lewat ArtJog 2018, banyak orang berkenalan dengan karya rajutan dari Mulyana. Tak banyak yang tahu, sang seniman menempa keahliannya di Tobucil, akronim dari Toko Buku Kecil. Ketika masih kuliah, Mulyana sempat magang di toko buku independen yang rutin menggelar kelas kerajinan ini. Sembari berlatih sebagai pramuniaga, dia belajar merajut dari Tarlen Handayani sang pemilik toko. Tobucil hingga kini masih aktif mengadakan kelas kreatif, salah satunya seni jilid buku. Jl. Panaitan 18; 0812-1422-7499; @tobucil