Oleh Trinity

Agar turis tidak terlalu terkonsentrasi di Bali, pemerintah pada 2015 menetapkan 10 Destinasi Prioritas. Isinya: Mandalika, Pulau Morotai, Tanjung Kelayang, Danau Toba, Wakatobi, Borobudur, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung, Bromo, dan Labuan Bajo. Secara kolektif, mereka kerap disebut “10 Bali Baru.”

Apa kriteria pemilihannya, dan apa dampaknya? Entahlah. Informasinya tidak jelas. Saya sebenarnya setuju dengan beberapa pilihan pemerintah, tapi saya juga punya 10 destinasi prioritas versi saya sendiri. Saya menyusunnya berdasarkan tingkat keunikannya, sesuatu yang sulit atau mustahil ditemukan di tempat lain, dan punya daya tarik bagi wisatawan asing dari negara-negara pemasok turis utama ke Indonesia. Toh pada akhirnya tolok ukur keberhasilan pariwisata Indonesia adalah jumlah wisatawan asing per tahun. 

Kiri-Kanan: Dibangun penjajah untuk menghalau musuh, Benteng Belgica kini menjadi aset wisata Banda; Gunung Api, ikon Kepulauan Banda. (Foto: Yoppy Pieter)

Kepulauan Banda, Maluku
Kepulauan ini punya tempat penting dalam sejarah globalisasi. Sebelum pertengahan abad ke-19, Banda adalah satu-satunya tempat di dunia yang menumbuhkan pohon pala, komoditas yang memicu pelayaran-pelayaran akbar pertama dari Eropa ke “Timur Jauh.” Bangsa Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris berlomba untuk menguasainya. Atas alasan itu pula, Run, salah satu pulau di Banda, dibarter dengan Manhattan di New York!

Warisan dari masa lalunya, Banda mengoleksi benteng dan bangunan tua bergaya kolonial. Selepas masa perburuan rempah, kepulauan terpencil ini sempat dipakai Belanda sebagai tempat pengasingan tokoh perjuangan, termasuk Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, dan rumah peninggalan mereka masih berdiri hingga kini. Di luar sejarahnya, Banda menawarkan alam menakjubkan yang membentang dari puncak Gunung Api yang masih aktif hingga palung terdalam di Laut Banda.

Bukit Lawang, Sumatera Utara
Di Borneo, orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) tersebar di Malaysia dan Indonesia. Tapi di Sumatera, orangutan Sumatera (Pongo abelli) secara eksklusif hanya berada di wilayah Indonesia, walau dengan populasi yang jauh lebih sedikit dan berstatus terancam—itu pula sebabnya tempat ini layak mendapat perhatian ekstra.

Salah satu habitat orangutan Sumatera ialah Bukit Lawang, kawasan hutan tropis yang sudah lama terkenal di kalangan turis asing. Untuk menjangkaunya, kita mesti melewati Sungai Bahorok yang berair jernih. Meneruskan trekking, kita akan mendarat di Taman Nasional Gunung Leuser, bagian dari Situs Warisan Dunia. Jika dikelola dengan benar, Bukit Lawang akan menjadi destinasi yang sangat seksi.

Anak Krakatau muncul dari kaldera Krakatau, vulkan yang mengguncang bumi lewat erupsi dahsyat pada 1883. (Foto: R. Heru Hendarto)

Krakatau, Lampung
Pada 1883, Nusantara mengguncang dunia, secara harfiah. Letusan Gunung Krakatau merupakan salah satu yang terdahsyat sepanjang sejarah bumi. Daya ledaknya 30.000 kali bom Hiroshima, gelegarnya terdengar hingga Mauritius, serpihan batunya menjangkau India, dan debunya mengubah cuaca dunia selama setahun!

Pada kawasan kaldera Krakatau telah muncul Anak Krakatau yang bertambah tinggi 6,8 meter per tahun. Bila gunung sedang kalem, kita bisa mendakinya hingga ke puncak untuk melihat pemandangan spektakuler. Tapi bila sedang aktif, kita hanya bisa memandang letupannya dari pulau sekitar. Trip ini bisa dibarengi dengan island hopping ke pulau-pulau cantik di Teluk Lampung.

Kiri-Kanan: Seekor kuda di pelataran rumah tradisional Sumba di Desa Tosi; sabana melapisi bukit bergelombang di Mamboro, Sumba Tengah. (Foto: Muhammad Fadli)

Sumba, Nusa Tenggara Timur
Bagaikan anomali di zaman modern, Sumba adalah pulau yang setia melestarikan kebudayaan zaman batu. Tradisinya yang paling tersohor ialah Pasola, semacam lomba lempar lembing sambil mengendarai kuda. Sementara desa-desa adatnya ditaburi rumah tradisional beratap tinggi dan kuburan megalitik.

Magnet lain Sumba tentu saja alamnya. Lanskapnya menampilkan bukit-bukit yang mengalun, sabana yang lapang, pantai pasir putih yang dikelilingi tebing, serta danau dan air terjun. Di pesisir selatan, ombak-ombak Sumba telah lama memikat peselancar dunia. Salah satu resor mewah di sini yang membidik peselancar pernah mendapat predikat Hotel Terbaik versi majalah Travel+Leisure hingga membuat Sumba makin dikenal dunia.

Sangiran, Jawa Tengah
Ibarat “Jurassic Park” versi Indonesia, Sangiran menawarkan jendela ke masa lalu bumi. Kota yang berjarak 15 kilometer dari Solo ini merupakan tempat ditemukannya fosil Meganthropus palaeo dan Pithecanthropus erectus terbanyak di dunia. Mereka hidup lebih dari sejuta tahun silam dan merupakan kunci penting dalam mempelajari evolusi manusia. Itulah sebabnya situs purbakala Sangiran dinobatkan sebagai anggota Situs Warisan Dunia. 

Untuk mengenal kekayaan sejarah Sangiran, kita bisa mengunjungi Museum Purbakala. Isinya sangat menarik, walau museum ini mesti banyak berbenah dalam hal kemasan dan presentasi. Di luar museum, perhatian publik patut diberikan pada problem penggalian dan jual-beli fosil ilegal.   

Panorama laut dan pulau yang terlihat dari teras Overwater Bungalow di resor Bawah Reserve, Kepulauan Anambas. (Foto: Agoes Rudianto)

Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau
Anambas terdiri dari 256 pulau di mana hanya 26 di antaranya berpenghuni, salah satunya menampung resor mewah milik WNA. Banyak pulaunya dibingkai pantai pasir putih, dipayungi hutan rindang, dikaruniai laguna biru dan air terjun berundak. Menurut saya, Anambas adalah destinasi laut tercantik di barat Indonesia. Pada 2012, CNN menempatkan kepulauan ini dalam daftar Asia’s top five tropical island paradises.

Anambas, bagian dari Provinsi Kepulauan Riau, terapung di antara Semenanjung Malaysia dan Kalimantan. Setiap akhir minggu, kapal asal Singapura berlayar ke sini untuk diving selama tiga hari. Akses reguler lain ialah via Batam atau Bintan dengan menaiki kapal cepat atau pesawat ke Letung.  

Maumere, Nusa Tenggara Timur
Maumere bukan hanya kota terbesar di Flores, tapi mungkin juga kota yang paling menarik di NTT. Atraksi utamanya: menziarahi Patung Bunda Maria Segala Bangsa setinggi 28 meter, memandang matahari terbenam dari Bukit Salib, serta mengagumi arsitektur Gereja Tua Sikka yang dibangun pada 1873.

Khazanah budaya Maumere juga menarik, termasuk kain tenun dan tarian lokal. Sementara di Teluk Maumere terserak 19 pulau yang siap dijelajahi, dengan bonus menonton kawanan lumba-lumba setiap pagi. Maumere juga bisa dijadikan basis untuk menjangkau banyak objek wisata di interior Flores, salah satunya Gunung Kelimutu yang menyuguhkan kawah tiga warna.

Kiri-Kanan: Beberapa pulau karst di Penemu, Raja Ampat; Seekor cenderawasih membuka pagi di belantara Pulau Gam, Raja Ampat. (Foto: Muhammad Fadli)

Raja Ampat, Papua Barat
Memiliki 75 persen spesies laut dunia, Raja Ampat jelas digemari banyak penyelam. Tapi keindahan tempat ini sebenarnya tak cuma tersaji di bawah lautnya. Mengarungi perairannya, kita bisa menyaksikan gugusan bukit hijau, laut pirus, pasir putih halus, dan formasi karst yang atraktif. Di beberapa pulau, kita juga bisa trekking melacak burung cenderawasih.

Pariwisata Raja Ampat saat ini terpusat di Waisai, Pulau Waigeo. Daerah tetangga yang mulai berkembang ialah Misool, terutama semenjak kehadiran resor mewah milik asing. Tantangan Raja Ampat kini ialah manajemen lingkungan. Resor terus bermunculan dan kapal penyelam terus bertambah.  

Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur
Atraksinya utamanya ialah berenang bersama ubur-ubur tanpa sengat—pengalaman ajaib yang hanya ditawarkan beberapa tempat di dunia. Selain itu, Kepulauan Derawan memiliki pantai dengan air turkuois, plus pondok-pondok penginapan di air dangkal, karena itu kadang dicap “Maladewa versi Indonesia.” Menyelam lautnya lebih dalam, kita bisa menemukan penyu, manta ray, barakuda, dan hiu paus.

Lima tahun lagi, Derawan mungkin akan menjadi tujuan liburan favorit presiden dan para menteri, berhubung inilah destinasi terkenal paling dekat dari kawasan ibu kota baru di Kalimantan Timur. Semoga saat itu bandara yang sudah diresmikan di Pulau Maratua mulai melayani penerbangan reguler.

Kiri-Kanan: Turis menyaksikan patung tau-tau di makam tebing Lemo, Tana Toraja; gereja di tengah persawahan Kecamatan Sa’dan, Toraja Utara. (Foto: Suryo Wibowo)

Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Dalam daftar “destinasi wisata ekstrem” internasional, Toraja punya reputasi yang disegani. Tak banyak tempat di dunia di mana magnet utamanya ialah tradisi kematian. Di Toraja, upacara kematian sangatlah mahal, karena melibatkan penyembelihan banyak kerbau, kadang hingga ratusan ekor. Selepas upacara, jenazah dikubur di tebing batu, lalu sebuah patung yang menyerupai almarhum dipajang. Tak kalah horor ialah gugusan batu menhir dan kuburan bayi di pohon.  

Di luar tradisi kematian, Toraja menawarkan alam dataran tinggi yang elok, rumah-rumah adat dengan dekorasi rumit, kopi Toraja yang mendunia, Desa Lolai yang seolah bertengger di atas awan, serta patung Yesus terjangkung sejagat, mengalahkan Cristo Redentor di Brasil.

Trinity
Trinity sudah menulis 15 buku travel, termasuk seri The Naked Traveler dan komik Duo Hippo Dinamis. Dua bukunya telah diadaptasi ke layar lebar dalam dua film yang dibintangi oleh Maudy Ayunda: Trinity, The Nekad Traveler dan Trinity Traveler. naked-traveler.com